OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 180 : MUNA NAKAL


__ADS_3

Begitu masuk lift, entah mengapa Kevin tetiba menyeruduk wajah Muna yang tentu tidak siap. Namum, dengan respon cepat. Ikut arus untuk memberikan perlawanan melahap, membelit juga mengigit kecil bibir suaminya itu greget.


Tangan Kevin posesif menangkup rahang Muna, seolah takut kepala di depannya merenggang, menjauh membuat jarak bahkan mungkin melepas pagutan tiba-tiba itu. Muna menusuk perut Kevin, sekedar mengingatkan jika pintu lift itu bisa saja terbuka kapan waktu.


"Sayang iih, kayak ga bisa nanti aja. Mau pulang kerumah ini." Elak Muna yang sadar adegan itu tak layak di lakukan di tempat tersebut.


"Abang penasaran aja, sama bibir yang bicara sebijak tadi. Kayak bukan bini abang deh, gemesh Mae."


"Sesuai sikon lah pap."


"Iiissh... Ge-eR banget kalo sudah di panggil gitu mom." Tangan Kevin sudah hampir sampai ingin meraba atas perut Muna, tetapi apalah daya. Pintu lift benar sudah terbuka dengan lebarnya. Segera Kevin memasang wajah datar, seolah tak melakukan adegan mesum di dalam tadi.


Selama ada Muna di Bandung, Kevin tidak menggunakan jasa supir jika sedang berduaan. Di rumah juga, ART di perbolehkan kerja part time. Alias hanya datang saat Kevin berangkat kerja untuk mencuci pakaian dan beberes rumah. Sebab keduanya benar-benar ingin berdua-duan saja.


Hawa pengantin baru jelas saja masih kental. Sebab, keduanya seolah menggila dalam urusan mempersatukan bangsa. Bagai kebelet, kadang di lakukan di sofa, di atas meja makan, jacuzzi jangan di tanya. Pojokan, ruang tengah, kasur apa lagi. Benda mati itu hanya tidak bisa bilang kalo mereka sudah ternoda, tercemar bahkan bosan melihat tingkah dan segala aktivitas mesum kedua pasangan halal tersebut.


"Yaaaaang..." Rengek Muna.


"Apaaan?" Ujar Kevin yang sore itu masih terlihat mengecek email dari koleganya di Singapura.


"Muna mau ulangan."


"Ulangan apa? Ujian kan sudah berlalu, malah udah mau daftar ulang kan 4 hari lagi." Jawab Kevin tanpa memandang wajah istrinya, sebab masih sibuk melotot di depan laptop.


"Bukan ujian. Tapi ulangan." Risih Muna.


"Ulangan apa?"


"Itu... "


"Apa siih" Gemas Kevin yang akhirnya menggeser laptop dari pahanya. Lalu menarik istrinya untuk duduk di atas pangkuannya.


"Ini..." Jawab Muna menunjuk ke arah si otong yang masih terlihat jinak, adem ayem bobo manis di dalam bungkusannya.


"Waaaw. Ketagihan niih ceritanya?" Ledek Kevin senang mendapati Muna yang makin agresif.


Dengan pipi merona merah muda, Muna mengangguk sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak matanya. Malu.


"Muna maunya di atas." Bisiknya pelan di akhiri gigitan kecil di daun telinga Kevin.


Tanpa jawaban Kevin sudah berdiri melorotkan celananya, memberikan akses bebas tanpa penghalang. Agar Muna dapat mengeksplor sesuai keinginannya.


Tak lupa, sebelum mendudukan Muna kembali, Kevin sudah melucuti aksesoris yang mungkin mengganggu niat nakal Muna terhadapnya. Jadilah lantai itu, tempat terbenar membuang pakaian mereka.


Muna tanpa permisi, sudah memposisikan si mumun tepat di depan otong. Ah, otong memang paling siaga dalam bereaksi. Hanya saat menyadari mumun polosan, otong sudah kejer saja, siap bertempur. Maklum barang bagus kuuuy.


Jangan tanya bagaimana racauan Muna yang ternyata sangat suka posisi women on top di atas sofa itu. Sesuai dengan wajah Kevin yang merem melek menikmati serangan halus namun memabukkan itu dari Muna.

__ADS_1


"Nikmat Mae...?" tanya Kevin gemesh di sela menikmati hidangan di depannya.


"Bangeeet yang." Manja Muna tanpa malu lagi.


"Yakin lusa pisah sama abang...?"


"Eeemmm... " dehem Muna manja.


"Abang ga rela jauhan lagi sayang." Seru Kevin saat genjotan Muna masih berlangsung.


"Aaaakkh" desah Muna seksi.


"Mae ... "


"Heeeemmm... "


"Pindah kuliah aja yaa." Kevin merayu dengan nafas mulai tak beraturan mendapat gempuran halus mulai tak berjeda oleh mumun.


"Iiih... Ayaang. Jangan goyahkan cita-cita Muna." Muna menghentikan aktivitas nikmatnya.


Kevin kelimpungan tak dapat asupan goyangan tadi lagi. Sadar, yang ia obrolkan merusak mood sang istri. Lalu membalikkan posisi dengan cepat, sebab otong sudah benar-benar ingin muntah.


Basah...


Lagi, rahim itu seakan tak berjeda di tanam dan di sirami. Berharap benih itu segera bersemi, tumbuh alami.


"Abang masih ga ikhlas ijinin Muna kuliah ?" Muna langsung melanjutkan obrolan mereka tadi dengan posisi tidur pasrah, sambil membiarkan Kevin membersihkan dengan kain segitiga putih, pada teras rumah Mumun. Yang sempat banjir, akibat semburan muntahan si otong.


"Yaaang... Hiks...hiks." Muna tetiba melow mengakui bahkan sesungguhnya, ia pun tak sanggup pisah. Iapun terlena dengan kebersamaan selama liburan semester dalam 3 pekan ini. Untung ada waktu sepekan lagi untuk masa daftar ulang. Jika tidak, pasti mereka tak punya waktu menikmati kebersaan di Bandung.


"Maaf. Di sini abang yang sudah janji akan utamakan Mae. Abang nanti yang akan tinggal di sana bersama Mae."


"Tapi kerjaan gimana?"


"Ga kerja 2 tahun kayaknya ga bikin kita miskin deh yang." Kekeh Kevin.


"Shombong amat." Jawab Muna yang melupakan kesedihannya tadi.


"Canda Mae. Sesuai janji abanglah. Mae adalah prioritas utama abang. Jadi, abang aja yang sering di sana. Apa lagi kalo istriku belum hamil. Abang bakalan di amuk masa lho."


"Sayang tuh lebay. Sape juga yang mau marahin abang kalo Muna belom hamil."


"Ya semua lah, para tetua tuh udah pengen banget nimang cucu. Yuk, buat lagi." Ajak Kevin genit. Saat mereka memang belum beranjak dari sofa tadi, masih dengan pakaian yang berceceran di lantai.


"Abbaaaaang." Toa berkibar lagi. " Pliiis deh ga ada capenya ya?"


"Jangan kasih kendor Mae, ibadah yang." Kekeh Kevin sambil memungut pakaian Muna lalu memasangnya kembali.

__ADS_1


"Udah... Abang cuma bercanda." Jawabnya penuh pengertian. Menyadari istrinya bukan robot yang jika low bat lalu di cash 3 jam kuat on untuk 12 jam. Emang batre hape?


"Makasih suamiku. Emang paling ngarti dah Te O Pe be ge te." Kekeh Muna.


"Bisa jalan...?"


"Gendong..."


"Manja...!"


"Bodo... Laki sendiri ini." Kekeh Muna mengulurkan tangannya ke arah Kevin. Yang kemudian sudah gelonjotan manja kaya koala di dada Kevin.


"Eeeh buseet, banyak juga tato bulan sabit di dada abang. Ampuun dah, untung ga di leher. Kalo kagak, bakalan malu aye, bang."


"Abang malah mau di buatkan banyak di leher. Biar di liat banyak orang. Bangga itu punya istri buas dan nakal pas main yang."


"AbAaaang iih, malu."


"Nyenengin suami itu pahala sayang." Seru Kevin dengan ciuman bertubi-tubi di wajah yang tidak pernah membuatnya bosan itu.


"Yaaaang." Panggil Muna saat sudah berendam di jacuzzi kamar mereka.


"Apa mom...?"


"Malam ini bobo di tempat babe ya. Sebelum Muna balik. Muna kangen suasana rumah babe." Pinta Muna pada Kevin yang tidak bisa semudah itu melupakan semua kenangan yang pernah tercipta di rumah sederhana tersebut.


"Iya... Ntar kita telpon dulu. Biar di siapin."


"Apenye yang di siapin?"


"Lah, kan kata babe kamar Mae di tempatin sama Siska. Mae mau malam ini kita tidur bertiga?"


"Eh aseem ya abang. Segala mau tidur bareng Siska juga."


"Ya ... Makanya kita kabarin dulu kan abang Bilang ah."


"Ha...ha... Iyeee ah." Kekeh Muna.


Keduanya pun melanjutkan kegiatan mandi yang benar-benar mandi tanpa aksi mesum. Mereka hanya bergantian, saling mengosok punggung yang satu dan yang lainnya.


Berasa selalu menghabiskan waktu berdua, dengan kegiatan manis selama bisa bersama.


Bersambung...


Lumayan kan part ini untuk mengawali senin penuh semangat.


Nyak selalu usakan double up yah.

__ADS_1


Biar di sayang readers dengan Vote, like,gift n komen keren kalian semua


❤️❤️❤️


__ADS_2