
Kegiatan buka puasa bersama selesai di gelar dengan menu stok lama tapi rasa baru. Sebab di nikmati di tempat yang suasananya juga baru bagi mereka berdua.
Bukan cuma Muna yang baru masuk kamar apartementnya. Kevin juga baru ini berhasil memasukan wanita dan melakukan adegan dewasa di kamarnya.
Rupanya sebreng sek Kevin di masanya, ia tetap memegang teguh prinsip bahwa kamar pribadinya memang untuk ia gunakan dengan orang spesialnya.
"Makasiih ibu dari anak-anakku. Yang selalu membuat ku mabuk kepayang." Rayu Kevin pada Muna setelah mereka menyelesaikan misi pemersatu bangsa.
"Kalimat ini mengandung iklan. Bisa jadi beneran, atau hanya modus mau di kasih lagi." kekeh Muna memeluk perut Kevin makin erat.
"Ya di kasih seikhlasnya saja sih. Pahala ini." Kecup Kevin pada pucuk kepala Muna.
"Abang... Muna pake KB aja ya. Kasian otong sarungan terus."
"Kasian otong apa, kasian mumun?"
"Ya kayaknya repot gitu, harus berenti di saat masih on. Kaya lagu ditinggal pas sayang-sayangnya bang. Sempet menurun volumenya." Gesrek Muna.
"Hah... Makin pintar menilai aja bini abang."
"Apalagi kalo sarungnya jauh ye bang. Kebayang lah, musuhnya udah menciut hilang rasa. Ha...haaa..." bahak Muna.
"Eh... ketawa dosa ga sih."
"Bukan dosa lagi Mae, durhaka...!!! bengis Kevin so' marah.
"Maaf... canda ngape bang?"
"Tau...."
"Jadi gimana?"
"Apanya... Mau lagi. Ya ayo, di atas gih."
"Abbbaaaannng." teriak Muna.
"Iih toa ku kumat.." Cup...cup Kevin mengempur Muna dengan ciumannya lagi di mana ia mau saja.
"PAUDnya yang." rengek Muna manja.
"Ga masalah sih sebenarnya. Tapi yang ngawas bangunan siapa? mau di buat di mana? Sama yayasannya udah ijin belom? kali sudah ada pembicaraan dengan pihak lain. Itu semua harus di cek sayang."
"Ya semuanya nanti Muna yang pastikan lewat Zahra. Yang penting donaturnya bersedia dulu. Misalnya ribet lanjutin yang ada kan, kita tinggal buat di baru di tempat lain. Jadi bisa buka lapangan pekerjaan untuk banyak orang yank." papar Muna.
"Sebenernya pake gaji direktur Hildimar Hospital juga cukup kok. Ga perlu pake uang suami juga. Ga pernah di ambil kan?" ledek Kevin.
"Iya sih. Tapi bukankah Muna ini istri yang berbakti, patuh dan taat pada suami? Jadi apa-apa tuh, ga boleh di tentukan sendiri sayang?" rayu Muna menjadi-jadi.
"Masyaallah... Ga salah abang mau sabar nungguin Mae. Bini abang paling the best." Puji Kevin penuh syukur.
"Alhamdulilah. Muna juga kagak nyesel cuma pernah sekali jatuh cinta. Langsung nyungsep kagak bisa bangun lagi dari abang." kekeh Muna.
"Gombal benget sih."
"Siapa yang ngajarin?"
"Siapa?"
__ADS_1
"Abang lah."
"Fitnah." Kekeh Kevin sambil mengusap rambut Muna dengan lembut.
"Jadi gimana?"
"Apanya?"
"Ya Allah abang, PAUD abang."
"Iya... atur saja. Abang tau beres sama Mae aja boleh?"
"Siap." Kecup Muna pada bibir suaminya.
"Ada ekstra part yank?"
"Huuum... apa ga sebaiknya kita pulang aja pap?"
"Ini tengah malam mam. Lupa kita cuma pakai Scoppy ke sini."
"Kasian Naya pap."
"Kan Laras ga ada nelpon artinya aman."
"Huuumm."
"Sini... abang belum buat lukisan abstrak di sini, di sini, di sini juga." tunjuk Kevin pada beberapa bagian favoritnya di tubuh Muna.
"Aye pasrah bang." Kekeh Muna.
"Pasrah... bilang aja memang suka di iya-iya in sama abang."
"Yang ..." panggil Kevin.
"Ga pake sarung berani ga?"
"Berani, asal di luar muntahnya." Jawab Muna.
"Sama aja bohong." Kekeh Kevin.
"Ntar deh ga sarungan, tunggu Muna KB ya bang."
"Ga usah KB, biar gini aja. Abang ga papa kok."
"Abang ga papa, kalo Muna bunting lagi gimana?"
"Alahamdulilah dong."
"Ya Allah, Naya baru 2 bulan pap. Masa udah harus punya ade lagi."
"Rejeki dong. Mae lihat, gegara Mae anak tunggal. Abang kan keba getahnya. Sampe segala jadi wadir. Coba kalo Muna sodaranya banyak, kan kita ga serepot ini sayang."
"Abang ga ikhlas jadi wadir??" Muna dalam mode nyolot.
"Bukan gitu. Kan keadaan yang berlalu ga bisa di paksa. Yang perlu kita perbaiki itu kedepannya. Jangan di ulang-ulang. Sedikasih Allah aja lah, kita punya anak tanpa di tunda. Jadi, besok mudah di bagi-bagi, mana yang jadi CEO mana yang jadi Direktur, mana yang mau jadi apa tuh... guru PAUD? Bupati kek, Gubernur kek. Apa aja gitu." Terang Kevin.
"Amiiin Ya Allah. Iya... siapa ngelahirin banyak. Tapi jaraknya itu lho pap. Jangan deket-deket juga. Muna tuh rasanya sampe ga pernah punya waktu untuk sendiri lho. Nyalon kek, relax di mana gitu."
__ADS_1
"Ooh mau honeymoon."
"Ga Honeymoon juga pap. Sekedar me time aja tanpa ngawasin anak, dan ngendong bayi juga." jujur Muna.
"Ya... titipin ke Laras lah. Atau kita tambah lagi satu baby sisternya. Abang ga mau ya punya istri ga cantik lagi."
"Ciih... yang bikinnya jadi jelek siapa?" tanya Muna.
"Yang bilang jelek siapa? bini abang, ke mana-mana kok cantiknya."
"Hmm." Gumam Muna.
"Mae..." Sergah Kevin.
"Ntar kaji tiru di Swiss, perusahaan yang di Bandung kita ikut ya. Sekalian honeymoon. Ay sama Nay tinggal aja." Ajak Kevin tiba-tiba memberi ide.
"Waduuh... tawaran yang menggiurkan. Tapi kalo harus ninggalin Ay sama Nay... kok rasanya cemas ya, bang?"
"Ajak nyak babe deh, Mae. Sama baby sister juga."
"Malu ah... masa perjalanan dinas jadi kaya reuni keluarga gitu. Momen lain deh. Kerja ya kerja, liburan ya liburan. Jangan kaya orang susah ah."
"Huummm iya juga." Setuju Kevin.
"Naaah... gimana kalo kita ikut Siska ke Korea aja yank. Mereka kan belum halal juga, jadi kita wajib ganggu mereka tuh. Sekalian Muna kenalan sama mamanya A' Asep. Biar tau sama saudara abah." Ide Muna lebih ngalir lagi.
"Naaah... bener juga. Oke-oke. Kalo gitu semua aja di ajak, ambu, nyak sama babe juga." Tukas Kevin.
"Rumkit gimana?"
"Ada Simon, yang sedang abang pantau kerjaannya. Sekarang sebagai kepala manager di rumkit. Semoga dia amanah. Bisa abang percaya dikit-dikit dalam urusan kantor."
"Hati-hati menilai orang yang. Jangan langsung percaya gitu aja."
"Iya lah pasti." Jawab Kevin.
"Bang... usia Naya 3 bulan nanti, Muna turun kerja ya."
"Yakin bisa ninggalin Naya?"
"Sebentar doang, kan rumah sama rumkit deket. Kayak nengok jemuran. Sambil ngawas kerjaan wadir baru. Secara orangnya punya sejuta pesona. Siapa tau ada hal-hal yang perlu di pangkas di sana."
"Hahaaa... abang belum sebulan kerja sudah di cemburui saja."
"Yang... cemburu Muna tanda cinta lhoo." Aku Muna.
"Boleh turun kerja, tapi anak-anak harus udah beres. Dan ga boleh ngeluh cape kalo suami minta di layani."
"Siap laksanakan bosqu."
"Mae... ini si otong udah keburu tidur lho kepanjangan narasi." ujar Kevin yang sudah keburu ngantuk.
"Ya sudah, lanjut di mimpi aja. Selamat malam suamiku."
"Heem selamat tidur istriku." Kevin berujar sudah dengan mata yang tertutup.
Bersambung...
__ADS_1
No coment nyak kalo mereka mesra gini....