
Kabar berita dari Cina terus mengalir, bahwa kondisi kesehatan Dadang berangsur membaik. Walau belum di lakukan proses transplantasi organ hati. Sebab masih harus melalui berbagai proses dan prosedural.
Hal itu membuat mereka yang di Indonesia tentu merasa tenang. Akan berita tersebut.
"Mae... jabatan Gilang apa sudah waktunya kita sahnkan saja? Tak baik ia selalu di bebankan sebagai Aspri tetapi kerjaan CEO."
"Gimana baiknya saja menurut abang sih. Gilang selama ini cukup profesional menjalankan perusahaan kita. Apalagi waktu hamil Naya. Abang hampir 8 bulan ga turun kerja, tapi perusahaan tetap maju, bahkan pabrik mulai bercabang." Muna menimbang-nimbang.
"Dua minggu lagi mereka akad lho. Berarti sebelum itu saja kita buat acara serah terimanya." Ide Kevin muncul ingin mengangkat sedikit derajat Gilang.
"Okeeeh... jadi sah ya. Kita balik hidup di Jakarta lagi nih pap?" Muna mengalihkan pembicaraan.
"Ya... sepertinya begitu."
"Kemarin Muna ada sempat ngobrol sama Zahra. Soal kak Aydan. Sarannya anak seusia kakak sebaiknya masuk PAUD pap."
"Ya sudah masukkan saja, di mana yang bagus?"
"Rencana Muna siih. Mau masukan di tempat Zahra bekerja saja."
"Bukannya Zahra tidak bekerja Mae?"
"Tidak bekerja bukan berarti pengangguran pap. Dia itu sarjana PAUD, kesehariannya mengabdi pada yayasan sosial yang di gaji dengan swadaya dari yayasan itu untuk menjadi guru di sebuah playgroup."
"Lalu..."
"Yang namanya yayasan sosial dan gaji swadaya tentu saja tidak menguntungkan pihak pengajar. Padahal bermanfaat besar untuk anak didiknya."
"Arah pembicaraan kita kemana nih?"
"Abang mau jadi donatur yayasan tersebut. Agar tempat itu bisa berdiri dan jalan sesuai standart yang memadai?"
"Ooh... ini ngerayu abang ceritanya?" tebak Kevin memahami arah pembicaraan Muna.
"Bisa iya... bisa tidak." Jawab Muna senyum.
Kevin melirik arlojinya menunjukkan pukul 7 malam.
"Naya mana?"
"Sudah tidur dengan bunda Laras."
"Bisa nyenyak sama Laras?" tanya Kevin memastikan.
"Bisa kayaknya, kemaren pas muna lama di rumkit jaga abah. Naya anteng sama bundanya."
"Isyaan Mae." Ajak Kevin yang langsung ke kamar mandi untuk menyucikan dirinya. Akan melaksanakan sholat isya bersama.
Muna dan Kevin sudah melaksanakan sholat bersama, lalu sama-sama turun mencari Aydan yang sedari tadi tidak muncul batang hidungnya.
Baru saja Muna akan mengetuk pintu kamar mereka, Laras keluar. Untuk mengambil stok ASI untuk Naya.
__ADS_1
"Ade sudah tidur bunda?" tanya Muna.
"Sudah bu. Ay juga ketiduran pas lama liat de Naya nge-dot." Jawab Laras.
"Laras... titip anak-anak ya. Saya dan ibu mau keluar. Mungkin besok baru pulang. Tapi, telpon saja ke ponsel ibu jika ada sesuatu yang sifatnya urgent." Ucap Kevin yang langsung memberikan jaket tebal pada Muna.
Muna diam dan sedikit heran, tapi tetap memasang jaket itu. Melihat kode dari suaminya.
Kevin menuntun Muna ke Garasi, sudah ada motor scoppy merah di sana.
"Abaaang... ini motor Muna dulu?" Kejut Muna girang.
"Hmm..."
"Masih bagus bang?"
"Masihlah, kan di rawat terus. Kayak cinta abang ke Muna." Kekeh Kevin so romantis.
Muna langsung naik dengan antusias ke belakang tubuh Kevin, tanpa di perintah tentu saja tangannya sudah melingkar sempurna di perut Kevin.
Kevin sengaja menyandarkan punggungnya supaya lebih nempel di dada berisi milik Muna. Sesekali mengelus kepala lutut dan memijat betis Muna, lalu mengerat jemari tangan Muna, juga sesekali mencium punggung wanita yang sudah melahirkan dua anak untuknya.
"Ternyata kita lama ga kencan ya bang." Teriak Muna di belakang Kevin.
"Suka??''
"Banget." Jawaba Muna semakin menempelkan tubuhnya. Menyandarkan kepalanya pada punggung belakang Kevin. Memejamkan matanya, mengajak pikirannya kembali kemasa indahnya jatuh cinta pada sang CEO dingin, mesum yang kini telah jadi suaminya.
Tapi teka-teki kemana mereka akan mendarat, akhirnya terjawab. Ketika motor itu masuk ke basement sebuah apartemen.
"Huum... sudah Muna duga nih. Abang pasti ajak Muna ke sini." Kekeh Muna melepas helmnya dengan senang.
Kevin tak melepas genggaman tangannya, sampai mereka berjalan melewati para penjaga di depan pun Kevin tidak peduli. Apalagi di dalam Lift, pinggang Muna sudah jadi sasarannya Kevin untuk terus di peluknya dengan posesif.
Keduanya sudah berada dalam ruang persegi, berkamar dua itu. Muna menarik nafas panjang sambil memejamkan matanya. Menghirup aroma ruangan yang sudah sangat lama tidak di hinggapinya.
Ingatan Muna kembali pada masa-masa pendekatannya dulu. Muna pernah beberapa kali memasak di dapur mini itu. Mereka juga pernah bercengkrama di atas sofa tengah ruangan itu.
Muna berlari ke kamar tamu apartemen itu, membuka lemari pakaian. Mengambilnya, meremas dan mencium beberapa pakaian di sana. Pakaian itu adalah pakaian rumahan pertama yang Kevin belikan untuknya, bahkan status mereka belum jadian.
Saat itu hati Muna di serbu jutaan kupu-kupu besamaan dengan auman singa yang menyalak dalam hatinya. Antara ingin memiliki Kevin juga takut di terkam hidup-hidup, waktu itu rasanya seperti dalam kandang singa jantan yang sedang lapar.
"Kenapa sayang?" tanya Kevin memeluk tubuh Muna dari belakang.
"Semuanya masih seperti dulu ye bang?" Kekeh Muna.
"Semuanya sayang. Susunan perbotannya, pakaianmu, juga hati abang."
"Emang sejak pertama aye ke mari abang ude cinte ame Muna?"
"Belum siih... tapi mulai start. Kalo Mae?"
__ADS_1
"Ude otw waktu itu, cuma sumpah takut abang mesum." jujur Muna.
Kevin menggendong tubuh Muna ke kamarnya. Lalu meletakkannya dengan pelan di atas tempat tidurnya.
"Mae... biar abang di cap mesum. Tapi., sadar ga. Ini tuh pertama kalinya lho Mae masuk kamar abang. Bener ga?" Ujar Kevin yang memilih tidur di samping Muna dengan posisi telentang memandang langit-langit kamarnya.
"Iya juga bang. Muna paling sampe sofa. Masuk kamar, sholat juga di kamar sebelah." Muna memutar tubuhnya menghadap Kevin dengan menyandarkan dagu dengan telapak tangan yang bertiang sikunya.
"Jadi... abang bener mesumin Mae ga?" tanya Kevin memandang Muna.
"Kaga bang." Senyum Muna.
"Artinya... abang tepat janji kan. Beneran cinta sama Mae, dan ga mau ngerusak Mae sebelum waktunya."
"Iye... makasiih laki aye. Makin sayang deh sama papap Ay dan Nay."
"Sama-sama cintaku." Jawab Kevin ikut memutar tubuhnya memposisikan sama dengan Muna berhadapan.
"Tadi di rumah minta abang jadi apa?"
"Oh... iya. Jadi donatur buatkan tempat PAUD yang."
"Coba minta dengan benar, ajukan proposalnya dengan baik."
"Harus gitu mintanya, pake berkas juga?"
"Yang profesional donk."
"Ya kalo profesional ga di tempat tidur juga yang."
"Laah... kan mintanya sama laki sendiri. Ya di sini tempat nego anti gagal lho Mae."
"Ha...ha...haa... Modus abang ah. Bilang aja mau unboxing part berapa sih... ketiga ya...?"
"Nah tu pinter. Otong kangen mumun, Mae. Lama puasa, beban kerja tambah kesian kan."
"Ada bawa sarung ga...?"
"Ada dong... kan emang sudah niat mau di sini. Nih... banyakkan?" Tunjuk Kevin pada sebuah box kecil berisi bungkusan es kero.
"Waaaw banyak banget. Beli baru atau sisa jaman ka...?" Muna belum selesai melanjutkan kecurigaannya. Mulutnya sudah di bekap saja oleh buasnya terkaman bibir Kevin.
Yang puasa bukan hanya Kevin, Muna juga. Jadi, wajar saja serangan Kevin tidak ada perlawanan. Yang ada hanya erangan-erangan ero tis, yang mengguar seantero kamar tersebut.
Bersambung...
Traveling sendiri yaa...
Nyak lelah ngetik
Happy Reading semua🤭🙏
__ADS_1