OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 219 : TAMU DI MALAM MINGGU


__ADS_3

Siska menatap Daren serius sambil tersenyum, jika ia yang akan menceritakan pertemuan Daren dan Zahra.


"Udah Sis, cerita aja." Pinta Daren lagi pada Siska.


"Ga ada yang istimewa sih sebenernya. Kak Daren melihat kak Zahra pertama kali itu di Jabal Rahma. Selesai doa gitu. Lewat deh cewek cantik ini. Dan berdebar, berdenyutlah jantung si kakak Daren. Udah gitu aja, ceritanya."


"Hah... cerita apaan? bukannya itu baru sinopsis?" Muna kecewa dan merasa tidak puas.


"Makan Mae... sebanyak apa Mae nelan cerita Siska, ga bakalan bikin bini abang kenyang lho." Kevin sudah menjejal makanan ke mulut Muna.


"Habis penasaran, di tanya gimana proses jadiannya yang di ceritain awal pertemuan saja." Kilah Muna.


"Bentar Mun... tadi kan cuma prolog. Masa langsung isi sih."


"Si Mae kan memang begitu Sis... mau yang cepet gitu." Goda Kevin.


"Aaabaang..." panggil Muna tapi lembut tidak seperti biasa.


"Lagian kamu Ren. Kenapa juga harus Siska yang menceritakan kronologisnya sih?"


"Ya karena memang Siska yang banyak bantu."


"Maksudnya?" Kevin tiba-tiba kepo.


"Kak Daren ternyata aslinya pemalu pa. Saking terpesonanya, cari no ponsel Kak Zahra aja buntu. Makanya kemarin pas Siska masih kerja di perusahaan, kak Daren ngintilin Siska karena pernah liat aku bicara sama kak Zahra. Jadi terpaksa aku yang sibuk cari info tentang Cut Zahra ini. Syukurnya lagi targetnya matuk. Jadi ga sia-sia perjuangan kami."


"Matuk... ayam kali." Kekeh Muna


"Hah..? pemalu? Malu-maluin kamu Ren. Masa anak Diendra Mahesa malu nge-deketin cewek. Yang ada tuh cewek yang bahagia di deketin keturunan Mahesa." Kekeh Kevin meledek. Muna mencubit kecil perut suaminya, tercium aroma sombong di dalam ucapan itu.


"Daren jangan bilang kamu baru jatuh cinta sama Zahra aja?" celetuk Muna.


"Ya memang gitu deh..." Jawab Daren memandang mesra pada Zahra.


"Iish..., kok beda ya sama abangnya" Ledek Muna menyenggol Kevin.


"Mae..."


"Yee... kan bener. Masa Daren ga tau, dulu abang ke gimana punya banyak cewek." Terus Muna sambil memegang tangan Kevin.


"Tau dong, rahasia umum gitu." Jawab Daren sambil menahan tawanya.


"Eeh... Daren. Mending banyak punya cewe sebelum nikah tau ga, dari pada setelah nikah." Kevin menepuk-nepuk tangan Muna yang tertumpuk di atas tangannya.


"Kak Muna ga masalah, kak Kevin dulu banyak ceweknya?" kepo Daren akrab.

__ADS_1


"Ga masalah. Itu kan masa lalu. Yang penting tuh, abang udah pilih Muna lalu kami berkomitmen untuk merawat dan menjaga perasaan cinta kami tanpa batas waktu." Tegas Muna yakin.


Cup


Pipi Muna jadi sasaran kecupan singkat oleh Kevin yang gemesh dengan jawaban Muna.


"Ngamar Mae..." absurd Kevin tanpa malu menggoda Muna.


"Heemmm."


"Zahra... kamu tau. Aku dan Daren ini bersaudara satu ayah tapi beda ibu. Jadi, sekedar info. Kalo papi kami punya dua istri sah, bahkan dulu juga seorang pria yang sulit setia dengan satu wanita. Apakah kamu sudah siap dengan segala konsekunsinya?" tanya Kevin berubah serius.


"Insya Allah, siap kak. Daren juga sudah banyak cerita akan hal itu. Katanya, supaya tidak kaget nanti, juga menghindar jika saja aku akan tau itu dari orang lain." Jawab Zahra dengan sopan.


"Hum... jempol buat kamu Ren. Dalam memulai satu hubungan serius, memang sebaiknya kita jujur saja di awal. Supaya tidak jadi permasalahan di kemudian hari." Kevin menyelipkan nasehat dalam obrolan santai mereka.


"Daren sudah banyak belajar dari pengalaman papi. Daren juga sudah sering melihat airmata mama, saat papi berada dalam gaya hidupnya yang dulu. Karena itu, Daren selalu mikir berkali-kali jika mau pdkt dengan wanita. Antara dua sih, Kevin takut di sakiti juga tak mau menyakiti. Sehingga Daren perlu waktu lama untuk memastikan gadis mana yang benar akan menerima Daren apa adanya." Urai Daren yang memang tidak ingin menyembunyikan apapun dari orang-orang yang ada di atas atap itu.


"Dan Zahra adalah gadis yang sudah bisa menerima kamu apa adanya?" tanya Muna memastikan.


"Sepertinya begitu. Sebab sebelumnya mengira Siska yang bisa terima aku apa adanya, eh. Hatinya sudah di kavling." Seloroh Daren sedikit melucu.


"Kak Daren." Hardik Siska malu.


"Bentar... kenapa ada sedikit warna abu-abu ya di sini. Memang beberapa bulan lalu eh, tahun lalu kali ya, sebelum ada Ay, aku liatnya kalian deket. Tapi, Daren malam ini malah ngenalin Zahra. Terus... hati Siska sudah ada yang kavling. Bisa di perjelas?" Jiwa Muna kembali kepo dong.


"Muna... isya jamaah yuuk." Panggil babe dari dalam rumah.


"Naaah... ada panggilan. Ayo, nanti kita lanjutkan kembali obrolannya." Tukas Kevin.


Lalu mereka semua pun melaksanakan sholat tersebut secara berjamaah. Tak terkecuali Zahra si anak baru. Yang walau terlihat sungkan, namun tetap mengikuti untuk menjalankan kewajibannya tersebut.


"Berkelana memakai kuda,


Jangan lah mau pergi sendiri.


Jika babe boleh bertanya,


Siapa dia si gadis cantik ini?"


"Ada tempe tentu ada tahu.


Kurang satu, ya ga keren.


Sangat boleh lah babe tau.

__ADS_1


Itu si Zahra, calonnya Daren." Jawab Muna membalas pantun sang babe.


"Alhamdulilah. Jika telah memiliki niat baik mesti jangan di tunda ya Ren." tukas babe pada Daren.


"Insya Allah be, doain kami segera dapat restu ya, be?"


"Amin. Babe yang duluan ngerestuim kalian deh. Kalian pan ude dewasa, dalam urusan jatuh cinta tentu kagak kaya jaman masih sekolah pan. Tentu ude saling kenal sifat dan sikap masing-masing. Yang penting kalian saling jujur. Jangan hanya kasih tau yang baik-baiknye aje Ren. Yang pahit juga bilangin ke dia. Bukan berarti buka aib. Hanya, jika calon pasangan sudah tau sejak sekarang, dia masih punya pilihan untuk mementukan mau lanjut atau terus."


"Yeeee.... babe udah kayak lagu Judika aje." Sorak Siska mendadak heboh.


"Siska... ngape elu yang heboh. Kapan giliran elu bawa gacoan? perasaan kemaren-maren masih getol aje ame si Daren, kagak nyesek lo, tiba malam ini Daren ngenalin cewek lain di mari?" nyak Time udah mulai keluar tanduk nih. Walau Siska hanya teman Muna, tapi sungguh mereka menganggap Siska seperti anak mereka sendiri. Sehingga urusan jodohnya Siska pun tak luput dari pantauan mereka.


"Nyesek gimana nyak, orang Siska yang bantu kak Daren bisa jadian ama Zahra." jawab Siska.


"Jiaaah, so pahlawan lu Sis. Pake acara bantu dapetin jodoh orang. Jodoh lu ape kabar?" Kekeh nyak Time mengolok-ngolok.


"Asalamualaikum." Sapa seseorang dari pintu depan rumah, yang isinya masih terdengar heboh itu.


Semua kepala menoleh ke arah pintu depan, ingin segera tau siapa gerangan orang yang bertamu di malam minggu.


"Naah... ini dia nih. Yang juga banyak bantu Daren dapetin info tentang Zahra. Dia dan Siska nyak, yang pontang-panting cari infonya." Celetuk Daren.


"Asep...?" Celos Muna melihat, benar sepupunya yang sedang berdiri sebagai tamu di rumah itu.


"Iya... selamat malam semuanya. Rame ya lagi pada kumpul." Jawab Asep ramah. Jangan tanya gimana senyumnya. Hati nyak author rusuh ni ngebayanginnya. Hanya ngebayang aja udah ngapung lho gaes.


Bersambung...


Oke... menghindar penasaran masal aja. Fix Asep jodohnya Siska.


Gimana kelanjutan dan proses jadiannya.


Sudah nyak siapkan naskahnya untuk di ekstra part.


Akan nyak up di lapak ini.


Setelah kiscin Muna dan Kevin nyak end sebentar lagi.


Semoga masih betah walau mungkin besok ada tanda oren bertulis END di sisi kiri novel nyak.


Tapi percayalah, nyak akan selalu up 2 kali sehari seperti biasa.


Love kalian semua🙏🙏


__ADS_1


__ADS_2