OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 73 : GONCANG


__ADS_3

Kevin sudah tampak pergi meninggalkan kantornya bersama Ferdy dan pa Bondan sektertarisnya. Bukan karena Kevin tidak tergolong cerdas, hanya pebisinis yang mereka hadapi hari ini adalah calon investor yang tentu akan sangat menguntungkan bagi Kevin yang akan merintis usahanya yang baru.


Jika yang ia hadapi adalah urusan perusahaan Mahesa, tentu tidak seantusias ini. Namun, ini berhubungan dengan perusahaan yang sedang ia rintis sendiri.


Kevin benar-benar akan meninggalkan perusahaan Mahesa tersebut, jika telah cukup ngumpuni. Bukan karena ia membenci ayahnya, tetapi ia terlalu gengsi hidup bergantung dengan pria yang baginya telah menyakiti hatinya tersebut.


Kevin sadar, ia pun memiliki adik tiri laki-laki, tentu saja istri ayahnya nanti akan meminta haknya sebagai anak kandung dari ayanhnya juga.


Menghindari perebutan perusahaan, harta dan apapun nanti, maka ia sudah antisipasi. Dan hal itu tidak ia sembunyikan dari Ferdy juga pak Bondan yang merupakan orang kepercayaannya tersebut.


Sepeninggalan Kevin meeting, Muna dapat masuk dan melaksanakan tugasnya bersih-bersih dengan cermat. Suasana ruangan itu sungguh berbeda jauh, dengan keadaan 5 bulan lalu. saat Muna pertama kali menginjakkan kakinya di perusahan itu terutama di ruangan Kevin dan kamar pribadinya.


Muna ingat betul betapa kotor, jorok dan berserakannya plastik karet bekas kelakuan laknat Kevin pada masa itu. Yang Muna sadari sudah hampir 3 bulan terakhir sudah tidak perna ia temukan kotoran tersebut.


Apakah Kevin memang tidak pernah menggunakannya lagi, atau memang tidak pernah melakukannya di sana lagi. Namun seingat Muna, sebelum Kevin benar-benar mendekatinya, beberapa kali memang Kevin masih terkadang masih membawa beberapa wanita yang berganti-ganti ke ruangannya, entah apa saja yang ia lakukan di dalam bersama mereka, Muna merasa tidak memiliki hak untuk menanyakan dan menuduhnya.


Hal itulah sesungguhnya yang membuat Muna sangat ragu untuk segera menerima Kevin, babe, nyak, mama Leina atau Siska mungkin dapat dengan mudah memintanya untuk segera menerima Kevin. Tapi bagaimana dengan hatinya? Bagaimana dengan mata Muna yang sudah pernah tercemar oleh perlakuan Kevin, yang benar pernah ia saksikan dan lihat sendiri.


Semudah itukah ia dapat mempercayai lelaki yang kurang 5 bulan saja ia kenal, lantas memintanya menjadi seorang istri. Apa kabar para mantan Kevin tersebut? Tidakkah dunia akan heboh bahkan mungkin mencelanya, seorang Kevin yang playboy bertekuk lutut hanya pada seorang OB. Bagaimana dengan cit-cita Muna yang ingin menjadi orang sukses, menjadi wanita karier yang anggun dan dewasa dalam konsep pikirannya sendiri? Masa iya, Muna harus buru-buru mengakhiri mimpinya, yang bahkan belum ia usahakan untuk meraihnya, hanya karena mendapat kesempatan di sukai oleh seorang CEO seperti Kevin. Hati kecil Muna berbisik, masih ingin mengejar mimpinya. Dan percaya jika Kevin jodohnya, maka Tuhan akan mengatur semuanya dengan indah.


Waktu telah menunjukan pukul satu siang, Kevin belum menunjukkan batang hidungnya kembali ke perusahan. Benar saja saat ia pamit pada Muna, jika ia tidak makan siang di kantor.


"Bang... ude makan?" iseng Muna mengirim pesan teks pada Kevin yang berada di luar kantor.


"Iya, sudah ini baru selesai makan. Sudah mau kembali kekantor Mae."


"Muna ijin ke pasar boleh? Mo' belanje stok pantry ye."


"Boleh... sama siapa?"


"Sendiri."


"Tunggu abang saja. Sorean ya, kita belanjanya."


"Muna ame Siska aje deh."


"Jangan, sama abang aja. Kita lama ga jalan berdua."

__ADS_1


"Perasaan kalo abang di sini, berdua terus deh."


"Perasaanmu saja."


"Ye ude, Muna tunggu abang aje." Muna mengalah untuk menunggu Kevin yang katanya mau ikut menemaninya berbelanja keperluan stok bahan makanan di pantry.


Jika melihat aktivitas dan kedekatan mereka, seolah mereka sudah seperti suami istri yang saling melayani dan mendengarkan satu sama lain. Hanya tinggalnya saja yang terpisah, dan itu karena Muna yang mengukur waktu.


Muna berjalan gontai keluar dan menuju ke pantry, untuk mencari tempat nyaman menunggu Kevin.


Tik


Tak


Tik


Tak


Suara khas sepatu wanita berhak tinggi menerpa indra dengar Muna, membuatnya seketika menoleh ke asal suara langkah kaki yang terdengar beraturan serta tegas di belakangnya.


Muna buru-buru menganggukan kepalanya tanda hormat kepada wanita itu, yang samar-samar seperti pernah ia lihat tetapi lupa dimana.


Wanita itu hanya tersenyum smrik melihat anggukan hormat Muna di depannya, dan tetap dengan angkuhnya melangkah memasuki ruangan Kevin dengan penuh percaya diri, bahkan tanpa mengetuk pintu tersebut.


Muna hanya mengangkat kedua alisnya, dan menggendikkan bahunya, kemudian berbalik meneruskan tujuannya semula yaitu ruang pantry.


"Heeii.. OB!!!" Muna mendengar nama profesinya di sebut seseorang, membuatnya kembali meoleh ke asal suara.


"Kamu OB... kan? Mana Pak Bos mu, Kevin Sebastian Mahesa?" tanyanya dengan nada suara yang sangat tidak bersahabat.


"Oh... tuan Kevin belum pulang meeting di luar perusahaan Bu."


"Bu...Bu. NYONYA!!!" Hardiknya.


Kemudian berkata lagi "Hm...secepatnya. Paling lambat 30 menit lagi antarkan saya jus alpukat, tanpa gula." Perintahnya masih dengan suara ketus.


"Baik nyonya, akan aye antarkan segera." jawab Muna penuh hormat. Sambil memutar otak, kemana harus mencari buah alpukat, sebab stok di pantry benar-benat tidak ada.

__ADS_1


Wanita itu sudah masuk kembali keruangan Kevin, sedangkan Muna memilih pergi ke lantai 15 untuk mencari pesanan wanita tadi.


Diperjalanan menuju lantai 15 Muna berpaapsan dengan Siska, dan mengajaknya ikut serta menemaninya, karena pekerjaan Siska pun sudah selesai.


"Muna... setelah tinggal di rumah mu. Aku benar-benar bisa lebih mengirit pengeluaranklu, terutama soal keuangan untuk makan. Bagaimana kalau kamu temani aku pulang ke Banten di akhir minggu. Aku kangen dengan orang tuaku, dan juga merasa bersalah karena kepergianku kemarin." Curhat Siska pada Muna saat mereka berjalan beriringan menuju kantin.


"Waah, ide bagus itu Sis. Aye seneng banget. Ntar kite pamit ame nyak babe dulu ye Sis. Kire-kira kite pergi jumat balik lagi minggu cukup kagak waktunye...?" tanya Muna bersemangat.


"Wah, cukup banget. Jakarta Banten mah, kurang lebih dua sampai tiga jam saja Mun, kita bisa pake kereta atau bis."


"Asyiiik... anggep aje kite liburan tips-tipis ye Sis. Aye tuh kagak pernah jalan jauh-jauh macam ituh. Kagak ade tujuannye."


"Naah... pas bener tuh. Sekalian aku mau pamit baik-baik pada kedua orang tuaku."


"Akuuur dah. Semoge babe ijinin ye Sis."


"Sama pacar mu , jangan lupa pamit juga Mun. Ntar malah dia yang lebih cerewet daripada babe. Ga asyik jadinya perjalanan kita." Ungkap Siska jujur.


"Iye... ntar aku ijin ame abang juge." Jawab Muna yang kini sudah menenteng jus alpukat tanpa gula sesuai pesanan wanita yang ia sendiri tidak kenal itu siapa.


Siska dan Muna sudah kembali ke lantai 37. Siska terus melangkah menuju pantry. Sedangkan Muna terhenti di depan pintu ruangan Kevin yang tampak tidak tertutup rapat


Mengetuk sebentar, lalu tanpa aba-aba dari dalam Muna langsung masuk ke ruangan tersebut sambil berkata.


"Jus alpukat pesanan Nyonya tibaa" Ucap Muna melambat saat matanya di suguhkan sebuah pemandangan yang membuat hatinya sedikit goncang.


Kevin sudah berada diruangan itu, dimana posisinya dengan wanita itu saling berhadapan, sangat dekat dan tangan Kevin menempel pada perut wanita yang minta di panggil nyonya tadi.


Bersambung...


Jangan lupa ngopi ya mpok.


Ingat hidup kagak cuma manis tapi pait juge πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Lopeh-lopeh buat semua


β€οΈβ€οΈβ€οΈπŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2