
Untuk apa yang terjadi selanjutnya saat Asep sudah berada di rumah babe beneran kita skip, sebab sudah punya ruang di BAB lain ya. Kita fokus ke kisah keluarga Kevin dan Muna dulu.
***
Hari minggu tiba itu artinya Kevin, Muna, Aydan serta pengasuhnya harus kembali ke Apeldoorn.
Liburan benar telah usai, Muna masih harus berjuang setahun lagi menyelesaikan kuliahnya yang tersisa dua sememster.
Di mana Muna akan mulai menggarap tugas akhirnya, dan tetap konsisten kuliah bersama Aydan yang selalu di dekatnya. Sebab tak ingin di kira tak bertanggung jawab dengan anaknya, juga sebagai obat pengusir kangen pada sang suami yang tak berada selalu di sisi.
Tidak ada drama perpisahan kali ini, sebab Aydan sudah semakin terbiasa dengan suasana hidupnya yang seolah nomaden itu. Kadang lama di mana, nanti mendarat libur di mana, kadang juga bisa tidur dengan siapa, fleksibel sekali. Sebab ia memang sudah bisa makan MPASI juga tetap mengkonsumsi ASInya melalui dot.
Sehingga Muna juga tak susah untuk menyapih Aydan, sebab telah memiliki banyak stok ASI.
"Udah lewat 3 tahun ya Mae kuliah mu. Abang ga sabar nunggu 2 semestermu. Supaya kita ga pisah-pisahan lagi." ucap Kevin di waktu santainya merebahkan diri berbatalkan paha Muna.
"Iya bang. Terima kasih buat sabarnya. Terima kasih untuk dukungan dan duitnya, he...he..."
"Kalo ga suami Mae yang dukung siapa lagi dong?"
"Iya suamiku sayang."
"Ntar setelah lulus mau langsung kerja atau kuliah lagi Mae?"
"Abang jangan mancing kerusuhan dong. Ini aja Muna dah ngos-ngosan nyeleseinnya, masa lanjut kuliah lagi?"
"Ya kali betah gitu jadi mahasiswi."
"Kalo ga ada ekor sih ga papa bang. Tapi sumpah kuliah sambil nikah tuh rasanya nano-nano bang."
"Pelajarannya sulit ya?"
"Bukan"
"Terus apanya yang berat?"
"Rindunya sama abang."
"Eaaa...eaa istri abang minta naikin jatah uang bulanan niih kalo gini rayuannya."
"Abang tau aja niih."
"Mau di naikin berapa sih?"
"Canda bang. Udah cukup kok."
"Kalo kurang bilang ya. Nafkah batinnya juga, kalo mau minta tambah durasi atau level hotnya di naikin, bilang ke abang langsung. Abang takut dosa kalo ga bisa memuaskan istri." Kekeh Kevin yang hidungnya langsung di pencet Muna lama.
__ADS_1
"Modus abang aah." Kekeh Muna.
"6 bulan kedepan... boleh ga abang 3 bulan sekali aja ke sininya yang? Perusahaan sedang butuh abang banget." Kevin kembali ke mode serius.
"Ga papa. Asal yang di urus beneran kerjaan. Bukan yang lain-lainnya." Jawab Muna pasrah.
"Nanti kalo abang kangennya kebelet boleh liat mumun via vicall ya Mae."
"Hissh... sholat bang. Bawa sholat aja."
"Insyaallah." jawab Kevin terdengar lirih.
"Maaf ya bang." Kecup Muna pada dahi Kevin.
"Ini perjuangan kita bersama sayang."
"Iya... masih perlu stok sabar lagi kitanya." Muna berseloroh.
"Yang..."
"Hmm...'
"Selesai kuliah, Mae hamil lagi ya."
"Siap bosque."
"Insyaallah, kalau Tuhan mengijinkan bang."
"Makasiih sayangku. Nih jadwal perang gimana nih? Boleh di mana? luar atau dalam?"
"Luar dong pap."
"Sarungan deh."
"Heemm, asal ga robek aja ujungnye."
"Haha...haha. Paling hamil." Tawa Kevin yang sudah membalik badannya menyeruduk mumum yang masih terbalut beberapa kain lapisan.
Ga usah di bahas mereka ngapain, masih suasana tahun baru ini, si nyak bawaannya ngantuk. Belum kumpul nyawanya buat ajak readers traveling. So' skip saja.
Hanya tiga hari Kevin berada di Apeldoorn. Kemudian benar kembali ke Bandung. Berkutat dengan dokumen dan semua kesibukannya.
Bahkan benar ia tidak sesering dulu menyambangi Muna di Apeldoorn. Sebab memang akan menyiapkan segala proyek kerjasama yang besar juga lebih banyak dari tahun sebelumnya. Sebab yang Kevin pikirkan bukan hanya masalah otong, isi perut mereka sekeluarga juga.
Bersykur Kevin punya Gilang yang semakin mahir mengimbanginya dalam urusan pekerjaan. Sehingga Kevin tampak selalu stabil menjalankan pekerjaannya walau berjauhan dengan Muna.
Kehadiran Gita di kantor pun mempunyai keunggulan tersendiri. Membuat Kevin lebih ingin menunjukan bahwa ia adalah sosok kakak yang patut di teladani dalam soal kesetiaan, juga profesional dalam bekerja.
__ADS_1
Modus Gita yang ingin selalu dekat Gilang dengan alasan belajar mengendarai motor pun sudah di jalani. Kini Gita hanya akting belum bisa membeli motor pada Gilang. Sedangkan urusan mengendarai, kadang ia yang terlihat membonceng Ninik ke kantor.
Namun, suasana pagi itu membuat wajah Gita agak sedikit mendung. Sebab ia tak melihat sosok Gilang di mejanya. Tapi melihat box makanan di atas mejanya, dengan sebuah notes bertulis.
^^^"Selamat bekerja tampan.^^^
^^^Jangan lupa makan siang."^^^
^^^'Pemuja Rahasia'^^^
Ngenes dong hati Gita. Mau marah sama siapa? Mau cemburu dia siapa? Akhirnya Gita hanya cemberut saja sepanjang hari. Bahkan saat Gilang datang pun ia seolah tak melihat Gilang dan memilih menghindar saja.
Makan siang pun Gita memilih pergi bersama Haikal saja.
Sementara Gilang dengan mata berbinar memandang box makanan di atas mejanya. Dalam pikirannya itu dari Gita yang malu mengakui jika dia adalah pemuja rahasia Gilang.
Sambil senyum Gilang mengunyah makanan dalam box itu, yang bagi Gilang lumayan lezat.
Dan setelah itu habis, Gilang mengganti notes, dan menulis balasan.
^^^"Terima kasih suportnya,^^^
^^^makan siangnya juga enak.^^^
^^^Lebih lezat lagi^^^
^^^kalo makannya bareng kamu."^^^
Gilang menempelnya di atas box, dan mengembalikan ke dalam bungkusnya kembali. Itu terjadi hingga dua pekan. Dan selama itu pula, Gita membuat jarak dengannya.
Awalnya Gilang mengira box itu dari Gita, sehingga ia tampak senang dan selalu ceria setiap melihat box nasi itu di atas mejanya. Tapi dengan jarak yang di buat Gita dengannya membuat hati Gilang merasa ada yang kurang. Ia senang membaca isi di notes itu, tapi mengapa berbeda dengan tingkah gadis yang tiba-tiba menjauhinya, bahkan lebih sering makan di luar bersama Haikal dan juga Ninik.
"Kalo NengGi yang bikin nasi box ini, kenapa dia tidak sekalian buatkan untuknya?" Batin Gilang yang seolah baru tersadar. Maka Gilang memutar otaknya, akan mencoba mencari informasi siapa gerangan orang yang selama ini memberinya makan siang.
"NengGi... kerjaan lagi dikit. Ntar malam Agi main ke kost ya." Gilang sengaja meletakan notes di tumpukan dokumen yang akan Gita kerjakan, saat dia keluar makan siang.
"Oke... boleh Agi. See U di kost." Gita pun membalas di notes berbeda dan menempelnya di depan monitor Gilang saat sedang ke ruangan Kevin.
Gilang kembali ke ruangannya, mendapati Gita yang sudah tidak berada di ruangan itu. Dan menemukanan notes yang tertempel di monitor komputernya.
"Huum... tulisannya beda. Jadi fix, makanan siang selama ini bukan dari nengGi." Monolog Gilang dalam hati. Satu bukti terkuak. Selanjutnya besok ia akan datang lebih pagi untuk memastikan bukan Gita yang meletakan box itu di mejanya.
Bersambung...
Dan readerspun ikut penasaran
Semoga tak lelah mengikuti alur nyak yang selalu ada teka-teki ya semua.
__ADS_1
Love se Indonesia✌️🙏