OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 163 : SAMPAI TELER


__ADS_3

Serangkaian acara akad nikah dan syukuran berupa makan siang bersama di panti asuhan telah selesai dengan lancar tanpa kurang satu apapun. Berbagi dengan anak-anak yang kurang beruntung itu merupakan ide dari Muna sejak lama.


Sehingga tepat pada siang menjelang sore hampir pukul 3 sore. Masih ada beberapa jam untuk beristirahat mengingat resepsi akan di mulai pukul 7 malam hingga selesai.


Kevin dan Muna sudah halal untuk berdua-duaan dengan durasi lama dalam sebuah kamar pengantin yang di dekor cantik pada salah satu kamar di kediaman kakek Hildimar yaitu kamar Muna sendiri.


Nafas Kevin tiba-tiba bagai pemburu, segera menyerang bibir empuk Muna yang walaupun saat itu masih dengan riasan tebal khas pengantin.


Mana Kevin peduli🤔.


Posisi keduanya masih di balik pintu, hanya sempat mengunci sebentar lalu saling lahap. Sudah tidak ada penolakan dari Muna, bahkan kedua tangannya mengalung sempurna pada leher suaminya. Tergantung posesif seolah tak ingin lepas dari Kevin.


Ya... Kevin, yang telah berstatus suami Muna sekarang. Sehingga tidak ada lagi teriakan-teriakan khas toa yang keluar dari mulut seorang Muna yang takut dosa.


Keduanya saling melepas cumbu, rindu...? jangan di tanya lagi, mereka bahkan telah melewati lebih dari 30 purnama dari tempat yang berbeda. Sesekali mereka saling menatap penuh cinta dan hasrat yang sama-sama memuncak. Demi memperbaharui oksigen yang hampir kalah terserap racun karbondioksida.


Decakan decakan nikmat bersahutan seirama, mengiringi pergerakan tangan tangan Kevin yang sudah bergerilya di tempat-tempat mistrerius dan terlarang sebelumnya, membuat semakin penasaran tingkat dunia.


Kevin mana bisa lebih bersabar kali ini, terlihat dari gerakan tangannya sudah tidak tinggal diam. Mahir dalam urusan melucuti kebaya pengantin yang masih terbalut sempurna menutupi bagian tubuh istrinya, Muna.


Ya... Muna, yang telah sah menjadi istri Kevin sekarang. Tidak ada portal penghalang, yang bahkan wajib mereka lakukan selayaknya suami istri yang telah sah.


Tangan Muna tak kalah nakal, sudah sangat pandai menari-nari mengukir bentuk abstrak di sepanjang punggung Kevin. Kadang meremas tengkuk kepala Kevin lembut. Muna tak sementah ketika berusia 18 tahun saat baru lulus SMA. Seiring waktu dan ilmu yang di enyamnya, ia perlu di acungi jempol, membuat Kevin merasa tidak sendiri menciptakan nikmat itu.


Bibir Kevin sudah tidak menempel di bibir Muna, melainkan bagai menemukan permen yupi bolicius pada puncak tubuh istrinya. Ada bagian yang membulat kenyal, manis dan mantul mantul, terendam sempurna dalam ronggga mulut sang pemain handal yang cukup lama break dari nikmatnya buah dunia itu.

__ADS_1


Si otong di bawah sana sudah mulai bergeliat mendapat pancingan sinyal yang dikirim saraf otaknya, sejak lidah itu menye sap, mengulum dan menyintak permen yupi rasa terbaru tersebut. Lembut, sintal memabukkan. Ahh... buah rambai.


Muna pemain baru, selama 2,5 tahun ia hanya menamatkan teori pada buku kamasutra sesuai pesan Kevin padanya beberapa waktu lalu. Tetapi untuk praktek, tentu saja masih nol besar. Tubuh mana yang tak bergelinjang mendapat serangan Don Juan itu. Hati mana tidak porak poranda ketika raganyaa di perhadapkan dengan aktor kawakan semahir Kevin dalam hal memanjakannya dengan sentuhan sempurnanya.


Tubuh anak playgroup mana tidak tertawan dan terpana, saat di


serangan mesra, lembut dan memabukkan itu bertubi-tubi dari Kevin sang tutor piawai itu lakukan padanya. Terbuai, terdampar, hampir lupa diri, jika adzan ashar bahkan sudah berkumandang memanggil mereka untuk melakukan sholat.


"Yaaaang." Desahnya dengan suara mendesah, serak serak basah.


"Hmm..." Jawab Kevin yang masih sibuk membuat garis putus-putus tak beaturan seolah membuat jejak denah di area gundukan padat di dada istrinya


"Yaaang... Kita sholat ashar sebentar." Pinta Muna yang sesungguhnya juga menikmati tikaman, desakan juga segala bentuk sentuhan Kevin yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Yang kini bahkan tertempel paksa tak berjarak masih di balik pintu.


"Tanggung sayang..." Jawab Kevin yang lagi dan lagi membenam kepalanya di dada Muna, dalam posisi mereka masih berdiri di balik pintu. Dalam keadaan pakaian atas mereka telah sama-sama teronggok berserakan di lantai, entah kapan dan bagaimana itu bisa terjadi.


"Iiih... Kenapa resepsi harus di laksanakan malam ini sih. Lagian... Kenapa juga perias itu datang secepat itu." Gerutu Kevin yang mulai menetralkan konaknya.


"Ya... Kan biar cepet beres. Udah... Yuk buruan wudhu. Kita sholat berjamaah untuk yang pertama kali setelah jadi suami istri, yang." Ajak Muna semangat, sambil memungut pakaian kebayanya tadi yang terperosot sukses ke lantai tanpa ia sadari. Menjepit di kedua ketiaknya, agar tonjolan kembar identik dengan ukuran sempurna itu tidak lagi terlihat nyata.


Dengan berat hati Kevin berlari ke toilet, bahkan tidak hanya berwudhu. Tetapi mandi sekalian.


"Sabar ya tong... Kita tunda beberapa jam dulu. Pokoknya selesai resepsi nanti, tuh gawang mumun harus jebol malam ini, sampai teler." Kevin berseloroh seolah merayu Otongnya agar bisa jinak sebentar.


Muna menutup tubuhnya dengan bathrobe, dengan duduk di depan cermin melepas aksesoris yang menempel di kepalanya. Juga menggosok-gosok dadanya yang ternoda atas ulah Kevin. Tapi Muna hanya bisa berdecak sedikit kesal, tentu saja pihak perias nantinya akan dapat melihat ukiran itu. Malu.

__ADS_1


"Sayang, udah. Buruan gih, abang tunggu." Kevin sudah selesai berwudhu dan akan siap melaksanakan rukun islam tersebut.


Belum lama Muna di dalam toilet, masih dengan tubuh terlilit handuk menutup dada sampai paha, Muna keluar dalam kondisi tubuh tidak basah.


"Yaaaaang, sholat sendiri saja ya. Muna tiba-tiba halangan niih barusan." Ucap Muna santai menyampaikan informasi tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"Whaaaat. Ternyata semesta masih ingin bercanda dengan kesabaranku. Harus gitu, nungguin bocah lebih dari dua tahun, bahkan setelah sudah sah juga masih harus ngantri. Mantan cassanova insaf gini amat yak...?" Rutu Kevin kesal. Tentu saja kesal, menyadari jika malam ini harusnya akan di adakan siaran langsung tapi kenyataan harus rela menjadi siaran tunda. Nasib otong kelabu malam ini, jebol gawang Mumun bahkan lagi-lagi hanya wacana. Sabaaar.


(Reader saja sabar Vin🤭)


Dengan perasaan ogah-ogahan, Kevin pun tetap melaksanaakan sholat Asharnya sendiri, ya sendiri sama seperti hari-hari biasa walau kini telah berstatus suami Muna. Ngenes ga siih.


Muna sudah menyelesaikan mandinya, kembali dalam balutan bathrobe putih menanti kedatangan para perias profesional untuk kemudian menata wajah, rambut dan pakaiannya untuk acara resepsi mereka.


Sementara Kevin, memilih tidur di kasur empuk ukuran king size di kamar mereka. Menggunakan waktu secermat untuk menjaga stamina tubuh, menghadapi acara selanjutnya yang tentu akan banyak menguras tenaga. Walau di pastikan tanpa ada pertempuran laga setelahnya, akibat tamu bulanan Muna yang ikut hadir memeriahkan acara resepsi mereka.


Muna melirik penunjuk waktu di dinding kamar mereka, masih belum pukul 4, membuka pintu kamar lalu menganjalnya dengan sandal agar memudahkan orang lain masuk. Juga mengirim chat pada pihak MUA agar langsung masuk saja ke kamar tak berkunci itu. Kemudian buru-buru mengejar Kevin, ikut bergabung, berbaur dengan suaminya untuk tidur sore bersama sembari menunggu tim MUA datang.


Bersambung...


Reader sempat memanas niih kayaknya.


Maaf... Itu tamu suka datang kayak jailangkung siih😚


Timpuk nyak deh kalo makin penasaran unboxing mereka🤭

__ADS_1


Nyak tunggu kupi dipangkalan🙏🙏



__ADS_2