OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 170 : PLONG


__ADS_3

Muna sudah bergabung di meja makan itu, namun kerusuhan tadi sudah mereda. Sehingga Muna tidak tau, apa saja yang mereka bahas bersama, saat ia belum berada di titik kumpul.


"Kakek, mama abah, nyak babe. Malam ini Muna sama abang tidurnya di apartemen Muna aja ya." Pamit Muna dengan perasaan sedikit canggung dan malu. Padahal semua kepala yang ada di sana telah memiliki pemikiran yang sama. Yaitu setuju dan sangat mendukung perpindahan tempat pasangan pengantin baru itu menginap.


"Iya... Silahkan. Habisakan saja waktu liburan semestermu bersama suami. Anggap saja, ini sekalian bulan madu kalian." Jawab Rona dengan senyum bahagia.


"Ini kayaknya sakitnya engkong di sabotase yaak. Sengaja gitu, biar Kepin segera ke mari. Iye ye kong?" Tebak nyak Time asal ke kakek Hildimar, yang ia anggap seperti orang tuanya sendiri.


"Enyak ah... Segala sabotase. Emang sakit bisa di atur. Ah." Hardik babe yang malu menyandang tebakan nyak Time.


"Ya kaliii." Jawab nyak Time nyengir.


Kakek hanya terkekeh. Kemudian beringsut permisi meninggalkan ruang makan, untuk kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


Semua bubar tangkar, kembali ke peraduannya masing-masing. Sama halnya dengan Muna dan Kevin. Yang sudah berada dalam mobil yang di kemudi oleh Muna menuju apartemennya di Apeldoorn.


"Akhirnya... Ngerasain juga di supirin bini." Celetuk Kevin yang terkadang sudah terkontaminasi gaya bicara nyak Time.


"Ya... Sekali-kali. Pan abang belum hapal jalan di mari." Muna masih suka dengan logat Betawi yang sudah melekat dengannya.


"Tadinya abang kira, kalo Mae tuh lama di sini. Ngomongnya Mae ke barat-baratan. Ternyata. Hm... Tetep ala ala nyak Time juga." Obrol Kevin di perjalanan.


"Ya... Cuma di rumahlah bang, Muna bisa ngomong beginian. Di kampus, mana ada yang ngarti. Besok di kantor, apalagi. Kagak mungkin pan Muna ngomong ke gini. Lagian tuh, pake bahasa nyak... Ngangenin." Jawab Muna.


"Iya siih... Kadang tuh. Abang malah masih suka terngiang-ngiang sama gadis yang suka pake kata aye...aye untuk kata ganti aku, waktu pertama kali kita ketemu. Ah... OB itu, cantik, rajin, lucu dan mengemaskan." Kenang Kevin ke masa pertama mengenal Muna.


"Iisssh... waktu itu abang bikin jantung aye ser-seran deh." Aku Muna malu-malu.


"Naaah... Iya, kata kata kayak gitu tuh. Yang ngangenin banget Mae."


"Panggilan Mae nya abang itu yang selalu aye suka dari abang. Cuma abang yang panggil ke gitu." Puji Muna tak kalah mengingat apapun hal manis di masa itu.


"Ya iyaa donk abang potong lidahnya kalo ada yang berani panggil gitu ke Mae." Canda Kevin.


"Busyeeeet dah... Abang kejem banget."


"Itu sudah abang paten kan sayang. Hanya abang yang boleh panggil gitu."


"Huuum... Benernye Muna juga mau patenkan panggilan sayang ke abang. Tapi, pasti abang marah."


"Mang ... Apa panggilan sayangnya Mae ke abang?"


"Bang Keeeeee." Teriak Muna nakal.


"Adeeeeh....deeh. Ampun yaang. Becanda ngape yang?" Teriak Muna yang hidungnya sudah berhasil di cubit oleh suaminya gemas.


"Jangan suka di ulang-ulang."

__ADS_1


"Siap sayangku. Okeh, kita sudah sampai. Selamat datang di apartemen nyonya Kevin Sebastian Mahesa." Genit Muna mencuri kecioan di pipi Kevin, sembari turun dari mobilnya di ikuti Kevin.


Suasana apartemen itu tetap bersih, walau beberapa hari tidak di tinggali oleh Muna. Kevin sudah menggeret kopernya. Seolah memang niat untuk berlama-lama di sana.


"Kamar kita yang mana Mae?" tanya Kevin yang memang baru pertama kali menginjakkan kakinya di apartemen itu.


"Yang tengah yang." Ucap Muna yang sudah memilih masuk kamar mandi di luar kamar, untuk segera membasuh dirinya.


"Waaaw... Amazing." Celetuk Kevin terpana melihat tatanan kamar yang Muna sebut adalah kamar mereka.


Penampakan sebuah kamar pengantin pada umumnya, terdapat beberapa lampu pijar temaram, dengan wewangian manis cendana, dan beberapa bunga bergantung menempel di kepala ranjang Muna.


Tempat tidur itu terbuat dari kayu jati olahan asli Jepara. Memiliki empat tiang dan terbalur kain kelambu putih tipis sangat matching dengan alas putih bersih yang terpasang dengan kencang di sana.


Muna mengekor di belakang Kevin, tak kalah kaget dengan suaminya. Merasa tak pernah mempersiapkan apa-apa, bahkan waktunya telah habis untuk menjaga kakek dan belajar saja.


^^^"Semoga kalian suka^^^


^^^Selamat bermalam pengantin yang tertunda^^^


^^^Jangan lupa berdoa^^^


^^^Untuk memulai segala sesuatu."^^^


^^^Salam sayang dari mama, abah, nyak juga babe."^^^


Isi secarik kertas di atas nakas. Rupanya orang tua mereka benar telah memprediksi jika pasangan itu akan mengasingkan diri ke apartemen untuk memadu cinta. Mereguk kebahagiaan yang sesungguhnya, beribadah bersama, menciptakan surga dunia yang sudah seharusnya mereka cicipi sejak lama.


Keduanya telah melaksanakan kewajibannya dengan perasaan yang sulit di andaikan dengan kata-kata apapun. Semua indah di rasakan oleh keduanya.


"Udah... Ga usah pake apa apa." Perintah Kevin saat Muna sudah melepas mukenanya, dan berdiri memilih pakaian tidurnya.


"Issh... Abang. Kaga seru lah, ntar abang tinggal sosor-sosor aje, kada ade kerjaan."


"Bini abang bawel banget siih. Udaah dasteran gitu aja, sini." Tarik Kevin pada tubuh Muna dan mendudukannya di atas tubuhnya.


"Hmmmm... Wanginye laki aye." Endus Muna pada ceruk leher Kevin.


"Memang salah abang ga dulu-dulu aja nikahin Mae ya."


"Mang ngape bang.?"


"Dulu banyak drama sayang. Kebayang ga siih, tersiksanya abang, kadang cuma kebagiam nyicip doang bibir Mae." Kenang Kevin sambil meloloskan daster Muna menyisakan kain renda bercup hitam melintang di dada tubuh seksi itu.


"Bukan drama yang... tapi takut khilaf berjamaah kitanya. Abang tuh tampan maksimal. Sejak awal jumpa aja hati Muna udah meleleh aje." Jawab Muna yang sudah mengubah posisinya menghadap Kevin. Masih dalam posisi berpangku dengan kedua paha terbuka selebar pinggang Kevin.


"Masa...? Bukannya Mae lama galau terima abang atau tidak." Jawab Kevin dengan sorot mata mulai mabuk dengan penampakan tubuh yang selama ini bagai misteri baginya.

__ADS_1


"Ya galau lah. Antara suka, sama takut. Suka banget sampe hati Muna ngapung-ngapung kalo ketemu abang. Makanya di minta masak apa aja mau pan waktu itu." Jawab Muna yang pelan pelan juga sudah membantu melepas kancing pakaian koko setelah sholat tadi tanpa ragu.


"Huumm... Takutnya?" tanya Kevin seadanya, di sela kesibukannya membuat tato bulan sabit ala-ala hena merah di dada putih istrinya.


"Ya takut di giniin sebelum halal. Mana cewek abang banyak lagi, Muna kaga berani ngimpi bisa miliki abang seutuhnya." Jawab Muna terakhir.


Ya... itu menjadi kata terakhir Muna. Sebab setelah itu, sudah tak terdengar obrolan antara keduanya berbentuk verbal. Adanya hanya sahutan, decakan seirama desis cicak di dinding. Bertukar oksigen, melalui indra perasa masing-masing. Memecahkan celengan rindu yang menggunung. Seluruh organ tubuh keduanya telah bekerja sama dengan optimal. Tidak ada rasa malu antara keduanya saat sudah tak sehelai benang pun tersisa di tubuh keduanya.


Muna hanya mengerti teorinya, semua gerakan ber cinta manapun sudah pernah dia lihat lewat layar kaca. Namun tidak dengan prakteknya. Sedangkan Kevin, justru layak mendapat gelar guru besar dalam hal ini. Tidak usah di tanya betapa piawainya ia menyentuh bagian-bagian yang akan melahirkan suara-suara lauck nut dari kerongkongan Muna.


Dada Muna bergemuruh tak beraturan, mendapatkan perlakuan lembut memabukan dari suaminya, sama seperti permukaan kulit dadanya juga telah tak berupa, akibat isapan vampire yang mengerayanginya, tanda merah di sana sini, abstrak, totalitas.


Tangan Muna hanya meremas lembut kepala belakang Kevin, sesekali menekan memperdalam benaman serangan yang sudah membuatnya basah.


Jemari Kevin ronda, bagai hansip yang melaksanakan aksi keliling kampung. Tak tertinggal seincipun tubuh itu ia raba, remat dan di telisiknya dengan detail. Bagian terlama adalah di gerbang si Mumun. Daerah rawa yang dapat saja mendadak banjir akibat rangsangan yang di perintahkan saraf otak untuk mengeluarkan cairan dari dalamnya.


"Mae..." Serak Kevin mulai kelimpungan saat menyadari si Otong sudah siap bertamu ke rumah Mumun.


"Hmm..." Dehem Muna yang sudah hilang kewarasannya, hampir oleng akibat gerayangan bertubi-tubi yang begitu menggelora batinnya. Memporak porandakan pertahanannya.


"Si Otong masuk ya...?"


"Masuk aje bang, kagak di kunci." Polos Muna yang masih sempat-sempatnya bercanda kala keduanya sudah sama-sama on fire.


"Sedikit sakit yang... Segelan ini?"


"Aye pasrah yang." Cicit Muna yang mulai merasakan sesuatu menumbuk-numbuk dibagian tengah tubuhnya.


"Tahan ya Mae..." Bisik Kevin yang masih terlihat bersusah payah menerobos portal jalan tol.


"Enih yang masuk apaan siih bang...?" tanya Muna yang belum sempat melihat secara seksama si Otong Kevin.


"Otong Mae... Udah tahan aja sakitnya, emang rada sesak ini?" dengan nafas yang mulai memburu hampir tak dapat lagi menahan diri untuk terus menerobos masuk.


"Es tong tong? Ini pan corong Conelo jumbo baang. Gede gini." Kevin memilih membungkam mulut itu dengan belitan lidahnya, agar ia tidak mendengar ke bawelan istrinya, yang bisa saja merusak moodnya untuk menyalurkan hasrat terpendamnya. Dengan terus menggenjot si Otong, agar benar-benar masuk sempurna di rumah Mumun.


"Akhhhh..." Rintih Muna melepas belitan adu lidah serangan Kevin.


Kevin tersenyum puas, meletakan kepalanya di dada Muna. Mengendurkan genjotannya. Setelah berhasil menyiram keseluruhan cairan es tong tongnya di dalam rahim rumah Mumun.


Plong.


Bersambung...


Gimana... Feelnya dapet ga?


Kalo belom lanjut di BAB berikut ye.

__ADS_1


Nyak cari handuk dulu.


Basaaaah😭


__ADS_2