
Kevin menutup kembali pintu apartemennya, setelah memastikan Muna sudah benar pulang dari sana.
Menghadap nasi lembek dan semangkuk sop yang sudah di siapkan Prety untuknya di atas meja makan.
Hubungan Prety dan Kevin, tidak jauh berbeda dengan Ferdy. Mereka sepupu yang sangat akrab dan kental. Sebab didikan mama dan mami mereka memang demikian. Hanya prilaku Diendra Mahesa, papi Kevin lah, sehingga terjadi pergeseran sikap Kevin, yang seolah tak berprikemanusiaan.
"Kak...,
Muna beneran cuma OB?"
"Iya...,
kalo ga percaya tanya Ferdy deh."
"Kok bisa...? Cantik gitu. Nyamar kali kak."
Kevin menghentikan kunyahannya, mendengar penuturan Prety.
"Nyamar...??? Emang tujuannya apa, pakai nyamar segala?"
"Ya... kakak kan CEO. Kaya, mapan, tampan masih muda juga. Kasih tunjuk buat Pre, satu cewek yang ga tergila-gila mau memiliki kakak beserta seluruh harta kakak. Jadi, mungkin saja Muna salah satu dari wanita yang ngejar harta kakak."
Kevin tersenyum kecut dengan mendengar kalimat demi kalimat yang Prety sampaikan.
"Iya...awalnya kakak juga mikirnya gitu. Apa lagi waktu pertama kali ketemu, hari pertama dia bekerja kurang lebih 3 bulan yang lalu. Dia datang dengan lensa mata biru. Kakak illfeel dong sama dia. Tapi..., menurut Prety. Apa ada cewek yang tahan berakting selama itu?"
"Maksud kakak?"
"Jadi, sejak itu kakak sering kasih dia duit buat beli atau nyiapakan makan buat kakak di kantor. Tapi... bukannya uang kakak yang di keruk. Justru uang dia yang kepake buat beli-beli bahan makanan."
"Ya... mungkin dia emang wanita tahan uji kak. Belum ketahuan belangnya aja kali."
"Itu satu bulan Pre. Selanjutnya, kakak kasih 1 kartu kakak ke dia." Kevin berjalan meningkalkan Prety sendiri masih di atas meja makan.
Lalu menyodorkan sebuah ponsel kecil pada Prety.
"Nih... laporan penarikan Muna selama 2 bulan ngatur makanku."
"Irit banget sih dia."
"Menurutmu...apa iya dia hanya nyamar?" Kevin balik bertanya pada Prety yang terlihat bingung.
"Iya juga sih. Tapi kakak gimana sama dia...maksud Pre, hati kakak?"
"Pre... kamu tau sendiri bagaimana kecewanya kakak dengan wanita."
"Jadi... kakak masih mau main-main saja sama Muna?"
"Ga tau juga sih Pre. Sejak di layani Muna. Kakak ngerasa kayak di perhatiin mami. Masakan Muna enak, hanya..., mulutnya. Suka blak-blakan kalo ngomong. Itu aja bedanya sama mami."
"Intinya aja. Muna sudah bisa mengubah pandangan kakak terhadap wanita? Semoga Muna aslinya baik ya. Tidak seperti yang kakak takutkan selama ini ya kak."
Kevin menghela nafas dengan berat.
__ADS_1
"Jujur Pre, kakak belum yakin."
"Pre boleh saran ga kak?"
"Apa?"
"Bukan saran sih... lebih ke meminta."
"Apa...?"
"Mainin ceweknya di kurangin. Ga baik untuk kesehatan kakak."
Kevin mengelus sayang rambut Pre. Pertanda berusaha akan mengikuti saran adik kesayangannya, walau hanya sepupu.
"Muna... kayaknya masih muda ya kak?"
"Bocah itu... baru lulus SMA." Jawab Kevin tersenyum senang.
"Masa...udah gape banget masak-masak gitu? Umur segitu, Pre masih bisa di suapin mama lho kak."
"Makanya... kayaknya itu yang bisa buat pandangan kakak geser tentang cewek Pre."
"Cantik...trampil, muda. Pasti masih ori. Kalo serius...jangan di obok-obok ya kak. Kasian masih rentan usianya, kalo kakak rusak."
"Iya ibu dokter bawel." Jawab Kevin sambil mendusel kepala Prety.
"Muna udah di rumah?" Ketik Kevin memastikan posisi Muna.
"Udah."
"Obatnya udah di minum?"
"Udah juga."
Tidak di balas oleh Muna.
"Tapi masih sakit Mun."
"Apanya lagi yang sakit?"
"Hatiku."
"Ke RS gih, sekalian periksa lengkap. Kali emang ada penyakit akut."
"Liat nih Pre..., ini bocah susah di gombalin." Tunjuk Kevin pada Prety yang sudah tampak siap-siap untuk pulang.
"Tapi... Pre rasa. Dia tulus kok perhatian sama kakak. Di jaga, jangan sampe lepas. Susah dapat model beginian."
"Serius... kalian ga malu punya ipar OB...?" pertanyaan sama yang Kevin lontarkan pada Ferdy.
"Kenapa malu? OB juga manusia. Kalo kakak malu, berentiin dia jadi OB. Sekolahin deh, sampe jadi apa gitu. Beres."
"Iya juga ya Pre."
__ADS_1
"Ya udah... obat jangan telat ya kakakku sayang. Pre pulang dulu. Ingat Muna jangan di obok-obok."
"Ha...ha..ha. Semoga. Kalo dia nya mau. Kakak bisa apa?"
"Hush... jangan ngaco."
"Iya...doakan yang terbaik ya Pre. terima kasih untuk semuanya. Hati-hati di jalan."
"Siap kaka"
Tersisalah Kevin sendiri dalam ruang kotak di sana. Menatap nanar pada dinding kamar.
Kevin mengakui, sesungguhnya ia pun lelah hidup menyendiri. Tidak ada tempat untuk berbagi. Mengharap Ferdy tentu tidak seperti dulu lagi, sebab ia telah memiliki tanggung jawab pada anak dan istri. Berharap Prety dapat di andalkan minimal, untuk memperhatikan kesehatannya secara rutin, pun kadang datang di saat ia telah parah.
Sementara para wanita-wanita yang tampak berganti-ganti pun, tentu selalu mengharap imbalan dan bayaran.
Kevin memijat keningnya sendiri, pikiranya melayang, terbayang pada sosok seorang Muna. Walau Kevin dan Prety akhirnya mendapat kesimpulan bahwa Muna orang baik-baik.
Namun, Kevin tertarik dengan kata menyamar. Kevin merasa perlu untuk mencari tau siapa Muna sesungguhnya. Demi mendapatkan suatu kebenaran, sebelum hati dan pikirannya di landa sesuatu yang mungkin akan membuatnya terluka atau terlena.
Kevin seolah masih dalam mimpinya, melangkah dengan mata yang setengah terpejam. Karena kantuknya masih sangat terasa. Namun, siapa lagi yang bisa membukakan pintu apartemennya, selain dirinya sendiri. Ketika pintu itu terdengar meronta meminta untuk di buka.
"Pagi banget Mun. Belum jam 6 ini." Celetuk Kevin yang masih bermuka bantal, menghadap Muna yang sudah tampak rapi, siap berangkat ke kantor.
"Muna kagak mau terlambat sampai kantor Bang. Ini, telor rebus sama sayur di tumis dikit banget dah minyaknya. Semoga ga membuat lambungnya sakit lagi, yang penting itu kagak pake cabe." Muna masih berdiri di depan pintu dan terlihat tidak ingin masuk.
"Masuk bentar lah Mun, ada yang mau abang tanyakan." Kevin berkata sambil melangkah meletakan ransum dari Muna untuk di letakan ke atas meja makannya.
Muna beringsut masuk, 5 langkah kedalam. Tapi masih dalam posisi berdiri dan tampak tidak berniat untuk duduk.
"Duduk dulu lah Mun, kamu ga berniat buat kan aku teh atau kopi panas dulu gitu?" Pinta Kevin terdengar mengada-ada agar Muna bisa lebih lama di sana.
"Ya udah, abang Muna buatkan teh manis aja ya." Jawab Muna yang langsung berjalan ke arah dapur itu untuk membuatkan Kevin teh manis.
Kevin membasuh wajahnya, dan berkumur di wastafel sekitar dapur. Kemudian duduk manis di meja makan, menunggu muna selesai menyeduhkan teh untuknya.
"Muna... kok masih pake lensa yang warna biru. Itu warna kesukaan mu?" tanya Kevin yang kini memandang dalam pada netra biru di depanya.
"Maaf bang. Muna lupa pake yang hitam" Jawab Muna gelagapan.
"Lupa pake yang hitam? maksudnya?"
"Ini biji mata asli Muna, abang. Dan selama ini, Muna tersiksa jika ketemu abang harus pake kontak lensa. Mata Muna sering perih karena iritasi." Akhirnya Muna memilih jujur pada Kevin.
Bersambung...
#Sama Mun.
Nyak Otor juga memilih untuk jujur ama mpok-mpok readerkuh
Ngarep banget cerita ini bakalan di boomlike n komen yang lucu sebagai penyemangatku
πππ
__ADS_1