OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
EKSTRA PART : MENYERAH


__ADS_3

Saingan dengan ayam berkokok Gilang sudah bangun dan bersiap pergi ke kantor, dan sebelumnya tentu akan menjemput Gita ke kostnya. Tapi lagi-lagi hanya ada Ninik yang sudah rapi bertengger di depan teras kost, akan pergi ke kantor.


“Pagi Nik.” Sapa Gilang ramah.


“Pagi Pak Wakil CEO. Itu mata apa kantong kresek, hitam banget.” Ledek Ninik yang mehat tampang Gilang mirip hewan panda.


“Temen kamar kamu itu harus bertanggung jawab nih. Mana dia?”


“Bapak lupa? Diakan masih cuti, sepagi ini sudah ngacir bawa kabur motorku.” Kekeh Ninik menunjuk parkiran motor yang sudah kosong.


“Dia kemana?”


“Tanya orangnya dong pak.”


“Udah… ga di balas Nik.” Curhat Gilang lesu.


“Hai… pagi.” Sapa Siska ceria melihat ada Gilang di depan teras kost mereka.


“Pagi juga. Neng Gita masih marah ga ya sama aku…?” Tanya Gilang pada kedua wanita sahabat Gita tersebut.


“Ga tau juga sih. Parah ya Lang…?” Tanya Siska saat akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk sarapan pagi bareng di salah satu tempat sarapan di pinggiran Kota tidak jauh dari kantor mereka.


“Ga tau parah atau ga sih. Akunya ga di kasih kesempatan ngejelasin untuk dia. Belum apa-apa udah mau mikir sendiri dulu katanya, padahalkan mikir sama-sama lebih baik. Dan dengerin dari versi akunya dulu.” Curhat Gilang sungguh-sungguh.


“Iya juga sih ya. Ya udah, mungkin dia sekarang lagi ke rumah pak Kevin. Kamu samperin ke sana deh.” Saran Siska tanpa mau ikut campur dengan masalah mereka.


“Oh iya, nanti jam istirahat makan siang deh aku samperin ke sana.” Putus Gilang sendiri.


Gilang sudah membawakan paket makan siang komplit untuknya dan Gita. Dan setelah ia pastikan lewat Siska, benar saja Gita ada di sana.


ART dirumah Kevin sudah hafal dengan Gilang, tentu saja tidak menaruh curiga atau bingung dengan kedatangan Gilang, sehingga menyilahkan Gilang masuk tanpa hambatan.


“Neng Gita di mana bi?” Tanya Gilang.


“Di kamar atas mas Gilang, langsung ke sana saja. Maaf Bibi lagi ninggalin gorengan ikan.” Ucapnya tergopoh lalu meninggalkan Gilang sendiri di depan pintu.


Agak ragu Gilang memberanikan diri naik ke atas, menuju kamar yang bibi maksud tadi. Memastikan pada kamar mana Gita berada, dan tebakkannya bena. Gita ada di dalam kamar yang tidak tertutup rapat itu.


“Neng…” panggilnya.


“AGii…?” heran Gita melihat makhluk yang di rindukannya itu kini berdiri di depan kamarnya.


“Ngapain?” tanyanya agak ketus.


“Mau makan siang bareng calon istri Neng.” Ucap Gilang komplit dengan senyum manisnya.


Tuh kan, Gita meleleh dong liat senyum pangeran hatinya ini.

__ADS_1


“Di luar aja.” Ajak Gita menuju balkon yang menjulur masih di lantai 2 rumah Kevin tersebut.


Gilang segera mengikuti langkah Gita, kemudian membuka paperbag yang ia bawa. Paket lengkap ya lengkap, sampai minuman mineral pun sudah semua Gilang siapkan untuk mereka berdua. Gita memang sedang menunggu bibi memasak makan siang untuknya, sebab tadi pagi dia tidak sarapan. Buru-buru pergi, takut bertemu dengan Gilang tentunya.


Keduanya makan dalam keadaan tegang, sampai tidak dapat menikmati makanan yang mereka masukan ke mulut masing-masing.


“Terima kasih sudah mau makan bareng a’a ya, Neng.” Ucap Gilang saat menguyah makan di suapan terakhirnya.


Gita menelan salivanya sendiri, malu.


“Terima kasih sudah membawakan makan siang untukku.” Jawab Gita pelan.


“Sama-sama neng.” Jawab Gilang yang selalu manis itu.


Suasana hening, sampah makan mereka pun sudah berhasil Gilang singkirkan. Dan keduanya masih duduk berhadapan di meja persegi empat itu.


“Mikir sendirinya udah neng?” Tanya Gilang pelan.


Gita masih diam, sesungguhnya agak malu. Sebab semalam Siska dan Ninik memang sudah menceramahinya dengan 4 SKS soal cara menghadapi masalah yang sesungguhnya bisa di perkecil bahkan di musnahkan.


“Aslinya kamu sama Risna itu gimana?” Tanya Gita bagai bicara dengan orang lain.


“Panggilannya ga enak di dengar Neng.” Jawab Gilang yang tidak suka Gita menyebutnya dengan kata kamu.


Gita tak bergeming.


“Kapan?”


“4 Tahun yang lalu.”


“Oh.”


“Kok cuma oh sih neng?”


“Terus aku harus bilang wow gitu?” Gita masih ketus.


“Marahnya yang jelas dong Neng.”


“Sudah putus kok masih pegang-pegang.” Gita melempar pandangannya ke luar, tak ingin luluh melihat wajah tampan calon suaminya itu.


“Neng… yang meluk kan dia , bukan A’a. Juga sempet a’a dorong kan.”


“Iya di dorong waktu ada aku, tapi pas berduaan dengannya?? Siapa yang pegang tangan siapa?” dongkol Gita memuncak mengungkapkan masalah sebab kekesalan yang sebenarnya.


“Astagafirullahalazim… neng liat yang di tempat minum? Itu ga bener. A’a kaya pegang tangannya, karena lagi berusaha ngelepasin tangnnya neng.” Jelas Gilang kemudian menarik tangan Gita, tapi di tepis Gita. Dengan gerakan sama seperti yang Gilang lakukan pada Risna.


“Nah.. posisinya lagi kayak gini neng persis. Kayaknya neng liatnya pas lagi gini.” Ucap Gilang memberi penjelasan.

__ADS_1


“Masalah kata kamar kita apaan?” Gita masih belum memulihkan panggilannya pada Gilang dengan sebutan a’a seperti biasanya.


“Kalau itu.. A’a..”


“Kalau itu.. hm.” Gilang mengusap tengkuknya sendiri tak tau harus jawab apa.


“A’a juga ga tau kenapa dia bilang gitu neng.”


“Sedekat apasih hubungan kalian?” Tanya Gita agak tegas.


“Sumpah neng… ga pernah terjadi apa-apa antara kami.”


“Tapi kalian hampir menikah, kalian ngapainn aja di kamar?”


“Neng.. . kami cuma ngobrol biasa ga lebih.”


“Yakin…? Kalian sudah lamaran ya jangan lupa itu.”


“Neng kita juga hampir menikah, dan apa yang sudah pernah kita berdua lakukan di tempat tertutup dan saat hanya berduaan sekalipun? Apakah selama ini A’a pernah melewati batas? Kecuali berciuman?”


Wusssh


Seketika wajah Gita merona memerah, malu jika ingat saat mereka berduaan lidah mereka pernah saling beradu, tapi tidak pernah lebih dari itu.


“Kalau memang masih berat dengannya, silahkan ajak dia saja berijab qobul.” Ucap Gita lirih.


“Neng membangun cinta itu tidak semudah yang neng pikirkan. A’a mencintai neng dan itu adalah keputusan terbaik dan terakhir dalam hidup A’a .”


“Sudah kepada berapa wanita kata itu, kamu umbar?”


“Neng.. pliiis. Bukan hanya telinga a’a yang sakit. Hati a’a lebih ngenes dengar neng, manggil a’a dengan sebutan kamu. Perih neng.” Melas Gilang pada Gita.


Gita masih diam saja. Tau dia sudah sangat telalu tersulut emosi sendiri.


“Katakan dengan jujur, apa a’a hanya cinta sendiri neng?” Tanya Gilang pada Gita dengan tangan yang kembali merayap menggenggam tangan Gita.


“Bertemu dengan neng, telah mampu membuat jiwa a’a tersenyum. Hal itu buat a’a jatuh cinta pada neng tiap hari. Parahnya tidak hanya jatuh, tapi udah nyungsep makin dalam di kolam cintanya neng. Tapi, jika neng sudah tidak bersedia menampung rasa cinta sendiri a’a ini. Ya sudah, terima kasih untuk semuanya. Permisi.” Gilang sudah kehabisan kata-kata untuk meyakinkan Gita yang ternyata sangat keras kepala itu. Memilih pergi mungkin hal yang paling tepat ia lakukan sekarang.


“A’a…”


Berambung…


Jangan nyesel ya Git.


Itu Gilang 30 menit aja pake label SALE, pasti udah di embat readers lhoo


Komen kalian semangatku

__ADS_1


Thx a lot yaa❤️❤️❤️


__ADS_2