OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 80 : KARENA MUNA


__ADS_3

Kevin sesungguhnya ingin berlama-lama bersama Muna, sungguh kesempatan besar dan langka baginya bisa dekat apalagi di tempat seindah Pantai Anyer. Tetapi Kevin lebih mengutamakan kesehatannya.


Beban tugas yang akan di hadapinya bahkan untuk dua minggu kedepan sudah tersusun dan terjadwal rapi juga padat. Sehingga saat berada dalam kamar penginapan yang ia sewa untuk satu malam itupun, langsung ia gunakan untuk tidur dengan pulasnya.


Muna dan Siska masih sangat betah berada di bibir pantai, menikmati terik matahari juga indahnya pemandangan ombak yang berkejaran. Senyum selalu terkembang dari wajah adik-adik Siska, mereka benar-benar di manjakan untuk merasakan permaian apa saja yang di tawarkan di pantai itu. Jangan tanya apa yang mereka beli, bukan hanya makanan. Sampai pakaian khas pantai yang di jual di area itu pun semua di borong Muna untuk adik, ibu dan juga bapak Siska.


"Muna... cukup. Jangan banyak-banyak belanjanya. Nanti uang mu habis. Dan nanti adik-adikku terbiasa."


"Kagak ape-ape. Timbang aye di marahin pak bos kagak bisa abisin ni duit dalam sehari pan brabe. Udeeh elu sante aje... sesekali nyenengin hati ade-ade lu, hitung-hitung nambah pahala, buat rontokin dosa-dosanye abang juga." Seloroh Muna dengan santainya.


"Assalamualaikum... abang masih tidur ?" chat Muna pada Kevin melihat waktu sudah hampir pukul 3 sore. Adik-adik Siska pun tampak kelelahan dan memilih untuk terlelap bernaung di saung yang mereka sewa, setelah kekenyangan makan dan puas bermain.


"Sudah bangun sayang... ini lagi mau nyusul ke pantai."


"Abang ude makan...?"


"Sendiri sih sudah, disuapin Mae yang belum."


"πŸ™„" Muna hanya membalas dengan emotion.


"Sorean ya abang ke situnya, abang ada urusan sedikit sama bapaknya Siska."


"Iye... hati-hati bang. 😘"


"❀️"


Kevin sedang bersama pak Herman. Untuk menyelesaikan hutang piutang keluarga pak Herman sekeluarga.


Bermula dari obrolan mereka saat di mushola saat melaksanakan sholat subuh tadi.


Entah mengapa, Kevin menangkap sesuatu beban yang sangat berat pada raut wajah ayah dari 4 orang anak tersebut.


Flashback On

__ADS_1


"Maaf ... kata anak saya pak Kevin adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. Apakah itu benar?"


"Tidak begitu pa. Itu perusahaan milik ayah saya, hanya kebetulan sedang di percayakan pada saya, mungkin karena adik-adik saya masih belum berusia dewasa. Jadi saya yang menjalankannya sekarang,"


"Ah, Pak Kevin hanya merendah. Kira-kira orang setua saya ini apakah masih bisa di terima bekerja di perusahaan bapak. Sebab, saya merasa tidak bisa maksimal mencukupi kebutuhan keluarga kami. Hidup kami di lilit hutang yang saya sendiri tidak tau kapan bisa saya bayarkan."


"Maaf pak. Kalau boleh tau, berapa hutang keluarga bapak?"


"Awalnya 40jt, tapi sekarang sudah bertambah karena bunga berjalan menjadi 50 jt. Hutang itu di sebabkan, saat ibunya Siska melahirkan si bungsu yang harus di operasi, belum lagi tenyata ada masalah di rahimnya. Sehingga kami harus berobat dengan biaya yang tidak murah. Maklum kami orang kecil bahkan untuk mencicil bayar BPJS pun tidak sanggup pak."


"Saya perhatikan kampung ini lumayan besar, penduduknya juga terlihat masih produktif untuk bekerja. Rumah-rumah penduduk juga mulai berganti bahan dari kayu menjadi beton."


"Iya... di sini banyak pemuda yang masih kuat untuk bekerja namun tidak ada lowongan pekerjaan di kampung ini, paling-paling menjadi nelayan, padahal akhir-akhor ini banyak orang-orang kota yang ingin berinvestasi membuat rumah dan sebagainya di kampung kami, mengingat ini daerah pesisir."


"Sepintas... saya ada melihat beberapa pabrik pembuatan bata bakar. Namun, jika mendengar cerita bapak tentang keinginan orang berinvestasi di sini, pabrik itu tidak sanggup untuk melayani konsumen."


"Oh... pabrik di sini hanya milik rentenir yang membungakan uang pada kami pa. Awalnya hanya punya 2 pabrik, sekarang sudah 4, hasil sitaan orang yang berhutang padanya."


"Bagaiamana jika bapak carikan saya lahan untuk membuat pabrik bata bakar tersebut, lalu membuka toko bahan bangunan untuk bapa kelola?"


"Begini pa Herman, saya kebetulan memang mau melebarkan bisnis selain di Jakarta. Dan berbeda dengan pekerjaan yang saya jalani di perusahaan sekarang. Maaf, melihat kondisi ekonomi keluarga pa Herman. Jika tidak tersinggung, bolehkah saya membantu?"


"Membantu dengan bagaimana pak?"


"Begini... hutang bapak berapa pun dengan rentenir itu saya bantu lunasi, sifatnya saya pinjamkan. Yang kemudian bapak bisa cicil tanpa bunga pada saya tiap bulan. Dengan catatan, sertifikat rumah bapak sekarang saya simpan. Kemudian, Jika pak Herman memiliki lahan milik pribadi akan saya beli untuk membuat pabrik bata bakar dan toko bangunan tadi, saya modali selengkapnya. Agar bapa punya penghasilan membayar utang pada saya, bagaimana pak?"


"Yang benar saja pak Kevin...?"


"Benar saya serius, pa."


"Begini saja pa Kevin. Bagaimana kalau rumah saya sekarang sekalian saja saya jual untuk bapak. Dan luas tanah saya, sampai di sampingnya itu cukup untuk membuat pabrik bata bakar, tapi untuk sementar ijinkan kami masih boleh tinggal di rumah kami tersebut."


"Oke... sekarang tolong bapak hitung, berapa semua dana yang harus saya siapkan. Sekira cukup untuk melunasi hutang keluarga bapak, juga untuk modal membuat pabrik bata bakar, juga toko bangunan tadi."

__ADS_1


"Subhanalooh. Pak... bapak tidak bercanda kan pa?"


"Iya... dan juga, rumah itu memang saya beli. Tapi silahkan tetap pak Herman sekeluarga yang menempati dan merawatnya."


"Ya Allah, engkau tidak hanya mengembalikan anak kami yang hilang ya Allah, tetapi juga mengirimkan malaikat penyelamat dalam keluarga kami. Amin. Pa..., kenapa bapak lakukan ini pada keluarga kami?"


"Karena Muna, calon istri saya. Sepertinya sangat menyayangi Siska. Dan saya yakin Muna setuju dengan yang saya lakukan ini. Juga, rumah bapa terutama terasnya sangat berkesan bagi saya."


"Huum... karena menjadi saksi obrolan pak Kevin semalam ya...?" Kevin hampir kesurupan menahan malunya, tidak menyangka bahwa selain teras, Tuhan, juga ada saksi lain yang mengetahui yang ia dan Muna lakukan semalam.


Kevin hanya menggosok tengkuknya membuang rasa salah tingkahnya.


"Bapak doakan kalian berjodoh dan tidak ada aral merintangi ya pa Kevin."


"Amin, terima kasih pa Herman."


Flashback Off


Kevin dan pak Herman sudah menyelesaikan semua urusannya. Bahkan mereka sudah mendapatkann orang-orang yang mau bekerja sama dengan pak Herman yang akan menjadi pegawai di pabrik bata bakarnya.


Pak Herman juga ternyata bisa mengemudi, sehingga Kevin juga segera membeli sebuah pick-up second yang kebetulan di tawarkan orang desa tersebut, karena yang punya sudah tidak bisa megoperasikannya akibat terkena penyakit diabetes.


Jangan di tanya betapa hati pa Herman girang bukan kepalang, walau kini status kepemilikan rumahnya sudah di ambil alih oleh Kevin, namun tetap bisa berada dan tinggal di rumah itu pun baginya adalah jalan menuju sukses.


Bersambung...


Tempat nyip-0k sekali aje Kevin beli... apalagi buka segeel ntar.


Sabar ye reader, nyak lagi siapin panitia buat acara lamaran


Yang mo' jadi pagar betis


Absen di komen yak...πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


Lopeh SeKecamatan buat semua


β€οΈβ€οΈβ€οΈπŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


__ADS_2