OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
EKSTRA PART : HAMPA UDARA


__ADS_3

Gita benar tidur terlelap setelah di gempur suami yang ternyata lumayan tangguh juga kekuatan nyangkul nyangkul, nyangkul yang dalam. Menanam benih di kebun istri.


"Neng... magrib. Sholat yuk, terus ke rumah ibu." Gilang memukul manja pan tat Gita yang masih belum terpasang apa apa di dalam selimut mereka.


"Heeem..." Dengus Gita agak manja pada suaminya yang selalu mampu menampilkan senyum menawannya pada istri yang masih tampak kelelahan itu.


"Kuat berdiri ga siih tuan putriku?" towelnya pada hidung mancung Gita.


"Kalo ga kuat, a'ayank mau gendong eneng?" goda Gita sok manja.


"Apa sih yang ga buat eneng maaah." Gilang tanpa ba bi bu lagi, menggendong Gita ke kamar mandi area lapangan gagal perang siang tadi. Tapi kali ini tidak ada jadwal peperangan ulang. Sebab adzan magrib udah hampir dempet. Jadi keduanya sungguh hanya mandi kemudian berwudhu untuk menyucikan diri sebelum melaksanakan sholat.


"Masih lemes?" tanya Gilang melihat jalan Gita yang tidak begitu bisa cepat. Saat mereka menuju garasi akan pergi ke rumah ibu Gilang.


"Laper a'..." Jawabnya malu malu.


"Mau makan dulu sebelum ke rumah ibu?" tawar Gilang sangat perhatian.


"Jangan... ibu sudah masak buat kita. Nanti kenyang duluan, ibu kecewa." Cup kening Gita di curi kecup oleh Gilang. Sebab sangat senang memiliki istri yang mengerti menghargai orang tuanya.


"Makasih sudah menghargai ibunya a'a ya neng." Ujar Gilang sembari membukakan pintu untuk istri tercinta. Gita tersenyum tulus pada suaminya


"A'a... nanti ga usah di bukain pintu mobil kalo tiap kita mau ke mana mana, biasa aja perlakukan eneng. Punya tangan ini." Obrolnya ketika mobil mulai bergerak membelah jalan hitam bermarka putih saat guratan senja sudah berangsur hilang berganti kelamnya malam, namun tidaklah suram. Sebab bintang mulai naik berpendar mendekati bulan sang penakluk malam yang tampak mulai muncul bagai clurit, senjaya tradisional Daerah Madura.


Gilang mengangguk sambil mendusel kepala Gita, yang walau terlahir dari keluarga berada namun sungguh tak terbesit sikap sombong dalam dirinya. Hal ini yang membuat Gilang yakin menjadikan Gita sebagai istrinya.


"Om Gilaaaang." Teriak suara centil dari dalam rumah memekik sembari berlari dan melompat ke tubuh Gilang. Siapa? tentu saja Haniyah. Hanya Haniyah yang selalu antusias dan manja seperti itu pada Gilang, tiap kali om kesayangannya itu datang.


"Haniiii. Muuuaaacch." Gilang langsung merangkum tubuh mungil bocah lima tahun itu dalam gendongannya dan mencium pipi mulus kepomakannya dengan sayang. Lalu mencondongkan kepala Haniyah ke arah Gita agar istrinya juga melakukan hal yang sama dengan nya.

__ADS_1


"Sama aunty Gita juga... sayang ya Han..." Pinta Gilang pada Haniyah. Yang langsung patuh memonyongkan mulutnya dan mendarat sempurna di pipi Gita.


"Makasih cantik." Usap Gita pada pucuk kepala Haniyah dengan sayang.


"Assalamualaikum ibu." Salam Gilang dan Gita saat masuk ke dalam rumah ibunya.


"Walaikumsallam. Waah... pengantin baru. Akhirnya datang juga." Peluk Ibu bergantian pada anak dan menantunya saat Haniyah memang sudah turun dari gendongan Gilang tadi.


"Ibu sehat...?" tanya Gita sopan pada ibu mertuanya itu.


"Alhamdulilah sehat nak. Makin sehat lagi saat melihat kalian berdua di rumah ini, dan akan makin sehat jika satu malam saja kalian mau tidur di rumah ibu." Pinta ibu tanpa basa basi.


"Iya deh bu, kami dua malam deh tidur di sini. Ya kan a..." Senggol Gita pada Gilang yang masih tak jauh dari posisinya.


"Benar Lang?" tanya ibu dengan mata berbinar penuh harap.


"Wah... ibu senang sekali mendengarnya. Terima kasih ya." Syukur wanita itu benar benar senang akan keputusan pengantin baru tersebut.


Gita, Gilang dan ibu sudah di panggil Arum menuju meja makan. Sebab sejak tadi pepes ikan mas, sayur asem kacang, jagung dan labu putih. Ada sambal pedas juga di sana. Di lengkapi dengan bala bala khas Bandung ala ibu Gilang. Telah menunggu dan tertata rapi beserta perlengkapan makan yang sudah di siapkan Arum.


Belum duduk Gilang sudah tersenyum sumringah saja melihat menu di atas meja makan ibunya tersebut. Dua tangannya berada di dua pundak kakak perempuannya.


"Heeemm... pasti enak. Makasiih teteh." Ujar Gilang yang sepertinya seleranya sangat di manjakan di rumah sang ibu oleh dua wanita yang sangat menyayanginya tersebut.


Gita tak kalah ngiler, diam diam ia pun takjub sekaligus malu melihat sajian menu makanan lengkap yang ada di meja makan tersebut. Sebab kemampuannya sangat minim dalam hal memasak.


Gilang membalik piring yang ada di depannya kemudian akan membalik piring yang bertelungkup di depan Gita.


Mata ibu Gilang mendelik ke arah Gita, namun mulutnya tidak mengeluarkan kata-kata. Ia terus saja memperhatikan pasangan baru itu. Dan membuang muka saat Gilang memulai interaksi pada Gilang.

__ADS_1


"Eneng nasinya segini cukup?" tanya Gilang yang selama ini memang selalu mendahulukan untuk melayani saat mereka makan berdua.


"Udah... cukup a'. Eneng mau banyakin ikan dan sayurnya aja a." Jawab Gita yang tak sadar ada dua pasang mata melihat itu dengan agak tak senang.


Gilang kemudian mengambil satu mangkuk dan mengisinya dengan sayur asem tadi. Mengambil bagian tengah ikan untuk menghindar banyak duri untuk istri tercinta. Setelah piring Gita beres baru ia mengambil nasi untuknya, dan mulai menikmati makanan favoritnya itu.


"Gimana neng...? masakan teteh dan ibu enak kan neng?" tanya Gilang yang tak sadar jika ibu dan kaka perempuannya masih agak geregetan melihat Gita yang sangat di perlakukan layaknya putri raja oleh Gilang. Hah... apa lagi biasanya Gita malah di suap dan di pangku oleh Gilang bahkan sampai di tangkap SatPol PP karena terlalu asyiik melayani istri.


"Hmm... iya, teh Arum dan ibu jago masak. Makin keder lah Gita, yang cuma bisa ngerebus aer ini." Gita merendah, padahal sedikit demi sedikit sudah mulai belajar memasak dengan Ninik dan Siska saat di kost.


Ibu Gilang hanya tersenyum dengan mengangkat sebelah bibirnya ke atas, semacam tak ikhlas untuk mengukir senyumnya.


"Ga papa... ga jago masak. Yang penting jago melayani suami dengan cara yang lain Ya kan bu..." senggol Gilang pada tangan ibunya yang terlihat pendiam makan bersama malam ini.


"Ya... yang namanya istri itu sudah kodratnya melayani suami bukannya di layani. Sebab tugas suami itu memberi nafkah pada istri juga masih harus berbakti pada ibu yang sudah melahirkannya." Ucap ibu Gilang dengan nada datar, terdengar serous dan sedikit angkuh.


Deg


Jantung Gita melambat berpacu, tiba tiba merasa atmosfir di rumah itu berubah suhu. Seolah barada di ruang hampa udara. Apakah kini rumah itu tak layak ia huni dalam waktu agak banyak.


Bersambung....


Apakah pengantin baru isi dapurnya hanya ada gula?


Merica juga perlu kali ya, biar ada pedes pedesnya dikit


Senin niih


yakin nyak kagak di kasih mawar satu vote🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2