OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
EKSTRA PART : PAHALA


__ADS_3

Gita benar benar remuk di buat Gilang, setiba mereka di kamar spesial yang Kevin siapkan untuk mereka berdua. Seusai sholat asar tadi ia sudah tertidur pulas hingga kumandang adzan magrib menyeruak. Maka terpaksa Gilang membangunkannya.


"Neng bangun... udah magrib." Tepuknya pelan pada bamper belakang Gita.


Puk


Puk


Puk


"Hah... masa? Perasaan baru 5 menit deh pejam mata." Jawab Gita sambil mengumpulkan nyawanya.


"Lima menit apanya... durasi tidur neng udah ngalahin durasi film di bioskop tau ga sih." ledek Gilang padanya sambil tersenyum.


Gita hanya mengucek mata dan merenggangkan tulang belulang tubuhnya, memastikan otot ototnya lemas dan mulai kembali pada susunan yang benar pada tiap sendi yang mungkin sempat geser oleh ulah Gilang yang penuh gelora tadi.


"Mandi atau wudhu saja. Tempat sholat sudah siap." Lanjut Gilang yang benar saja, dua sajadah sudah terbentang mengarah kiblat di dalam kamar tersebut.


"Wudhu aja A' biar cepet." Jawab Gita lalu bergegas menyucikan dirinya.


Rupanya tadi, hanya Gita yang tidur lama dan kaya orang mati. Gilang hanya sebentar karena merasa lapar. Sehingga ia memilih untuk menghabiskan aneka makanan yang yang tadi sudah di antarkan ke kamar mereka.


Kewajiban mereka sebagai umat muslim, tunai sudah. Kini keduanya tengah duduk bersantai di atas sofa yang siang tadi mereka gunakan untuk beradu ilmu kanuragan. Wajah Gita tiba-tiba merona merah jambu, jika ingat desa han, racauan, juga hentakan demi hentakan yang di timpakan suaminya padanya. "Begitu rasanya kehilangan mahkota? perih sih... nyeri nyeri sedap gitu ternyata. Sakit tapi kok bikin nagih ya...?" Batin Gita nackal. Baru di kasih dua ronde dengan gaya klasik udah klepek klepek. Apa lagi Muna... Hah belum bertukar cerita saja kamu Git. Reader udah tau kenapa itu Aydan cepet punya adek.


"Kenapa neng kok senyum senyum sendiri, heeem?" tanya Gilang sambil mendusel pucuk kepala Gita yang terlihat asyik mengkhayal tadi.


"Ga ada apa-apa."


"Ga mau cerita aja ya neng?" pancing Gilang yang yakin, pikiran Gita sempat berkelana kemana-mana.


"Bukan gitu. Neng belum sempat tanya ke A'a soal mahar kemarin." Gita segera mendapat ide untuk berkelit, akan pikiran joroknya tadi.


"Oh kenapa maharnya, ga sesuai harapan neng ya. Maaf ya dadakan soalnya mana kejutan lagi. Ga seru kan, klo kita belinya bareng." papar Gilang pada Gita.


"Bukan. Justru isinya kok bisa pas dengan produk yang eneng pake ya A...? akhirnya neng curiga, memang ada konspirasi besar dengan berbagai pihak pendukung deh." tebak Gita yang memang sangat kagum melihat isi seserahan dan mahar yang dinberikan untuknya semua ia suka.

__ADS_1


"Klo urusan selerakan ada Siska, ada Ninik juga yang bisa di jadikan mata-mata tentang apa saja yang di gunakan dan di sukai eneng." Jelas Gilang dengan tangan yang tidak bisa diam, minimal mengelus jari jemari istrinya.


"Jangan jangan ga cuma soal produk yang neng pake. Curhatan eneng juga bisa bocor dong?" tebak Gita asal.


"Punya rahasia apasih dari A'a...?"


"Ya ada sih. Cuma malu aja kalo ketahuan pernah begitu lama memendam rasa suka sama a'ayank." Tandasnya malu.


"Hahahaha... klo itu ga usah malu. Udah ga penting siapa duluan suka siapa. Sekarang yang penting tuh kita saling setia dan percaya saja neng."


"Setuju." potong Gita.


"Btw... A'. Kenapa jumlah uang maharnya 888ribu..? emasnya juga 88gr...?" Gita beneran baru punya waktu santai menanyakan ini pada suaminya.


"A'a mampunya cuma ngasih segitu neng. Maunya lebih banyak lagi dari itu. Tapi ga mampu." Gilang merendahkan diri pada istrinya.


"Bohooong gajah bisa terbang A..." kekeh Gita menggoda Gilang.


"Siapa juga yang bilang kucing bisa betelor." Gilang ikut membalas godaan sang suami.


"Semua bentuk angka adalah baik. Dari 0 sampai 9. Tapi yang paling a'a suka adalah bentuk angka 8 karena dianggap lambang infinity atau angka yang tak pernah berakhir. Keberuntungan tiada akhir. Persis kaya perasaan a'a ke eneng yang ga berakhir dan merasa sangat beruntung memiliki eneng." jelas Gilang lantang sepertinya benar sudah siap dengan pertanyaan itu suatu saat oleh istrinya.


"Ya ampun. Eneng Ge-eR sumpah a...." Peluk Gita pada Gilang.


Tuh kaaaan, Gilang selalu berhasil membuat wanitanya itu meleleh kaya lilin deh. Entah Gilang emang gombal dari orok atau baru terasah saja sejak bertemu Gita. Yang pasti jika dekat dengan pasangan ini, sebaiknya kita siap-siap suntikan insulin saja. Manisnya kebangetan, bisa diabet masal kitanya.


Malam sudah menjemput, tentu suasana di sana semakin dingin. Apalagi mereka tiba di sana saat di hampir penghujung tahun, musim dingin ada salju juga mulai turun. Romantis banget deh.


"Kita keluar yuk neng. Makan di restoran hotel gitu?" ajak Gilang pada istrinya yang masih terlihat malas-malasan.


"Aduh... makan di kamar lagi aja deh A'. Eneng masih agak aneh jalannya nih. Neng banyak istirahat aja ya. Besok kerja pula. " pinta Gita manja.


"Kenapa ya kira-kira?" Goda Gilang dengan senyum manis bikin hati Gita selalu tertawan dengan senyum pria menawan miliknya seorang itu.


"Menurut loe..." kekeh Gita melingkarkan tangannya pada perut suaminya itu. Gilang mencuri ciuman kecil di pucuk kepala istrinya.

__ADS_1


"Maaf... a'a kebablasan nyodoknya neng. Jadi sakit sakit nikmat gitu ya neng?"


"Heemm."


"Tau enak gitu nyesel lho sempat nunda halalin neng."


"Halaaah tertunda beberapa minggu doang A. Tuh kak Kevin sama Muna tertundanya 2 tahun lho A."


"Masaaa....?"


"Kak Kevin sempet di tinggal kuliah ke Belanda." Terang Gita lagi.


"Oh Gitu... lalu mereka LDRan itu ya. Hah... macam-macam juga lika liku kisah cinta tiap orang ya neng."


"Gitu deh a'." Jawab Gita yang sudah melangkah ke pintu, saat mendengar bel di bunyikan. Tentu petugas hotel yang mengantar pesanan makan makam mereka.


Makan malam selesai, kembali bersih dan tandas oleh kedua makhluk ciptaan Tuhan yang seperti orang kalap saat melihat berbagai sajian yang tersedia.


"Berapa hari neng ga makan?" ledek Gilang.


"Kenapa... neng rakus banget ya A?" tanya Gita dengan mata melotot di buat buat.


"Hahahaa... ga biasa aja. Seneng aja a'a liatnya. Berarti... neng banyak modal begadang malam ini." Ucapan Gilang mengandung arti tersendiri. Bagai sebuah sandi dan kode rahasia, untuk gencatan senjata yang ke tiga kalinya di hari yang sama.


"A' aayaaank. Artinya nanti malam?"


"Melayani suami itu pahala bebeiiph." Alis Gilang turun naik ke arah istrinya.


Bersambung...


Semoga nulisan nyak masih di nantinya.


Makasih semuanya❤️


__ADS_1


__ADS_2