
Hari kedua ibu Gilang di rawat di rumah sakit, keadaannya mulai stabil. Jadwal pemasangan ring sudah di tetapkan adalah di hari senin depan, hari yang sama saat Gilang dan Gita akan berikrar sehidup semati.
Baik Gilang maupun Gita sudah saling bersepakat akan menunda mungkin sebulan dari rencana awal. Untuk menunggu ibu Gilang benar akan pulih benar terlebih dahulu. Toh, tidak ada yang hal yang sifatnya mendesak untuk keduanya segera menikah.
Gilang berani meninggalkan ibunya di pagi hari. Saat Arum dan Haniyah sudah berada di rumah sakit untuk menemani ibu. Sedangkan Riswan sepulang sekolah nanti sudah di titipkan dengan tetangga, sampai Arum datang.
"Ibu gimana rasanya hari ini?" tanya Arum saat tinggal mereka saja di ruang rawat inap itu.
"Sejak di rawat di sini ibu sudah merasa baikan Rum." Jawab ibu Gilang pelan.
"Alhamdulilah." Respon Arum.
"Mestinya ibu pulang saja, toh ibu tidak merasa sakit seperti kemarin. Tapi mengapa ibu harus di operasi. Hanya membuang uang saja." curhat ibu pada Arum.
"Yang ibu rasa itu berbeda dengan hasil pemeriksaan bu. Hasil pemeriksaan yang menjadi acuan para dokter itu, bukan perasaan ibu. Dokter tentu sudah memikirkan resiko terbaik dan terburuk semuamya, maka di tentukanlah langkah selanjutnya, bu."
"Ibu hanya kasihan dengan Gilang, Rum. Sekarang ibu jatuh sakit, pasti dia yang mengeluarkan biaya pengobatan ibu. Dia terlalu banyak berkorban untuk kita. Apa lagi kemarin dia baru beli mobil, apa uangnya masih ada untuk menikahi putri konglomerat itu. Ibu bingung dengan jalan hidup kita, kenapa selalu di pertemukan dengan orang-orang mampu. Kamu dan ibu sama Rum, bertemu orang kaya lalu menikah tapi setelah terpisah oleh maut, kita kembali di pandang sebelah mata oleh mertua dan semua keluarga suami kita. Ibu takut, Gilang bernasib sama dengan kita Rum. Dia di ambil sebagai menantu lalu kebaikannya di manfaatkan untuk di remehkan, dan di hinakan. Padahal dia laki-laki yang harus dk hormati sebagak kepala rumah tangga nantinya." Papar ibu sedih.
"Semakin ibu takut, maka hal itulah yang akan terjadi. Maka, mulai sekarang kita percaya saja nasib Gang tidak seburuk kita bu." Jawab Arum menenangkan ibu.
"Lihat keluarga suamimu, Rum. Hanya pernah memberi nafkah setelah masa idahmu berakhir lalu kamu hanya mirip seonggok sampah yang tak perlu mereka kenal lagi. Bahkan kecelakaan itupun mereka timpakan kamulah pemyebabnya." Jelas sekali ibu Gilang masih sangat kesal dengan keluarga besannya itu.
"Sudahlah bu. Jodoh Arum dengan mas Muklis sudah berakhir. Takdir untuk kita sudah begini. Terima dengan ikhlas saja. Sambil berharap Allah tidak akan menimpakan kesedihan ini pada anak dan cucu inu nantinya. Cukup kita yang mengalaminya." Jawab Arum lagi yang kemudian beralih ke nakas untuk mengambil bubur untuk memberikannya pada ibunya.
"Bu... amplop apa ini?" tanya Arum agak terkejut melihat onggokkan tebal itu.
"Oh... kamarin kakanya Gita bosnya Gilang, ada menjenguk ibu. Lalu memberikan ibu amplop itu, katanya untuk jajan beli buah-buahan." Jawab ibu yang memang tidak sempat membukanya sendiri.
__ADS_1
"Masyaallah... ini bukan untuk beli buah bu. Tapi bisa buat beli sama gerobakan jual rujak buah." Arum terbelalak melihat segepok uang merah dalam amplop itu.
"Berapa Rum?" ibu penasaran.
"10 juta bu. Ya Allah, sepertinya keluarg Gita baik sekali ya bu. Semoga mereka selalu baik pada Gilang bu. Mungkin itu ganjaran yang Allah berikan pada Gilang yang selama ini sangat tulus menafkahi kita ya bu." Harapan Arum tulus.
"Amin ya Robalalamin." Jawab obu Gilang terkejut serta tulus sangat bersyukur jika anaknya bernasib baik.
"Amiiin bu, semoga saja. Tapi sejauh Arum mengenal Gita, untuk ukuran adik seorang pemilik perusahaan. Gita cukup rendah hati. Dia juga berkepribadian hangat juga manis pada Riswan dan Haniyah. Kemarin sebelum sampai rumah, kami dinajak berbelanja cemilan. Ibu tau... cucu ibu mana pernah berani mengambil apa-apa jika tidak di ijinkan. Maka, Gita bingung sendiri membeli apa untuk mereka. Akhirnya... apa yang di lihat Riswan dan Hani semua di belinya tanpa pilih-pilih. Arum sampai malu di buatnya" Cerita Arum.
"Iya... ibu sudah cukup banyak berbicara padanya perihal keadaan keluarga kita. Tapi, tampaknya dia serius pada Gilang." Penilaian ibu Gilang pada Gita.
Sementara, Kevin dan Muna memutuskan akan tetap bertahan di Bandung sampai papi Diendra dan mama Indira datang untuk menjenguk calon besannya. Mereka tidak harus jaga gengsi walau mereka pihak perempuan seperti begitu mengejar laki-laki. Tapi ini lebih ke membina hubungan baik sesama manusia saja.
Namun, saat baru saja Diendra dan Indira tiba di Bandung. Kabar datang dari China. Bahwa tubuh Dadang yang tidak lain adalah ayah kandung Muna mengalami penolakan pada proses transplansi hati yang baru jada berhasil di cangkok.
Hal ini terjadi karena sistem kekebalan bekerja untuk menghancurkan benda asing yang masuk dalam tubuh. Kondisi ini dapat dialami sekitar 64% dari pasien transplantasi hati, terutama pada 2 minggu pertama.
"Bang... gimana Ay dan Nay? Kita bawa atau tinggalkan saja?"
"Efisiennya memang di tinggal. Sebab kita belum tau kondisi di sana. Tapi, jika di tinggal bagaimana dengan pikiranmu?" tanya Kevin pun tidak bisa mengambil keputisan.
Muna memandang Naya yang bahkan belum genap berusia 3 bulan.
"Kasihan Naya. Belum 3 bulan.. masa ia harus lepas ASI langsung."
"Ya sudah bawa saja, kita ajak Laras pastinya. Sebab kita tidak tau berapa lama di sana." Saram Kevin.
__ADS_1
"Sebentar... Muna telpon enyak saja." Muna tak bisa berpikir jernih.
"Assalamualaikum nyak."
"Walaikumsallam, ade ape Mun?"
"Nyak... keadaan abah di China memburuk. Rencana Muna sama abang mau nyusul. Tapi... anak-anak pegimane? diajak ape kagak?"
"Ye udeh.. antar ke rumah nyak babe aje, sama bundanya sekalian. Jangan lupe stok ASI lu di banyakin."
"Beneran kagak ape-ape nyak?"
"Ya... kalian pan, ntar ke rumah sakit. Bukan liburan. Kesian Naya masih bayi banget Mun. Sedangkan emak lu, lagi perlu supot lu banget."
"Ya sudah ntar sore kami ke Jakarta ye nyak. Besok baru ke Chinanya, biar sempet banyak nyetok ASI. Makasih ye nyak."
"Same-same. Ah... elu Mun kayak ame sape aje." Jawab nyak Time yang selalu bisa di andalkan oleh Muna sekeluarga.
"Gimana?"
"Nyam ga setuju kita bawa anak-anak. Kata nyak, biar di titipin di rumah nyak babe aja, satu paket sama bunda Larasnya."
"Alhamdullilah. Ya sudah kita siap-siap saja." ujar Kevin.
Kemudian Kevin menui Aydan dan membicarakan hal tentang keseharan kakeknya dan akan tinggal lagi bersama engkong di Jakarta bersama adiknya Naya juga bunda Laras.
Aydan mana pernah mengerti sepenuhnya akan hal itu. Baginya bjsa tinggal bersama engkong adalah hal yang pasti sangat menyenangkan.
__ADS_1
Bersambung...
Maaf yee.... part ini dan selanjutnya agak melow ๐