OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 187 : KEVIN BOHONG


__ADS_3

Dua pekan berlalu, hanya selama itu Kevin bisa berada di sisi Muna. Beraktifitas dari jarak jauh bahkan ia sebagai pemimpin sebuah perusahaan tentu sangat tidak baik baginya yang seharusnya sebagai panutan para karyawan lainnya.


Namun Muna tidal secengeng itu, mereka telah sangat ikhlas dengan pembagian takdir kehidupan yang mereka dua pilih. Hanya sedikit berkaca di pelupuk matanya saat lagi-lagi di bandara Schiphol raga mereka terpisah kembali.


"Jaga diri baik-baik ya sayang. Abang pulang agak lama. Bawa sholat kalo kangen, kita akan selalu bertemu di 5 waktu itu." bisik Kevin dalam pelukan perpisahan mereka.


"Iya... suamiku sayang. Jaga kesehatan selalu. Kerja yang jujur biar berkah."


"Amin." Sahut Kevin melepas ciuman di kening Muna saat panggilan penumoang sudah terngiang memanggilnya.


Mungkin mereka telah mulai terbiasa dengan jarak yang memisahkan itu. Sehingga kini mereka jalani keseharian mereka jalani dengan baik-baik saja.


Benar saja bahkan bulan telah berganti Kevin belum ada tanda-tanda akan menyambangi istrinya ke negara kompeni itu. Kevin masih terlihat sibuk dengan setumpuk pekerjaan, namun 60 persen sudah mulai bisa di kuasai oleh Gilang.


Ya Gilang sektertaris pilihan Muna ternyata tak salah, semakin hari ia tampak semakin menunjukan kinerja baiknya dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang di bebankan padanya.


"Gilang... waktu percobaanmu 1 bulan lagi jika sesuai janji ibu. Tetapi sepertinya kamu akan lolos menjadi sektretaris tetap."


"Alhamdulilaj pak. Saya tersanjung mendapatkan pernyataan demikian."


"Besok saya akan ke Belanda lagi. Dan mungin akan lebih lama dari biasanya. Titip kantor ya. Maaf sering mangkir."


"Ya... saya paham pa. Namanya juga suami


istri, pengantin baru lagi. Kata orang maunya nempel terus kaya perangko pa."


"Ah... kamu. Kaya sudah merasakan berumah tangga saja. Kamu masih single kan Lang...?"


"Hi hi. Iya pa. Mana berani berumah tangga, kerja aja masih percobaan. Mau di kasih makan apa anak orang besok pak." Obrol mereka akrab. Yang terhenti karena dering telepon Kevin. Tertera nama papi di sana.


"Assalamualaikum, Pi. Apa kabar?"


"Walaikumsallam Vin. Kabar baik. Ini ada cewek ingin bicara denganmu."


"Siapa?" tanya Kevin sambil mengibaskan tangannya ke udara sebagai permintaan agar Gilang meninggalkannya sendiri di ruang pribadinya.


"Kakak... ini Gita." Jawab manja dari adik perempuan satu ayah beda ibu tersebut.


"Oh Gita. Ada apa adik bontotku?"


"Kakak... aku sudah jadi sarjana Ekonomi ini. Apa ada lowongan pekerjaan untukku?"


"Haha... haha. Bercanda kamu. Kenapa perusahaan papi sudah penuh?"


"Gita mau mandiri kak. Ga mau kerja di perusahaan papi. Mereka pasti tau aku anak papi. Ntar Gita ga bisa kerja dengan benar sesuai kemampuan Gita, boleh ya kak?"


"Gimana ya Git. Bulan lalu baru saja kami melakukan rangkaian tes. Kecuali kamu mau jadi pegawai magang saja. Jadi bebas kapan mau ngelamar silahkan. Mau di mana? Kantor atau pabrik?"


"Kantor saja boleh kak?"

__ADS_1


"Boleh, mau divisi apa? produksi? pemasaran? personalia? pembelanjaan atau umum?"


"Pemasaran boleh?"


"Itu menyangkut target penjualan lho Git, akan mempengaruhi jenjang karier mu."


"Ga papa, seru kali kak."


"Ya terserah. Kapan mau ke Bandung?"


"Besok deh Kak. Masukan lamaran dulu kan ya?"


"Iya. Biar kakak siapin kamar buatmu ya Git. Tinggal sama kaka saja."


"Ga mau... Gita cari kost aja kak. Sama aja bohong kalo ga kerja di papi, tapi kerja dan tinggal di rumah kakak."


"Jadi...?"


"Bantu rahasiain identitas Gita juga pas kerja di perusahaan kakak."


"Kamu ribet banget ya Git."


"Kakaaaak."


"Ya udah. Kamu melamar sealami mungkin saja ke kantor. Lagian besok kakak juga ga ada. Jadi malah enakkan."


"Oke ... oke."


"Emang yang punya nama Mahesa papi doang kak? Tempat lahir kita aja Beda. Kan aku lahirnya di Malang."


"Hm... bener juga. Baiklah. Semoga betah ya Git. Lapor ke kakak kalo ada karyawan mencurigakan atau berbuat tidak baik padamu."


"Oke siap. Terima kasih banyak kak. Salam buat kak Muna ya. Asalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Kevin menggeleng-gelengkan kepalanya. Menyadari betapa ide dan pemikiran orang memang berbeda-beda.


Kevin menatap kalender di mejanya, melihat lingkaran merah 3 hari lagi. Kevin berharap di tanggal itu ia harus berada di sisi Muna. Sebab itu adalah tanggal lahirnya. Kevin ingin merayakannya bersama istri tercintanya. Sedikit berharap agar Muna bisa memberikannya kado istimewa. Tetapi, ah. Memiliki Muna menjadi istrinya saja sudah membuat Kevin tak berhenti mengucap syukur. Masa iya, Kevin masih berharap di berikan lebih. Maruk sekali.


Kevin mengendus aroma dari dapur rumahnya. Tampak nyak Time menggunakan pakaian kebesarannya celemek di sana.


"Asalamualaikum nyak. Masak apa siih.?"


"Walaikumsallam Pin. Sore bener lu pulang. Magriban gih, terus kita makan bareng yak."


"Nyak apa?"


"Semur jengkol Pin. Nyak kangen Muna." Raut wajah nyak Time berubah lesu.

__ADS_1


"Besok Kevin ke sana. Nyak mau ikut?"


"Lu kira Belande di Tanah Abang?"


"Ya kali nyak mau jenguk Muna di sana."


"Kagak use Pin. Nyak kali kangen bisa nelpon kok. RT kalian berat di ongkos."


"Udah nyak, ga usah di bahas. Malah tambah kangen ntar."


"Iye sih. Eh, elu dah hampir sebulan pan kagak ke sana."


"Iya... makanya besok Kevin mau mondok lagi disana. Lebih lama kayaknya. Urusan kantor udah ada Gilang yang lumayan bisa di percaya."


"Huum... baguslah. Kalo gitu nyak boleh titip semur jengkol inu buat Muna? Ini tuh kesukaannya Pin."


"Boleh sih. Tapi apa ga basi nyak?"


"Kagak... tahan kok Pin."


"Ya udah bungkus."


"Eh... elu bawa bahan mentahnye aje gih. Biar Muna puas bikinnye. Jamin enak dan kagak basi."


"Nah cakep tuh nyak, idenya."


"Elu kagak malu Pin. Terbang jauh-jauh bawa segala jengkol buat Muna."


"Malu kenapa? Yang tau Kevin bawa jengkol kan cuma nyak dan Kevin. Lagian Kevin juga suka kok nyak."


"Kepiiin mantu nyak emang paling dabes dah. Makasih ye Pin."


"Sama-sama nyak." Ucap Kevin sambil berlalu dan melaksanakan kewajibannya di kamar.


Kevin sudah duduk di hadapan nyakbdan babe untuk bersantap malam bersama. Menu semur jengkol yang pernah Muna buatkan untuknya dulu.


Dengan penuh semangat Kevin mengambil lauk tersebut, tentu saja karena ia suka juga mengingatkannya pada sang istri.


Namun sayang, rasanya tak sesuai ekspektasi. Di lidah Kevin, semur jengkol olahan Muna jauh lebih enak dari buatan nyak Time. Menurut lo? Kevin berani mengembalikan semur yang bahkan sudah lebih dari 1/4 isi piring makannya. Bahkan dihadapan kedua orang tua yang ia sayangi itu?


Kevin bersusah payah memghabiskannya, mengolah wajah seceria tadi, saat tau nyak Time membuat masakan itu atas dasar kangen Muna. Tapi, babe dan nyak bukan baru hari ini makan bersama, tentu mimik itu di tangkap oleh mereka.


"Wajah lu ngape Tong? Terpaksa banget ngunyah nye!" seru babe.


"Eng... tiba-tiba, Kevin sakit perut be." Bohong Kevin.


Bersambung...


Titip pic Gita adeknya bang Kevin ya.

__ADS_1



__ADS_2