OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
EKSTRA PART : ISTRI BADUNG.


__ADS_3

Gita menyipitkan kedua matanya memandang serius pada tampilan wajah suaminya yang tiba tiba terlihat seram. Nada suara datar tadi cukup mewakilkan perasaan Gilang untuk menyatakan bahwa hatinya sedang tidak baik baik saja.


"Jadi semua barang a'a, eneng semua yang beresin...?" tanya Gita melihat ke arah Gilang tiba tiba tak kalah sangar. Dengan meletakkan dua tangannya ke pinggang. Badannya lurus menghadap Gilang yang tadi sedang memasang wajah marah. Tapi masih belum melanjutkan kata katanya.


"Ohhh... rumah tangga itu begini ya??? Eneng, saat nanti jadi istri, a'a jadikan ratu bukan pembantu. Preeet." ejek Gita dengan suara penuh ledekan, mengulang kalimat gombal yang pernah terucap saat manisnya masa pacaran.


"Ciiih.... be go nya aku, segitunya langsung percaya...! Baru sekali ngajak istri belanja aja tanduknya udah keluar. Heeeiii... yang eneng beli itu keperluan ibu ya... boleh cek. Ada ga belanjaan itu eneng bawa pulang? alias belanjaan eneng?" lho... yang kesel siapa yang nyolot siapa ya? Gilang masih diam mencerna kata demi kata yang Gita keluarkan.


"Bertemu dengan neng, telah mampu buat a’a jatuh cinta pada neng tiap hari. Parahnya tidak hanya jatuh, tapi udah nyungsep makin dalam di kolam cintanya neng. Hah... ??? gula emang lebih murah dari minyak goreng zaman ini a'a." Gita terus aja nyerocos tanpa perlawanan dari Gilang.


Sayangnya semua cerocosan Gita tadi justru membuat arah kompas berbalik. Gilang merasa geli sendiri, melihat istrinya yang sepertinya seperti landak melindungi dirinya. Sebelun musuh menyerang ia lebih dini memproteksi dirinya sendiri dengan alibi alibinya.


Gilang tak tahan mendengar dumelan dumelan itu. Segera ia gotong tubuh Gita ke kamar mereka, tanpa bicara dan langsung ke arah kamar mandi mereka. Meletakan tubuh itu pada bath up kering, lalu segera menghidupkan kran air untuk mengisi bak tersebut.


Gilang meninggalkan Gita yang masih bingung mau di apain. Padahal Gilang hanya keluar untuk mengunci pintu kamar, menghidupkan AC membuat cahaya temaram di kamar mereka, lalu kembali ke kamar mandi. Untuk melanjutkan kegiatan yang harus ia segera selesaikan.


Gilang meloloskan pakaian yang melekat di tubuh Gita, hingga polos tak bersisa. Gita hanya manyun di perlakukan seperti itu. Lalu Gilang melakukan hal yang sama pada dirinya sendiri. Tak menyisakan apapun tersangkut di tubuhnya. Kemudian berbaur bersama istrinya di dalam bath up itu.


"A'a marah?" tanya Gita manja.


"Kenapa a'a marah?" Gilang balik bertanya.


"Karena Eneng belanjanya banyak tadi?" Tebaknya mengira ngira.


"Emamg a'a boleh marah?" tanya Gilang yang sudah mulai sibuk menyesap printilan printilan kesukaannya di dada istrinya.


"Bohong... pasti a'a marah kan?" rengek Gita mulai memandang sayu ke arah Gilang, akibat ulah bibir suaminya yang selalu membuat hatinya bergetar.


"Eneng salah apa?" pancing Gilang pada istrinya.

__ADS_1


"Banyak pake uang suami buat belanja." Jawab Gita masih dapat menjaga kewarasnnya sebelum terbuai dengan suasana yang ia rasa makin membuat tubuhnya menggelepar. Heran... itu tangan kalo sudah merayap di bagian iting iting kok, enak enak, nagih gitu ya?


"Nanti kita bicarakan di daratan. Sekarang kita berkelana di lautan asmara ini dulu ya neng. Si jaka udah ga sabar pengen nyelam." Absurd Gilang yang sudah melakukan gencatan di dalam air. Terlihat dari riak riak permukaan air yang bervolume tak menentu dalam bak besar itu.


Ga usah di tanya gimana syahdunya irama yang bersahutan dari keduanya. Kalo ga aach... ya iich. Terjeda dikit, ya ada heeemmm. Oooooh agak panjang menukik. A..a.Aaaah lagi deh. Hsssshh .... shhh, eeehh. Eechm. Gitu deh ganti ganti. Lalu berenti tanpa kli maks.


Gilang mengangkat tubuh Gita untuk keluar, lalu berhenti di depan pintu untuk mengambil handuk, untuk mengeringkan tubuh mereka berdua. Tanggung ga siih itu kerjaan.


Rupa mereka masih kayak bayi baru lahir, lalu tanpa perintah Gita sudah di atas tempat tidur saja, menyelesaikan PR yang di kamar mandi tadi belum tuntas.


Sampai ada era ngan keduanya yang selalu hampir bersamaan keluar, pertanda mereka finish bersama.


"Iih... a'a kok lama banget sih baru selesainya. Capek tau, di air tadi eneng udah berapa kali keluar, si jaka tarik ulur melulu." omel Gita tak jelas.


"Itu hukuman buat istri yang berani morotin suami di pusat perbelanjaan tadi." Akhirnya Gilang kembali ke topik utama. setelah lebih dari 30 menit menunda nunda penyatuan mereka. Sengaja biar Gita sempat gatal sendiri.


"Tuh... kan emang marah. A'a ga ikhlas belanjain eneng sama ibu tadi?"


"Oh... jadi a'a ga marah kan tadi eneng belanja banyak?" tanya Gita memastikan.


"Mau yang jujur atau bohong?"


"Jujur lah..."


"Sejujurnya iya... a'a kesel sama eneng. Sebab, ga liat sikon. Kita bahkan belum resepsi neng. Masih banyak pengeluaran yang harus kita utamakan. Sedangkan untuk belanjaan keperlyan kayak yang di beli tadi, uangnya sudah a'a kasih ke ibu. Hanya mereka yang tidak membelinya sekaligus seperti eneng tadi. Artinya pemborosan." Jawab Gilang jujur.


"Kalo jawaban bohongnya?"


"Kalo bohong... ya a'a bilang ke eneng. Biar habis gajih sebulan, asal eneng bahagia. A'a rela." Kekeh Gilang tanpa emosi.

__ADS_1


"Buseeeet." Gita ikut tergelak.


"A'a bilangin ya Neng. A'a tadi ga marah, hanya kesal karena belanjaam eneng kebanyakan. Tapi semuanya untuk orang lain, bukan untuk eneng. Sejak dekat, pacaran sampai menikah. Kecuali seserahan dan cincin kawinm A'a ga pernah lho beli apa apa buat eneng. Jadi, lain kali. Kalo belanja jangan buay ibu atau teteh. Tapi buat eneng dong. Kan eneng istri a'a."


"Hati-hati kalau bicara. Jangan nantang. Kalo neng ajak belanjanya di Singapure untuk beli koleksi tas, sepatu dan parfum mahal, apa a'a berani?" tantang Gita.


"Asal kasih info sebelumnya lah neng. Jadi a'a tau, tabungan mana yang bakalan a'a bolongin untuk traktir istri tercinta." kekeh Gilang.


"Emang... a'a masih punya tabungan setelah beli rumah ini dan beli mobil?" tanya Gita yang memang tidak banyak tau berapa kekayaan suaminya.


"Ada sisa dikit. Tapi di pakenya untuk yang bersifat emergency banget. Sebab selain menikah masih ada satu cita cita yang belum terkejar." jujur Gilang.


"Apa?"


"A'a mau lanjut kuliah S2 lagi neng. A'a ga bisa jadi CEO dong kalo hanya berijazah S1. Jadi, bolehkah a'a minta istri a'a sedikit berhemat dan tidak khilaf lagi kalo belanja yang sifatnya ga primer?" tanya Gilang dengan sangat pelan.


"Maafin eneng ya a'. Ntar eneng transfer deh uang eneng ke rekening a'a. Gajih eneng udah jarang ke pake kok beberapa bulan ini." rengek Gita.


"Ga boleh. Itu uang eneng. Sedangkan traktir istri belanja itu bagian dari kewajiban suami. A'a dosa lho kalo ga ikhlas. Lagian belanjaan itu juga buat ibu. Kalian tuh surganya a'a. Wajib untuk di muliakan. Paham?"


"Paham a'. Makasih ya. Terus tadi yang dari kamar mandi sampe di atas kasur ini tadi adalah hukuman karena eneng khilaf belanjanya?"


"Bisa jadi, tambah dengan hukuman yang ngomel ngomel tadi juga." Ujar Gilang merasa lucu.


"Oh... kalo gitu. Eneng suka kalo hukumannya begitu. Bikin nagih A'."


"Heeeiii istri badung. Jangan nantang, sekarang kita bahkan belum pake apa apa lagi lho ini. Mau di kasih hukuman lagi?" Gita mengangguk sambil memasukan kepalanya kedalam selimut. Malu malu mau.


Bersambung...

__ADS_1


Hmmm... gimana?


__ADS_2