
Muna menarik nafas lega saat motor yang di kendarai Asep sudah berbalik arah menjauh dari lokasi pembantaian tadi.
Entah di sadari atau tidak. Muna seketika merasa aman dan tentram saat berada di belakang tubuh pria rapi di depannya.
Muna berkali-kali mengucapkan syukur dalam hatinya, menyadari bahwa Tuhan ada untuk mendengar di setiap doanya. Sehingga dengan sendirinya penolong tampan ini tiba-tiba datang bagai di turunkan dari langit untuk menolongnya.
"Neng Muna... maaf a'a teh mau cepetan ke kantor. Eneng, a'a antar ke rumah ambu saja untuk istirahat nya." ujar pria itu saat mereka masih berada di atas dua roda dan mulai memasuki pemukiman desa.
"Iye terserah elu dah a' Sep. Yang penting Muna di tolongin." Jawab Muna sekenanya sebab sendirinya juga bingung harus kemana dengan kondisi tubuh lebam dan makin melemah itu.
Dalam kurun waktu kurang lebih 20 menit Asep sudah tampak berhenti di sebuah rumah lumayan besar dengan pekarangan luas di tanami berbagai tumbuhan segar untuk di pandang mata.
Dapat Muna simpulkan bahwa pemilik rumah itu termasuk orang berada untuk ukuran orang yang tinggal di sebuah desa seperti ini.
"A' a Asep... teu di kantor?"
(A'a Asep ga ke kantor) tanya seorang wanita tua yang ada di pekarangan rumah sedang menyiram tanamannya.
"Ka kantor atuh ambu. Tapi di jalan a'a ketemu eneng gelis yang hampir di culik. Tulung ambu urusin nya. A'a teh ampir telat ini." Pinta Asep yang sudah turun mendekati wanita tua yang ia panggil dengan sebutan ambu.
"Oh kitu. Sok' buruan a'a ka kantor. Engke mah jaga awewe geulis ieu." Ucap ambu yang masih memandang lekat tak percaya pada Muna yang menurutnya sangat berpenampilan mengenaskan.
"Hayuk atuh neng, ikut ambu ka dalam. Anggap rumah sendiri nya." Ambu sudah meraih tangan Muna untuk di ajak masuk ke dalam rumah.
"A' pergi ambu. Assalamulalaikum." Pamit Asep sopn pada ambu.
"Walaikumsallam. Hati-hati a'." ujarnya sambil menatap punggung cucu semata wayangnya itu.
Muna sudah berada dalam rumah yang tertata dengan rapi dan bersih di sana. Bola matanya berpendar penasaran akan penghuni rumah sebesar itu.
"Ini pakaian ganti neng. Sebaiknya eneng teh mandi dulu, biar seger. Ambu buatkan teh hangat manis dan sarapan buat eneng dulu." ujar ambu tanpa basa basi.
"Iiya... terima kasih." Muna sedikit terbata.
"Ambu... panggil ambu nya, biar sama seperti cucu ambu si a'a Asep tadi." Ambu dapat menangkap rona bingung pada sudut mata Muna.
__ADS_1
"Iya ... baiklah. Terima kasih ambu. Atas pertolongannya." ujar Muna yang tiba-tiba melow dengan mata sedikit berkaca di sana.
"Ulah ragu nya. Di dieu ambu cuma tinggal bareng Asep, cucu ambu. Jadi jangan sungkan." Jelas ambu lagi pada Muna.
Muna beringsut mencari kamar mandi untuk segera menyegarkan tubuhnya yang bahkan sejak kemarin belum mandi. Sulit bagi Muna sendiri jelaskan apa yang telah terjadi pada dirinya dalam satu hari. Bahkan kini ia sendiri tak tau sedang berada dimana?
Yang ia percaya hanya lah kini, ia sedang dalam dekapan kasih sayang Tuhan yang sudah mengirimnya penolong tampan tadi. Sehingga dapat sedikit melupakan kesedihannya yang telah terpisah dari Kevin, nyak, babe juga Siska.
Sambil mandi Muna menangis, air dalam bak yang ia guyurkan ke atas kepalanya telah bercampur airmata di wajahnya. Muna semakin tidak mengerti akan hal yang terjadi pada dirinya.
Dalam 15 menit Muna sudah terlihat rapi. walau beberapa lebam di wajah, tangan siku dan kakinya masih nampak. Namun ia tetap berusaha menutupi rasa sakit itu dengan tersenyum saat di lihatnya ambu sudah menunggunya sejak tadi di meja makan.
"Mari... makan dulu neng. Ambu sudah minta tetangga memanggilkan perawat desa untuk memeriksa keadaanmu." Ujar ambu dengan lembut menatap Muna.
Belum sempat Muna duduk di kursi makan itu. Ambu sudah berdiri dan memeluk tubuh Muna dengan erat, seolah mereka telah kenal lama, akrab.
"Maaf... silahkan makan." Ujarnya kembali sembari melepas pelukan dan menghapus titikan kristal bening yang tiba-tiba mengalir di pipinya.
Muna lapar, namun sedikit merasa tak nyaman saat bola mata ambu tak pernah berhenti memandang semua gerak-geriknya.
Muna sudah menghabiskan makan paginya, dengan perasaan masih sedikit gamang tidak tenang.
Ingin bertanya sesuatu pada ambu tetapi tak tau harus berkata apa.
Namun, tak lama kekakun itu berlangsung. Pintu rumah ambu sudah di ketuk oleh seorang wanita dengan pakaian biasa.
"Permisi ambu... ada yang bisa Eta bantu?" sapa seseorang itu dengan ramah sembari masukrumah. Sepertinya mereka telah kenal dan biasa dengan ambu.
"Neng Eta udah dateng. Ini neng, tulungin cucu ambu. Baru datang dari kota. Tapi terjadi kecelakan di jalan, hampir di culik. Sok di periksa atuh." Ambu berbahasa penuh dengan khiasan akan status Muna di rumahnya.
"Oh...iya. Mari saya periksa neng." Ujar wanita bernama Eta itu ramah.
"Muna, nama aye Muna bukan neneng." Jawab Muna sekenanya.
Wanita di depannya hanya tersenyum manis, menyadari bahwa wanita yang akan di periksanya sama sekali bukan orang Sunda seperti Ambu.
__ADS_1
"Tekanan darah Muna rendah sekali. Ada apa? kurang tidur?" tanya Eta yang juga menekan bagian-bagian lebam pada tubuh Muna.
"Iye... pegimane aye jelasinnye ye. Kemarin aye tuh melakukan donor darah, lalu di hadang beberapa orang berbaju hitam. Sempat aye liat meletakan sapu tangan ke hidung aye. Nah terus aye kagak tau ape-ape deh. Tiba malamnye, aye ude di mobil aje ame pria-pria yang kagak Muna kenal sama sekali. Terus, aye berantem ame 5 orang entuh, mangkanye jadi bonyok ke gini." terang Muna lancar pada ambu dan Eta.
"Terus 5 orang itu semua kalah?" tanya Eta penasaran.
"Iye... semua terbantai. Tapi pas ude pagi ada satu yang bangun lalu kembali menghajar aye. Beruntung a'a Asep yang nemuin Muna di tolongin dah, di bawa ke mari." Lanjut Muna lagi membuat ambu dan Eta semakin kagum di buatnya.
"Ya sudah, sebaiknya neng Muna istirahat dulu ya. Ini obatnya di minum supaya lekas pulih. Banyak tidur saja ya neng Muna, agar staminamu cepat kembali." ujar Eta ramah sambil menyodorkan beberapa tablet untuk di konsumsi Muna.
Tanpa pikir panjang Muna segera menelan obat tersebut. Berharap segera pulih dan bisa kembali ke Jakarta, walau ia sendiri sadar tak ada serupiahpun ia miliki. Ponselpun tak punya. Sempurnanya kesialan seorang Muna.
"Ambu... apakah ambu punya ponsel? Muna boleh pinjam untuk menghubungi orang tua Muna?" dengan penuh kesadaran Muna masih keukeh ingin segera menghubungi babe atau Kevin agar segera di jemput.
"Maaf atuh neng Muna. Ambu teh ga punya ponsel. Yang punya teh si a'a. Muna tidur saja dulu. Nanti tunggu Asep pulang kerja baru bisa pinjam ponselnya." Jawab ambu menenangkan.
Dan Muna merasa ide itu tidak cukup buruk, sebab ia benar merasa kantuk datang menderanya. Sedapat mungkin berjalan ke kamar yang di tunjukkan ambu untuknya merebahkan diri di atas kasur empuk, melupakan sejenak segala yang terjadi. Sebab baginya sekarang, istirahat adalah satu-satunya yang ia butuhkan.
Bersambung...
Oke gaeees
Setidaknya kita sudah sama-sama tau kalo Muna baik-baik saja.
Udah Sabtu aja niih
Besok senin Nyak minta di vote🤭
Bussseeeet dah
Ini nyak titip pic wajah penolong tampan yak❤️
Semoga sesuai ekspektasi
__ADS_1