
Gilang dan Gita hanya saling bertukar tatap. Tak bisa memutuskan kejutan yang bertubi-tubi Kevin berikan pada mereka. Keduanya merasa tak layak untuk meminta ataupun hanya sekedar menentukan nominal yang mereka perlukan untuk biaya resepsi pernikahan mereka.
"Maaf Pa Kevin. Kami tidak pantas mendapatkan bantuan dari bapak. Jabatan baru ini saja, bagi saya secara pribadi bagai hadiah yang sangat berlebihan dari bapak." Tolak Gilang halu.
"Lang... kapan kamu berhenti memanggiku dengan sebutan bapak. Apalagi dalam ruangan yang hanya ada kita. Sebentar lagi kita akan menjadi ipar. Jangan terlalu kaku begitu." Sergah Kevin.
"Maaf kebiasaan." Jawab Gilang tertunduk bagai siswa yang mendapat teguran lisan dari seorang guru yang memginterogasinya.
"Gita... kamu juga yakin tidak mau uang dari kakak untuk kebutuhan pernikahan kalian?" tanya Kevin ke arah Gita.
"Gita kalo di bantu ya, pasti tidak menolak. Tapi kalau di suruh nulis sendiri jelas ga mau lah kak." Dengan santai Gita menjawabnya. Di buru tatapan sedikit sinis, seolah tak suka dari Gilang, yang sebenarnya ingin melotot tapi tidak berani. Takut di lihat Kevin.
"Kemudian Kevin mengambil pen, menulis angka tiga di bagian depan kemudian di ikuti sembilan buah angka nol di bagian belakangnya. 3.000.000.000 orang membacanya 3M. Buseeeeeet horang kayah mah bebas, author rakyat jelata gaes, nulis nol sebanyak ini aja harus sambil ngitung kaya nulis nomor induk kependudukan, takut salah. Malunya se-Indonesia raya.
"Ini tolong di terima. Maaf tidak bisa banyak bantu kalian dalam hal persiapan. Ini tidak seberapa dengan perjuangam Gilang yang selalu setia banyak bantu saya selama tidak bisa bekerja dengan benar. Gita... atur semuanya dengan baik. Jika kurang, jangan sungkan bilang ke kakak." Ucap Kevin dengan tulus, menyodorkan cek tersebut pada Gilang.
Gilang memandang horor dengan nominal yang tertera pada cek tersebut.
"Masyaallah... ini banyak sekali pa."
"Heeeiii menikah itu hanya sekali seumur hidup. Buat acaranya seapik mungkin, yang tak akan terlupakan. Sehingga merasa puas, jadi itu di lakukan tidak berkali-kali." Ucap Kevin yang kemudian lebih dahulilu meninggalkan ruangannya. Sisa Gilang dan Gita di sana
Gilang memilih rebah di atas sofa di ruangan Kevin tersebut.
"Agi kenapa?"
"A'a pingsan neng."
"Mana ada pingsan bisa ngomong."
"Beneran kaki A'a lemes semua neng. Jantung a'a teh loncat-loncat kagak jelas neng." Rutu Gilang so semaput.
__ADS_1
"Jangan bilang A'a ngidap penyakit Epilepsi atau penyakit berbahaya lainnya. Neng... ogah punya suami penyakitan." Kekeh Gita mendekati Gilang yang benar selonjoran di atas sofa.
"Eneng... belom apaan sudah ga mau terima A'a apa adanya niih. Ikrar nikah itu, menerima pasangan dalam sehat dan sakitnya neng." Gilanh cengegesan.
"Iya tau... tapi mumpung belum jadi ini. Kan belum terlambat, masa iya nanti eneng punya suami jantungnya suka pindah-pindah. AGi kenapa?"
"Kaget liat nol di cek itu neng... ada sembilan. Masyaallah. Rumah Agi saja tidak segitu harganya, pun Agi cicil 4 tahun. Kesininya A'a makin keder neng sama keluarga eneng. Tajir banget." Agi langsung saja ambil kesempatan untuk meyakinkan hati padahal senin depan mereka udah siap akad.
"Agi... itu harta mereka. Bukan harta eneng. Rejeki kan beda-beda a'a."
Gilang duduk dari posisi selonjorannya, meraih Gita untuk duduk bersama di sampingnya.
"Eneng bener ga malu nanti punya suami yang jauh dari kata tajir kaya keluarga eneng. Beneran neng semuanya belum terlambat, jika neng meragu. Hidup sama a'a nanti akan jauh dari kata mewah." Gilang meremas tangan Gita.
"Ini kesambet apa sih. Woooiii senin kita udah sah ya, telat mikirnya kalo kita balik lagi ngomongin soal harta dan tahta itu. Plisss deh eneng tuh udah cinta klepek-klepek sama a'a. Di ajak makan bubur tiap hari supaya ngirit beras juga hayuk atuh a'a." Gombal Gita keluar.
"Adedeee.... dee deeh. Yang kakak kasih uang banyak buat A'a hampir pingsan. Yang ade ngerayunya ga ketulungan. Kuatkan hambamu saja ya Allah. Bahwa ujian datang tidak hanya dalam bentuk kesusahan. Tapi juga lewat kemewahan dan apapun yang tampak sempurna. Jangan lah sampai hamba, jauh meninggalkan jalan-Mu. Amin." Gilang tetiba pasrah saja minta pertolongan Tuhan. Untuk menghadapi manusia-manusia yang kini di dekatkan padanya.
"Iya... Alhamdulilah. Makasih ya neng udah terima a'a apa adanya bukan karena ada apanya. Nih, ceknya eneng aja simpan. Terserah eneng mau di pakai buat apa, Agi ga biasa pegang begituan." Ujar Gilang menyerahkan cek tersebut.
"Kita nunda resepsi karena ga ada uang A...?" tanya Gita pelan.
"Iya... kan tabungan terakhir buat beli mobil. Sisanya paling cukup buat beli cilok." Kekeh Gilang.
"Eh... merendah boleh tapi jangan segitunya. Nanti kejadian lho A'a."
"Astafirullahaladzim. Maaf neng becanda."
"Jadi kita tetap akad saja kan senin depan, atau gimana?" tanya Gita.
"Ya... ga mungkin juga kita langsung resepsi. Undangan aja kita ga punya konsep. Mau di acarain di mana juga kita belom bahas neng. Sibuk kerja gini."
__ADS_1
"Ya kalo emang belom siap semua ngapain senin besok kita buru-buru nikah?"
"Iya... ya. Kita cepetan akad sebenernya kenapa ya neng?" kekeh Gilang. Dan Gita pun tertawa bersama. Mereka sama-sama terbawa suasana menikah setelah Daren dengan maksud karena punya niat baik yang perlu di segerakan. Tapi, bukankah mereka adalah orang dewasa yang tau batas pergaulan juga saling cinta yang pasti sepakat akan saling menjaga diri hingga janji suci di ikrarkan.
Ponsel Gilang berdering, ada nama kakaknya tertera di sana.
"Asalamualaikum teh. Ada apa?" sapa Gilang
"Walaikumsallam. Lang... bisa pulang ga... ibu pingsan Lang." panik suata dari seberang telepon di sana.
"Hah... ibu pingsan. I'ii ya, Gilang pulang sekarang teh." Ujar Gilang langsung menutup telepon itu.
"Kenapa a...?"
"Kata teteh, ibu pingsan neng. A'a pulang liat keadaan ibu ya neng." pamit Gilang.
"Ikut A..."
"A' ga bawa mobil neng tadi cuma naik motor."
"Agi... kaya baru kenal kemarin ah. Bukannya kita biasa udah kemana-mana naik motor terus."
"Ya... kali pas udah mau jadi manten udah ga mau panas-panasa naik motor sama A'a. Tar kulitnya hitam lho." Gilang sempat saja berasumsi yang tidak bermanfaat.
"Hitam juga ga papa, asal a'a tetap sayang eneng." canda Gita merayu Gilang.
"Ya Allah, yang kaya gini nih sebenernya alasan, A'a mau cepet akad. Iman a'a selalu teruji saat di gombalin eneng. Mau nyosor, mau meluk, mau ubeg-ubeg eneng deh rasanya tuh." Ujar Gilang cubit kedua pipi Gita dengan gemas.
Lalu keduanya keluar dari ruangan Kevin. Langsunh menuju parkiram untuk pulang ke rumah Gilang, memastikan keadaan ibunya.
Bersambung...
__ADS_1