OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 262 : KEPUTUSAN


__ADS_3

Satu purnama terlewati sudah. Hari bahagia milik Daren dan Zahra pun tiba. Muna memohon maaf sebesar-besarnya pada Daren, sebab tak bisa ikut hadir di acara pernikahan tersebut. Aceh terlalu jauh bagi baby Naya yang baru 40 hari.


Di Jakarta akan di laksanakan acara ngunduh mantu. Di acara itu saja Muna janji akan datang membawa serta Naya.


Untuk pertama kalinya Aydan berangkat jauh bersama Kevin. Tanpa Muna, tanpa Laras juga tanpa nyak dan babe. Mereka lebih memilih menemani Muna saja di Bandung.


Dapat di bayangkan serunya long trip ayah dan anak itu ke tempat yang baru mereka kunjungi. Muna sengaja meminta Kevin pergi membawa Aydan. Agar Kevin tidak bisa tebar pesona atau di lirik-lirik cewek sana. Jadilah Kevin bagai hot daddy yang kemana-mana selalu di ekori oleh Aydan si balita lucu itu.


Acara berlangsung sakral dan khikmad. Terpancar rona bahagia di wajah mempelai pengantin tersebut. Saat kata sah menguar setelah kalimat ijab dan qobul di ucapkan dengan lancar. Melewati serangkaian acara adat, secara agama juga acara nasional. Semua berdecak kagum pada couple pengantin tersebut. Belum lagi kebahagiaan keluarga yang mengeluk-elukkan Zahra yang bisa menikahi seorang CEO muda yang mapan.


Awalnya mereka akan tujuh hari berada di sana. Namun, di hari yang ke lima kabar dari Muna membuat Kevin dan Aydan memilih untuk pulang duluan ke Bandung.


"Abah Dadang di diagnosa mengidap penyakit kanker hati stadium akhir. Sekarang di rawat intensif di Hildimar Hospital." Itu kabar yang Muna sampaikan membuat Kevin mohon pamit pulanh duluan dan segera mendampingi Muna untuk ke Jakarta.


Sesampainya Kevin di Bandung merekapun bersiap untuk segera ke menuju Jakarta. Semua pekerjaan otomatis berlanjut menjadi urusan Gilang.


Nyak, babe, Aydan, Naya, Laras, Kevin dan Muna segera ke Jakarta.


Mama Rona tidak dapat menutupi kesedihannya. Menyesal sekaligus merasa bersalah, mengapa tidak peka dengan kesehatan suami yang selalu ia dampingi ke mana-mana.


"Kang... yang kuat. Kita akan cari pendonor hati yang cocok untuk akang. Cucu kita masih sangat kecil. Kita belum menjaga ambu bersama seperti rencana kita kang." Tangis Rona sambil mengusap tangan berinfus itu.


Dadang hanya mengusap pelan pucuk kepala istri yang sangat di kasihinya itu, yang selalu ingin di lindunginya selama nafas masih Tuhan pinjamkan padanya.


Muna menghambur masuk ke ruang rawat ayah kandungnya itu.


"Asaalamualaikum." Sapa Muna membuka pintu rawat inap.


"Walaikumsallam." Sahut mama Rona menoleh ke arah datangnya suara Muna.


"Abaaah... " peluk Muna pada Dadang.


"Kevin mana?" tanya abah pelan.


"Ada di luar." jawab Muna yang kemudian ke arah pintu untuk meminta Kevin masuk. Dan menitipkan Naya juga Aydan pada nyak babe.

__ADS_1


"Asallamualaikum bah, mama." Kevin menyalimi mertuanya.


"Walaikumsallam. Kapan dari Aceh?" tanya mama Rona.


"Tadi siang tiba di Bandung jadi langsung ke sini." Jawab Kevin.


"Vin... tolong abah ..." Ucapnya pelan.


"Apa yang bisa Kevin bantu abah?"


"Muna masih belum bisa terjun langsung di Rumah Sakit. Karena anak kalian masih sangat kecil. Jadi tolong, gantikan tugas abah sebagai Wadir di rumah sakit ini."


"Abah... nanti saja memikirkan masalah jabatan. Abah sembuh saja dulu. Kita cari hati yang cocok buat abah. Mama Indira kemarin berhasil bah. Yakin kita juga akan berhasil nanti."


Dadang terdiam sesaat.


"Jika abah, melaksanakan pencangkokkan hati pun akan memerlukan waktu yang lama untuk proses pengobatan. Rumah sakit ini tidak bisa kosong kepemimpinannya. Kita yang bukan Hildimar hanya boleh menjadi Wadir. Itu keinginan kakek Muna." Dadang menyampaikan amanat Hildimar Herold.


"Pilihannya adalah Muna harus segera turun bekerja atau Kevin memerima promosi jabatan sebagai wakil direktur rumah sakit ini. Mama jelas akan terus mendampingi kemanapun abah berobat nantinya Vin." Mama Rona ikut meminta keputusan Kevin.


"Mama sudah meminta Damar suami Prety menjalankan perusahaan mama Vin. Kemudian kami sudah tidak punya pilihan lain untuk menyerahkan kepemimpinan rumah sakit ini, selain pada kalian berdua. Tapi, Muna bahkan baru selesai nifas. Tidak mungkin mempekerjakan dia bukan?" pinta mama Rona meyakinkan.


"Bagaimana jika hanya untuk mengisi kekosongan kepemimpinan sementara saja?" Kevin tidak bisa lama menjawab desakan itu.


"Jika kalian tidak menerimanya, sama saja kalian menambah beban pikiran kami." Suara Dadang berputus asa.


"Maaf abah, mama. Memimpin sebuah rumah sakit sebesar ini bukan perkara gampang. Kevin juga memiliki perusahaan yang harus Kevin fokuskan." Jawab Kevin memberi alasan.


"Apakah kami benar harus akan mencari orang lain yang tidak ada hubungannya dengan keluarga kita? Lalu apakah ambisi orang lain tersebut bisa kita bendung saat jika saja nanti ia ingin menguasai, bahkan tidak mau menyerahkannya pada Muna dan juga Aydan?" tanya mama Rona.


"Apakah di dalam managerial rumah sakit ini tidak ada yang dapat di percayakan untuk di delegasikan bah...?"


"Yang mau banyak, tapi yang sungguh tulus ingin memajukan tanpa mementingkan diri sendiri siapa yang bisa jamin itu?"


"Sungguh Kevin tidak enah hati untuk tiba-tiba mendapatkan jabatan setinggi itu di rumah sakit sebesar ini. Istriku Direktur dan aku harus menjadi Wakilnya juga?"

__ADS_1


"Abah juga merasakan yang kamu rasakan Vin. Saat kakek Muna sebagai Direktur dan abah di percaya menjadi wadir. Gelar aji mumpung itu pasti tersemat pada kita, karena status sebagai menantu. Pilihannya tega atau tidak. Ijinkan Muna turun bekerja." Tegas Dadang.


Kevin memandang sendu pada Muna. Ingin minta dukungan, agar orang tuanya tidak melimpahkan beban seberat itu pada pundaknya.


Tapi Kevin adalah kepala keluarga. Muna jelas tidak ia ijinkan untuk bekerja dalam waktu dekat ini. Sedangkan kepemimpinan jelas tak boleh kosong. Dengan dia menolak Benar saja berarti dia tidak mendukung proses kesembuhan mertuanya.


Kevin tidak bisa memgambil keputusan sendiri. Bermacam-macam pikiran bergelayut dalam otaknya.


"Bagaimana Mae?" tanya Kevin pada Muna.


"Sebaiknya terima saja bang." jawab Muna tenang.


"Perusahaan kita?" tanya Kevin.


"Ada Gilang yang abang bisa percaya jadi CEO di perusahaan kita." Simpel solusi dari Muna.


"Artinya kita akan kembali tinggal di Jakarta?" tanya Kevin.


"Kita tidak punya pilihan lain untuk tetap menjaga amanat kakek. Sekaligus meringankan beban sakitnya abah juga mama." Lanjut Muna tegas.


"Astafirullahalazim


Astafitullahalazim


Astafirullahalazim." Dzikir Kevin tiba-tiba yang merasa terkejut akan jalan hidup yang kesininya semakin tidak bisa ia mengerti.


"Bismillahirohmanirohim. Kevin akan belajar menerima menjadi Wakil Direktur rumah sakit ini abah. Tapi berjanjilah tetap akan melakukan pengobatan yang maksimal agar segera sembuh." Kevin akhirnya mengambil sebuah keputusan besar dalam hidupnya.


Bersambung...


Nasib manusia mana ada yang bisa menerka ya kan gaess.


Tetap semangat terus dukung karya nyak yaa...


Senin ini, bolehlah votenya

__ADS_1


😍😚😍


__ADS_2