OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 272 : AKAD YANG TERTUNDA


__ADS_3

Kabar keadaan sakitnya ibu Gilang sudah Gita sampaikan pada kedua orang tuanya. Diendra yang memutuskan bahkan meminta pada Gita agar rencana akad mereka senin depan di tunda saja.


"Pa... ibunya A Gilang kena serangan jantung. Sepertinya serius. Dan


dianjurkan untuk melakukan pasang ring jantung dalam waktu dekat." Cerita Gita melalui ponselnya.


"Kalau begitu fokus pada pengobatan calon mertuamu saja dulu. Jangan merongrong Gilang dengan rencana kalian. Akadnya di tunda dulu gimana Git?" tanya Diendra memberikan saran.


"Gita ga keburu juga sih sebenarnya. Hanya... bilang dulu ke papi. Takutnya nanti papi kira Gilang main-main sama janjinya."


"Ya tidak begitu lah Git. Orang sakit mana bisa di kira. Besok papi usahakan ke Bandung menengok calon mertuamu ya."


"Iya... makasih pi. Mungkim nanti lagi AGi lagi yang ngomong sama papi." Lanjut Gita pada Diendra.


"Iya... beri dukungan juga pada Gilang ya. Jaga kesehatan kalian, ya Git."


"Iya..." Jawab Gita menutup sambungan teleponnya.


Gilang terpaksa meminta Gita mengantar Arum dan anak-anaknya pulang kerumah, sekalian di mintai tolong untuk membawakan pakaian ganti untuknya.


"Neng... Agi bisa minta tolong sama eneng?"


"Apa ya...?"


"Bisa antarkan teh Arum pulang. Sekalian kalo boleh, neng bawakan pakaian ganti buat Agi. Malam ini A'a tidur di rumah sakit saja." pinta Gilang pelan meminta tolong pada Gita.


"Siniin kunci kontaknya. Tapi, neng ga tau tempat pakaian A'a."


"Nanti, Agi minta teh Arum yang siapkan. Neng tinggal bawakan."


"Okeeh. Tapi... boleh agak lama?"


"Kenapa?"


"Neng juga perlu pulang mandi dan ganti baju juga kali A."


"Humm.... oke. Hati-hati dan terima kasih ya neng."


"Sama-sama A. Asalamualaikum." Pamit Gita.


"Walaikumsallam." Jawab Gilang memmandang punggung kekasih hatinya tersebut.


"Laang... maafkan ibu."


"Ibu salah apa?"


"Ini segala sakit."


"Ibu ngomong apa? Alhamdulilah tubuh ibu kasih tanda sakit begini. Jadi kita bisa mengobatinya."


"Ini rumah sakit mahal ya Lang? Kamu ada uang?"


"Tenang bu, Gilang sudah lapor ke pihak asuransi yang Gilang cicil selama ini atas nama ibu. Jadi, ibu tenang saja ya, urusan biaya semua di tanggung kok. Yang ibu pikirkan hanya sembuh-sembuh-sembuh. Ibu mau mantu kan...?" ucap Gilang mengelus tangan ibunya.

__ADS_1


"Kamu sudah siap lahir batin akan menikahi Gita, Lang?"


"Insyaallah bu."


"Sebenarnya ibu agak kepikiran dengan hubungan kalian. Apalagi saat tadi pagi Gilang pamit, katanya mau jadi bos ya di perusahaan itu?"


"Alhamdulilah bu. Gilang di percaya jadi wakil bos, karena beliau pindah ke Jakarta. Jadi, Gilang di serahkan beban pekerjaan yang lebih besar lagi." Papar Gilang.


"Apa benar Gita itu saudara sama bos kamu itu?" tanyanya lagi.


"Iya... mereka satu ayah, beda ibu."


"Apa mereka nanti tidak akan menghinamu. Maaf Lang. Ibu masih takut kamu nanti di permalukan, di injak-injak oleh keluarga istrimu nanti. Kenapa sih, Gilang selalu dapat anak orang yang kaya?"


"Hmm... jadi. Ibu sakit karena mikirin keluarga neng Gita?" tanya Gilang lembut.


Ibunya mengangguk pelan.


"Ada Allah bu. Insyaallah neng Gita dan keluarganya baik sama kita." Jawab Gilang.


"Gilang cinta sekali ya sama dia...?"


"Gilang ga punya alasan untuk tidak mencintai gadis sebaik dia bu. Udah..., sekarang waktunya makan. Gilang suapin ya, biar lekas sembuh." Gilang menyuapi ibunya dengan telaten.


"Assalamualaikum." Suara dari luar ruangan menyapa.


"Walaikumsallam." Jawab Gilang menoleh.


"Pak Kevin...." Gilang berdiri memberi hormat pada Kevin.


"Oh... iya. Maaf jadi bertemu di sini." Jawab ibu agak tidak percaya diri. Dan berusaha untuk duduk.


"Jangan banyak gerak bu. Ga papa, tiduran saja." Ramah Kevin.


"Gilang kenapa tidak memberi kabar? Papi lho yang hubungi saya, setelah telponan sama Gita."


"Oh maaf pak. Agak panik juga tadi." jawab Gilang sungkan.


"Iya... saya paham. Jadi, gimana keadaan ibu sekarang?"


"Sedang menunggu hasil cek keseluruhan. Baru ada jadwal operasinya." Jawab Gilang.


"Ibu di operasi apa Lang?" kaget ibu Gilang.


"Pasang ring, supaya ibu sehat dan panjang umur bu." Sabar Gilang.


"Ibu takut Lang. Bagaimana kalau gagal, apa ibu bisa meninggal?"


"Ibu bicara apa sih? Kita usaha dulu. Lagi pula tingkat keberhasilannya 90% bu. Kita yakin saja, termasuk yang berhasil ya bu." Gilang bahkan mengacuhka Kevin demi memberi pengertian pada ibunya.


"Iya bu... Gilang benar. Kita yakini itu usaha yang harus kita jalani. Mertua saya sekarang juga sedang melawan penyakit kanker hatinya di Cina. Semua doa terbaik kita pintakan lah bu." Kevin ikut menguatkan ibu Gilang.


"Assaalamualaikum." Suara Gita di balik pintu sudah menyapa masuk ruangan.

__ADS_1


"Walaikumsallam." Jawab mereka serempak.


"Kakak... sama siapa?"


"Sendiri... nyempatkan sebentar. Papi tadi nelpom kakak, minta jengukkan calon ibu mertuamu." Jawab Kevin.


"Oh.. iya. Tadi Gita cuma sempat nelpon papi."


"Yang jauh di ingat, kaka yang dekat di lupakan."


"Maaf kak."


"AGi... ini titipan teh Arum. Mandi deh, nanti neng yang jaga ibu."


"Iya... Agi sekalian sholat ya. Pak Kevin mau sekalian sholat? Udah sampe waktunya." Ajak Gilang.


"Oh iya... saya sekalian pulang. Gita, jaga kesehatan ya, makan vitamin juga. Kalo tidur di sini, pake pakaian tebal. Udaranya dingin kalau malam." Pesan Kevin.


"Tidak pak. Neng Gita tidak saya ijinkan untuk ikut tidur di rumah sakit." Jawab Gilang sebelum masuk kamar mandi.


Kevin mengangguk-angguk tanda setuju.


"Bu, ini buat beli buah ya." Pamit Levin meletakan amplop di dalam genggaman tangan berinfus itu.


"Jangam repot-repot nak." Jawab Ibu merasa tak enak.


"Tidak repot. Maaf tidak bisa lama. Mari bu. Cepat sembuh ya." Pamit Kevin sopan lalu berjalan keluar menuju mushola rumah sakit itu.


"Bu... Gilang tinggal sholat ke mushola sebentar ya. Neng, titip ibu ya."


Di balas anggukan dari kedua wanita beda usia, beda kasta namun sama-sama ia cinta itu.


"Neng... sudah yakin mau menikah dengan nak ibu?'


"Insyaallah yakin bu."


"Tapi eneng orang kaya. Dan kami orang susah neng."


"Ah... manusia sama saja di mata Allah bu." Jawab Gita klasik.


"Jika kalian jadi menikah, boleh ibu meminta neng?"


"Minta apa?"


"Jangan hinakan anak ibu, eneng teh istri tugasnya emang harus nurut sama suami. Tolong hormati Gilang sebagai kepala keluarga. Walaupun kami orang tak punya. Belum terlambat untuk eneng membatalkan pernikahan kalian, jika memang tak bisa memenuhi permintaan ibu. Gilang selama ini tulang punggung keuarga kami. Tentu saja nanti semuanya akan berbeda. Ibu tidak minta di nafkahi secara terus-terusan. Sebab, ada M


masanya Gilang memang harus berkeluarga. Tapi, tolong hiduplah seadanya sesuai kemampuan bersama Gilang. Jangam ikuti kemauan atau menyamakan kehidupan neng seperti saat masih hidup dengan orang tua neng." Panjang Ibu Gilang bertutur.


"Ibu... kami menikah untuk ibadah,. mencari keberkahan, bukan harta. Insyaallah, Gita bisa jadi makmum yang taat pada bimbingan imamnya Gita nanti bu."


"Masyaallah. Alhamdulilah ya Allah, Kau kirimkan wanita baik sepertimu untuk anak ibu. Maaf, ibu sakit begini. Padahal senin depan harusnya kalian akan akad nikah."


"Tidak ada yang mendesak juga bu yang mengharuskan kami segera menikah. Yang pernting ibu sehat saja terlebih dahulu. Semangat sehat bu." Gita menepuk tangan calon ibu mertuannya pelan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2