OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 208 : LIBUR SEMESTER


__ADS_3

Kevin memilih mengulur waktu untuk pulang. Bukankah satu minggu yang lalu terlanjur terisi dengan ulah Ay yang tiba-tiba kolik. Juga Kevin dan Muna yang panik berujung pertengkaran kacangan, memalukan.


Masa Kevin rela untuk pulang, saat rumah tangga itu kembali normal. Saat Ay benar telah dapat beradaptasi, juga Muna yang telah stabil menjalani perkuliahannya.


Muna sudah kembali bersikap manis dan manja, yang terkadang setelah Ay tidur, memilih duduk berpangku dengan suami yang terlihat sibuk membalas email, apalagi kalau bukan soal pekerjaan.


Antara tugas dan cinta adalah dua hal yang sama pentingnya dalam kehidupan manusia sesungguhnya.


Jika Kevin selalu berada di Apeldoorn, tentu mereka adalah keluarga utuh sesuai impian semua orang berumah tangga pada umumnya.


Tapi, hidup ga cukup makan cinta bukan? Kevin sudah waktunya kembali ke kantor, mengurus perusahaannya. Yang tak mungkin selamanya ia percayakan pada Gilang dan lainnya.


Sementara Daren sudah dengan tegas memberi jawaban untuk akan menjalankan perusahaan Mahesa saja, maka Kevin semakin sadar. PT. MK. Farma adalah tanggung jawabnya.


Siang dan malam datang berganti-ganti sesuai rotasi, membuat penghuni bumi di dalamnya tak merasa waktu berarah kekanan maju.


Rumah tangga beda benua itu kini semakin jauh dari kata ribut. Kevin hanya kadang memiliki 5 hari bersama dalam 2 bulan untuk menyambangi anak istri yang tentu selalu di rindukannya.


Pertikaian kasus kolik sudah berlalu, bahkan dapat mereka jadikan pembelajaran untuk sama-sama dapat saling meredam dan menghindar saja sebisa mungkin. Mereka tidak hanya harus menjadi orang tua, tapi lebih tepatnya menjadi orang dewasa yang benar-benar harus bijaksana.


Seratus delapan puluh hari adalah waktu yang telah mampu mereka lalui. Itu artinya enam bulan sudah Ay berada di Apeldorn yang kini berusia 9 bulan. Juga artinya 1 semester berlalu, liburan semseter telah tiba.


Tanpa di minta pun, Muna, Ay dan Laras sudah tentu memilih pulang ke Bandung, menuai rindu melepas penat dan segala beban yang mereka sandang.


"Assalamualaikum." Sapa Muna ketika sudah tiba di rumah. Ay tentu dudah dalam gendongan sang papap yang sepertinya juga ia rindukan sebab mereka hanya kadang-kadang bertemu juga tak kendor saling berhubungan via VC. Kevin sungguh takut Ay tidak mengenalnya sebagai ayahnya.


"Walaikimsalam. Cucu engkong. Idiiih makin bule aje lu Ay, sini gendong sama engkong." Sapa babe yang langsung menyambar Ay.


Kevin sempat cemas, sedikit takut jika Ay akan menangis ketika berpindah tangan ke pelukan babe.


"Bhuakakakakk... wkwk..." Ay terlonjak kesenangan.


"Ngape Ay...? Lu kangen banget ye ame engkong, hah?" tanya babe pada Ay yang memilih meraba pipi keriput babe depannya. Dengan mimik muka yang masih sangat terlihat senang.


"Beli gula di warung mpok Lela,


Ada kopi sekalian di beli juga.


Pegimane tinggal di Belanda?

__ADS_1


Eluh betah kaga?"


Ay belum setahun saja sudah di cekoki pantun oleh babe.


"Ga tau tuh be, si Ay betah atau kagak. Yang pasti sih, selama di sana cuma pernah sekali ke rumah sakit." Jawab Muna yang baru saja melerai pelukannya pada nyak Time.


"Huum... Alhamdulilah kalo gitu. Buruan bersih-bersih deh Mun. Biar nyak sama babe main sama Ay. Yaaah... ini bayi udah bisa ngerangkak aje kemane-mane." Ujar nyak Time yang terkejut saat Ay di lepas babe dari gendongannya.


"Muna ke atas dulu ya nyak, titip Ay." ujar Muna yang memang belum mengganti pakaiannya setelah tiba di Bandung.


Muna masuk ke kamar mereka di lantai dua, namun tidak mendapati Kevin di sana. Muna mengira suaminya ada di kamar, tenyata tidak. Sehingga Muna dengan cueknya melepas semua pakaiannya, dan akan mandi sebab tubuhnya memang sudah terasa lengket semua.


Bak perwagati tanpa busana, Muna bejalan menuju kamar mandi, ia berandai-andai dan masih memiliki waktu yang banyak untuk berendam sebentar.


Mana Muna tau kalau dalam jacuzzi itu sudah ada Kevin menunggu dengan senyum devilnya. Dua tangan Kevin sudah terulur meminta agar Muna segera bergabung bersamanya.


Mengecup puncuk dada itu sebentar, lalu menggiring Muna ikut berendam, bertumpuk di atasnya. Jangan tanya si otong, bahkan di dalam air saja ia masih sanggup untuk berbaris, berdiri tegak minta di puji, dan di sogok agar boleh main ke dalam rumah mumun.


"Mae..." bisik Kevin saat Muna sudah benar berada di atas tubuhnya.


"Hmm..."


"Ga kayaknya."


"Boleh muntah di dalam dong."


"He'em." jawab Muna singkat.


Kevin segera mendirikan Muna, keluar lalu segera membilas tubuh mereka. Melilit setengah badannya dengan handuk. Juga mengeringkan tubuh Muna dan menggedongnya ke arah tempat tidur mereka.


Muna juga rindu, sehingga tak ada drama penolakan atau so' jual mahal.


Gelinjang alami nan hebat, tentu tercipta dengan sendirinya. Kevin bahkan lupa jika kemasan ASI Aydan sebaiknya jangan di beri stampel. Tapi gelora cinta itu tak mampu ia padamkan, berkobar dengan galaknya, sehingga tidak hanya dada Muna yang ternoda, tapi ceruk leher Kevin juga, terlukis oleh Muna. Ah rindu menggebu membuat keduanya lupa waktu.


Dua bulan sekali tak saling beradu, sesungguhnya sekali penyatuan kurang bagi keduanya. Serasa ingin berkali-kali dan di ulang-ulang. Berapa lapis? Ratusan!. Ha...Ha.


"Yang... Muna liburnya 3 minggu. Masih banyak waktu untuk kita menyatu lagi. Ga enak ame nyak dan babe yang jaga Ay." Tolak Muna yang juga masih ingin bermanja-manja


"Iya... waktu memang banyak. Tapi masa tidak suburmu tidak banyak. Gimanapun juga, muntah di dalam lebih nikmat sayang."

__ADS_1


"Kan biasa muntah di dalam pake kantongan juga."


"Emang mau?"


"Ga ... ga enak." Jawab Muna dengan wajah merona malu akan pengakuannya.


"Tuh... kan. Apalah aku, sekedar ingin mempersembahkan yang terbaik untuk istriku." Kekeh Kevin yang lagi menggendong Muna ke kamar mandi.


"Mau di apain lagi niih?"


"Mandi wajib gih. Emang mau di apain lagi sih. Ngeres banget otak mahmud."


"Ya kali mau ada gencatan senjata sambil berdiri gitu." Kekeh Muna absurd.


"Oh... nantang niih. Okaaaay." Masa sekelas Kevin tidak tau teknik berperang dengan posisi berdiri, bahkan bermain di balik pintu saja, tentu ia ahli, apalagi di kamar mandi yang berukuran luas dan bersih itu. (Jangan manja deh, author ga bakalan ngurai cara bercinta model ini di sini.)


Keluarga itu terlihat lengkap, harmonis kembali saat ada nyak babe, mama dan abah juga yang datang menyambangi rumah Kevin, karena rindu Aydan.


Riuh rendah dari obrolan ringan sampai berat. Cekikikan dari mulut mereka menguar alami di rumah tersebut. Benar-benar suasana rumah tangga sesuai impian semuanya.


Namun seketika Kevin merengut, saat melihat chat whatsapps dari Gilang masuk, yang isinya ia harus berdinas ke Singapura lusa.


Aah... masa iya baru tadi bercinta, besok sudah harus berpisah pula?"


Bersambung...


Di sini Fix ya


Nyak otornya yang ga bisa liat rumah tangga ini adem ayem.


Asheeem🤭


Makasiih untuk komen kalian yang selalu mendukung nyak.


Jangan berhenti mencintaiku


Eh...


Jangan berhenti menantikan BAB selanjutnya.

__ADS_1


Sarangeee❤️


__ADS_2