
Kevin sudah kembali dari rumah sakit, membersihkan diri lalu segera masuk ke kamar Naya yang letaknya persis di sebelah kamar Aydan. Karena mereka kini sedang berada di Bandung.
"Asaalamualaikum semuanya..." sapa Kevin memcium secara bergantian orang-orang yang sangat ia cintai di kamar itu.
"Walaikumsalam papap." jawab Muna dengan suara yang begitu ramah ceria.
"Ka Ay... lagi apa?"
"Ini menan. Cucah pacangnya pap, angannya, ga bica... ga bica macuk cini." Aydan tampak dongkol dengan permainan legonya yang menurutnya tidal bisa ia pasang.
"Mana sini papap liat."
"Ini pap.... ucak. Ucak ini." Ternyata dia sejak tadi penasaran tidak bisa memasang tangan mainannya, sehingga ngedumel dan patah hati sendiri.
"Sini kaka liat. Ini bajunya warna biru. Kaka tau ini warna biru."
"Iya... baju na biyu." Adyan mengangguk-angguk.
"Dan tangan yang mau kaka pasang adalah warna merah. Ya ga cocok lah kak." Kevin dengan sabar memberi pengertian.
"Haaa meyaaah. Ga cocok pap."
"Iya Ay... kalo bajunya biru, cari tangannya yang warnanya sama. Jadi kita cari warna apa ka?"
"Wana ini pap."
"Iya warna apa tadi itu namanya?"
"Apa ya... apa ini mam?" tanya nya menoleh pada Muna yang sedang meng-ASIkan Naya."
"Heeemm biru."
"Ya... biyu. Biyu... biyu... biyu. Ini." Jawabnya yang langsung sibuk mencari pasangam tangan mainannya dalam kotak lain. Kevin hanya terkekeh masih duduk di dekat Aydan yang masih terlihat semangat untuk bermain.
"Temu pap. Naaah... bica, bica, bica." Girang Aydan akhirya menemukan pasangam tangan mainannya.
"Naah... selesaikan. Jangan bilang rusak dulu. Cari dulu sampai dapat." Saran Kevin.
Aydan beralih dari duduk di lantai pindah ke pangkuan Kevin, mencium-cium area wajah pria yang kemudian semakin ia idolakan itu.
"Sudah mainnya kak?" tanya Kevin lembut.
"Iya cudah cape."
"Huuum cape. Kalo sudah selesai maianannya di rapikan dalam kotaknya lagi."
"Iya... cama-cama ya pap. Cakit angan Ay." Ujarnya merayu Kevin.
Kevin hanya terkekeh sambil ikut memunguti mainan Aydan yang berceceran.
__ADS_1
"Gimana ibunya Gilang pap?"
"Tadi abang sudah banyak ngobrol dengan Gilang selesai sholat sebelum pulang. Keadaannya cukup serius. Kalau menurut dokter, itu bukan serangan jantung biasa dan baru terjadi. Sepertinya sudah lama di idap, namun terabaikan. Makanya begitu masuk RS kemarin ibunya langsung di anjurkan untuk pemasangan beberapa stand di jantungnya." Jelas Kevin yang masih membiarkan Aydan bergelayut di tubuhnya setelah selesai membereskan mainannya.
"Wah... syukur ketahuannya sekarang. Saat masih bisa tertolong ya. Tapi, menurut abang... kira-kira rumah sakit itu bagus untuk melakukan tindakan operasi itu pap? Apa perlu di rujuk ke RS kita saja?"
"Tidak perlu sejauh itu, bagaimanapun Gilang punya harga diri Mae. Kalau kita terlalu merujuk ke hal-hal yang seolah mengatur mereka, abang takut dia merasa tersinggung. Lagi pula Gilang sudah membawa ibunya ke rumah sakit yang fasilitasnya lengkap dan para dokter yang profesional."
"Iya juga sih. Tapi ya kasihlah sedikit bantuan dana pap. Kasian Gilang, mana mereka mau nikah lagi."
"Tadi siang sih, abang sudah kasih cek buat bantu acara resepsi mereka. Abang bilang ke Gilang juga tadi, ceknya ga harus di pakai buat nikah, utamakan yang penting saja dulu."
"Hmmm.... Muna yakin Gilang cukup bijaksana dalam menggunakan dan mengelola keuangan yang ada padanya. Lalu bagaimana rencana akad senin depan?"
"Kesininya Mae makin kepo ya. Urusan mereka lah itu. Jangan terlalu banyak ikut campur urusan orang lain." ujar Kevin dengan senyum di wajahnya memandang ke arah Muna.
"Nanya doang bang." Rutu Muna agak sebel.
"Besok atau lusa papi ke sini. Mungkin juga akan membicarakan hal itu."
Laras mengetuk pintu sebelum benar masuk kamar Naya.
"Maaf pa, bu. Siniin de Naya, waktu Isya sudah sampai. Mungkin ibu dan bapak mau sholat, saya baru selesai." Ujar Laras sopan dan selalu mengerti dengan majikannya yang tak pernah meninggalkan waktu sholatnya.
"Oh.. iya. Kaka Ay, yu sholat yu nak. Kita wudhu dulu." Ajak Kevin pada Aydan yang memang belum bisa sholat dan mengaji namun selalu mereka ajak. Minimal mengikuti gerakan dasar lah. Agar Aydan terbiasa.
Sementara di rumah sakit, ibu Gilang terlihat mulai terlelap tidur. Dan Gita masih berada di sana sekedar ngobrol bersama Gilang.
"Hmm... lalu?"
"Kata papi, akad kita sebaiknya di tunda saja. Kita fokus ke kesehatan ibu dulu, paling tidak sampai pulih pasca operasilah. Gimana?"
"Apanya yang gimana?" tanya Gilang.
"Lho kok balik nanya sih A...?"
"Situnya ga papa halalnya di tunda?"
"Hah...?"
"Ya... kalo udah ga sabar jadi istri A'a besok aja akadnya di RS ini." tawar Gilang.
"Jangan kayak sinetron kenapa ya...?"
"Takutnya kalo di tunda nanti di kira, A'a mau mempermainkan anak gadis orang neng." Jawab Gilang cepat.
"Jadi senin besok kita tetep akad di Jakarta?"
"Kayaknya a'a ga bisa fokus sih. Jabat tangan penghulu ambil anak gadis orang. Tapi pikiran abang ke Bandung mikirin wanita yang udah ngelahirin abang sedang bertaruh nyawa di atas meja operasi. Ga khusuk nantinya. Apalagi pas ritual malam pertamanya, bisa ga josh neng." Dengan lempengnya Gilang diam-diam udah ngehalu belah duren aja.
__ADS_1
Wuuusssh seketika wajah Gita merona, malu sendiri membayangkan hal apa yang akan terjadi di malam setelah akad bersama Gilang.
"Emang ritual apa yang harus di lakukan dengan khusuk di malam setelah akad?" pancing Gita.
"Ya... buka segellah. Semoga A'a masih beruntung dapat yang original. Sebab yang di Lembang kayaknya sisa Baskoro." Ledek Gilang menyudutkan Gita yang dia percaya, ciuman di bibir malam itu sama-sama bukan yang pertama bagi mereka.
"Iih... kok tau. Ketahuan ya, dapat yang second." Gita tak mau menampik akan hal tersebut.
"Kerasa neng. Apalagi yang di rumah. Neng sudah ahli." Kekeh Gilang absurd.
"Hanya pemain ulung yang bisa menilai mana yang ori mana yang second." kekeh Gita.
"Hahaa... a'a bukan propesional sih. Tapi bohong lah jika bilang kemarin yang pertama. Maaf yaa..." aku Gilang pun mengakuinya.
"Inpas donk. Kalo soal segellan, neng ngaku deh, udah hilang." Tiba-tiba saja Gita bilang tanpa tedeng aling-aling.
"Maksudnya?"
"Mikir sendiri deh."
"Neng ga ting-ting?"
"Belum terlambat untuk batalin semuanya kalo ga terima neng apa adanya A." jawab Gita lagi.
"Waduuuh... masa batal hanya karena udah second siih. A'a terlanjur cinta nih sama eneng."
"Tapi dapat sisa lho. Nanti kecewa ga sesuai ekspektasi malam pertamanya." Pancing Gita lagi.
"Bismilahirohmanirohim. Ga papa deh sisa, yang penting jujur sejak awal. Jadi besok pas unboxing tinggal ikutin jalan yang udah ada aja." Ujar Gilang sedikit lemes.
"Yakin ga papa. Maaf ya A."
"Salah neng apa?"
"Ga bisa jaga diri."
"A'a yang minta maaf. Terlambat ketemu sama eneng. Harus sempat ketemu sama orang yang salah."
"Yang penting. Akhirnya neng ketemu orang yang tepat kan?"
"Insayallah."
"Terima kasih udah terima neng apa adanya ya A."
"A'a juga makasih neng terima keadaan a'a yang ga sepadan dengan neng ini." Jawab Gilang yang bahkan tidak peduli keadaan Gita yang menurut pengakuannya sudah tak vir gin lagi itu.
"A.. titip ibu sama perawat ya. Udah malam. A'a antar neng pulang ke kost sekarang." Putus Gilang pada Gita.
Bersambung...
__ADS_1
Naaah gimana niih readers
Udah ga ting-ting ga papa???