OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
EKSTRA PART : ABSURD


__ADS_3

Usulan kerjasama dengan Gemini Corps sudah dinyatakan gugur setelah diadakan rapat dengan TIM yang merupakan satu kesatuan dari bidang lainnya. Sebagai pemimpin yang baik, Gilang jelas tidak bisa mempertahankan atau membela ajuan tersebut. Walaupun, misalnya ia ada keinginan untuk menjalin kerjasama tersebut.


Gita sudah kembali bekerja, sudah kembali pada posisinya sebagai sekretaris. Terlebih sekarang Gilanglah Wakil CEO. Tentu saja keduanya terlihat makin lengket kemana-mana dalam urusan menjalankan tugas. Sementara menunggu kabar dari China tentang kesehatan abah Dadang (ceritanya pas Dadang masih koma , ya Gaes). Mereka lumayan sibuk dengan rencana kunker kaji tiru dengan perusahaan besar di Negara Swiss, sesuai dengan rencana Kevin sebelumnya.


Maka, pada saat kabar Dadang sudah membaik. Bukan hanya Keluarga Muna saja uang lega. Tapi para pegawai PT.MK. Farma pun ikut prihatin dan mendoakan kesembuhan mertua CEO mereka tersebut. Sebab hal itu akan mempengaruhi keberangkatan mereka yang jika di runutkan akan di lakukan dalam dua minggu kedepan.


Kurang lebih dua belas hari lamanya Muna dan Kevin berada di China untuk memberi dukungan pada Rona terlebih Dadang. Dan hal itu bukanlah sesuatu yang sia-sia, walaupun mereka tidak pulang beserta Dadang, setidaknya masa kritis itu benar sudah terlewat dan Dadang selamat. Masih diberi kesempatan untuk hidup bersama orang-orang tercinta dan membutuhkan cinta juga perhatiannya.


Kevin memang sudah secara aklamasi di angkat sebagai Wakil Direktur di Hildimar Hospital. Tapi bukan berarti lepas tangan dengan segala urusan di PT.MK. Farma. Sebab bagaimanapun jabatannya sevagai CEO belum sungguh di lepaskan untuk Gilang.


Maka pada 7 hari sebelum keberangkatan Kaji Tiru ke Perusahaan di Swiss, Kevin kembali ke Bandung untuk memastikan personil yang akan berangkat selama kurang lebih 5 hari akan berada di Negara itu.


Sesuai janji Kevin waktu itu, yang berangkat adalah orang-orang yang bisa menjaga attitude yang baik, juga yang memang berkorelasi dengan tujuan keberangkatan mereka tentunya.


Kali ini Haikal yang akhirnya mau turun gunung untuk ikut serta, sebab Sisak jelas tidak bisa mengingat akhir tahun akan ke Korea melanjutkan rencananya dengan Asep, sembari menunggu cuti Asep di setujui. Danu, dan Ninik ikut dari bidang HRD, juga 7 orang lainnya yang kemarin sudah terlebih dahulu lulus seleksi oleh Kevin. Di tambah Gilang dan Gita juga sudah termasuk dalam deretan nama yang akan ikut berangkat.


“Mae… minggu depan karyawan kita akan ke Swiss, kita ikut atau tidak?” Tanya Kevin saat baru saja merebahkan dirinya di kasur sambil memandang Muna memberi ASI langsung pada Naya, untung Naya masih ingat dengan ne nen Muna yang hampir 2 minggu tidak menyusuinya lagi.


“Kita…? Abang aja yang berangkat.”


“Kenapa?”


“Capek pap. Kasian kalau ninggalin Naya lagi. Sudah untung dia masih ingat nyusu. Sempat lama lho dia memandang wajah Muna untuk mastin Muna emaknya atau bukan.” Kisah Muna.


“Masa Mae…?”


“Iya, pap. Kasian anak-anak kita nanti jadi kurang perhatian kita. Papap aja yang berangkat. Oke?”


“Oke siih. Tapi sangunya full ya Mae. Biar di sana ga lapar.” Pinta Kevin.


“Ya Allah… laki aye. Ga usah di bilang juga si otong pan selalu mukbang.”


“Di dalam ya Mae…” rengeknya.


“Bentar… bisa tolong ambil ponsel Muna bang?” Pinta Muna.


“Kenapa?”


“Tolongin aja dulu.”Ulang Muna.

__ADS_1


Kevin patuh lalu menyerahkan ponsel itu pada istrinya.


“Makasih sayang.”


“Sama-sama.” Jawab Kevin yang kemudian meminjam paha Muna untuk di jadikan bantal walau pun hidungnya harus bersusun dengan bamper belakang Naya.


“Mestinya waktu kita di China Muna haid bang. Jadi sekarang sedang subur. Tapi.. siklusnya kok jadi kacau gini yak.” Umpat Muna melihat kalender khususnya untuk memastikan masa subur dan tidak suburnya demi menghindari pemakaian kontrasepsi.


“Jadi gimana? Sarungan lagi?” tanya Kevin minta kepastian.


“Besok ke Obgyn deh, buat mastiin.”


“Mastiin apa? Mae hamil lagi?” Kejut Kevin.


“Ah… masa iya sih. Jangan halu deh pap. Kita kan cuma beberapa kali aja mainnya, setelah Naya ada, sarungan juga kan.”


“Terus ngapain ke obgyn?”


“Ya periksa lah, sekalian konsultasi kenapa Muna ga lancar haidnya, atau pasang KB deh biar pasti keamanannya, kalo di luar abang yang ga puas, kalo sarungan, mumunnya yang ga suka.” Jujur Muna pada suaminya,


“Gimana?” Kekeh Kevin menggoda Muna, yang tampak malu-malu.


“Segitu amat si Mae, takut hamilnya. Punya 6 lagi juga abang masih sanggup kasih makan, kok.”


“Percaya abang sayang, tapi anak ga cuma perlu makan. Tapi didik ahklaknya juga.” Kilah Muna kemudian menepuk pelan kepala Kevin sebab ia akan berdiri untuk meletakkan Naya di dalam boxnya.


“Udah tidur Naya?” Tanya Kevin modus.


“Iya. Misi Muna mau bersih-bersih dulu, ntar lengket susunya jadi bau basi.” Ujar Muna beralih ke kamr mandi.


Kevin membuat suasana kamar mereka agak temaram dari tadi, sedangkan Aydan sudah di kamarnya sendiri setelah Kevin bacakan cerita tadi.


Kemudian giliran Kevin yang menyikat gigi dan membersihkan dirinya setelah Muna keluar toilet itu. Baru saja Muna merebahkan tubuhnya, meluruskan pinggangnya setelah mulai kembali beraktivitas sebagai ibu rumah tangga. Kevin sudah muncul lagi ke sampingnya dengan membawa lotion di tangannya.


“Tumben pegang lotion?” Tanya Muna agak curiga.


“Lama nga punya waktu ngoles ini di punggung Mae.”


“Ini modus baru ye bang?” tuduh Muna pada suaminya.

__ADS_1


“Modus apaan sih. Masa abang perhatiannya hanya saat Mae hamil. Mumpung anak-anak sudah tidur yang. Mae kan capek seharian urus bocil.” Kevin sudah makin dekat tubuh Muna.


“Ya Allah…baik bener laki aye. Melting aye bang.” Kekeh Muna dengan sukarela melepas sendiri dasternya. Sisa daleman berwana gelap, berpasangan. Oh, menggiurkan.


“Yang butuh kasih sayang dan perhatian kan bukan hanya anak-anak kita Mae. Tapi sumbernya ini yang wajib di bahagiakan.” Ujar Kevin melepa pengait kain melintang di punggung Muna dan mulai mengusap punggung mulus istrinya.


“Abang yakin setelah ini ga minta imbalan?” Tanya Muna memastikan jika yang suaminya lakukan sekarang bukan modus.


“Bisa ga Mae, sehari aja ga sudzon sama suami sendiri. Tapi, jika itu memang selalu di tuduhkan ke abang, timbang di fitnah ya udah ntar setelah ini abang lansung ga kasih ampun sampai pagi.” Kekeh Kevin, yang sebenarnya memang modus lah, mijet mijet plus plus.


“Bang…” rengek Muna


“Hmm…”


“Ada yang horror tapi bukan Film”


“Apaan?”


“Ancaman abang lah.”


“Ya gimana lagi Mae. Abang di curigai modus melulu oleh Mae.”


“Ya abang mesum terus.”


“Mau gimana juga sih mae. Kondisinya udah kayak gini.”


“Kondisi appan siih? Absurd deh.” Heran Muna pada obrolan unfaedah mereka berdua dari tadi.


“Ada yang tegak Mae, tapi bukan keadilan.” Bisiknya merayap di atas tubuh tengkurep Muna.


“Apaan?” Muna meremang, bergidik tersadar bahwa tubuh Kevin sudah di atas tubuhnya.


“Otong, Mae.” Kekeh Kevin dapat jackpot malam ini.


Bersambung…


Haloow readers kali masih ada yang kuangen sama Kevin dan Muna


Mereka pasti akan masih selalu ada di mari yeee

__ADS_1


Semoga syukkkaaaa🤭😘


__ADS_2