OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 240 : JAWABAN


__ADS_3

Gilang dan Gita sudah mengantarkan Aydan dengan selamat. Hanya karena terburu waktu istirahat siang hampir habis, maka keduanya tak sempat ngobrol banyak.


Keduanya sudah kembali ke meja kerja masing-masing. Gilang sudah menjadi Asisten pribadi maka tidak seruangan dengan Gita, Siska dan Haikal lagi. Posisi Gilang di sudut ruangan Kevin di mana tempat itu dapat melihat langsung ruangan Kevin juga ruang sekretaris.


"Tolong di data siapa saja yang akan ikut perjalanan dinas ke Cisarua. Untuk memantau lokasi pembukaan cabang pabrik. Pesan pak Kevin, ajak beberapa divisi yang ada kolerasi dengan pekerjaan kita di sana. Juga sekalian sampai sabtu, weekend di Lembang." Chat Gilang untuk Siska.


Siska memang lebih baru dari Haikal dan Gita. Tetapi kinerja Siska memang sangat baik, sebab telah terlatih saat bekerja di perusahaan Mahesa.


"Haikal... Mau ikut dinas ke Cisarua kamis...?"


"Boleh tinggal ga? Ada keluarga datang, aku harus ada di tempat Sis." Jawab Haikal


"Oke... Ga papa. Gita...?"


"Boleh Sis."


"Yes. Jadi kamu saja yang mewakili bidang sekretaris ya. Aku dan Haikal jaga kantor ya." Jawab Siska yang kemudian menghubungin divisi lain, di antaranya divisi pemasaran juga ......


"Yaa... Ga seru Sis, aku ga ada temannya."


"Kalo dinas kamis pasti sampe jumaat. Lanjut sabtunya ke Lembang. Oppa ku datang kalo sabtu, dia mau liat Naya. Jadi... Maaf ya. Aku pilih pacaran saja." Kekeh Siska, sambil mengirim chat untuk Gilang nama-nama yang akan berangkat.


Gilang tersenyum melihat ada nama Gita di sana, tetapi mendadak sendu. Sebab ada nama Sita juga di sana.


Gilang menggambil notes kecil lalu menulis pesan di sana.


"NengGi, tolong buatkan surat tugas untuk nama-nama berikut." Lalu meletakan memo itu di depan monitor Gita, tanpa bebicara apapun.


Begitulah asyiknya interaksi antara Gilang dan Gita selama ini. Mereka jarang terlihat ngobrol, tapi kerap berbalasan berkirim notes. Diam-diam di meja keduanya.


Termasuk tentang janjian makan siang, atau jika Gilang akan pergi meeting. Gilang selalu pamit melalui notes yang ia tulis dengan tangannya, lalu meletakan di atas meja kerja mereka. Manis sih tapi ga maju jalan.


Gita sudah bersiap akan pulang, Ninik sudah menunggunya. Tapi tawaran Gilang untuk pulang bareng tentu lebih menggiurkan. Gita tau pasti Gilang akan menjawab pertanyaannya tadi.


"Nik... Aku pulang sama Agi ya." Chat Gita pada Ninik. Di balas ok oleh Ninik.


"AGi...kita ke mana?"


"Kita makan malam yang kesorean atau makan sore yang kemalaman, kali ya Neng." Jawab Gilang menyerahkan helm untuk Gita.


"Waah... Pasti enak nih kalo sudah AGi yang ajak."


"Kalo enak pasti Neng. Kalo mewah pasti ga mungkin." Jawab Gilang yang sudah menarik tangan Gita ke perutnya.


"Tumben A'a mau di peluk eneng."


"AGi mau ngebut. Keburu magrib kita neng." Jawab Gilang. Yang benar saja kendaraan yang di bawanya itu melaju dengan cepat.


Gilang dan Gita nongkrong di sebuah warteg. Keduanya tampak makan dengan lahap. Gita sudah terbiasa makan di tempat sederhana, setelah dekat dengan Gilang.


"A... Pertanyaan eneng tadi di jawab kapan?"


"Bentar... Habisin makanan ini dulu. Kenapa penting banget ya?"


"Penting sih ga... Cuma kepo aja A."


"Segitunya. Nanti mau A jawab jujur atau bohong?"


"Kok ada opsinya sih?"

__ADS_1


"Suka-suka AGi lah."


"Neng... Kenapa ga tanya Agi suka sama Sita atau ga...?"


"Itu masuk dalam daftar pertanyaan Neng selanjutnya A."


"Owwwhh penting. Ya... Itu pointnya." Cling...ting. Sendok dan garpu Gilang sudah tengkurap menyilang di atas piring yang isinya baru tandas tadi.


"Jadi neng... Sita itu beberapa bulan lalu nembak Agi. Eh... Nembak atau ngelamar ya...?"


"Ish... PeDe."


" Coba neng bangu Agi mikir. 'Kak Gilang, mau ga jadi ayah dari anak-anakku. Pliis kak.' Nah ... Tolong neng artikan itu kata buat nembak atau ngelamar?"


"Mana neng tau, di tembak ga pernah. Di lamar apa lagi."


"Masa ga pernah di tembak?"


"A'a.... Neng udah mati kali kalo pernah di tembak, minimal codet lah di dada atau di mana gitu bekas luka tembaknya."


"Eh... Kedondong. Emang Baskoro ga pernah nembak...?"


"Kepo. Jadian A'a. Jadian. Dua orang saling suka dan bersepakat untuk jalan bareng berdua dalam waktu lama itu namanya jadian. Bukan tembak-tembakan kali A." Jelas Gita.


"Iya juga ya."


"Terus... Agi jawabnya apa pas di bilang gitu sama Sita."


"Agi jawab. Maaf Sita jadi ayah dari dua ponakan Gilang aja gaji Gilang pas-pasan. Kasian situnya ntar."


"Terus dia jawab apa?"


"Waw... Terus... Terus A."


"Depan selokan neng... Kalo terus terus kita nyungsep neng."


"A'a... serius kepo nih."


"Iya. Lalu Agi bilang lagi. Maaf ga berani, takut ga bisa bahagiain anak orang."


"Responnya?"


"Kak Gilang terima Sita aja udah cukup bikin Sita bahagia kak."


"Maaf... kalo cuma Sita yang bahagia. Hati kak Gilang belum tentu bahagia."


"Heeem."


"Kak... pliss terima. Umur Sita ga lama lagi ini. Sita tuh ngidap penyakit parah. Umur Sita paling ga lama lagi... kak Gilang ga bangga sempat tercatat sebagai orang yang pernah bahagiain Sita?" Gilang terus saja nyerocos.


"Lalu...?"


"Ya... Agi sekali ga tetap ga lah Neng."


"Alasan Agi apa?"


"Minta waktu lah buat mikir."


"Serius... aslinya kenapa Agi nolak?"

__ADS_1


"Ga ada rasa..."


"Tambah garam lah A' biar berasa."


"Emang baso?"


"Agi... Sita cantik lho, kaya, cinta lagi sama Agi. Kurang apa coba?"


"Bukan tipe Agi, Neng."


"Ciiiee yang punya standar. Kasih tau dong... kali neng bisa ikut daftar."


"Jadi apa?"


"Istri Agi lah... Uupps kelepasan." Canda Gita iseng-Iseng berhadiah.


"Ngapain daftar lagi siih. Kan Agi udah jadi suami eneng." Kekeh Gilang senang.


"Suami tak bersurat."


"Tapi tersiratkan neng?"


"Au ah gelap. Bentar... Sita ga tipe A'a kenapa?"


"Agi malu lah neng. Mulai dari dia bilang minta ARTnya buatin bekal buat Agi, terus kalo jalan berdua tuh. Agi selalu pake mobilnya. Makan juga selalu di tempat mewah neng."


"Agi takut bangkrut?"


"Bukan, rejeki sudah ada yang atur kan. Tapi kalo besok Agi punya istri begitu, jangan-jangan Agi ga bisa bagi nafkah buat ibu dan teteh. Emang sih mereka bukan tanggung jawab A' ketika A sudah nikah nanti. Tapi, Agi harus benar bikin perjanjian pra nikah deh, supaya A nanti masih boleh bagi rejeki ke mereka."


"Emang ada gitu cewek yang setuju setelah nikah, suami masih kasih uang buat ibu dan kakak perempuannya?" pancing Gita.


"Itu yang lagi di cari neng." Gilang mencubit hidung Gita.


"Yakin dapat?"


"Insyaallah. Lagi pula Sita anak orang kaya, Agi jelas ga bisa bahagiain dia."


"Agi ga suka sama anak orang kaya?"


"Ga gitu juga sih. Kaya miskin itu sama saja. Maunya Agi... ada yang mau berjuang bersama dari nol saja."


"Berarti... Sita fix udah di tolak ya A...?"


"Sepertinya begitu."


"Terus kapan mau nolak beneran. Jangan so minta waktu A. Kalo jawabannya ga. Jatuhnya Agi PHP anak orang lho."


"Agi belum dapat jawaban yang tepat."


"Udah... bilang aja Agi udah punya calon."


"Kalo dia tanya siapa... Agi bilang apa?"


"Bilang aja udah jadian ama eneng." Gita nekat aja ngomomg makin merepet-repet. Pasrah dah sekarang, horor Gita denger Sita yang berani nembak Gilang.


Bersambung...


Nyes... nyes deh tuh hati readers

__ADS_1


Rasakan πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ™πŸ™


__ADS_2