
Gilang dan Gita sudah berada di bidang datar, sebuah kasur empuk ukuran besar, secara kasat mata. Tapi bagin keduanya, mereka seolah di atas pelangi. Berasa berada diatas jagad raya hampa udara. Karena ulah mereka yang terbuai, mabuk kepayang.
Jari jemari Gita nakal juga, menyusup menggelitik di sela kancing kemeja Gilang. Menambah moodboster Gilang semakin terbakar, hangus lupa daratan.
Gita pintar, gerakannya seperti sedang meraba saja. Tau-tau kancing kemeja Gilang sudah lepas semua, hah?? Kenapa isi di balik kemeja itu bagaikan hamparan roti sobek yang membuat Gita gregetan untuk mengigitnya gemas.
Permainan satu lawan satu, jika kancing kemeja Gilang sudah lepas semua, tubuh bagian atas Gita justru hanya tinggal kain melintang berenda, yang tugasnya menutup dan menyangga benda kenyal dua yang bergelantungan di bagian depan tubuhnya.
"Neng... ini merah-merah bekas cicilan kemarin setelah akad ya?" tanya Gilang yang baru melihat secara langsung.
"Hmm... sama yang di rumah sakit juga."Jawab Gita sambil menyunggar rambutnya sambil mencoba untuk duduk.
"Hahaa... ga nyangka a'a bisa buat begituan. Rasanya cuma nyium doang deh neng." Tawa Gilang lagi meyerang leher Gita.
"Nyium apaan... kaya lintah gitu ngisepnya."
"Neng... gaspoll yuks." ajak Gilang tanpa basa basi.
"Mandi dulu kali a' lengket semua rasanya dari perjalanan kemarin kita belum mandi." tolak Gita yang memang merasa kurang percaya diri dengan aroma tubuhnya.
"Sama-sama ya neng."
"Malu a'..."
"Ga papa... sama suami ini." rengek Gilang. Tapi langkah Gita lebih cepat untuk berlari ke arah toilet dan berhasil mengunci dirinya di dalam sana. Sehingga niat mandi Gita benar-benar hanya mandi sendiri saja di dalam sana.
Jadilah Gilang, memilih melepas pakaiannya sendiri di kamar itu, sembari mengelus si jaka yang karena cumbuan tadi sudah siap meluncur ke jalan tol bebas hambatan. "Sabar sebentar ya jack"
Gita tadi langsung lari ke dalam kamar mandi, jadi memang ga bawa baju dan persiapan lainnya. Hanya bermodalkan handuk putih yang biasa di siapkan pihak hotel. Ukuran standar ya, hanya menutup bagian penting tubuhnya dengan cara di lilit pada tubuh putih mulusnya.
Gita pasrah saja, jika keluar nanti akan di sergap langsung oleh Gilang akibat kelalaiannya tidak menggunakan bathrobe. Hah... sudah halal ini, apa sih yang masih mau di pertahankan, pikir Gita yang dengan menarik nafas dalam sebelum keluar kamar.
Mungkin hanya otak Gita yang ngeres. Malu sendiri saat melihat ada mukena yang di siapkan Gilang untuknya di atas tempat tidur mereka tadi. Dan Gita hanya menelan saliva saat Gilang melangkah ke kamar mandi bagai model iklan boxer dan jual susu L-m*n.
"Kita sholat sunnah dua rakaat dulunya neng. A'a mandi langsung wudhu." Pamitnya langsung masuk toilet.
Wusssh... meronalah wajah Gita, sempat berkhayal tubuhnya akan di gendong ala bribidal style lagi karena suaminya ga sabar kikuk-kikuk, aaah ternyata ia lupa kalo suaminya beda satu strip di bawah ustadt. Alim cuy.
Gita kembali masuk toilet yang tidak terkunci untuk berwudhu, menyucikan diri sesuai perintah suami yang akan melakukan doa sebelum mereka benar akan melakukan hubungan suami istri.
__ADS_1
Keduanya tak bisa bohong lewat tatapan mata yang sama saling mengiba, namun naf su apapun yang akan merajai mereka nanti, sebaiknya memang harus mendahulukan nama Tuhan. Sebab bagi Gilang ini adalah yang pertama baginya.
Cium hormat lagi takzim sudah Gita daratkan pada punggung tangan suaminya, peluk dan kecupan di kening Gita pun sudah mendarat sempurna.
Suasana kamar seketika hening saat keduanya hanya saling melempar tatap, masih dengan busana khas selesai sholat tadi.
Gilang memang pemula, tapi lumayan jago dalam hal memulai serangan. Mukena Gita sudah ia lepaskan dengan pelan. Celakanya, ternyata di balik pakaian itu adalah sebuah pakaian tidur yang lumayan se ksi.
"Waaaw... istri a'a niat banget." Goda Gilang pada Gita.
"Ya... kan suami eneng juga niat banget dua rakaatnya." jawab Gita yang memilih duduk di atas pangkuan Gilang. Lagi mengalungkan tangannya di leher suaminya.
Tangan Gilang nemplok di benda kenyal dua pasang itu.
"Ini punya siapa neng...?"
"Punya A'a..." heeer telinga Gilang memerah.
Tangan Gilang merosot ke bawah, tepat di tengah pangkal paha Gita.
"Kalo ini...?"
"A'a..." rengek Gita yang lagi merinding, meremamg. Sebab tangan Gilang tidak hanya menyetuh, tapi lagi-lagi menelusuri tepian karet renda dan menyusup telunjuknya ke bagian dalam.
"He em a'a. Udah sah jadi punya A'a semua." Wajah Gita memerah dengan menggigit bibir bawahnya sendiri, menahan gejolak yang membuat jantungnya berdebar aneh, meniknati sentilan nakal di bawah sana.
"A'a... tangannya." tegur Gita yang sesungguhnya suka dengan gerakan naik turun, agak pelan namun menghanyutkan itu.
"A'a lagi cari kacang sembunyi neng." Kekeh Gilang masih semakin apik memainkan biji kecil di dalam sana.
"Basah neng."
Gita malu mendengarnya, memilih membungkam mulut itu dengan bibirnya. Lihai menyapukan lidahnya dan menggigit pelan bibir Gilang.
Ponsel keduanya sudah sama-sama di nonaktifkan. Pintu kamar sudah yakin terkunci, tirai sudah tertutup rapat, remang lilin aroma terapi saja yang membantu memberi wewangian dan seberkas cahaya syahdu.
Hanya mereka berdua yang tau bagaimana caranya tubuh mereka berdua sudah tidak ada kain menempel, mukena tadi tidak terlempar ke lantai, hanya berada di ujung kepala Gita dekat bantal yang ia gunakan.
Tubuh Gilang tak berjarak melengkung di atas tubuh Gita. Kepala Gilang masih kasak kusuk di area atas, anggota tubuh Gita, sekwilda saja. Tapi tangan Gita sudah di antar Gilang, di bimbing dengan sempurna untuk menggenggam si jaka dengan gerakan naik dan turun, dengan ritme pelan. Cengkraman itu pun tidak keras oleh Gita, namun tidak berati lemah. Hanya Gita yang bisa merasakan ukurannya lebih besar dan agak keras di bandingkan saat mereka masih di Indonesia.
__ADS_1
Cengkraman Gita dengan alaminya semakin cepat bergerak ke atas bawah, membuat Gilang panik merasakan jaka tidak terima di permainkan dengan tangan, jaka ingin di antar ke pasangan yang sesungguhnya.
"Neng..."
"A'a..."
"Neng... si jaka ngegas ya neng, jangan di pegang terus." Gita malu karena ulah tangannya pasti jaka begitu. Gita mengambil mukena di kepalanya lalu menutup wajah malunya dengan mukena itu.
Sementara Gilang sudah memposisikan jaka menuju sasaran tembak, dengan gerakan pelan mulai menggesek, masuk keluar pasangan jaka.
"Kenapa mukanya di tutup neng?" tanya Gilang masih sibuk memacu jaka di bawah sana yang merasa susah payah mencari jalan masuk.
"Neng malu a..." desah Gita masih dengan wajah yang tertutup mukena.
"Aa...aaww. Pelan-pelan a'... sakit." Gita mengerang merasakan ada benda yang katanya namanya jaka itu, masuk ke bagian inti tubuhnya.
"Hah... ini sudah pelan neng." deru nafas Gilang terdengar memburu, butuh kekuatan lebih lagi baginya untuk benar-benar masuk.
"A'aaa..." de sah Gita antara nikmat dan sakit bersamaan.
"Neng." Geram Gilang merasakan jalan sempit yang susah ia terobos itu.
"A'a.. aakhh... aww." erang Gita lagi. Gilang makin penasaran, di bukanya kain mukena yang Gita gunakan untuk menutup wajahnya tadi, lalu melahap bibir Gita untuk membantunya mengalihkan rasa sakit akibat ulah jaka di bawah sana.
Gilang sudah tidak dapat bersabar, ritme hentakan itu semakin ia percepat dan lebih keras ia hujam ke inti Gita.
Sementara Gita memilih melepas bibir yang bertaut tadi, pindah ke leher Gilang, menyesap, menggigit galak leher suaminya, dengan kedua tangan yang makin erat menekan pinggang Gilang yang makin cepat berpacu.
"A' AAaa.. " pekik Gita sungguh kesakitan, bersama itu juga terasa ada yang mengalir di dalam inti tubuhnya bagian dalam. Rahimnya tersirami muntahan jaka di dalam sana.
"Hah....!!! Neng ini sih masih ting-ting." Kekeh Gilang yang kemudian merebahkan tubuhnya di sebelah Gita dengan kondisi kepala jaka berlumuran cairan kemerahan.
Bersambung...
Bagaimana readers
Sudah ga penasaran lagi kan?
Yaa elaaah... pasti nagih triple up nih.
__ADS_1
ntar... nyak masih ngosh-ngoshan traveling di siang bolong
π€π€π€π€ͺ