
Obrolan serius sudah berakhir dengan sinyal lampu hijau dari Daren.
"Jaga pergaulan sebelum halal ya. Kesucianmu hanya boleh di serahkan pada pria yang tepat. Jika ingin di hormati suami. Istiqoroh." Pesan Daren pada Gita sebelum mereka keluar dari ruang kerja Kevin.
Gita memeluk Daren dengan mata berkaca-kaca. Sungguh ia terharu dengam amanat yang Daren sampaikan padanya.
"Berjuanglah bersama, jangan hanya cinta sendiri." Tepuk Daren pada bahu Gilang. Sangat penuh arti.
Kevin dan Daren ternyata pria-pria yang telah menjadi dewasa. Semua karena memiliki pengalaman dari satu ayah yang sama. Yang banyak memberi pengajaran dari yang buruk hingga yang baik. Kevin bahkan sudah pernah terjun langsung ke lembah dosa nista itu.
Tapi baginya berusaha bangkit, berlari meninggalkan perangai lama adalah satu-satunya prilaku yang tepat untuknya yang kini memiliki tanghung jawab pada istri dan dua anaknya.
Sedangkan Daren, sungguh. Jangankan mempermainkan wanita. Untuk jatuh cinta pun baru sekali ia rasakan, dan itu cukup membuatnya tidak ingin move on. Baginya Zahra sudah lebih dari cukup untuk di ajaknya mengayuh biduk rumah tangganya nanti.
Acara sudah selesai. Sejak dalam kandungan Naya memang sangat super manja. Sukanya hanya nempel dan dalam gendongan Muna saja.
"Jangan di biasain selalu di tangan Mun. Iye kalo lu ada yang nemenin terus. Kalo ga ada, elu sendiri yang berabe."
"Tidur juga bisa lepas nyak."
"Ya iye lah... tapi tuh. Ampe makan aje nyak liatin, elu hampir kaga sempet. Naya, gendong melulu."
"Biarin sampe dia bosan gendongan nyak. Paling pas bisa merangkak ude ga mau di gendong."
"Hmm... Elu udah jadi sarjana pan. Elu kagak mau kerja kayak cita-cita elu dulu?'" nyak Time mengingatkan.
"Iyee nyak. Muna juga masih inget kok cita-cita aye di masa entuh. Tapi pan... Muna sekarang ude jadi emak beranak dua nyak. Ude punya laki juga yang harus kasih ijin, boleh kagak Muna kerja." Jawab Muna yang sudaj lama tidak berbahasa Betawi.
"Iye entuh bener banget sih. Kalo sekarang ye pasti lah Kepin kaga kasih ijin. Tapi entar pasti boleh."
"Kata abang tunggu anak-anak sekolah nyak. Baru Muna bisa kerja, tapi ga sampe sibuk banget juga. Ya dari pade nganggur doang lah."
"Cakeep, artinya kalian emang ude ade bicara ke arah situ ya Mun. Bagus lah. Nyak seneng dengernye. Alhamdulilah, kalian makin lama makin ngarti pan berumah tangga kayak apa." Serius nyak.
"Iye nyak... makasih buat semua ajaran dan didikan nyak babe."
"Udeeh tanggung jawab Mun." Nyak memeluk Muna penuh sayang. Entah siapa yang beruntung di antara mereka. Muna yang memiliki orang tua angkat yang tulus, atau nyak babe yang memang sedang mujur di ijinkan mendidik anak konglomerat yang kesininya tetap humbel.
"Hmmm... ada apa niih. Tumben nyak peluk-pelukan." Celetuk Kevin yang datang membawakan cemilan untuk Muna.
__ADS_1
"Ternyata bener ye bang. Walau serumah juga tetep bisa kengen kalo ude cinta, Muna kira dulu abang cuma ngegombalin Muna. Nih, buktinya Muna kangen di peluk nyak." Jawab Muna sungguh-sungguh.
"Nah kebayang kan, gimana tersiksanya abang waktu kita jauhan." Cium Kevin pada pucuk kepalanya Muna.
"Udee bang, kaga use di bahas. Udah berlalu dengan predikat sangat memuaskan. Makasih laki aye." Kekeh Muna.
"Tadi nyak bahas kerjaan Muna, Pin. Kali lupa cita-cita. Ternyata masih semangat mau kerja, walau nanti tunggu anak kalian udah pada gede."
"Oh iya dong nyak. Muna akan jadi wanita karier. Tunggu sudah punya anak empat nyak."
"Bussseeetth dah. Masa iya anak kalian sebanyak entuh, Pin?"
"Enam deh...."
"Yaaaeeelllaaaaah..."
"Delapan, ok?"
"Lu mau buka cabang pabrik anak Pin?"
"Hahaa...hahaaa... becanda nyak sayang." Peluk Kevin pada nyak yang sejak awal memang sudah di anggapnya pengganti maminya, walau karakter mereka jauh berbeda. Tapi tulus dan pengajaran mereka sama.
"Bagaimana persiapan pernikahan kalian Ren?" tanya papi Diendra lada Daren, sebab mereka memang sedang menikmati suasana kumpul keluarga lengkap.
"80% pi. Semuanya beres. Mulai dari berkas pendaftaran dan lain-lainnya beres. Konsep acara sudah di tangani pihak WO biar ga ribet." Jawab Daren sambil mengelus tangan Zahra.
"Bulan madunya ke mana nih?" tanya Muna yang sudah menitipkan Naya pada Laras. Sebab Aydan sedang asyik dengan babe, engkong kesayangannya.
"Kemana ya...?" tanya Daren ke arah Zahra.
"Terserah." Jawab Zahra yang terkesan pelit bicara.
"Luar negeri atau dalam negeri?" pancing Muna.
"Tergantung donaturnya kali ya." Alis Daren naik turun ke arah Muna memberi kode pada Kevin.
"Iyaa... paham. Ini berlaku untuk semua pasangan pengantin yang nikah sampai akhir tahun ini ya. Ada tiket dan paket honeymoon gratis dari mamamnya Ay dan Naya."
"Yaaah... kok Muna? Kan abang yang kasih ide." Kilah Muna.
__ADS_1
"Oh iya... tabungannya belum banyak ya. Oke.. pilih tempat deh untuk kalian semua Daren, Asep, Gita juga."
"Gita juga? Emang boleh nikah gitu?" pancing Gita yang penasaran respon seluruh keluarga besarnya.
"Eh... ngapain di tunda. Nanti zinah lho." Ledek Kevin ke arah Gita.
"Gita nikah? Sama siapa? si aspri itu?" ketus mama Indira.
"Yang di kenalin kan cuma Gilang. Emang ada pilihan lain?" tanya Kevin ke arah Indira yang sudah memasang wajah tidak suka ke arah Kevin.
"Adalah... itu si Sailendra. Akuntan yang jauh lebih mapan dari asisten pribadimu itu. Dia pasti akan jauh labih baik untuk Gita."
"Kalau belum mapan berarti ga baik?" tanya Kevin berjalan ke arah Indira semakin dekat menatap lekat ibu tirinya tersebut.
"Ya... ga juga. Kalau memang sudah ada yang jadi, buat apa repot-repot harus berjuang dari bawah. Mana mampu Gilang itu ngejar status Gita."
"Oh... penting ya status?" tatapan Kevin makin tajam ke arah Indira. Tanpa berkedip. Mata Kevin makin intens memandang Indira bagai menelanjangi.
Sikap Kevin membuat Indira menciut. Sungguh, sejak menikah dengan Diendra hanya Kevin yang paling ia segani, melebihi Beatrix.
Sejak Kevin duduk di kelas 5 SD, Indira lah yang berani masuk, merusak rumah tangga orang tua Kevin. Tak sekali, Kevin hampir mencelakainya dengan brutal. Hanya karena Beatrix, Kevin tidak sampai melakukan perbuatan anarkis tersebut.
Entah bagaimana cara Beatrix mendidik Kevin, sehingga tangan Kevin tidak pernah ternoda untuk mencelakainya. Tapi tidak dengan tatapannya.
Sejak Kevin bisa memanggilnya mama, tatapan sadis itu sudah tidak pernah terlihat. Tapi tidak dengan malam ini. Sorot mata tajam penuh amarah itu muncul kembali. Dan itu menandakan bahwa Indira tidak boleh membantahnya.
"Abang... kita boboin Ka Ay yuks. Sudah pukul 8 malam, dia pasti sudah ngantuk." Muna menangkap aroma tak sedap saat Indira dan Kevin berdiri berhadapan hampir tak berjarak.
"Kacang... sudah lupa sama kulit ya?" tanya Kevin sebelum meninggalkan perkumpulan obrolan keluarga malam itu.
Indira tak berani menjawab sepatah katapun. Hanya menundukkan kepala, menyembunyikan matanya yang mulai berair.
Bersambung...
Sorry jika ada typo.
Di sempetin nih duble up.
Gift nya jangan lupa.
__ADS_1
Lopeh buat semua❤️