OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 179 : BYE BELIA


__ADS_3

Sebenarnya bukan masalah bucin atau Kevin takut istri. Sebab antara takut dan menghargai istri itu samar hampir tak berbeda.


Sehingga Kevin memilih setuju saja untuk mengangkat Gilang sebagai sektetaris barunya memggantikan posisi Belia selama kurang lebih 2 tahun ini.


Bukan karena kinerja Belia, sebab urusan pekerjaan ia selalu berusaha sesempurna mungkin. Namun, karir dan perusahaan yang maju bagi Kevin tidak ada artinya di bandingkan rumah tangga yang selalu adem ayem.


"Selamat siang pa Kevin." Cecar Belia tanpa mengetuk pintu setelah ia melihat daftar pengumanan yang di keluarkan oleh tim HRD. Gerah dong.


"Oh... Iya. Siang Bel." Jawab Kevin ramah seolah sedang tidak mengeluarkan steatmen apa-apa.


"Bisa bapak jelaskan, di mana letak kelemahan saya selama bekerja sebagai sektertaris bapak kurang lebih 2 tahun ini?" Emosi...suara itu terdengar sangat kentara sedang marah dan kesal.


"Tidak. Tidak sama sekali terdapat kelemahanmu selama bekerja." Sahut Kevin datar.


"Lalu... Kenapa saya harus di pindah ke pabrik?" Ketusnya seolah lupa ia sedang berhadapan dengan pemilik perusahaan tempatnya bekerja.


"Karena kesempurnaanmu mengatur semua penjadwalan dan pekerjaanku selama ini, saya merasa hanya kamu yang pantas menjadi kepala bagian di pabrik. Di sana sangat membutuhkan orang sehandal kamu Belia. Tegas, setia dan cerdas." Puji Kevin bermaksud menurunkan tekanan darah lawan bicaranya.


"Tapi kenapa tanpa perundingan sebelumnya denganku. Ini sepihak pa. Saya tidak terima...!!!" Emosinya masih meluap-luap benar lupa jika ia hanya pagawai di perusahaan itu.


"Maaf... Saya merasa tidak berkepentingan berunding dengan pegawai seperti mu." Kevin berucap sambil mengaitkan kedua tangannya bersedepa di depan dadanya


"Lalu... Apakah berunding dengan istri termasuk tindakan profesional??" Ledaknya yang justru menuduh Muna menjadi dalang kepindahan posisinya.


"Saya tidak bermaksud membawa istri dalam hal ini, karena saya tidak pernah membawa urusan kantor ke rumah. Dan urusan rumah ke kantor." Bela Kevin pada ucapannya.


"Lalu mengapa istri bapak harus ikut campur dalam urusan interview kemarin. Istri bapak terlalu lancang." Berang Belia kasar penuh penekanan.


"Oh... Mungkin kamu hanya tidak memperhatikan susunan kedudukan kepegawaian di kantor ini. Ah... Bahkan kamu adalah sekretaris yang sudah 2 tahun bekerja di sini. Kamu tidak teliti, jika Monalisa Hildimar adalah dewan komisaris, pemilik saham terbesar di perusahaan ini, Belia." Jelas Kevin dengan suara penuh penekanan.


Belia terperanjat. Mendadak lupa akan nama itu, yang bahkan selalu di baca dan di perhatikannya di waktu lalu.

__ADS_1


"Begini saja Belia. Kamu terima jabatan baru mu. Atau buat surat pengunduran diri saja. Saya akan tetap berikan dana kompensasi atas keprofesionalan kerja mu selama ini." Tegas Kevin memasang wajah kaku yang sebenarnya.


Tanpa berpikir panjang, Belia justru mengambil pilihan kedua. Yaitu lebih berat dengan pilihan berhenti bekerja saja. Dengan harapan, akan mendapatkan kejaran Kevin, agar memohon padanya, untuk memilih menerima jabatan baru itu.


Ciih siapa dia? Hanya calon hama yang mungkin akan merusak pertumbuhan cinta rumah tangga Kevin dan Muna saja.


"Baiklah, semoga tidak menyesal dengan pilihanmu sendiri. Semoga mendapat pekerjaan di tempat yang baru, juga terima kasih atas kebersamaan selama kurang lebih 2 tahun ini. Bye Belia." Ucap Kevin menjabat tangan Belia.


Kemudian membuka ruang pribadinya, menjemput Muna yang ternyata sedari tadi ada di dalam sana, juga tentu mendengar semua dialog antara suami dan mantan sekretarisnya itu.


Muna hanya mengangguk ramah pada Belia yang masih berdiri mematung dengan wajah merah mirip kepiting rebus. Antara malu, marah juga merasa kalah. Bohong saja dia tidak geregetan dengan istri bosnya itu, yang baginya secara tidak langsung mendepaknya.


Sementara di luar, saat Kevin dan Muna berjalan dengan posisi tangan saling meremas jari jemari dengan gemas satu sama lain.


Sepasang pengantin baru itu berpapasan dengan Gilang, yang ingin menghadap pimpinannya. Sembari ingin mengkonfirmasikan akan kebenaran pengumuman yang baru ia terima.


"Maaf ijin pa, bu. Boleh meminta waktunya sebentar? Ada yang ingin saya tanyakan. Perihal pengumuman hasil tes." Ucap Gilang berhati-hati dengan santun.


Muna dan Kevin bertukar pandang. Seolah ingin memberi arahan selanjutnya. Muna hanya mengangkat bahu, tanda menyerahkan jawaban pada suaminya.


"Cepat katakan hal apa yang ingin kamu sampaikan Gilang."


"Oh... Maaf. Begini pa. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas promosi jabatan yang di percayakan pada saya. Hanya, apa nanti tidak mengundang pro dan kontra, sebab semua orang di kantor ini juga tau. Jika waktu magang saya baru 2 bulan. Itu tidak sesuai juknis pa."


"Benar. Tapi, hasil tes tertulis menyatakan nilaimu yang terbaik." Jawab Kevin


"Iya... Alhamdulilah. Itupun sudah secara jelas di tempelkan. Tetapi, apa tidak bermasalah dengan rekan yang lain. Saya cemas pa, jika dalam menjalani pekerjaan nanti."


"Tidak perlu cemas akan hal yang belum tentu terjadi. Begini saja. Kamu terima kesempatan ini, atau akan tetap menjadi karyawan magang selamanya." Tampaknya Kevin tidak ingin berlama-lama membuang waktunya.


"Tentu saja saya memilih mengambil kesempatan ini pa. Walau mungkin akan sulit untuk saya jalani."

__ADS_1


"Boleh ikut memberi pendapat pa Kevin dan Gilang...?" Sela Muna.


"Iya silahkan." Jawab Kevin seolah berbicara dengan orang lain.


"Gilang. Di sini tugasmu bekerja, mengaplikasikan ilmu yang pernah kamu tuntut selama di bangku kuliah.


Tidak usah perduli dengan komentar miring saat kamu menjalani pekerjaan yang sudah di percayakan padamu. Di kampuspun, tentunya tidak ada mata kuliah yang membahas tentang pendapat orang lain akan pencapaian jabatanmu ini. Semua suara sumbang akan terbungkam dengan sendirinya, saat kinerjamu memuaskan. Buktikan saja kamu mampu bekerja dengan benar, walau terkesan tidak sesuai kriteria peraturan. Dan juga, bukankah kamu sudah bekerja lebih dari setahun di sini?" Panjang lebar Muna ikut menginterogasi Gilang.


"I...iya bu siap." Gugu Gilang takjub dengan jawaban wanita yang beberapa hari lalu ia layani sebagai tamu, yang ternyata adalah istri bosnya juga pemegang saham terbesar di perusahaan tempatnya mencari nafkah ini.


"Terus terang, saya yang merokomendasikan kamu untuk menjadi sekretaris tetap di sini. Tolong, jangan kecewakan saya. Kamu saya beri waktu 3 bulan. Sebagai sekretaris percobaan. Ijin pa Kevin. Untuk menambah 1 sekretaris lagi. Ambil yang nilainya di bawah Gilang. Untuk jaga-jaga, jika Gilang benar tidak bisa menjalankan tugasnya dengan benar. Sekian." Tegas Muna yang tiba-tiba menunjukkan sisi kepemimpinannya bahkan di hadapan suaminya sendiri.


"Siap ibu dewan komisaris yang terhormat." Jawab Kevin patuh, berusaha menenggelamkan keterpanaannya pada sang istri.


"Baik, siap menjalankan amanah yang di percayakan untuk saya bu." Tegas Gilang percaya diri.


"Oh iya... Selama percobaan gajih mu hanya 60%. Untuk itu gigihlah mengejar nominal yang sesungguhnya. Saya yakin kamu bisa."


"Siap... Siap. Terima kasih kepercayaan ibu. Terima kasih pak Kevin."


"Ya sudah, ini bahkan sudah lewat dari 10 menit. Belum apa-apa kamu sudah berani mengganggu waktu saya bersama istri tercinta." Gurau Kevin seraya menautkan tangannya ke pinggang Muna posesif. Kemudian beranjak keluar, meninggalkan ruang rapat. Menyisakan Gilang yang masih terlihat melongo, sekaligus berbulat hati untuk bekerja dengan sungguh.


Bersambung...


Nyak titip pic Gilang ya.


Semoga sesuai ekspektasi para readers tersayang.


Besok senin yaa...


Biasaa nyak maunya di Vote

__ADS_1


Buseeet dah🤭🙏



__ADS_2