
Mobil Risna masih terparkir di depan rumah Gilang. Sebab sejak Gita di papah Gilang ke dalam kamarnya. Gilangpun menarik tangan Risna untuk keluar rumah dan berjalan kaki ke sembarang arah menjauh dari rumahnya. Lalu berhenti di tempat orang berjulan es buah segar. Di situlah mereka memutuskan untuk ngobrol dan memang tempat itu semi outdoor. Memudahkan bagi orang lain melihat posisi mereka. Tak terkecuali Gita yang sempat melintas di komplek perumahan tersebut.
“Risna… aku dan kamu tuh sudah lama berakhir. Tapi kenapa kamu begitu padaku?”
“Siapa yang mengakhirinya?”
“Bukankah keluarga mu sudah menolak lamaranku 4 tahun lalu?”
“Mereka yang memutuskan untuk menolakmu, tapi aku tak pernah menganggap hubungan kita berakhir Lang.”
“Percuma Na…, ngapain kamu masih menganggap hubungan kita berlanjut. Toh, orang tuamu tak pernah memyetujui hubungan kita. Meraka tidak pernah sudi memiliki menantu miskin, kere seperti aku. Na, ucapan mereka semua masih sangat rapi tersimpan dalam otakku. Dan aku berterima kasih untuk semua itu. Sebab semua perkataan mereka dapat menjadi cambuk. Memacu semangatku untuk maju dan bangkit dari kemiskinan itu.” Papar Gilang.
Flasback On
“Siapa kalian?”
“Maaf saya Dian ibunya Gilang. Maksud kedatangan kami ke sini untuk melamar putri bapak. Risna Amelia untuk menjadi menantu kami.”
“Memangnya anak saya mau sama anak anda?”
“Maaf pak, saya sebagai ibu dan perempuan merasa was-was melihat pergaulan anak jaman sekarang. Saya takut mereka melakukan zinah jika tidak segera di nikahkan.”
“Memangnya sedekat apa hubungan mereka?” penasaran Ayah Risna.
“Maaf pak. Mereka sudah terlalu sering berdua-duaan di rumah. Juga kadang di dalam kamar. Saya tidak sanggup membayangkan apa saja yang mereka lakukan di dalam. Untuk itu saya ingin segera melamar anak bapak.” Ungkap ibu Gilang dengan perasaan cemas.
“Hah…? Punya apa kamu berani melamar anak saya?”
“Saya memang bukan yang punya apa-apa pak. Tapi saya tulus mencintai anak bapak” Jawab Gilang dengan kepala tertunduk.
“Kamu kira anak saya bisa hidup hanya dengan cinta. Apa statusmu, kuliah atau sudah bekerja? Di mana?”
“Saya masih kuliah pak. Dan sambil bekerja juga di PT.MK Farma.”
“Sebagai apa kamu bekerja di perusahaan itu?”
“Saya… bekerja di bagian pertamanan pak.” Jawab Gilang agak malu.
__ADS_1
“Pertamanan?? Tukang kebun?”
“I…iya pak.”
“Apa yang sudah kamu lakukan pada anak saya. Kamu pasti sudah menjebaknya kan. Kamu pasti sudah tau jika dia adalah anak saya, kamu pasti sudah mengincar harta saya. Dasar Miskin, mau memanfaatkan orang lain. Mau numpang makan ya dengan orang kaya. Jangan mimpi!!! Saya tidak menerima lamaran ini. Dan sejak detik ini, jangan lagi saya pernah bertemu kalian dasar benalu, parasit. Jika kamu ingin lekas kaya, kamu salah mendekati anak saya. Sana, jual dirimu dengan tante-tante kesepian yang banyak uang, sebab tampang mu memang bisa di jual dengan cepat. Tapi tidak dengan anak saya. Besok saya pastikan kamu tidak akan pernah melihat anak saya lagi. Saya akan mengirimnya ke Luar Negeri, agar tidak bisa bertemu dengan orang miskin seperti kamu. Dan soal mereka telah pernah berhubungan seintim apa, saya anggap anak saya sedang sial saja, bertmu bajin an seperti kamu. Pulang… itu pintu keluar!!!” Usir ayah Risna dengan bengis.
Bukan hanya hati Gilang yang remuk, perasaan ibu Gilang lebih luluh lantah. Bagai retak seribu, bahkan Gilang di sarankan untuk jual diri. Padahal maksud kedatangannya baik-baik. Dia ingin menjaga harga diri Risna. Ia tak mau anak dan kekasihnya tersebut sampai berbuat hal yang melebihi ambang batas kewajaran. Hingga menghalalkan hubungan mereka bagi ibu Gilang adalah jalan terbaik.
“Maafkan Gilang membuat ibu malu.” Ucap Gilang saat mereka sudah di rumah dan memberikan segelas air putih.
“Sudahlah Nak. Mungkin dia memang bukan jodohmu. Buktikan kalau kamu tidak hanya menjual tampangmu. Beli mulut orang yang sudah menghinamu. Minta pada Allah agar meluruskan jalanmu.” Pesan ibu penuh harap.
“Iya bu…” jawab Gilang pelan.
“Boleh ibu minta kejujuranmu. Sejauh apa hubunganmu dengan Risna selama ini?”
“Tidak sejauh apa yang ibu pikirkan bu. Gilang masih tau batasan bu. Dia haram bagi Gilang.”
“Ibu percaya padamu. Dan jika kamu membohongi ibu, maka kamu juga membohongi dirimu sendiri hal itu menyakiti Allah. Maka segala usaha dan pekerjaanmu tidak akan di ridhoi oleh Allah.” Kata-kata itu memang sangat pelan ibu Gilang sampaikan, namunn mengandung doa beserta kutukan di dalamnya. Dan itu akan terbukti derngan sendirinya dalam seala pencapain yang Gilang peroleh setelahnya.
“Lang… saat kamu datang melamar, aku tidak di rumah. Aku tidak tau persis dengan apa yang kalian sampaikan pada papa.”
“Sudahlah, sudah tidak penting, semua sudah berlalu. Dan aku sangat berterima kasih pernah kenal dengan ayahmu.”
“Ya… semua memang telah berlalu. Tapi tidak dengan cintaku. Kamu tau? Aku hampir gila kehilanganmu. Papa menutup semua akses yang berhubungan denganmu. Aku di kirim ke London dengan penjagaan ketat Lang. Aku tidak pernah sungguh-sungguh pergi darimu. Apalagi hatiku, semua masih kujaga untukmu.” Ucap memegang tangan Gilang menyatakan kesungguhannya.
“Tidak. Maaf Na. Aku bukan Gilang yang dulu mencintaimu dan yang kamu cinta. Aku, jiwa dan ragaku sudah termiliki oleh orang lain. Aku sungguh tidak bisa berpaling darinya. Maaf Na.” Gilang melepas tangan Risna dan saat itulah Gita lewat, tepat saat tangan Gilang melepas namun justru tertangkap seperti sedang memegang tangan Risna.
“Siapa?”
“Gita.”
“Wanita yang kamu antar masuk ke kamar mu tadi?” Tanya Risna.
“Iya…”
“Kalian sudah serius?”
__ADS_1
“Kami seharusnya menikah minggu lalu. Tapi ibu menjalani operasi jantung. Sehingga akan kami tunda sampai awal tahun depan saja.”
“Aku benar sudah tidak ada dalam hatimu Lang?”
Gilang mengangguk.
“Di bagian kecilpun tidak Lang?”
“Kamu pernah jadi yang indah dalam hatiku Na, tapi kini Gitalah yang terindah dalam hati dan hidupku. Maaf.”
“Aku mencintaimu dengan segenap hatiku, tapi kamu malah memberi perasaanmu pada orang lain, kamu jahat Lang.” Desah Risna pilu.
“Manusia butuh jatuh sakit untuk tau arti sehat. Manusia juga butuh sakit hati untuk belajar mendapatkan cinta yang tepat. Doaku untukmu Na, percaya saja jodohmu akan lebih baik dariku, asalkan kamu ikhlas melepaskanku. Dan tolong, jangan coba-coba menggodaku untuk kembali padamu. Usaha apapun yang kamu lakukan akan menjadi sia-sia.” Papar Gilang.
“Hah… sekeren apa dia dariku, belum menikah saja kamu demikian bucin padanya.”
“Dia tidak hanya keren. Tapi dia adalah pemberian Allah, jadi kalau kamu mau menggesernya atau bersaing dengannya. Kamu negonya sama Allah saja, aku hanya manusia biasa, Na.” Senyum Gilang pada Risna.
“Oh… Tuhan. Aku bisa mati berdiri jika mendapat senyummu semanis itu padaku Lang.”
“Siap tidak senyum lagi didepanmu. Jika itu akan menjadi cela untukmu jatuh cinta lagi padaku.”
“Ya ga gitu juga kali Lang.” Risna memukul bahu Gilang dengan gemash.
“Na… jika tadi kamu minta aku jangan senyum padaku. Apakah aku juga boleh minta sesuatu padamu?” Tanya Gilang pada Risna yang sepertinya sudah bisa menerima kenyataan keputusan Gilang.
Bersambung…
Risna bukan pelakor yaa gaes
Kan Gilang belom jadi laki siapa-siapa
Thx masih setia dengan bonchap ini ya
Sarangeeee❤️❤️❤️
__ADS_1