
Episode proses ngadon pasangan couple G junior terlaksana kembali. Jangan tanya peluh yang membanjiri tubuh mereka, sebab kamar itu tidak ada penyejuk udaranya.
Gita anak sultan tapi selera rakyat jelata, di kost Ninik dia sudah terbiasa hidup biasa menjelma menjadi orang sederhana.
Seperti yang sering ia gumamkan dalam hatinya bahwa ternyata menjadi orang biasa tak akan membuatnya mati, justru hatinya mendapat suatu rasa puas dan bebas.
Lebih dari dua tahun Gita memainkan perannya menjadi orang biasa. Yang harus irit, berbelanja hanya dengan gajihnya yang sebagai karyawan biasa di perusahaan milik kakaknya sendiri.
Mobil Audrey 89 nya hanya terparkir rapi di Jakarta, apalagi aneka koleksi sepatu, tas dan pakaian mahalnya. Sudah bagai barang antik tak tersentuh olehnya.
Itu semua mama Indira yang mencekokinya. Sebab prinsip mamanya adalah penampilan yang utama. Kamu akan mendapatkan jodoh yang tajir melintir saat segala yang kamu sandang itu mahal. Itu akan menjadi daya tarik tersendiri untuk mendapatkan pria kaya.
Dan Gita tidak tertarik dengan prinsip matre itu. Gita tidak gila harta, sebab papi Diendra memang kaya tapi pernah menjadi pria yang tidak setia. Gita pernah berpenampilan berkelas dan mewah, tapi ia justru bertemu pria matre seperi Baskoro yang hanya ingin memanfaatkan kekayaannya. Berawal dari itulah Gita punya cara sendiri untuk mencari jodohnya.
Dan sepertinya cara yang Gita gunakan lumayan jitu, sebab ia berhasil menemukan berlian di antara debu debu jalanan. Gilang. Bagi Gita, Gilang adalah lelaki terbaik yang ia percaya mampu menuntunnya ke surga.
Permainan mereka memang hanya sekali, tak pernah berkali kali seperti pasangan kawakan. Tapi mereka memulainya bahkan saat lewat tengah malam.
Maka terlewatlah panggilan adzan subuh. Gita masih meringkuk lemas terlelap di atas kasur kamar Gilang. Hingga ayam berkokok pun Gita masih belum bangun.
Sedangkan Gilang, sudah mencoba membangunkan istrinya. Tapi sepertinya gempurannya mampu membuat Gita pingsan. Maka Gilang pergi ke Langgar sendiri untuk berbaur, sholat bersama warga sekitar lingkungan tempat tinggalnya.
Selesai sholat Gilang tak langsung pulang, ia sengaja mampir ke rumah pak RT. Untuk melapor jika kini ia sudah menikah. Namun baru di laksanakan akad di Jakarta sepekan yang lalu.
Bagaimanapun Gilang adalah warga lingkungan yang baik. Mungkin saja ada mata para tetangga yang melihat ia membawa wanita tidak dinkenal masuk rumah sejak magrib kemarin hingga kini tidak pulang pulang.
"Maaf pak. Kemarin setelah akad. Kami langsung mengikuti perjalanan dinas. Sehingga tidak langsung pulang ke sinu. Dan tadi malam saya ajak istri nginap di rumah, tanpa lapor pada pa RT."
"Iya terima kasih infonya. Maklumlah nak Gilang jaman ini, dinding punya telinga, netizen di mana mana, asal mata melihat, tanpa konformasi kadang masyarakat sudah pintar mengarang bebas. Bapak terima lasih sekali dan menghargai informasi yang nak Gilang sampaikan ini." Jawab Pa RT senang.
__ADS_1
"Bagaimana dengan acara resepsi apa akan di gelar di sini atau bagaimana?"
"Rencan mungkin di Jakarta pak, karena kediaman mertua saya di sana. Dan untuk di sini, mungki di adakan acara ngunduh mantu saja, semacam perkenalan dan pemberitahuan untuk keluarga, rekan dan tetangga yang ada di sini."
"Alhamdulilah. Bapak tunggu undangannya ya."
"Insyaallah secepatnya pak."
"Nanti akan tinggal di sini bersama ibu dan teh Arum, Lang?' tanya ketuanRT itu lagi.
"Tidak pak. Alhamdulilah Gilang sudah punya rumah sendiri hasil kerditan. Jadi, nanti rencananya acara tadi akan di laksanakan di rumah Gilang. Tapi warga sini semua Gilang undamg, lewat bapak tentunya." Ujar Gilang menjelaskan.
"Oh siap. Siap. Bapak siap mengakomidasi warga yang mungkin kesulitan dalam hal transfortasi menuju TKP." Kekeh ketua RT ramah.
"Pa RT luar biasa." Kekeh Gilang sembari pamit sebab tak terasa bahkan waktu sudah hampir pukul tujuh. Apa kabar istri yang ia tinggal dalam keadaan tidur tadi ya?
Kokok ayam sudah bertalu talu, sinar matahari juga sudah menyelinap masuk lewat celah gorden di kamar Gilang.
Mengeliat sambil duduk, lalu memberi waktu untuknya segera sadar jika kini ia tengah berada di rumah mertua. Ia ingat kata suaminya semalam, jika ibu dari suaminya itu cemburu padanya. Maka apapun nanti yang akan mertuanya sampaikan jangan di tentang. Sebab orang cemburu artinya tak mampu bukan. Jadi, buat dia senang saja. Agar ia merasa tetap memiliki kelebihan.
Gita melangkah keluar kamar, setelah memastikan pakaian tidurnya sudah terpasang dengan rapi setelah di campakkan begitu saja oleh suaminya semalam.
Suasana rumah masih sepi. Waktu menunjukkan pukul 6 pagi. Gita menyunggar rambut dengan tangan lalu mengikat dengan kuncir kuda.
Ibu mertuanya sudah tampak duduk di meja makan menghadapi segelas susu coklat dan sepiring kue kering.
"Pagi ibu mertuaku sayang. Bagaimana tidurnya semalam nyenyak bu?" sapanya ramah.
Ibu hanya menganggukkan kepalanya tak berminat untuk bersuara.
__ADS_1
Gita tidak peduli dengan tatapan dingin itu padanya. Ia menarik kursi di sebelah ibu Gilang dengan penuh percaya diri.
"Bu... ibu tau tidak. Semalam neng sama a'a malam sekali tidurnya, makanya telat bangun. Ibu tau kenapa?" ibu hanya menggedikkan bahunya.
"Karena hampir sepertiga malam, waktu kami habiskan untuk ngobrol tentang ibu. Heeemmm... a'a Gilang sangat beruntung punya orang tua seperi ibu. Ibu adalah ibu terbaik yang sangat ia idolakan. Apalagi dalam urusan memasak. Hahaha... sebelum berperang sepertinya eneng mau ngaku kalah aja deh bu. Dan langsung minta di angkat jadi murid ibu saja. Bagaimana?" Kekeh Gita berdiri lalu menhambil segelas air putih untuk ia minum.
"Masa Gilang bilang gitu?" ibu mulai terpancing.
"Iya.... selama kami bersama, a'a selalu puji ibu. Pokoknya ibu panutan banget deh. Jadiii, eneng mohon sama ibu, Gita di ajarin dan di bilangin sampai ngerti ya bu. Supaya eneng bisa jadi menantu yang tidak bikin ibu kecewa." Ibu tersindir sendiri akan arah pembicaraan itu.
"Ibu tidak kecewa sama Gita. Ibu cuma takut Gita tidak bisa melayani suami sesuai porsinya. Jangan sampai terbalik, kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala." ucapnya pelan dan tiba tiba melow pagi itu.
"Nah itu dia, ilmu ini tidak di dapat di waktu sekolah dan kuliah. Jadi, eneng akan merasa senang jika ibu bisa langsung jadi tutornya eneng. Eneng siap belajar kok, bu." Peluknya dari belakang kursi ibu mertuanya itu.
"Bagaimana sebelum jadi murid, Gita ibu tes bikin sarapan dulu untuk suami?"
"Kok hanya untuk suami? emang ibu ga sarapan?" tanya Gita sedikit heran.
"Nih... sarapan ibu cukup susu dan biskuiy. Ibu ga biasa sarapan berat."
"Oke.... oke. Kali gitu, permisi pake dapurnya ya bu. Gita mau coba buat omelet saja buat sarapan kami pagi ini? Nasi... nasi dulu kali ya yang di masak." Ujar Gita mulai berpendar di area daput tanpa sungkan.
Dan ibu Gilang tidak melihat sisi manja anak itu seperti yang mama Indira katakan.
"Oh berasnya di sini." Celoteh Gita sendiri. Ya iyalah dia bingung. Inu kan bukan kostnya.
"Bu.... jadi tiap pagi ibu cuma makan biskuit dan susu?" tanyanya sambil mencuci beras. Ibu mengangguk.
"Bagaimana jika siang nanti kita jalan jalan bu. Kita beli stok susu dan biskuit kesukaan ibu supaya eneng tau, apa saja makanan favorit ibu." Celotehnya lagi dengan aktivitas yang tidak berhenti, yang kini sudah merambah ke lemari es, akan mulai mencari bahan membuat omelete.
__ADS_1
Bersambung...
Gimana gimana readers?