
Koco Suryo laksono sudah aktif bekerja di pabrik walau bermulai sebagai pegawai magang. Muna sudah berhasil menghubunginya melalui Siska. Tanpa bertemu secara langsung. Karena kesibukan Muna sebagai direktur, juga istri solehah dan ibu hamil yang aktivitasnya di batasi oleh suami posesifnya.
Dari jauh hari Koco sudah menyadari betul kesalahannya pada Muna atas kasus beberapa tahun lalu. Maka sebelum di minta pun, ia sudah sangat tau diri, tidak akan mengulangi kesalahannya. Ia berjanji akan lebih baik, jujur dan tidak mengecewakan Muna yang telah merekomnya untuk mendapatkan pekerjaan selain menjadi OB.
Walau berstatus masih magang sebagai pengawas di pabrik. Koco sangat menerimanya dengan antusias. Sebab peluangnya menjadi pekerja sesuai bidang ilmunya sangat sedikit jika terus bertahan di perusahaan Mahesa.
Hari-hari yang Muna lewati terasa cepat berlalu bersama orang-orang yang menyayanginya. Di perlakukan dengan lembut oleh sang mama, di manjakan dengan segala masakan khas Betawi oleh nyak. Juga di suguhi candaan dan nasihat bijak oleh babe Rojak membuat Muna terhindar dari kata stres saat menjalani kehamilannya.
Usia kandungan Muna sudah memasuki 38 minggu atau kurang lebih 9 bulan. Perkiraan lahir pun telah di tetapkan yaitu hingga 2 minggu ke depan.
Berat badan Muna naik drastis, hingga mencapai 15kg. Kaki mulai bengkak agak susah berjalan, kadang ada mengeluh terkadang merasa sakit punggung, pinggul, susuah tidur di malam hari, hidung sedikit membesar, leher pun terlihat menghitam.
Hanya babe yang berani meledek akan penampilan Muna, sebab kalau saja Kevin berani ikut tertawa saja, di jamin perang dunia ke 3 akan terjadi. Dan yang menjadi korban adalah otong yang tidak mendapatkan jatahnya.
"Tekanan darah normal, berat badan bayi cukup. Usahakan jangan mengkonsumsi yang manis lagi ya. Nanti babynya kebesaran. Lebih baik kecil saat di lahirkan, nanti kalau sudah di luar gampang mengejar berat badannya." Jelas dokter Agnes dengan ramah.
"Kapan perkiraan lahirnya dokter?" tanya Kevin antusias.
"Dalam 5 hari kedepan ya. Nanti akan kita pantau kondisi air ketubannya. Terus lakukan olahraga ringan seperti berjalan kaki ya. Itu baik untuk melatih otot sendi yang juga akan berperan dalam proses persalinan normal."
"Baik siap dokter." Jawab Muna yang sudah di bantu Kevin turun dari bed pemeriksaan.
"Bagaimana dengan aktivitas 'malam' sebelum persalinan dokter?" tanya Kevin dengan gamblangnya. Membuat Muna melotot dan mendaratkan cubitannya di paha Kevin.
"Oh... Kalo bisa jangan hanya malam pa beraktivitasnya. Siang, sore dan pagi juga boleh. Apalagi jelang waktu persalinan. Sebaiknya lebih sering saja, untuk membantu melemaskan mulut rahim agar lebih elastis saat akan terjadi pembukaan nanti. Juga aktivitasĀ tersebut akan membantu ibu merasa lebih rileks, meningkatkan kualitas tidur, bahkan meredakan beberapa ketidaknyamanan akibat kehamilan untuk sementara."
"Berarti boleh sering ya...?"
"Silahkan di nikmati puas puas sebelum memasuki masa puasa selama nifas. Tapi jangan heran ya... Sebab mungkin nanti rasanya akan berbeda dari biasanya."
"Kenapa dokter?"
"Agak lebih becek dan respon lapangan mulai melemah, tidak lagi bertenaga untuk menjepit." Cekikik dokter Agnes yang gemes melihat tampang Kevin yang begitu antusias penuh kepolosan
"Hahaa.... Pengalaman pribadi ya dokter?" balas Kevin yang baru sadar dokter itu tengah meledeknya.
"Hahhaaa... itu hal yang lumrah pak."
"Oke... Baiklah. Yang penting istri saya sudah secara langsung mendengar penjelasan dari dokter. Sehingga ia tak akan punya alasan untuk menolak ajakan menambah pahala itu."
"Abaaaannng...!!!" Muna sudah geram mendengar dialog Kevin dan dokter Agnes itu. Malu seolah hanya dia yang selalu menolak ajakan suaminya untuk melakukan itu. Padahal readers juga tau, otong mana pernah absen dalam urusan fingerprint ke rumah mumun.
__ADS_1
Tiga hari berlalu sejak pemeriksaan tersebut. Saat melaksanakan sholat subuh Muna merasakan agak mules diperut bahkan kebagian bawah dan sekitarnya. Namun, ia berusaha untuk tetap membaca bait-bait suci al-quran untuk memenangkan jiwanya.
Sejak sebulan terakhir walau sesibuk apa, Kevin dan Muna selalu berusaha jalan pagi bersama. Untuk menjaga stamina tubuh Muna yang akan mendekati masa persalinan.
Kelas hamil telah mereka ikuti tanpa bolos, sehingga Kevin dan Muna benar tau hal apa saja secara teori untuk menghadapi masa-masa mendebarkan ini.
Usia hamil tua Muna sudah di ketahui seluruh keluarga. Kakek Hildimar Herold pun tak ingin tertinggal cerita. Sudah seminggu ia bermukim di Indonesia ingin menjadi orang yang berada di barisan depan melihat buyutnya.
"Kamu pucet yang... kenapa?" tanya Kevin yang sudah mengganti pakaian kokonya dengan training sebab akan pergi joging.
"Perut Muna rada mules pap."
"Baby mau keluar ya...?" usap Kevin pada perut yang hampir tak berhenti bergerak itu.
Muna hanya meringis sebab kedutan sakit itu kadang datang kadang hilang.
Kevin memeluk tubuh istrinya dan mencium kening Muna.
"Mari kita berjuang sama sama ya Mae." Bisiknya lembut dan mesra, Muna hanya mengangguk dan merapikan sajadahnya, melipat mukena yang baru ia lepaskan.
"Biarkan di situ, nanti abang yang bersihkan. Mae duduk saja, abang ambilkan makanan kebawah."
"Jangan pap. Biar pelan-pelan Muna yang jalan. Supaya cepet prosesnya." Tolak Muna.
"Kata mama, sakit itu yang di cari. Semakin sakit, babynya tuh makin nusuk menuju jalan lahirnya." Muna masih ingat saja dengan segala petuah yang di sampaikan padanya.
"Jangan heboh dulu pap. Tolong ambilkan 2 tas dalam lemari itu. Sudah Muna siapkan semuanya, untuk keperluanku dan baby. Pakaian ganti papap juga ada Muna selip di tas Muna." Ucapnya di sela rasa sakit yang berjeda.
"Siap ibu negara." Jawab Kevin patuh.
Muna berusaha melepas pakaiannya sendiri, merasa perlu untuk mandi sebentar.
"Mau mandi? Abang bantu." Tawar Kevin. Muna mengangguk.
Muna sempat saja memilih berendam kurang lebih 20 menit di bathup toilet kamarnya. Memberi rasa rileks walau kadang mulai di dera rasa sakit, namun belum bertubi-tubi.
Muna sudah berpakaian rapi, berdandan seadanya siap akan berangkat kerumah sakit.
"Korek idung dapetnya upil,
di umpetin di kantong celana.
__ADS_1
Rapi bener si ibu hamil,
Boleh babe tau hendak pergi kemana?" Pantun babe sudah melayang saja saat melihat anaknya yang tidak gadis lagi itu keluar dari kamarnya.
Ya, kini bahkan babe dan nyak juga ikut nginap di rumag mama Rona. Maklumlah mereka semua pendukung Muna garis keras sehingga semua rela bagai reuni keluarga tinggal di rumah yang masih di seputaran komplek rumah sakit Hildimar itu.
"Di luar rumah ada ular,
Kasih garam, bukan cabe.
Si ade bayi udah mau keluar,
Mohon doa semoga lancar ya be."
"Masyaallah. Lu udeh mau lahiran Mun?" kaget babe melihat tampang santai dan lempeng itu.
"Iya be, sejak subuh sudah mulai sakit katanya." Jawab Kevin yang keluar dengan 2 tas di tangannya.
"Makan dulu dah Mun. Biar kuat ngadepin sakitnye."
"Iye nyak." Jawab Muna sesekali meringis saat sakitnya datang kembali.
"Jangan pikir enak kagaknye ye Mun. Kalo udah sakit entuh, semua makanan yang masuk serasa batu. Tapi, di lawan aje. Demi si ade bayi yang mau brojol." nyak Time memberi semangat.
Kevin sudah dengan segera menghabiskan sarapannya. Dengan maksud akan segera mengantarkan Muna untuk di cek keadaannya.
Tetapi Muna menolak untuk di antar.
"Yang... Pelan-pelan kita jalan aja ke rumah sakit ya. Biar sakitnya bentar." Rengek Muna pada Kevin.
Kevin tidak punya pilihan, selain mengikuti kemauan Muna. Dan menelpon dokter Agnes agar stanby menantikan kedatangan mereka yang kecepatannya setara dengan siput.
Sebab normalnya berjalan kaki ke rumah sakit adalah 15 menit. Tetapi mereka bahkan menghabiskan waktu lebih dari 30 menit untuk sampai di rumah sakit, karena sering terhenti saat kontraksi itu datang lagi.
Bersambung...
Kira-kira anak mereka co/ce yak???
pasti ga sabar lagi tunggu lanjutannya.
Ok nyak up lagi ntar malam yak
__ADS_1
Love Love Love deh sama readers semuaš