
Gilang pemuda sederhana, ramah baik dan pasti tidak sombong. Bahkan sebenarnya Muna sudah jatuh cinta pada pandangan pertama saat Muna pertama kali ke kantor Kevin. Tentu saja jatuh cinta dalam konteks, sebagai calon pegawai yang dapat ia percaya dalam hal menjadi tangan kanan Kevin.
Walau tidak ada hubungan darah, dalam sebuah perusahaan tidak selalu, harus mengangkat saudara dan kerabat dekat lainnya. Untuk menjadi orang kepercayaan, yang penting orang tersebut mampu menjalankan perusahaan dengan baik dan jujur.
Gilang dan Gita sudah tiba di rumah Kevin. ART sudah menyilahkan masuk. Kevin dan anggota keluarga lainnya bari saja akan makan malam bersama. Tentu saja mereka sudah dengan lumer di silahkan ikut gabung makan bersama.
"A' Asep... kata ambu Asep udah ke Cikoneng?" tanya mama Rona pada Siska dan Asep yang juga di sana.
"Iya. Alhamdulilah sudah dapat ijin bawa Siska ke Korea, 2 bulan lagi."
"Nikahnya kapan?" tanya Kevin yang makan tanpa Muna di meja makan itu. Muna masih menyusui, Naya agak berbeda dari Aydan. Durasi mentransfer air susunya agak lama. Juga agak cerewet. Jadi Muna memang di buat tidak bisa jauh darinya, selalu nempel.
"Tergantung persetujuan emak sama appa." Jawab Asep.
"Tapi nikahnya di sini kan?"
"Insyaallah. Rencana akhir tahun lah. Sambil tunggu rumah Asep jadi. Rencana nikah di Cikoneng, tapi tetap ada menggelar syukuran di rumah ambu juga makan siang di rumah kami. Biar tetangga dan teman kantor yang tidak bisa hadir tetap bisa memberi doa restu." jelas Asep.
"Kalo kalian kapan nikah?" tanya Kevin pada pasangan Gilang dan Gita yang baru bergabung tadi.
"Uhuk... uhuk." Mendadak Gita terbatuk dan reflek Gilang juga Aydan menyodorkan gelas ke dekat Gita.
"Aunty... makannya pelan-pelan. Jadi atuk-atuk kan. Ga papa?" celoteh Aydan menghentikan makannya untuk memperhatikam Gita.
"Echeeem.. echeem. Ga papa. Aunty ga papa. Makasih K Ay."
"Cama-cama Aun."
"Jangan karena batuk,. jawabannya tertunda ya." Kevin menagih jawaban. Gilang dan Gita masih belum menjawab.
"Tong... habisin makan malam kita ini dulu. Ntar ada yang lebih dari keselek kalonelu, selalu minta jawaban." Bela babe pada Gita dan Gilang.
"Selamat... untung ada babe yang bela in." Batin Gita. Dan Gilang seolah tidak mendengar saja pertanyaan Kevin tadi.
"Papap... Jalan jalan yuuk. Ay mau pemen, boweh?" pinta Aydan pada Kevin yang akan ikut bergabung di samping rumahnya untuk melanjutkan obrolan.
"Boleh. Pake motor mau?"
"Mauuuu...."
"Ga lama ya k Ay. Kita keburu Isya."
"Ciaaap papap."
__ADS_1
"Kita ijin mamam sama ade dulu yuks." ajak Kevin yang sudah menggiring Aydan ke kamar Naya.
"Mamam... K Ay mau jajan cama papap duyu ya.. maman inggal cama Naya yaa... cup, cup angan angis mam." Pamit Aydan dengan bahasa cadelnya.
"Enggalah ka. Mamam ga nangis, mamam jaga ade saja di rumah." Jawab Muna mandang Kevin.
Cup.
Pelipis Muna sudah di cium Kevin, lalu duduk di sisi ranjang dan mencium ubun-ubun kepala Naya.
"Mamam mau titip apa?"
"Mau roti aja pap. Yang ada creamy coklat di dalamnya."
"Siap yang. Berangkat dulu ya." Pamit Kevin
"Berdua saja?"
"Iya."
"Pake apa?"
"Motor mam." Muna tersenyum.
"Iya... bye Naya, bye mamam. Asalamualaikum."
"Walaikumsalam. Makasih ya pap."
"Cama-cama." Jawab Aydan nimbrung.
Kevin dan Aydan sudah keluar rumah bersama Aydan. Benar Kevin meluangkan waktunya banyak untuk memanjakan Aydan. Yang papinya sampaikan benar. Cukuplah 8 bulan lalu, Aydan habiskan bersama babe dan nyak. Tetapi untuk kedepan, Kevin sudah berkomitmen untuk akan menukir banyak kenangan bersama Aydan. Ia ingin menjadi ayah yang berkesan baik untuk anak-anaknya nanti.
Sementara di teras samping, sudah Gilang yang ketar-ketir, menahan degup jantungnya yang berdebar tak karuan. Bohong saja dia tidak resah saat belum memperkenalkan diri secara resmi dengan kedua orang tia Gita.
"Papi... ini perkenalkan A Gilang." Gita sedikit terbata memperkenalkan Gilang pada papinya..
"Oh.. iya. Gilang, asisten pribadinya Kevin kan. Papi sudah kenal Git." Jawab Diendra tetap menyambut salim dari Gilang.
"Iya... saya asisten pribadi pa Kevin. Tapi juga punya hubungan lebih dari teman dengan Gita putri bapak." Gilang memberanikan diri memperkenalkan dirinya.
"Maksudnya...? Kekasih Gita?"
"Iya pak. Begitu jika di ijinkan."
__ADS_1
"Kalau tidak di ijinkan?" tanya Diendra
" Cari cara sampai di ijinkan."
"Kenapa Gita?"
"Karena memiliki hati yang tulus dan sederhana."
"Kenapa harus yang tulus?"
"Karena pasti bisa menerima Gilang, apa adanya."
"Dari mana tau dia sederhana?"
"Sebab sejak awal kenal, Gita menampakkan hal itu. Dan tidak kaku saat harus dekat dengam Gilang yang bahkan tidak memiliki apa-apa."
"Kamu tau dia putri saya satu-satunya."
"Tau pak."
"Gita bukan hanya putri, atau buah hati yang istri saya pernah lahirkan. Arti kata putri dalam definisi seorang ayah adalah seorang putri yang sesungguhnya. Yang tidak boleh di sakiti jiwa dan raganya. Dua puluh enam tahun saya menjadi ayahnya, yang tidak pernah memukul, bahkan menghardiknya. Sebab, rasa sayang dan cinta saya terlampau banyak untuknya. Jadi, jika dalam niat saja ada pikiranmu ingin melakukan hal itu, maaf. Tidak akan pernah saya ijinkan kalian maju ke tahap berikutnya." Papar Diendra serius pada Gilang.
"Insyaallah semampu saya, tidak akan mengecewakan putri bapa."
"Hah... apa yang kamu punya untuk menjamin jiwa dan raga anak saya tidak akan kamu sakiti."
"Dari segi materi, mungkin saya tidak akan pernah sama seperti bapak memanjakan Gita. Tapi saya punya Allah yang akan menolong saya menjadi imam yang akan membimbing, menjaga kehormatannya juga mencintai putri bapak." Tegas Gilang.
"Apakah ini artinya, kamu sedang melamar putri saya?"
"Awalnya saya hanya ingin berkenalan dengan bapak. Lalu memastikan untuk memiliki ijin, boleh bergaul lebih dekat dengan putri bapak. Tapi, jika ini di anggap lamaran pun saya siap." Tidak tanggung-tanggung. Bukan hanya Diendra yang kaget, Gita apa lagi. Semalam mereka tidak ada bilang mau lamaran segala.
"Kalau hanya berkenalan, itu tentu sudah kita lakukan. Dalam hal di ijinkan atau tidak bergaul dengan putri saya, itu boleh saja. Tapi bergaul dalam koridor yang tidak melanggar norma hukum dan agama. Kemudian jika ini soal lamaran. Ini menjadi suatu hal yang tidak bisa di jawab dalam waktu singkat. Setelah putri saya di lamar, maka jenjang berikutnya adalah menikah. Saya lebih khawatir dengan bagaimana kelanjutan kehidupan putri saya setelah ijab qobul terikrar. Saya, pernah gagal sekali menikah. Dan hal itu, cukup saya yang merasakannya. Bukan finansial yang saya tuntut. Tapi kesetiaan yang utama akan saya tekankan." Lagi... obrolan malam iti lebih mirip dengan dialog sidang di pengadilan. Suasana teras rumah Kevin sebenarnya sejuk, tapi tidak dengan suasana hati Gilang. Yang baginya tetiba saja atmosfir di situ memanas, gerah, seolah tak beroksigen.
"Insyaallah. Bahkan saya tidak punya punya alasan untuk berniat saja untuk berkhianat pada putri bapak." jawab Gilang sungguh-sungguh.
"Dalam hal jawaban di terima atau tidak, maaf. Gita punya mama, punya dua saudara laki-laki juga. Sebelum dia benar akan menjawab lamaranmu."
Gilang diam. Sadar jika lamaran ini mungkin terlalu cepat. Ia bahkan hanya kenal Kevin saja. Tanpa kenal saudara Gita yang lain. Bukankah menikahi seseorang pun kita juga wajib mengambil hati juga memastikan dia akan bahagia bersamamu. Apa lagi Gita anak tunggal bungsu perempuan. Kecap saja tidak cukup untuk membuat makanan menjadi manis. Tapi perlu garam juga, untuk mendorong rasa manis itu keluar dengan sendirinya.
Bersambung...
Nyak no komen.
__ADS_1
Ngantuk full🙄