OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 222 : SITA SITATA


__ADS_3

Gilang dan Gita baru saja menyelesaikan makan malam dadakannya di sebuah warung makan kaki lima namun rasa bintang lima. Mungkin kokinya adalah seorang chef yang tereliminasi dari sebuah ajang pencarian bakat di sebuah statiun TV.


Gilang sudah sangat akrab dengan penjualnya, bahkan sempat menyeletuk bahwa tumben Gilang bawa cewek makan di situ, sebab biasanya sendiri saja. Gilang hanya cengar cengir saat kalimat itu terlontar terkesan meledeknya. Dan memilih tidak menanggapi.


Tapi makan di suasana seperti itu adalah hal pertama bagi Gita. Sehingga memang terlihat agak canggung dan seperti mikir terlebih dahulu untuk menikmati hidangan yang di sodorkan untuknya.


"Gimana? enak neng?"


"Iya... ga nyangka se enak itu. Ga sesuai dengan tempatnya. Seandainya tempatnya lebih besar, pasti akan lebih banyak pembelinya A'."


"NengGi, tempat besar itu perlu modal yang besar juga. Makanya, orang kecil seperti kita jangan memaksakan diri makan di restoran mewah dan mahal. Lebih baik kita sokong para penjual di tempat kecil begini, agar usahanya cepat maju dan berkembang. Urusan rasa, itu akan memiliki cita rasanya sendiri-sendiri. Saat kita makan di tempat kecil, kita sudah membantu mereka menyekolahkan anak-anak mereka lho Neng, jadi lebih berkah.Berbeda dengan restoran bintang lima. Kita hanya memperkaya orang yang sudah kaya, yang benar membutuhkan uang itu paling para pelayannya yang numpang mencari nafkah di sana."


"Agi... jangan ngomong sebijak itu sama nengGi."


"Kenapa?"


"Hati neng rusuh A."


"Ah neng. Ada yang manis tapi bukan gula."


"Apaan?"


"Gombalan nengGi lah."


"Yaaah... di kira eneng ngegombal. Neng serius tau."


"Beli mobil neng biar cepat Agi lamar."


"Dasar cowok matre."


"Habis di gombalin eneng terus."


"Heeemm. Agi, kita jalan berdua gini. Yakin ga ada yang cemburu?"


"Siapa yang cemburu sama kita? Mantan pacar Nenggi? Kan Agi suaminya eneng. Ha...ha..." Bahak Gilang kesenangan.


"Bukannya Agi sekarang sudah punya cewek. Tuh yang tiap hari kasih bekal." Tembak Gita yang sudah tidak taham ingin tau tentang box misterius itu.


"Nah... itu juga yang Agi penasaran. Tadinya Agi kira itu dari nengGi lho. Kali so'so an mau kasih bekal gitu buat suami."


"Jiaaah ngarep si Agi. Eneng ga bisa masak Agi, beneran."


"Ya ... udah mulai besok bantu Agi cari info ya. Ga enak atuh, Agi selama ini makan gratis, berasa utang Agi teh."


"Okeh... besok deh kita selidiki bareng-bareng. Tapi kalo ternyata beneran cewek cantik. Agi terima dia dong jadi pacar Agi? Apa kabar hati eneng A?"


"Baik-baik saja neng."

__ADS_1


"Patah hati A."


"Nanti Agi obatin."


"Huum... ada yang nyetrum tapi bukan listrik A."


"Dasar kedondong si eneng mah."


Obrolan berakhir saat mereka sudah berada di depan kost Gita. Selamat malam dan ucapan perpisahan pun terjadi dengan saling melempar senyum saja antara kedua. Yang secara kasat mata itu biasa, tapi dalam hati keduanya sama-sama melahirlan rasa nyut-nyutan.


Gilang suka sama Gita. Dan dia juga ga buta, saat CV Gita waktu mendaftar. Ia curiga dengan nama Mahesa yang tersemat di nama belakang Ijazah Gita. Tapi tak berani memastikan jika itu Mahesa yang sama dengan pemilik perusahaan. Secara wajah mereka tidak mirip, asal tempat lahir pun berbeda. Di amati Gilang saat Gita dekat dengan Kevin pun, mereka terlihat tak saling kenal bahkan tampak segan. Sehingga Gilang menyimpulkan Kevin dan Gita tidak ada hubungan keluarga.


Gilang perlu waktu untuk memastikan benar jika Gita bukan saudara Kevin. Gilang tentu tidak percaya diri kalau ternyata Gita berasal dari keluarga kaya. Gilang hanya ingin memiliki istri yang sederhana, agar ia benar bisa memimpin rumah tangganya dari nol bersama orang biasa, dalam pikirannya akan lebih mudah untuk di ajak berjuang.


Keesokkan harinya, Gilang benar datang lebih pagi dari biasanya. Sengaja mengumpat di dalam ruangan berharap akan dapat memecahkan misteri box makanan.


Tak


Tak


Tak


Suara sepatu highheells berderap-derap mendekati ruangan itu, tampak seorang wanita imut, cantik masuk ruangan itu. Menoleh kekiri dan ke kanan, lalu meletakan paper bag di atas meja Gilang.


Kemudian dengan langkah terburu keluar ruangan itu bahkan hampir menabrak seseorang yang akan masuk ke ruangan yang sama.


"Aawww." Pekik Gita. Saat dadanya ketumpahan cofee panas itu.


"Aduh maaf kak. Maaf..." pinta gadis cantik itu penuh rasa bersalah.


"Eh... iya ga papa." Jawab Gita yang bingung ingin menepis air yang kena tumpahan coffe tapi tangannya yang masih memegang dua gelas itu.


Gadis itu segera mengambil salah satu gelas. Agar Gita bisa menggerak-gerakan bajunya. Sambil terus masuk ke ruanganya. Dan saat itu Gilang sudah keluar dari persembunyiannya.


"Kenapa neng...?" tanya Gilang agak heran.


"Kesiram coffe panas A'."


"Sampe ke dalam ga sih? Melepuh ga, Agi ga boleh liat sih."


"Ga... kena A. Neng pake dalaman tebel kok A'."


"Tapi bajumu ternoda gitu Neng."


"Ntar di lap tisue deh, semoga ilang."


"Pake baju Agi mau? Sementara baju nengGi di cuci. Ntar nodanya lengket lho neng."

__ADS_1


"Segala pake baju A'a. Agi kerja telanjang dada?" kekeh Gita sedikit riang. Dan gadis tadi masih mengikuti Gita, sehingga mendengar dialog antara Gita dan Gilang.


"Agi punya stok baju kerja neng di sini. Tau sendiri pak bos suka kasih perintah dadakan. Ntar A ambilkan."


"Maaf kak... biar aku belikan kemeja baru saja, untuk gantinya. Tadi salah aku yang nabrak." Gadis itu agak gondok mendengar obrolan kedua orang di depannya.


"Eh... ga usah repot-repot. Ga, papa kok. Nanti aku bersihin di toilet, terus taro tisue aja. Ntar juga kering."


"Tapi aku ga enak kak."


"Udah ga papa. Eh... btw tadi dari mana ngapain?" cecar Gita yang sudah tidak sabar ingin tau siapa gerangan gadis ini.


"Oh... tidak ngapa-ngapain Kak. Salah masuk saja." Jawabnya beringsut mundur.


"Oh..." Jawab Gita singkat.


"Ga ngapa-ngapain kok taroh sesuatu di meja saya?" tembak Gilang.


"Oh... itu. Eh... anu. Titipan... ah. Iya.. titipan orang kak." Jawabnya terbata.


"Titipan orang atau kamu...?" tanya Gilang.


"Eh... aa.... iih."


"Perkenalkan nama saya Gilang Surenra. Kamu...?" Gilang mengulurkan tanganya hendak bersalaman.


"Aku Sita Sitata kak. Pegawai magang di divisi pemasaran." jawabnya menyambut uluran tangan Gilang.


"Oh senang berkenalan denganmu. Box makanan selama ini dari kamu kan?" tanya Gilang lembut. Membuat hati Sita tak setakut tadi, berbeda dengan suasana hati Gita yang tiba-tiba longsor, meluap tak suka melihat pemandangan tersebut.


"Iya... maaf jika tak suka. Dan tidak enak kak." akunya dengan tertunduk.


"Enak kok. Hanya aku yang merasa tidak nyaman, sebab pasti itu merepotkanmu. Besok jangan buatkan lagi, dan sebagai balasan gimana kalau besok kita makan siang bareng saja? Hitung-hitung bayar utang." ajak Gilang semakin membuat hati Gita geram.


"Agi... iya deh, Neng pinjam baju Agi saja sementara." Gita menyela obrolan itu, agar kedua orang yang baru kenalan itu ingat, di sana masih ada dia. Sebel.


Bersambung...


Ciieee... readers ikut gondok niih


Nyoooy deh🤭🤭😂


Votenya selalu nyak nantikan lho


makasiih


__ADS_1


__ADS_2