OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
EKSTRA PART : MELAYANI SUAMI


__ADS_3

Sementara di Bandung, Pasangan pengantin baru yang sesungguhnya ya, bukan pengantin basi seperti yang sedang hareudang hareudangan di rumah Hildimar, Jakarta Selatan.


Gita dan Gilang sudah berputar-putar seantero Bandung demi mengantar beberapa teman yang tadi menumpang pada mobil Gilang. Dan yang paling terakhir di antar adalah Ninik, sebab rencananya Gita akan sekalian pindahan saja kerumah Gilang. Ya… pindah darurat lah. Sama seperti nasib pernikahannya yang dadakan, tentu saja kepindahannya juga bersifat dadakan.


Hanya beberapa pakaian yang Gita bawa dari kost Ninik, untuk barang seperti lemari dan lainnya yang sempat mereka beli secara patungan, tentu saja Gita wakafkan saja untuk Ninik yang masih jadi penghuni kost tersebut, sembari menunggu di lamar oleh sang kekasih. Yang nanti pelan pelan akan meninggalkan kost penuh kenangan itu.


Terik sinar matahari sudah ngakak di atas sana, tentu saja. Sebab waktu tengah menunjukkan pukul 1 siang. Gilang segera memarkirkan kendaraan roda empatnya di sebuah tempat makan sederhana. Dan membukakan pintu di sisi kirinya, demi mempersilahkan permaisurinya untuk turun mengikuti langkahnya menuju tempat makan tersebut.


“Manisnya suamiku.” Celetuk Gita senang.


“Ya iyalah… istriku manis ini. Wajiblah di perlakukan dengan manis juga.” Jawab Gilang yang sudah menautkan tangan kirinya pada pinggang Gita.


Keduanya sudah memesan makanan sesuai selera masing-masing. Namun, belum makanan itu tiba telepon Gilang berdering.


“Siapa?” tanya Gita penasaran.


“Ibu.” Jawab Gilang setelah melihat layar yang masih terlihat meronta-ronta minta di respon.


Gilang menyerahkan ponselnya pada Gita, ia tak mau akan ada kasus lanjutan, seperti saat mereka di Swiss beberapa hari lalu. Maka ia menyerahkan saja ponselnya untuk di angkat oleh istrinya saja.


“Assalamualaikum ibu.” Sapa Gita ramah.


“Walaikumsallam Git. Gilang mana?” tanya ibu Gilang lembut.


“Lagi di toilet bu.” Bohong Gita.


“Kalian sudah tiba di Bandung Git?”


“Alhamdulilah, sudah bu.”


“Kerumah ya nak. Ibu sudah masak makanan kesukaan Gilang.” terdengar antisias suara wanita yang telah melahirkan suaminya itu.


“Oh… iya bu. Mungkin sorean ya bu kami ke rumah, sekalian mau ambil pakaian a’a.” Jawab Gita yang tangan sebelahnya masih di pegang, di elu elus oleh Gilang.


“Apa kalian malam ini langsung tidur di rumah baru nak?” tanya ibu lagi.


“Sepertinya begitu bu.”


“Waah… cepat sekali ibu kehilangan Gilang. Apa tidak sebaiknya seminggu dulu lah kalian tidur di rumah nak.” Pinta ibu dengan suara agak mengiba.


“Kalau ibu kangen a’a, kan ibu bisa ikut tidur di rumah a’a, bu.” Jawab Gita yang tangannya tadi di lepas oleh Gilang karena pelayan rumah makan tadi sudah mengantar makanan pesanan mereka.


“Hmm… ya sudah. Mungkin sekarang kalian masih kecapean. Sampai jumpa nanti sore ya nak. Ibu tunggu.” Pinta ibu Gilang penuh harap.

__ADS_1


“Insyaallah bu, kami datang.” Jawab Gita lalu sambungan telepon itu pun berakhir.


“Ibu bilang apa neng?” tanya Gilang meminta Gita mengulang informasi yang ia dapatkan dari ibu via telepon tadi.


“Ibu bilang, ia sudah masak makanan kesukaan a’a. Terus dia minta kita tinggal di rumah barang seminggu lah.” Jawab Gita yang sudah meraih sendok akan memulai menikmati makan siangnya.


“Terus eneng mau?” pancing Gilang.


“A’a mau ga tinggal di rumah ibu?” Gita balik bertanya.


“Ya gak lah…” Jawab Gilang langsung tanpa di tunda.


“Kenapa?”


“A’a mau puas-puas dengar suara eneng menjerit jerit kesakitan nik...” Belum selesai Gilang bicara, robekan ayam goreng dari piringnya sudah Gita sumpal dimulut Gilang yang mungkin saja bisa di dengar oleh orang di sektar mereka.


Sambil mengunyah ayam goreng itu, jelas sekali wajah Gilang di penuhi senyum nakalnya.


“Kenapa…?” tanya Gilang masih dengan wajah terbingakai senyuman.


“Malu a’…?” tunduk Gita yang memang nyeri-nyeri sedap jika ingat bagaimana menjijikannya suara yang ia ciptakan sendiri saat Gilang memperdayakannya di atas sofa atau di atas kasur empuk.


“Tenang beibph… kamar kita sudah kedap suara kok. Kayak di hotel juga, jadi neng bebas berekspresi sekerasnya nanti.” Gilang masih saja menggoda Gita.


“Ah… siaap ayang beb kuuh. A’a diem nih. Mau cepat pulang saja beneran.” Ujar Gilang yang tak hentinya menyuapi makanannya dengan cepat.


“Ga secepat itu juga kali a’ makannya. Minum, ntar keselek lho.” Gita menyodorkan segelas air untuk Gilang.


Pasangan pengantin baru itupun akhirnya dapat memarkirkan mobilnya di parkiran rumah Gilang yang selalu tampak rapi dan bersih itu.


“Wecome to home sweet home my wife…” Ujar Gilang saat membuka pintu rumah baru mereka. Ini adalah kali kedua mereka datang ker rumah itu, pertama saat Gilang melamar Gita tepat di tengah rumah itu. Hal yang sulit bagi keduanya lupa akan momen bersejarah untuk hubungan mereka tersebut, sederhana namun sangat berkesan.


“Thank you my husband. Muuuaaach.” Gita selalu memilih bibir Gilang untuk ia satroni walau hanya sekejab.


“Manciiing niih…?” Kekeh Gilang pada Gita yang selalu gagal tabah jika di dekat Gilang suaminya.


“Ga ada kolam, apa yang mau di pancing sih a’…?”


“Mancing hasrat terpendam dong neng.” Gilang sudah meyergap tubuh wanita yang selalu ia rindukan walau jarak mereka tak pernah saling berjauhan itu.


“Mandi… mandi dulu lah a', kita sejak kemarin belum mandi a’ayank.”Dorong Gita pada tibuh suaminya tersebut.


“Bareng ya beiibp.” kerling nakal Gilang sangat menggoda Gita. Minta persetujuan tentunya.

__ADS_1


“Heeem.”


“Beneraan mau?” loncat Gilang sudah kaya lutung kasarung. Lebay.


“Bantu pindahin pakaian neng dulu a' ...” Gita sengaja mengulur waktu.


“Gampang itu beibph, yang penting tuh komitmen dulu, neng.”


“Itu bukan komitmen a’yank. Tapi negosiasi…” Protes Gita manyun.


“Ya apapun itu yang penting hem um.” Kecupnya pada kening istrinya.


Gita sesungguhnya lelah, padahal Gilang yang nyetir Bandung – Jakarta juga jadi kurir dadakan teman sekantornya tadi. Tapi, melihat tas pakaiannya dari kost tadi membuatnya bete dan ingin segera membereskannya dalam sekejap.


Sementara Gita masih cengar cengir bingung harus mulai menyusun pakaian dan barang yang mana terlebih dahulu di kerjakan. Gilang sudah menggendong istrinya menuju kamar mandi, dan memutar kuncinya.


"A'a..., kerjaan Gita banyak." rengeknya.


"Kerjanya nanti, melayani suami lebih penting neng."


"Iya, tapi ntar neng kecapean, pakaian masih berhamburan. Ga bisa ngapa ngapain dong."


"A'a udah nelpon bibi yang biasa bersih rumah ini. Kita ga usah keluar dulu dari sini sampai bibi selesai membereskan pakaian dan barang barang eneng yang berhamburan itu oke, sayang?"


"Hah...? lama banget donk kita di kamar mandinya a'...?"


"Ga papa... asal tetep sama a'a neng."


Ga usah di tanya mereka ngapain aja di sana, mungkin 2 jam cukuplah untuk si bibi beberes rumah dan pakaian itu.


Ga usah kepo juga, apa Gita udah di kasih ramuan ala mama Indira, dia masih pemain baru ya. Belom turun mesin. Jadi jamin, barangnya masih gress, musuhnya juga pemula. Beda jauh dengan pasangan Muna dan Kevin, udah beranak dua. Suami eks cassanova pula. Jadi wajib di kasih teknik dan trik biar suami klepek-kelepek. Setuju...?


Bersambung...


Nyak berusaha banget niih ngumpulin semangat lagi buat rajin nulis.


Mawar, kopi ternyata ngaruh lho buat moodboster nyak.


Sempat mental dari rank 200


Tapi.... tetap bersyukur jika lanjutan ini selalu di nanti.


Makasih kesayangan nyak semuan

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2