OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
EKSTRA PART : MAU PINTU AJAIB


__ADS_3

Gemuruh dada Gilang dan Gita sama sama mengamuk, berdebar tak sesuai ritme. Jantung mereka berloncatan mirip mainan jungkat jungkit, di mana tiap tekanan akan menghasilkan gaya yang berubah-ubah.


Keduanya memilih menghentikan cumbuan itu, setelah sadar bahkan pakaian Gita bagian atas sudah awut-awutan oleh ulah satu tangan Gilang saja, apalagi dua.


Gilang makin tak sanggup merasakan benda bergantung milik Gita di buat makin nempel di dadanya. Tangan Gita justru lebih membuatnya puyeng, sebab serasa sengaja mengantarkan kepalanya malah memgendus permukaan kulit dadanya. Yaah.. nambah satu lagi deh, jejak cinta kemerahannya.


"Ya Allah neng, untung kita udah halal. Ke sininya eneng makin bikin a'a gemes tau ga sih." Kekeh Gilang memperbaiki pakaian Gita yang kancingnya lepas dua.


"A'a juga mainnya alus banget, tetiba dada neng udah bentol-bentol aja oleh A'a." Gita berusaha berdiri melemaskan kakinya.


"Tapi suka kan neng?" tanya Gilang masih memegang pergelangan tangan Gita yang sudah berdiri sempurna di sampingnya.


Akhirnya momen itulah yang Arun tunggu untuk masuk. Horor juga bahkan lebih dari 30 menit Arum menunggu di luar, demi tak ingin melihat adegan mesum sang pengantin baru.


"Teteh... kok lama keluarnya. Ini hampir pukul 12 malam lho." Tegur Gilang pada Arum ketika ada sapaan khas agamanya terdengar di balik pintu.


"Iya... maaf. Ternyata market 24 makin malam makin ramai, teteh lama antri pas mau bayar." Bohong Arum.


"Tapi teteh ga apa-apa kan di jalan?"


"Ga papa Lang. Aman." Jawab Arum yang sudah dapat menguasai dirinya. Malulah sebenarnya Arum, sempat jadi penonton tadi. Membuat ingatannya kembali ke masa indah awal menikah dengan ayah Riswan dan Haniyah. Ya sebab rumah tangganya memang manis, hanya terpisah karena maut.


"Kenapa teteh tidak mau menikah lagi?" tiba-tiba Gilang bertanya.


"Lang... pertanyaanmu aneh. Jadi perawan tanpa tanggungan saja susah laku, apalagi saat jadi janda beranak dua ini. Mana ada pria yang mau, ngajak teteh berbagi beban." Kekeh Arum mengerling ke arah Gilang dan Arum.


"Pasti ada, hanya mungin teteh yang masih pilih-pilih." Jawab Gilang, sedangkan Gita tak berani ikut berkomentar, ia masih baru dan tidak tau bagaimana tipe dan cara pandang kakak iparnya tersebut padanya.

__ADS_1


"Rumah tangga teteh dengan ayah Riswan dulu sangat indah dan manis. Jika teteh menikah lagi, apa teteh bisa dapat yang lebih darinya?" Arum tiba-tiba melow malam itu.


Seketika suasana hening, bagai ada malaikat lewat. Pegangan tangan Gilang pun sontak terlepas oleh tangan Haniyah yang sejak tadi menggenggam.


"Nah... sudah benar kalap tidurnya. Sana cepatlah kalian pulang, bukankan besok sudah harus cepat-cepat terbang ke Swiss?" Arum mengambil kesempatan untuk mengambil alih posisi Gilang yang tak di beri kesempatan untuk jauh dari Haniyah.


Gilang dan Gita sama sama melihat penunjuk waktu, hah. Bahkan kini sudah hampir pukul satu. Dan setelah yakin keadaan Haniyah boleh di tinggal dengan Arum. Keduanya pamit untuk benar pergi dan meninggalkan keponakan Gilang tersebut.


"Hati-hati di jalan ya... pulang bawa keponakan buat teteh." Canda Arum pada Gita. Mereka hanya nyengir kuda, padahal ga ada yang bisa mastikan juga wajah kuda lagi nyengir itu kayak gimana.


"Makasiih ya udah menemani Hani, dan maaf mengganggu." Arum mengantar sampai depan pintu ruang rawat inap itu.


Gilang dan Gita sudah berada di atas kendaraan roda empat yang akan mengantar mereka pulang ke rumah keluarga Mahesa. Tapi Gita merasa perutnya perlu di isi sesuatu yang hangat-hangat.


"A'a... neng kok laper ya?" Gita memegangi perutnya?


"Mie godok kayaknya seger A'a... Gimana?"


"Okee siap. Tapi di mana?" Gilang lupa kalau sekarang mereka di Jakarta bukan Bandung yang sudah Gilang kuasai.


Dengan bantuan google akhirnya pasangan pengantin baru yang harusnya nongkrong di kamar pengantin ini, malah memilih berpelukan dipinggir jalan, sementara menunggu mie godok pesanan mereka di buatkan.


Mereka hanya singgah di gerobakan kaki lima, di mana mereka lihat banyak orang singgah untuk nongkrong menikmati makanan sesuai pesanan. Bagi mereka di mana ada keramaian pasti di situ menyediakan makanan yang enak.


Asap mengepul dari dalam mangkuk, mie pesanan mereka. Mereka hanya memesan satu, agar terasa lebih mesra saat makan hanya sepiring berdua. Beradu garpu saat saling bersuapan tak lupa saling tatap satu sama lain, tanpa perduli dengan suasana kiri dan kanan. Keduanya tampak lupa daratan. Sungguh merasa dunia hanya milik mereka berdua. Kursi Gita pun masih seperti di rumah sakit yaitu paha Gilang.


Ada suara berisik di sekitar mereka, deru motor berseliweran pun tertangkap oleh rungu keduanya. Tapi tetap tidak mereka tanggapi, karena sibuk terhipnotis dengan makanan di depan mereka, juga tatapan penuh cinta antara keduanya. Yang saling mereka lemparkan satu sama lain.

__ADS_1


Sampai ada sepasang sepatu boot safety warna cream berada di dekat kaki mereka, barulah mereka sadar dan mendongak ke arah pemilik sepatu. Maka melongoklah keduanya, ternyata suasana di sekitar mereka sudah sepi mirip kuburan. Bahkan gerobak mie godok tadi sudah raib entah kemana.


"Heeeii... kalian pasangan mesum. Ikut kami ke kantor untuk di bina." Hardik seorang petugas yang berpakaian lengkap satpol PP itu pada Gilang dan Gita.


"Hah...? Pasangan mesum? Kami pasangan halal pak, kami sudah menikah." Tukas Gilang.


"Halaaaaah semua pasangan yang meresahkan masyarakat juga selalu mengaku demikian. Jika maling mengaku, penjara penuh. Cepat giring mereka...!!!" perintah pria berkumis tebal tersebut pada anak buahnya.


Ya Tuhan, bahkan mie godok tadi belum semuanya tandas oleh mereka berdua. Apa kota metropolitas sekejam ini pada pasangan pengantin baru? Seharusnya mereka langsung pulang saja dari rumah sakit tadi, kenapa harus singgah nongkrong demi semangkuk mie godok?


Parahnya pihak satpol PP ingin melepas mereka asalkan dapat menunjukkan identitas mereka, jika di KTP mereka menyatakan Sudah Kawin. Hallooowww apa kabar bahkan status pernikahan mereka belum genap 24 jam, Dukcapil mana yang bisa memproses KTP mereka berdua untuk mengubah status tersebut dengan cepat.


Memalukan, Gilang dan Gita tadi pagi melaksanakan prosesi akad nikah di rumah keluarga Mahesa, acara resepsi pun akan di laksanakan nanti sepulang perjalanan dinas, maka tidak di lakukan acara yang berlebihan, tapi ga harus juga rumah tangga baru ini harus di arak keliling kota dengan mobil satpol PP kan gaes.


Gita hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya. Terlalu surprise acara pernikahan mereka hingga sememalukan ini yang terjadi pada perjalanan kisah hidup rumah tangganya.


"Aa... neng malu a..." rengek Gita pada Gilang.


"Neng... kalo ketemu doraemon. A'a cuma mau minta di kasih pintu ajaib. Biar kita bedua bisa tetiba ada di kamar pengantin kita aja. Sumpah mau ghosting sama eneng aja sekarang." Rutu Gilang yang juga tidak menyangka dunia sebercanda ini pada mereka berdua.


Bersambung...


Boro-boro mau subuhan.


Bisa balik ke rumah dengan cepat saja syukuuuur


🤭🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2