
Kecurigaan orang-orang diperusahaan Kevin akan status pernikahannya sama sekali tak dapat di deteksi oleh mereka.
Tak terkecuali Belia sang sekretaris yang notabene paling banyak menghabiskan waktu bersama atasannya itu, baik di kantor maupun di luar kantor bahkan terkadang ikut perjalanan dinas di luar daerah juga ke luar negeri.
Kevin tidak pernah menolak ketika jadwal yang di buat dan di susun oleh Belia yang selalu menempatkan dan mengkondisikan dirinya selalu tampak dapat berdua-duaan dalam kurun waktu yang sering.
Belia sering memancing dan memperhatikan keseharian Kevin. Namun, bukan petunjuk dekat dengan seseorang yang ia dapatkan. selain selalu kedapatannya terkekeh sendiri dengan gawai canggihnya. Sering lebih memilih mengurung diri di ruangannya dalam waktu lama seolah betah berjam-jam, yang kemudian keluar dengan wajah berseri.
Sebab, di waktu senggangnya Kevin lebih sering menghabiskan waktu di ruang pribadinya yaitu mushola. Ya..., di sana lah Kevin, lebih sering berada setelah menyelesaikan tuhas dan dokumen pentingnya, memilih membaca alquran di sana, seolah ada sesuatu yang ia harapkan dan pinta pada pemilik dunia. Sehingga di mata Belia, Kevin sosok CEO yang alim. Hah... belum tau dia, gimana Kevin di masalalu.
Pada setiap pertemuan rutin bersama divisi yang di lakukan bergilirpun Belia selalu terlihat mendampingi Kevin. Seolah mereka adalah pasangan serasi. Ciihh.
Kali itu, Kevin sedang menghabiskan akhir minggunya bersama tim HRD. Mereka berjumlah 10 orang dan memilih nongkrong di sebuah cafe yang buka 24 jam, menyajikan aneka makanan ringan dan berat semua lengkap di pusat kota Kembang yang juga sering di juluki Parisnya Indonesia karena terkenal dengan keindahannya.
"Malam pa Kevin, tumben datang sendiri. Belia kemana?" tanya seorang kepala bidang Tim HRD dengan pelan.
"Wah... Maaf. Saya tidak serumah dengan Belia. Jadi tidak tau." Jawab Kevin sedikit bercanda.
"Kami kira bapa dan Belia akan hidup bersama. Sebab, sudah lengket seperti perangko." Balas mereka lagi dengan penuh canda.
"Ha...ha...ha. Kalian bisa saja. Tolong buka kembali lowongan untuk tambahan sekretaris ya. Kalo bisa cari yang laki-laki saja. Untuk menghindar fitnah dan khilaf." Pinta Kevin setengah bercanda.
"Maaf pa. Jika boleh sedikit tau akan status bapak. Apakah benar sudah menikah seperti kabar burung, atau masih singel?"
"Burung siapa yang sudah mengedar kabar itu...?" Kekeh Kevin mengundang penasaran lawan bicaranya.
"Jadi benar bapak sudah menikah?" Cecar Chery salah satu wanita yang juga ada di Tim HRD.
"Kasih tau ga ya...?" canda Kevin kembali. Sembari meminta ijin untuk meninggalkan tongkrongan mereka. Karena ponselnya sudah meronta dalam saku celananya.
"Assalamualaikum abang." Siapa lagi yang selalu memulai obrolam dengan sapaan demikian selain Muna.
"Walaikumsallam. Sayang... Ini tengah malam di sana. Kenapa belum tidur. Banyak tugas? Jangan di porsir sayang. Nanti Mae sakit."
"Abang... Pulang kerja tadi ga ada telpon Muna. Ga bisa tidur jadinya niih abangku sayang." Ungkap Muna manja.
"Ha...ha... Sudah ada ambil khursus ngerayu juga di sana sayang?"
"Ish... Pindah mode bang. Muna mau liat muka abang. Muna kangen" ucap Muna sambil menutup wajahnya dengan satu tangan.
"Sebentar sayang." Jawab Kevin menggeser icon biru pada gawainya.
"Abang lagi di mana?"
"Di cafe sama Tim HRD. Beginilah nasib jomblo yang. Harus mengganggu jadwal orang lain untuk sekedar membantu membuang sepi di malam minggu." Jawab Kevin seolah minta di kasihani.
"Cup... Cup. Main ke sini ngape bang. Bareng nyak babe tuh. Minggu depan mau di ajak mama ke mari pan?"
__ADS_1
"Ah, males yang."
"Abang ga kangen Muna?"
"Ya kangen lah. Bangeeet malah."
"Ya sini..." Dengan entengnya Muna meminta Kevin menemuinya seolah Belanda Indonesia bagaikan Anyer dan Jakarta saja.
"Di kasih apa kalo abang ke sana?"
"Apa aje yang abang mau"
"Halaaah wacana. Ga usah PHP sayang. Rugi banyak abang ke sana paling dapat meluk doang."
"Emang abang mintanya apaan?"
"Ga usah di bahas. Jangan lupa sebelum ketemu abang, pastikan sudah tamat mempelajari buku kamasutra yang." Ucap Kevin sengaja memancing Muna. Mengundang rona merah jambu yang tiba-tiba muncul di tulang pipi Muna.
"Wah... Baru denger ada buku itu, tentang ape bang?" Muna sengaja berkelit berpura-pura masih polos mentah, bau kencur.
"Perlu abang titip lewat babe dan nyak nanti sayang...?" Kevin masih suka menggoda Muna.
"Iish abang. Abang aje yang ikut ke mari. Di mari mulai banyak godaan cowok tampan bang. Muna perlu pegangan, biar ga oleng." Canda Muna dengan mimik wajah tak lepas dari senyum menggoda.
"Bodo... Sapa suruh datang ke Belanda?" Ledek Kevin membuat Muna kesal.
"Sayang dong yang pulang. Libur semester ini. Kenapa ga pulang? Katanya kangen abang."
"Tanggung bang. Muna ude daftar kelas tambahan. Maaf ye bang."
"Ga papa. Abang ngerti kok. Ga usah pulang saja. Sebab abang ga bisa jamin keselamatan Mae kalo ketemu abang lagi." Kekeh Kevin menakut-nakuti Muna.
"Iih... serem banget siih. Btw abang ngumpulnya ame Tim... Ada ceweknya kagak?"
"Ada donk. Cantik-cantik lagi." Jawab Kevin.
"Abang mancing niih?"
"Tidak sayang. Abang ga lagi mancing, cuma nongkrong di cafe. Ga ada air di sini." Kevin sengaja, so bego menjawab Muna.
"Liat cewek-ceweknya baaaang." Rengek Muna membuat Kevin gemes.
"Ih... Ga sopan ah. Abang jadi kaya ABG dong vicall harus di tengah mereka. Norak ah." Tolak Kevin jujur.
Muna merengut saat Kevin tidak mengikuti keinginannya.
"Sayang marah?"
__ADS_1
"Emang boleh?"
"Bolehlah... Bebas sayang."
"Hmm, Muna cuma bercanda. Ya udah bang, Muna ngantuk. Silahkan lanjutkan berakhir minggunya ya abangku sayang. Jangan lupa sebut nama Muna dalam tiap doa abang ya. Lop yu abang sayang. Assalamualaikum." Tutup Muna dengan salam.
"Walaikumsallam. Selalu ada nama Mae dalam tiap doa abang lah. Muaaach. Lop yu more beibph." Jawab Kevin menutup mesra obrolan mereka.
Dan kalimat terakhir itu sukses tertangkap oleh rungu Belia yang baru datang dan melintas di dekat Kevin. Sontak hal itu mengundang berang sekaligus penasaran dengan siapa pimpinannya itu berbicara.
"Pacar pa?" tembak Belia.
"Calon istri." Jawab Kevin datar sembari melangkah kembali ke perkumlulan Tim HRD tadi.
"Waah... Kirain pa Kevin mojok setelah dapat telpon. Ternyata jemput Belia.'" Celetuk Chery yang melihat Belia sudah berjalan di sisi belakang Kevin.
Kevin menoleh sebentar, seolah baru menyadari jika kini mereka seolah sedang datang bersama. Dan kondisi itu tak dapat ia elakkan.
"Kapan niih, kita dapat undangannya pa. Sebaiknya jangan banyak menunda waktu jika memang telah saling cocok." Lagi salah seorang di Tim itu memberanikan diri memancing jawaban Kevin untuk kejelasan hubungannya dengan Belia yang mereka kira ada sesuatu yang spesial terjalin antara keduanya.
Belia melotot kearah suara yang menyeletuk tadi. Tentu dengan suasana hati yang senang dan sedikit cemas, takut Kevin akan mempermalukannya di tengah orang banyak.
"Wah... tim HRD sebaiknya harus lebih gencar lagi menggali informasi tentang hubungan saya dan Belia. Iya kan Bel...?" ucap Kevin ke arah Belia meminta Belia saja yang memberi informasi yang benar.
"Tau niih. Tim HRD pintar bikin gosip deh. Ntar lama-lama ada yang bawa serok dapur lo buat nimpuk aku, jangan sampe deh. Amit-amit." Kilah Belia seolah memberi kode bahwa Kevin sudah ada yang punya.
"Hmm... Klo ada yang nimpuk kamu pake serok. Artinya emak-emak dong. Bilang saja kalo pa Kevin sudah punya istri. Iya ya pa...?" Mereka terus saja mendesak Kevin untuk mengaku.
"Penting banget ya status saya di konfirmasi di sini dan sekarang?" tanya Kevin mulai merasa terganggu. Dan memilih tutup mulut tentang hubungannya dengan Muna.
Bersambung...
Kira-kira kenapa Kevin ga mau ngaku sudah punya Muna?
Simak terus lanjutan di BAB selanjutnye yee
Lopeh buat semua❤️❤️
Boleh Cek di dua Novel nyak sebelumnya
No pelakor n selalu happy ending
udah pada mampir belom?
__ADS_1