
Muna sempat bingung antara ingin menerima panggilan vicall itu atau tidak. Namun, jika di biarkan atau tidak di angakat Kevin akan kesal atau marah padanya. Tapi, jika Muna terima, nanti obrolannya dengan Kevin kedengeran orang yang sedang ada bersamanya.
Muna menarik nafas panjang, sekedar mengumpulkan tenaga untuk memberanikan diri menerima panggilan itu.
"Assalmuallaikum abang."
"Walaikumsallam Mae. Lagi di mana?"
"Masih di mall habis beli buku tadi." Jawab Muna singkat.
"Sama Siska...?"
"Iye niiih." Muna menggeser kamera mengarahkan pada Siska dan di balas anggukan dan sedikit senyuman dari Siska tanda hormat pada Kevin.
"Maaf, abang baru tiba nih, ponsel lowbat juga. Pesan Mae tadi, cuma sempat kebaca, ntar malam abang telpon lagi. Assalamulaikum sayangnya abang."
"Walaikumsallam abang." Jawab Muna dengan wajah sedikit memerah mendapat kata sayang yang pasti sangat dapat di dengar oleh mereka yang ada di tempat itu. Dan merasa sedikit lega sebab Kevin tidak curiga jika yang bersamanya sekarang tidak hanya Siska.
"Yaaah... patah hati mas Bara denger kata sayangnya itu." Celetuk Bara sedikit menggoda Muna.
"Iya... mama juga nih. Tadi mama kira Muna calon mantunya mama. Ternyata udah ada yang sayang duluan." Bu Puspa ikut menggoda Muna.
Muna hanya tersenyum mendengar celotehan ibu dan anak di hadapannya.
"Eh... tapi ga papa sih. Kan baru pacar kan Muna...? Belum jadi suami juga. Masih bisa di rebut itu mas." Senggol bu Puspa pada anak lelaki yang ada di sebelahnya.
Diam-diam justru Siska yang lebih patah hati dari antara mereka yang ada di sana. Baru saja Siska mendapatkan target untuk menambatkan hatinya. Ternyata salah sasaran. Bara justru terlihat antusias bahkan terang-terngan menyukai Muna.
Tetapi, Siska menyadari dari segi fisik tentu Muna jauh lebih segala-galanya darinya. Maka wajarlah jika Muna memang selalu dapat menarik perhatian lawan jenisnya, walau tanpa ia rayu sekalipun.
"Ha...ha... bu Puspa ade-ade aje. Segala nyuruh ngedukung anaknye ngerebut pacar orang."
"Ya ga papa. Mana tau cocok. Jodoh itu tidak bisa di kira, kapan datang dan hinggap pada siapa. Tetapi yang pasti perasaan itu harus di perjuangkan. Itu namanya usaha, dan doa juga."
"Sudah lah ma... jangan ngaco. Muna makin malu tuh. Maaf ya Muna, mama memang suka bercanda."
"Kagak ape-ape santai aje mas Bara." Jawab Muna dengan senyum terkembang di wajahnya semakin membuat Bara terpesona.
"Maaf... ude hampir magrib. Kami ijin pulang duluan boleh?" tanya Muna.
"Oh... iya silahkan Mun. Ini biar mas Bara yang bayar. Tapi, besok di kantor bayar ya."
"Yaaah... kagak ikhlas mas Bara niih?"
"Bukan dengan uang. Cukup buatkan cemilan dan di temani makan siang dikantin saja, boleh Muna."
Muna cengegesan.
__ADS_1
"Boleh... tapi dengan Siska ye." Muna pun mengajukan syaratnya.
"Tidak masalah. Sampai jumpa besok di kantor ya." Ucap Bra mengiringi kepergian kedua gadis cantik di depannya.
"Serius lhoo mas. Mama kira tadi itu cewekny mas Bara. Cantik, ramah lagi. Temen kantor...? Pepet terus saja mas." Ibu Puspa terus saja getol ingin tau tentang Muna.
"Iya ... mereka berdua tadi itu OB di Perusahaan Mahesa."
"Whaaaat...?? OB. Masa?
"Iya... Muna itu spesialis di lantai Bara kerja. Kalo yang satunya...ah sudah lupa lagi Bara. 34 kalo ga salah katanya tadi."
"Cantik-cantik Kok cuma OB!"
"Terus kalo cantik ga boleh jadi OB...?"
"Bukan gitu. Maksud mama. Sayangkan tampang cantik gitu hanya jadi OB, mungkin pendidikan mereka ga tinggi ya mas."
Bara hanya menggendikkan bahunya, sebab memang tidak kenal banyak tentang Muna.
"Mas Bara suka ...? Kalo suka kejar mas. Masalah pekerjaan, kita bisa minta dia berhenti dan berikan pendidikan atau pekerjaan untuknya. Selain menerima kamu sebagai penggantinya nanti di kantor, mama akan bujuk papa supaya bisa minta tolong ke bosnya si Kevin itu biar kasih jabatan untuk Muna selain jadi OB, gimana?"
"Mama ngomomg apa siih. Baru juga kemarin bara kenalan sama dia, sudah di tanya suka atau ga. Jangan kejauhan mikirnya."
"Heeeiii... kuliah s2 mu sudah selesai, usiamu juga sudah 27, pekerjaan sudah dapat. Tentu saja tuntutan mama selanjutnya adalah, melihat kamu menikah dan punya anak, agar mama segera bisa gendong cucu."
"Iiya... maaf. Teman arisan mama semua pada punya cucu mas Bara. Hanya mama yang belum, kan mama jadi minder."
"Kalo gitu brenti aja arisan sama nenek-nenek itu. Atau buruan mama nikahin tuh dek Gendis yang baru lulus SMA, biar cepet dapat cucunya, jangan di suruh kuliah kaya Bara. Maka gelar sebagai nenek segera mama dapatkan."
"Mas Bara... kaya papa deh. Suka buat mama kesel. Ya sudah, terserah mas Bara lah, mau nikahnya kapan. Kita pulang sekarang." Ajaknya pada anak lelaki kesayanagnya tersebut.
Muna dan Siska sudah berada di rumah, tepat sebelum adzan magrib mengudara. Cepat-cepat keduanya membersihkan diri, berwudhu, kemudian melaksanakan kewajiban mereka tersebut berjamaah.
Muna membolak-balikkan buku yang ia beli tadi, seolah berpikir dua kali akankah buku itu nanti benar akan di beriknnya pada Kevin. Tetapi belum ia mendapatkan kesimpulan panggilan Kevin sudah mengharuskannya untuk meladeni obrolan via benda pipih tersebut.
"Assalamualaikum sayangnya abang."
"Walaikumsallam, bang."
"Lagi apa sayang...?"
"Lagi nungguin telepon calon laki."
"Ganti mode Mae. Penasaran abang liat wajah yang sudah berani bilang abang calon laki." perintah Kevin yang merasa hatinya berdesir-desir kesenangan.
"Ngapa...? wajah Muna ke gini-gini aje." Jawab Muna sambil memasang headphone agar kata-kata Kevin tidak terdengar oleh orang lain.
__ADS_1
"Calon bini abang tadi beli buku apa...?"
"Ye...ape aje siih buat modal ngisi otak Muna yang lama kada belajar ini." ujar Muna sambil mengarahkan beberapa sampul buku di depannya agar Kevin melihatnya sendiri.
"Lah itu... ga ada hubungnnya dengan jurusan yang akan Mae ambil saat kuliah nanti."
"Yang mane... yang inih?" tunjuk Muna pada Kevin pada buku yang tadi akan Muna berikan untuknya.
"Iye... rencananye ni buku mau Muna kasih buat abang. Tapi masih bingung antara di kasih ape kagak."
"Kalo udah niat ngasih ya kasih dong. Masa ga jadi."
"Muna malu aje, abang ngasihnye banyak dan mahal-mahal ke Muna. Tiba Muna cuma bisa kasih buku doang buat abang. Maaf ye bang."
"Jangan suka ngebandingin materi kita, abang ga menuntut apa-apa kok. Mae udah mau jadi bini abang saja sudah cukup bagi abang."
"Oh iye bang. Tadi di mall saat mau pulang pas abang vicall. Muna ame Siska di traktir oleh mas Bara. Kagak ape-ape pan...?"
"Mas Bara...siapa???"
"Entuh pegawai yang baru keterima di perusahaan abang. Masa abang kagak tau."
"Di bagian mana?"
"Katanye sekretaris, kalo aye kaga salah inget."
"Oh... Sudah dulu ya Mae. Cepet tidur."
"Abang marah?"
"Marah kenapa?"
"Karena aye bilang ketemu mas Bara."
"Tidak sayang. Sudah dulu ya. Assalamualaikum sayangku."
"Walaikumsallam, abang sayang."
Bersambung...
Kire-kire si babang beneran kagak marah ga tuuh?"
Pantau terus di eps selanjutnya okeeeh
Lop yu all
πππ
__ADS_1