OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 132 : KETETAPAN TUHAN


__ADS_3

Muna mengerjabkan kedua bola matanya. Entah sudah berapa jam berlalu yang ia gunakan untuk tidur bagai orang mati.


Sekujur tubuhnya masih limbung dan terasa remuk redam. Di tambah lagi, ia merasakan sesuatu yang basah mengalir dari inti tubuhnya, sepertinya tamu bulanannya datang ikut memeriahkan dan menyempurnakan turunnya imun tubuh Muna. Yang kini di rasakannya sedikit membuat suhu tubuhnya naik dari sebelumnya.


Muna terlonjak kaget saat sadar perutnya lapar dan melongo memandang penujuk waktu. Menyadari senja bahkan telah datang menghampirinya.


Pelan-pelan Muna beringsut bangun. Untuk mencari ambu dan Asep yang mungkin sudah datang dari kantor.


Dan tentu saja tujuan Muna adalah untuk meminjam ponsel Asep untuk menghubungi Kevin atau babe yang pasti sudah sangat mencemaskannya.


"Neng gelis teh, sudah bangun. Hayuk makan lagi atuh. Ambu sudah buatkan sup untuk menghangatkan tubuh neng gelis." Ujar ambu antusias.


"Kagak use di angetin ambu. Ini aje badan Muna sudah panas semua." Jawab Muna melangkah dengan sedikit tertatih dan lemah.


Ambu memandang wajah pucat dan bibir yang sangat memarah di depannya. Meraba keningnya, leher juga tangan Muna dengan punggung tangannya.


"Astafirulahalazim. Neng gelis teh demam." kejut ambu tak karuan.


"A' Sep mana ambu? Muna mau pinjam ponselnya." Muna masih berkeras untuk menghubungi Kevin dan babe.


"A' Asep teh tadi sudah pulang. Waktu eneng gelis masih tidur. Lalu A'a teh pamit lagi. Katanya ada dinas luar ka Jakarta. sampai hari Jumat." Terang ambu terdengar polos.


"Apa... ke Jakarta? Kenapa ga bangunin Muna, ambu. Muna juga mau pulang ke Jakarta." Sedih Muna menyadari kebodohannya yang tidur seperti kebo.


"Maaf. Ambu teh tidak tega kitu bangunin neng gelis mah. Sebab nyenyak pisan." Muna cemberut mendengar penjelasan ambu.


Ingin marah tapi tak mampu. Siapalah dia yang hanya orang numpang bahkan sudah di tolong dengan baik oleh keluarga ini.

__ADS_1


Muna memilih patuh. Duduk kembali di kursi pada meja makan di hadapannya. Muna sedikit berpikir bahwa ia harus sembuh dan pulih dulu. Agar bisa dengan mudah untuk pulang ke Jakarta.


Jangankan uang dan ponsel bahkan KTPnya pun ikut raib entah kemana. Hal itu tentu menyulitkan Muna untuk pergi kemana saja dalan waktu dekat. Kecuali meminta bantuan Asep kembali.


"Ambu..., ini di daerah mana?" Muna baru sadar penasaran di mana kini ia berada.


"Kita teh sakarang tinggal di desa Cijereh, Kecamatan Bandung Kulon. Jakarta mah deket atuh neng, paling 2 jam dari sini sudah sampai. Tapi jika ambu boleh meminta, sebaiknya neng Muna teh tinggal di rumah ambu dulu, setidaknya sampai neng Muna benar sembuh. Jumat nanti a' Asep juga datang. A' Asep pasti bisa antrin neng Muna ka Jakarta. Bisa di laju dengan sepeda motornya A' Asep nya." Pinta ambu dengan pelan.


"Tapi..., Muna setidaknya harus memberi kabar untuk orang tua Muna yang sekarang sedang sakit setelah kecelakaan lalu lintas ambu. Dan sebenarnya sabtu besok Muna harus menikah." Sedih Muna jelas terpancar di sorot matanya yang sendu.


"Maaf neng Muna, ambu teh orang tua yang sedikit kolot. Sehingga tidak paham menggunakan telepon genggam. Ambu terlalu di manjakan oleh a' Asep jadi, ambu teh taunya di rumah saja." Terang ambu dengan penuh kesungguhan.


"Padahal a' Asep sering kesulitan dan sudah sering ingin memberikan benda itu pada ambu. Tetapi ambu mah ... susah mengerti. Otak ambu teh sudah sulit menerima palajaran baru. Ambu mah taunya cuma masak, siram-siram bunga, dan bersih-bersih rumah saja. Ka pasar saja, semua a'Asep yang ngerjakan. Ambu mah taunya di rumah teing." Lanjutnya lagi.


Muna terlihat masih berpikir. Hati anak mana yang tak resah setelah hampir 48 jam terpisah dari oarang tua yang merawatnya selama ini. Walaupun baru kemarin ia di hadapkan kada kenyataan bahwa ia hanya anak pungut. Dan hal itu belum sempat ia konfirmasikan dengan kedua orang tua yang di rasakannya sangat menyayanginya tersebut.


"Allahuakbar... masih bolekah aye meminta dan berharapp dapat kembali bertemu nyak, babe juga abang Kevin. Apa salah dan dosa hambamu ini ya Allah. Begitu besar aral rintang yang harus aye hadapi. Aye nyerah Allah, aye kagak sanggup lagi. Namun, Engkau ya Allah maha pengatur segala waktu, Engkau pemilik kami manusia yang penuh dosa ini. Ajarkan hatiku ikhlas menetima ketetapanmu ya Alla ya rahim, Amin" Batin Muna bermonolog sembari menghapus tetesan kristl bening bergulir ke pipi mulus putih wajah Muna. Saat segala isi hatinya telah ia curahkan pada sang pencipta.


Tempat Muna sekarang memang tempat baru dan asing baginya. Namun ia tak memiliki pilihan lain selain bertahan. Ingin mulai berjalan menuju kota Jakarta, namun ia tak tau arah.


Namun dengan bertanya ia tentu akan bisa berusaha untuk samoai di Jakarta. Tetapi bagaimana dengan kondisi tubuhnya yang ia rasakan semakin lemah dan suhu badan yang memanas ini?


Dan sepertinya ini untuk pertama kalinya Muna merasakan demam dan sakit bahkan sesakit ini. Sehingga ia memutuskan untuk mengikuti saran ambu, bahwa ia akan bertahan di rumah itu. Setidaknya sampai kondisinya pulih dan menunggu Asep kembali dari Jakarta.


Ambu sudah memanggil Eta kembali datang untuk memeriksa keadaannya. Sebab ambu juga khawatir dengan gadis belia berbola mata biru yang menumpang di rumahnya.


Eta kini bahkan sudah membawa beberapa alat medis, bukan hanya berupa obat dan suntikan, kini bahkan Muna di rawat dengan intensif.

__ADS_1


Ada jarum infus yang di tancapkan pada pergelangan tangan kanannya. Untuk benar mempercepat proses penyembuhannya.


Muna tidak memiliki pilihan lain atas segala kebaikan yang ambu berikan padanya. Dalam hatinya hanya mampu bersyukur dapat lolos dari sebuah penculikan yang ia sendiri tidak tau apa modus dan tujuannya. Bahkan kini ia benar di pertemukan dengan orang sebaik ambu dan Asep.


Mungkin salah satu obat yang Eta berikan mengandung obat tidur. Sehingga Muna hanya sempat bangun untuk makan bubur buatan ambu, sisanya ia hanya tidur dan tidur lagi.


Kepalannya terasa berat, selera makannya hilang, berharap cairan infus saja yang membuatnya tetap mampu bertahan.


Maka Muna hanya bisa berdoa dan berharap agar orang-orang yang ia sayangi di Jakarta tidak resah dan khawatir yang berlebihan mencemaskan keadaannya.


Mari tunjukkan padaku, orang sakit mana yang sanggup untuk pulang ke Jakarta dalam kondisi selemah dan sesakit Muna sekarang?


Kesaktian ilmu mana di jaman ini, bisa ke ibu kota negara bahkan dengan tanpa uang sepeserpun,


Muna justru berterima kasih saat sakit ini menderanya, merasa bersyukur mendapat perawatan intensif ini di rumah ambu. Yang walau ia tak kenal, namun sudah melayaninya dengan baik tanpa pamrih.


Muna hanya yakin, ini bagian hidup yang harus ia jalani sesuai ketetapan Tuhannya.


Bersambung...


Keep slow ya readers


Keep Fav


Like, Komen, gift kalian penyemangat yang luar biasa.


Lope se-Indonesia Raya

__ADS_1


😘😘😘


__ADS_2