
Kevin tampak serius tidak mau mengutak-atik Muna. Ia rela bersabar dan menaklukkan si otong agar tidak minta jatah sembarangan. Kevin sungguh sangat ingin segera memiliki keturunan. Maka ia rela saja harus berpuasa, bahkan saat mereka tinggal dalam satu atap.
Keesokkan harinya mereka telah pergi ke klinik dokter kandungan untuk memeriksakan keadaan sang calon buah hati.
"Selamat nyonya dan tuan. Keadaan janjn baik, sehat dan sudah memasuki usia hampir 7 minggu. Tetap jaga pola makan sehat, istirahat cukup dan hindari stres." Ungkap dokter itu dengan ramah.
"Bagaimana dengan berhubungan intim, apakah boleh?" tanya Kevin tanpa malu.
"Boleh saja, yang penting tidak sering dan pelan-pelan. Itu masih gumpalan darah yang masih sangat rentan. Nyonya dan tuan lebih tau, mana lebih penting. Berhubungan intim atau menjaga janin tetap dalam keadaan sehat hingga benar-benar kuat." Klise memang jawaban dokter tersebut. Ia tidak melarang juga tidak menganjurkan Toh, jika tetap melakukannya mereka juga yang nanti akan merasakan resikonya.
Hari berlalu, Kevin tampak makin betah gelonjotn di dekat Muna. Kevin makin posesif, bahkan ke kampus saja dia ngekor, ga mau jauh. Makin bawelbdan rada cerewet.
Tiap pergantian makul, Muna wajib ke parkiran hanya untuk memberi ceruk lehernya untuk di endus suaminya.
Muna tidak mengalami morning sicknes seperti kehamilan pada umumnya. Juga tidak ada perubahan selera makan. Ia tetap bisa beraktivitas senormal mungkin. Hanya sedikit agak repot karena justru Kevin yang jadi sering mintabdi masakan inibdan itu, bikin Muna rempong.
"Yaang... lapar. Buat nasi goreng sosis yuk."
"Abang... ini hampir pukul 12 malam. Masa Muna di suruh masak sih. Ga takut gendut semalam ini makan nasi goreng?"
"Yaaang... melayani suami itu ibadah lho. Bersyukur otong ga minta jatah. Masa abang minta di masakin nasgor aja ga mau?"
"Iye...iye aah. Punya suami satu aja manjanya ga ketulungan, apalagi lima. Bikin repot aja." Dumel Muna yang tetap pergi ke dapur untuk memasak.
Kevin tidak peduli dengan wajah cemberut istrinya, ia menatap senang saat melihat Muna dengan apiknya memasak untuknya. Iris matanya tak pernah berhenti berkedip memandang istrinya bak melakukan atraksi di hadapannya.
"Makan bang... atau mau di suap juga?" tanya Muna agak ketus.
"Iya dong. Di suap kayaknya lebih enak deh." Kevin tidak peduli dengan wajah kesal Muna dengan lahapnya menerima suapan demi suapan oleh Muna yang jelas tidak dengan sepenuh hati.
"Kenapa wajahnya ga suka gitu? Ga ikhlas layanin suami?"
"Menurut abang?" Jawab Muna ambigu. Lalu mengangkat piring yang sudah tandas oleh Kevin. Kemudiam Muna cuci, lalu masuk kamar tanpa menoleh ke arah Kevin.
Belum sampai Kevin masuk kamar untuk menyusul Muna, mereka berselisih lagi di ruang tengah. Muna tidak menyapa Kevin, raut wajahnya masih tampak dongkol. Rupanya Muna kembali ke dapur untuk membuat susu hamilnya. Dan semua gerak gerik itu hanya di pandang Kevin dari jauh.
Pagi tiba, keduanya sudah melaksanakan sholat subuh tadi. Hari itu Muna libur kuliah sehingga ia memilih kembali uring-uringan di tempat tidur. Tapi niatnya bersantai tak terlaksana dengan mulus, sebab sepagi itu Muna sudah terusik dengan suara bel di luar pintu apartemennya.
"Mama...?"
__ADS_1
"Apa kabarmu sayang? Mama lama tidak berjumpa dengan mu, mama kangen." Peluk Rona antusias.
"Mae... ?" Panggil Kevin dari kamar.
"Ada Kevin Mun?" tanya mama Rona di balas anggukan dari Muna.
"Yang mau bubur ayam. Eh, ada mama." Malu Kevin seketika melihat ibu mertuanya sudah berdiri saja di tengah apartemen Muna. Dan langsung menyalami juga memeluknya.
"Ini mama ada bawa makanan, tapi bukan bubur ayam sih. Sarapan bareng yuk."
Kevin menatap ke arah Muna, seolah kode bahwa ia hanya akan mau makan bubur yang ia inginkan.
"Sini kita makan berdua saja ma, bubur buat abang tetep Muna buat. Kan prosesnya lama." Jawab Muna menghargai mama juga tetap akan melayani suaminya.
"Kevin... kenapa bolak balik ga pake jets kakek?"
"Malu ma. Itu bukan punya Kevin."
"Kita ini sudah jadi keluarga Vin. Ga ada perasaan kayak gitu."
"Maaf Ma. Kalo Kevin sendiri biar pake yang komersil saja. Kecuali bareng Mae." Jawab Kevin yang sudah memilih duduk di meja makan menghadap kopi buatan Muna tanoa di minta.
"Iya silahkan duluam, abang nunggu bubur saja." Ucap Kevin yang selalu betah memandang wajah Muna dengan intens.
"Hmm...anak mama doyan atau lapar sih, lahap bener?" celetuk mama Rona takjub melihat lahapnya Muna makan sarapanya pagi itu.
"Enak banget ma." jawab Muna semangat. Kemudian berdirk untuk mengaduk-aduk nasi bubur yang sedang ia siapkan untuk Kevin.
"Kevin ga sekalian makan yang ada dulu yuk." ajak mama Rona sedikit memaksa.
Kevin terpaksa membuka mulutnya, meninta Muna membagj suap makanan untuknya.
"A...a" Kevin minta di suap tanpa malu, walau ada ibu mertua di depan mereka.
Namun baru saja makanan itu masuk ke kerngkongan Kevin, ia sudah merasakan bahwa itu tidak enak. Namun demi menghargai Rona,. ia tetap tersenyum dan menelan makanan tersebut, seolah benar enak.
Muna terus saja menyodorkan suapan demi suapan pada Kevin dengan sesekali menyuapi dirinya sendiri. Tapi, semakain makanan itu masuk perut Kevin makan semakin kuatlah gejolak ingin muntah di rasakannya.
Kevin berlari ke kamar. Ingin mengeluarkan isi dalam perutnya di toilet kamar saja. Demi menjaga kesopanan di depan Rona.
__ADS_1
"Ngape bang?"
"Kebelet." Hanya itu jawaban yang sempat Kevin jawab selanjutnya, ia berhasil masuk dan menutup pintu kamar kemudian.
Hoeek...howeeek berpindahlah isi pwrut Kevin ke wastafel yang ada di kamar Muna.
Apartemen itu tidak besar, kamar itu pun tidak kedap suara. Samar suara muntahan itu dapat di tangkap indra dengar Rona dan Muna yang masih di meja makan.
"Kamu hamil, Mun?" tebak Rona pasti.
"Iya Ma. Sudah hampir masuk 7 minggu."
"Alhamdulilah. Itu Kevin muntah. Pasti dia yang ngidam, kayak abahmu dulu waktu hamil kamu. Makanya kakek ga tau mama hamil, sebab ambu yang sibuk ngurus abah di rumah mereka." Jelas Rona mengenang.
"Oh bisa gitu ya ma."
"Ya begitulah. Anak kalian pengertian nih, nanti pinternya kayak kamu, nak. Sekecil ini sudah tau kalau mamanya masih kuliah, dia ga mau ngerepotin kamu, sayang." Kata Rona dengan senyum terkembang mengelus perut rata Muna. Dan Kevin sudah kembali ke dapur lagi.
Rona beranjak dan membuka isi kulkas mereka, sedikit senyum merekah saat melihat ada bubuk jahe di dalamnya. Rona menyedukhannya dengan air hangat.
"Di minum Vin biar mualnya berkurang. Selamat menikmati jadi calon ayah ya, nak." Ucapnya lembut sembari menepuk bahu Kevin.
Kevin menurut saja dan segera menengak minuman jahe yang masih hangat itu.
"Sudah sering muntah begitu?"
"Baru ini. Waktu di Bandung sempat sakit perut saja, pas makan semur jengkol buatan nyak Time. Tapi ga sampe muntah. Pas Mae yang buatkan lagj, aman kok. Ga sakit perut lagi."
"Waah... jangan-jangan si bayi maunya makan masakan Muna aja nih."
"Masa...? Iiih, bakalan tambah repot dong akunya." sela Muna sedikit cemberut.
"Sabar... namanya juga lagi ngidam." Mama Rona memberikan dukungan pada pasangan baru menikah tersebut.
Bersambung....
Nah... kesampaian deh Kevin yang ngidam sesuai keinginan beberapa raders.
Jangan bosan dukung nyak di novel ini yak🙏
__ADS_1
Lopeeh buat semua.❤️❤️