
Liburan tipis-tipis telah usai, masalah Helga pun telah tuntas. Bahkan hubungan mereka kini semakin mantap untuk ke arah selanjutnya.
Walau Muna ingin menunda dan selalu beralasan untuk tidak menerima Kevin. Tetapi takdir dan alam semesta seolah mendukungnya untuk benar memberi kesempatan melanjutkan hubungan mereka.
Pagi cerah merekah, matahari terbit menghangat menyapu bersih embun pagi yang sebenarnya masih enggan pergi dari dedaunan hijau terhampar di sepanjang ruas jalan.
"Mae sayang, pagi ini abang tidak sarapan di kantor. Abang akan bertemu klien di luar." Isi chat Kevin pada Muna sepagi itu.
"Iye..., tapi abang usahain tetep sarapan ye bang."
"Siap.
Mae... bisa buatkan sop atau rawon gitu dari daging kambing. Buat abang makan siang nanti atau buat sore saja ya...?"
"Yah... mau di makannye buat kapan?"
"Aduh... ga pasti juga sih. Mae buatkan di apartemen saja. Akses kartu ambil dengan Ferdy. Abang belum bisa pastikan pulangnya jam berapa. Tapi yang pasti ke apartemen."
"Iye, ntar Muna masak di tempat abang aje."
"Makasih sayang."
"Iye... same-same. Abang hati-hati. Lop yu bang. Asaalamulaikum."
"Lov you more beiib. Walaikumsalam."
Muna tidak pernah berani menanyakan soal kesibukan dan pekerjaan Kevin sesungguhnya. Yang ia tau, Kevin memang lebih sering di luar kantor akhir-akhir ini.
Namun kesibukan Kevin, bagi Muna cukup membantu keadaan hatinya. Dan baginya begitu lebih aman. Sebab, jika ada waktu bersama Kevin adrenalinya selalu terpacu, belum lagi pikiran buruknya terhadap Kevin, sungguh sangat menyiksanya.
Sebab itulah, Muna memilih menerima saja kapanpun Kevin mengajaknya menuju halal. Daripada menunda waktu, justru akan memperburuk keadaan. Tidak peduli dengan perut besar saat kuliah nanti, jika Kevin benar menikahinya dan mengandung, toh ia memiliki suami.
Muna sudah menyelesaikan tugasnya sebagai OB. Ferdy tanpa di minta pun sudah memberikan akses kartu apatemen Kevin agar Muna bisa dengan leluasa masuk dan keluar apartemen Kevin tersebut.
__ADS_1
Muna bukan cheft handal, tetapi ia adalah peniru yang budiman. Maka ia selalu tertantang dengan segala resep menu yang di minta oleh Kevin. Untuk di pelajari dan di praktikkan.
Bukan hanya rawon kambing muda yang ia buatkan saat berada di sana. Tetapi ia juga menyiapkan makanan yang tinggal Kevin letakkan dalam mickrowave untuk di panaskan sebelum di makan, khusus untuknya sarapan.
Waktu sudah menunjukan pukul 5 sore, sang pemilik apartemen masih belum menunjukkan batang hidungnya di apartemen itu.
Semua makanan yang ia buat, ia berikan lebel untuk kapan di makan dan petunjuk pemanasannya. Agar Kevin tidak kesulitan saat ingin menyantapnya.
Muna pulang dengan perasaan puas, karena telah berhasil membuat menu pesanan Kevin juga menyiapkan makanan lainnya. Muna tidak mempermasalahkan jika ia tidak sempat bertemu dengan Kevin. Sebab baginya, berada di apartemen tersebut sendiri tentu lebih aman dari pada berdua.
Sepekan berlalu, komunikasi Kevin dan Muna hanya melalui vical dan chatting. Bahkan di pantry tempat mereka sering menghabiskan waktu makan bersamapun sudah tidak terlihat.
Sepertinya Kevin benar-benar sibuk sepanjang minggu itu.
Muna tidak merasa janggal, sebab sangat memahami kesibukan pria itu. Muna sadar betul akan tugas dan tanggung jawab seorang CEO yang memang sebuah pekerjaan yang sangat ia kagumi, bahkan terbesit kelak ingin bekerja seperti demikian.
Minggu berikutnya, Muna sempat membuatkan makan siang dan menemani Kevin makan di pantry, namun hanya sebentar. Sebab ia mengaku pada Muna lagi-lagi akan pergi keluar kota.
Muna selalu tidak mempermasalahkan hal itu. Sebab saat pulang dari Banten kemarin ia memang sempat bilang , akan sibuk bahkan dalam waktu satu bulan. Bukan kah Kevin juga yang menjanjikan akan menikahinya bulan depan. Bukankah Kevin yang selama ini ngebet pengen cepetan nikah, tetapi ternyata, justru dia yang hampir tidak dapat membagi waktunya untuk tidur pun sedikit.
Hari itu adalah minggu ke empat pada bulan ke sebelas di tahun itu. Entah mengapa suasana kantor sedikit heboh. Grup chat mendadak penuh dengan sebuah kabar berita akan hadirnya seorang pria tampan yang di gadang-gadang akan bekerja di lantai 37, sebagai sekretaris yang akan menggantikan pa Bondan orang kepercayaan Kevin selama ini.
Pria itu berusia 27 tahun, tergolong muda dan sudah memiliki gelar yang menandakan ia telah menyelesaikan pasca sarjananya. Bara Alfarezi, SE.MM demikian nama karyawan baru tersebut.
Bara sosok pria yang cerdas, humbel, suka bercanda ramah dan juga tampan tentunya. Selain dengan sesama timnya, ia juga melakukan perkenalan hingga ke jajaran OB.
Bara bekerja di lantai 37 di dalam ruang sekretaris, namun belum sepenuhnya di sibukkan dengan pekerjaaan sekretaris yang menyita waktunya untuk sibuk bekerja. Sebab Kevin masih tampak selalu pergi bersama pak Bondan yang lebih senior.
Bara sedikit kagum dengan tata letak bidang dan posko di kantor barunya tersebut. Yang telah memiliki kantin umum pada lantai 2, juga memiliki kantin karyawan di lantai 15 bahkan kini ia menemukan kembali seperti tempat makan di sebuah pantry di lantainya bekerja.
Muna..., tentu Muna lah satu-satunya orang yang paling banyak menghabiskan waktunya dalam ruang pantry tersebut sebab pembagian wilayah kerjanya memang di sana.
"Hai..., permisi boleh kenalan. Saya Bara, staf sekretariat di ruang ujung." sapanya ramah saat hendak membuat minuman d pantry siang itu. Sembari mengulurkan tangannya ke arah Muna.
__ADS_1
"Muna, Muna Hidayattulah. Aye OB yang bertugas di lantai ini." Jawab Muna menyambut uluran tangan Bara dengan senyum terkembang di wajahnya.
"Jangan bercanda... masa tampang bule begini cuma OB. Situ bohong kali...?" Ujar Bara so' akrab.
"Nih...ID card Muna, kalo bapak kaga percaya." Ujar Muna menunjukkan identitasnya.
"Oh..., kalau begitu minta no ponselmu. Berarti saya boleh minta bantuanmu, jika benar kamu yang bertugas di lantai ini."
"Iye beneran pa. Tapi maaf ye pak. Jika meminta bantuan kami, bapak cukup pencet bel di meja yang kerja bapak aje. Noh... lampu entuh ntar akan nyala, dan langsung menunjukan meja mane aje yang perlu bantuan kami."
"Oh begitu." Bara mengangguk-angguk sambil mengedarkan langkahnya berpendar mengecek seluruh isi pantry, tak terkecuali isi lemari pendingin 4pintu pada ruangan itu.
"Waaaw... lengkap sekali isinya. Apakah ini semua boleh di nikmati secara cuma-cuma?" tanya Bara saat melihat susuna bahan makanan yang melimpah dan lengkap di sana.
"Selama ini sih, boleh. Kami juga kadang-kadang membuat sendiri camilan dengan bahan yang ada di mari." Jawab Muna dengan polosnya.
"Kereeen. Kalo gitu saya boleh minta buat kan roti pangang?" tanyanya sopan.
"Bisa pak. Nanti kalo selesai akan saya antarkan ke ruangan bapak."
"Tidak... tidak usah di antar, Kebetulan saya belum banyak pekerjaan, jadi saya akan tunggu di sini saja, sambil melihat Muna membuatkannya untuk saya."
"Oh iye, tunggu ye pa." Jawab Muna yang dengan cekatan menyiapakan pesanan Bara orang baru di kantor tersebut.
Bersambung ...
Hmm....mau jadi saingan bang Ke niih?
Happy reading ye
Lopeh-lopeh buat semua
__ADS_1
π€π€π€πππβ€οΈβ€οΈβ€οΈ