
Jika ada kata di atas rasa senang, itulah yang menyelimuti hati Kevin dan Muna sekarang.
Jika ada rangkaian lebih dari kata bahagia, itu lah rasa yang melingkupi hati seluruh kekuarga, baik dari pihak keluarga Mahesa, Hildimar terlebih-lebih babe Rojak dan nyak Time yang sudah menjadi bagian dalam keluarga itu.
Mereka sadar, tak sedikitpun mempunyai pertalian darah dengan Muna. Tetapi tak ada satupun yang keberatan akan kehadiran kedua orang tua angkat Muna tersebut. Rukun, harmomis, tak sedikitpun ego untuk mendominasi Muna.
Terlebih Kevin yang sudah sangat menganggap orang tua itu seperti orang tua kandungnya sendiri, sama seperti Muna.
Tangis haru, bangga serta restu tak kunjung berhenti mendesak dalam hati kedua pasangan tersebut, bagaimana tidak. Muna besar di tangan mereka, dalam perawatan dan didikan pasangan Betawi yang selalu kompak, somplak juga berahlak.
Awalnya mereka hanya senang, jika Muna anak yang mereka rawat dengan kehidupan serba pas-pasan, akan menikah dengan pria mapan juga sangat menyayangi anak gadis mereka.
Namun, seujung kuku pun mereka tidak menyangka jika ternyata anak yang mereka pungut tersebut adalah keturunan bangsawan Belanda, horang kaya. Merasa kerdillah hati babe dan nyak akan semua kenyataan tersebut.
Hati Muna telah di dominasi oleh orang tua angkatnya, sehingga walau Muna kini sekaya apa. Rojak dan Time selalu ia nomor satukan, setali tiga uang dengan Rona dan Dadang. Yang telah menganggap mereka seperti saudara sendiri.
"Beli duku di pasar baru.
Jangan lupa beli kedondong.
Ape kabar menantu?
Udah belah duren dong."
Sapa babe di hari pertama mereka hadir lengkap di meja makan untuk makan siang.
Ya... Hanya makan siang, sebab semuanya bagai terbantai. Lelah bersama setelah perhelatan akbar kemarin, bahkan sore nanti akan bersiap untuk kembali ke habitat. Muna dan kakek pastinya.
Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal mengedar pandangannya kepada seluruh orang-orang yang duduk menghadapan piring makannya masing-masing.
"Ke pasar senin mencari cabe,
Singgah sebentar membeli cendol.
Kevin lagi apes be,
Tuh gawang belum sempat di jebol."
Wk...wk...wk
Gelak tawa tak tertahan lagi atas pengakuan Kevin. Entah mereka percaya atau tidak.
"Lagu kebangsaan Indonesia Raya,
Entuh di nyanyikan pas merdeka.
Elu kira babe percaya?
Masa elu buang waktu percuma." Babe masih saja ingin mengoda Kevin.
__ADS_1
"Nasi kemarin tentulah basi,
Kasih ke bebek adalah solusi.
Mana bisa Kevin beraksi.
Itu tamu ikutan datang setelah resepsi." Jawaban Kevin lagi mengundang tawa yang lebih pecah lagi, di tambah satu rendaman cubitan di pinggang Kevin oleh Muna yang tiba-tiba merasa malu atas konfirmasi yang terkandung pada isi pantun Kevin siang itu.
"Endapan susu jadi dadih,
Taroh di wadah yang agak lebar.
Abah turut bersedih,
Hanya bisa bilang, sabaaaar." Dadang, abah Dadang juga akhirnya ikut nimbrung berbalasan pantun demi menyukseskan perbullyan mereka pada menantu baru itu.
"Cakeeeeep." Balas babe senang mendapat teman berbalasan pantun.
"Iyah elaaah, eni rumah ape sanggar lenong? Tadinye di tawarin makan, eh. Tiba di mari, makanan kaga sempat di masuk ke mulut. Ke buka doang, tapi kagak bisa ngunyah." Celoteh nyak Time yang selalu menjadi pembatas waktu pergantian ronde saat perang pantun terjadi.
"Iya ini... kaum bapa-bapa. Kayaknya senang sekali mengoda Kevin. Yuk, kita mulai makan saja." Rona juga ikut menghentikan obrolan unfaedah tadi.
"Hi...hi. Iye maaf, babe ngerasa seneng aje. Akhirnya Muna dan Kevin halal juga. Babe ame nyak ngikutin cerita cinta mereka dari awal (sama kayak reader setia semua) jadi paham bener pegimane perjuangan mereka dapetin buku nikah yang sempet tertunda." Ujar babe pelan, sambil terus menatap bangga pasangan pengantin baru itu.
"Iye...akhirnya. Nyak bener pan. Rindu itu berat, jadi nikah entuh adalah ilusi buat kalian berdua, kalo kalo aje, pas ketemu bablasan." Jawab nyak semangat.
"Entuh jalan keluar ape siih bahasanye."
"Solusi nyak." Kekeh Muna lucu.
"Iye... Entuh maksud nyak ah. Ngarti-ngarti aje ngape, ame nyak yang kada pernah lama makan bangku sekolahan." Ucap nyak mengundang tawa mereka semua yang di sana.
"Kevin... cucu menantu kakek. Bagaimana? Apakah sore nanti akan ikut ke Apeldoorn?" tanya kakek saat mereka sudah selesai makan dan beralih ke ruang keluarga yang lebih santai.
"Hm... Belum tau sih Kek. Gimana Mae? Abang kira-kira ikut ga?" lempar Kevin pada Muna.
"Ya terserah abang lah. Yang pasti seminggu kedepan. Muna UAS tuh, ga bisa di ganggu gugat. Jangan marah kalo di anggurin." Jawab Muna menjelaskan kemungkinan yang akan terjadi.
"Ah... Pengantin baru. Mana kuat pisah-pisahan lagi. Setelah dua tahun lebih terpisah pula." Celetuk abah Dadang.
"Iye... Pengantin baru sih baru. Tapi entuh entong, belom bisa betengger sebab lagi ngantri. Alamat nganggur dah, loket sedang di dalam pembenahan." Goda babe, yang lagi lagi mengundang tawa mereka.
"Ikut saja deh, sampai selesai UAS lah." Jawab Kevin lagi.
"Ih... Kelamaan yang. Kerjaan pegimane, lama di tinggal?" Muna mengingatkan.
"Kerjaan gampang."
"Ga usah deh, setelah UAS pan Muna lama liburnya. Muna boleh pulang lagi kan Kek?"
__ADS_1
"Ya haruslah. Rumah sakit perlu tinjauan direktur baru kan." Jawab kakek cepat.
"Tuh... Kayaknya. Abang bener sabar lagi deh. Muna ke sono cuma untuk UAS, terus kembali libur dan kerja di sini."
"Pilu banget jadi lu ya Pin, harus punya stok sabar berlapis-lapis, kaya coklat tango." Jawab nyak Time sendu.
"Ikut saja Vin. Temenin Muna UAS. Pasti lebih semangat dianya." Mama Rona menyarankan.
"Ya... Kevin cek kerjaan sebentar. Bisa di tinggal atau tidak ya ma." Jawab Kevin klasik, yang sesunggunnya terusik dengan keadaan Muna yang sudah halal tapi masih belum bisa di jamah full.
"Jangan di paksa kalo ga bisa. Jets kakek, pakai saja kapan mau. Jadi ga perlu nunggu yang komersil. Iyakan pa...?" tembak Rona pada ayahnya.
"Iya... Pakai saja. Hari ini kakek sama Muna pakai Light Jets saja, biar yang Heavy Jets tinggal di sini buat kalian pakai kapan mau. Permisi kakek mau istirahat sebentar. Sebelum berangkat." Pamit kakek pada semuanya.
Merekapun berpencar untuk masuk kamar mereka masing-masing.
Tak terkecuali Muna dan Kevin, yang kini telah berada di sebuah kamar yang tertata ala-ala kamar pengantin. Di penuhi bunga hidup, kuncupan melati membuat kamar itu menguar memberikan wewangian yang memanjakan indera penciuman sang penghuni.
Kevin melempar tubuhnya kasar ke atas kasur, lalu menarik tubuh Muna membuat limbung dan tertumpuk, juga masuk ke pelukannya.
"Sayang... Abang ikut ke sana atau tidak?" bisiknya pelan di telinga Muna sambil mengendus di area leher Muna.
"Gimana ya...? Muna sulit pisah looh rasanya sekarang sama abang. Tapi... Kalo abang ikut, yakin ? Abang ga ganggu Muna?"
"Emangnya abang hama, yang cuma bisa ganggu Mae." Ujarnya dengan gerakan tangan yang mulai berpendar-pendar menelisik dan berusaha menyusup di celah-celah kancing pakaian depan Muna, seolah mencari-cari sesuatu yang lama terhilang dan tersembunyi di balik kain renda bercup itu.
"Ganggu siih kagak bang, cuma ngerontokkan iman. Apa lagi niih, kayak gini, tangan abang ude gerayangan aje." Jawab Muna yang tidak menolak bahkan menikmati rematan halus di puncak dadanya.
"Iman mana lagi yang mau di pertahankan. Kita sudah halal sayang." Ujar Kevin tepat di telinga Muna, bahkan sudah menggigit kecil daun yang menyentuh bibirnya.
"Iye halal. Tapi Muna masih najis." Muna menepis bibir yang menggigit nakal sedari tadi.
"Kalo gitu abang tinggal aja deh. Takut khilaf. Si Otong mana ngerti sabar kalo sudah dekat si Mumun." Jawab Kevin sembari berdiri dan melangkah ke balkon kamar itu.
"Mumun...? Otong? Sape lagi itu? tanya Muna tanpa mendapat jawaban dari suaminya.
Bersambung...
Sabar ya readers...
Tunggu bersih dulu.
Yuk mawar, kopinye di banyakin
Nyak usahain bisa double up terus
Biar cepet MP😁
Lopeh seIndonesia raya buat semua❤️
__ADS_1