
Usia kandungan Muna telah memasuki 3 bulan, bahkan lewat sedikit. Artinya mereka sudah sukses melewati fase trimester pertama. Yang katanya rawan dan beresiko tinggi.
Usia kehamilan itu pun menunjukkan jika Kevin sudah mondok kurang lebih 2 bulan di Belanda. Maka dengan sangat terpaksa akhirnya Kevin memutuskan untuk pulang ke Indonesia.
Jangan tanya jadwal kunjung si otong, puasanya bahkan sudah ngalahin puasa orang muslim jelang idul fitri. Jika kemarin ia sibuk mabok parah di awal kehamilan Muna dan tak berani main ke mumun. Sekarang saat jalan tol sudah bebas hambatan, giliran pekerjaan memanggilnya pulang.
Muna wanita tegar bahkan jauh dari kata manja, saat 3 bulan pertama ia bahkan harus ekstra sabar menghadapi cerewetnya si bayi besar dengan segala tuntutan konyolnya. Sekarang ia harus rela berpisah lagi dengan suami. Dan Muna tak punya alasan untuk berkeluh, ia selalu ingat. Keputusan kuliah di Belanda adalah pilihannya.
Sebelum kembali ke Indonesia, Kevin sudah mewajibkan Muna untuk mempekerjakan satu ART yang menginap bersamanya. Kevin benar-benar khawatir jika istrinya tinggal sendiri di sana.
Perut Muna mukai nyembul, membuat Kevin makin gemes akan perubahan tubuh istrinya.
"Yang... susah pisah." Rengek Kevin.
"Sama bang." jawab Muna sendu.
"Apa abang ga usah pulang, sampai Mae libur semester lagi?" tawar Kevin.
"Sabar... anak kita kasih makan apa kalo kita cuma bercinta. Makan tuh cinta." Seloroh Muna yang sadar posisi Kevin adalah kepala keluarga yang harus mencari nafkah.
"Abang pulang lama lho mam." Kevin mengingatkan kembali.
"Iya... kudu kuat-kuat hati lagi kita pap."
"Hm... yang Mae jaga nambah niih. Selain jaga hati juga harus jaga calon anak kita. Maaf merepotkan mu sayang."
"Abang ngomong apa sih. Kehamilan ini bukan hanya maunya abang. Muna juga mau. Mau banget malah." Jawab Munansambil mengelus perutnya.
Cup
Perut itu di kecup Kevin, lalu pindah ke pipi Muna.
"Terima kasih Mae Mom. Makin cinta kamu sayang."
"Jangan pernah berubah ya. Besok-besok porsinya bakalan ga full lagi."
"Kenapa?"
"Bagi-bagi sama anaklah."
"Iya pasti. Mae nanti yang pulang ya. Usia baby berapa tuh kalo pas libur?"
"Insyaallah 5 bulan pap."
"Udah boleh terbang kan?"
"Insyaallah boleh. Ntar Muna minta surat ijinnya deh."
"Alhamdulilah. Abang tunggu itu ya. Anak papap, maaf kita pisah sementara ya nak. Ntar 2 bulan lagi Insyaallah kamu dan mama ke Indonesia. Sehat-sehat di sana ya, jangan bikin repot mamamu. Pap lov you beibp." Kevin komat-kamit berinteraksi dengan sang calon buah hati mereka.
__ADS_1
Hari hari Muna lalui dengan penuh rasa sepi, tidak ada lagi suami yang menguntitnya kemanapun ia pergi. Tidak ada lagi yang merengek minta makan di tengah malam, juga tidak ada otong yang kemarin sempat boleh berjaya menjenguk mumun sebelum suaminya itu benar kembali ke Indonesia.
Seseungguhnya Muna ingin menjadi cengeng, tapi entahlah mendapat kekuatan dari mana. Sehingga ia dapat mengabaikan rasa cemas, sepi dan rindunya hanya dengan mengelus perutnya yang mulai membuncit.
"Assalamualikum istriku, apa kabar hari ini?"
"Walaikumsallam suamiku. Kabar kami...? Baik raga tidak dengan jiwa kami." kekeh Muna ceria saat melihat wajah suaminya di layar pipih persegi itu.
"Kenapa?"
"Kangen papap." Rengek Muna dengan mata berkaca. Saat ada Kevin Muna tegar, walau kadang cemberut melayani suami tetapi ia bahagia saja. Tentu beda rasa saat tidak ada lelaki itu di sisinya.
"Sama sayang. Tapi abang ga bisa ke sana lagi. UASnya berapa lama lagi sih?" tanya lembut Kevin.
"Sebulan lagi yang." jawab Muna yang masih rebahan mencari kantuknya di atas tempat tidurnya.
"Hm... sebentar lagi tuh. Mana perut istriku? Sudah makin besar pastinya." Kevin mengalihkan fokus Muna.
"Tuh... baby udah mulai nendang-nendang yang. Perut Muna bisa gelonjotan gitu."
"Ih makin kangen kalian, gemes deh. Udah tau jenis kelaminnya Mae?"
"Belum... ntar tunggu sama sayang aja kita cek di Bandung apa Jakarta siih?" tanya Muna.
"Di Hildimar Hospital saja. Masa yang punya RS ga pake punya sendiri." Kekeh Kevin.
"Hi...hi... iya juga. Oh iya lupa bilang yang. Dulu sebelum Muna hamil. Kakek pernah minta sama Muna. Kalo besok kita punya anak, kakek minta namamya kasih Hildimar gitu, beliau mau ada namanya tersemat di sana, boleh yang?" tanya Muna pelan.
"Apaaan?"
"Anak kita jangan satu, supaya nama Mahesa juga bisa di terusin."
"Mang mau punya berapa sih?"
"Empat, Enam atau Delapan?"
"Bosqu... istrimu manusia bukan kucing. Di kira hamil enak?"
"Ya emang enakkan. Yang mabok juga abang ini."
"Iya yang ini, yang berikutnya kan belum tentu sayang."
"Iya juga sih. Udah... telponnya boleh di tutup sayang? abang mau rapat, atau biarin terus tersambung sampe Mae tertidur?"
"Boleh biarin aja yang? Muna mau liat wajah abang lama sambil mimpin rapat."
"Siap sayangku." Jawab Kevin tak menolak saat Muna seolah menganggap selalu dekat dengannya.
"Lang... tolong ambilkan tripot atau apa gitu. Ibu mau ikut mantau rapat hari ini." Alasan Kevin pada Gilang, padahal biasalah. Suami bucin mana berani memutuskan sambungan telepon tanpa ijin majikannya.
__ADS_1
Kevin terus saja memimpin rapat, sampai Muna benar-benar terlelap. Sesekali melempar pandangan ke arah istrinya yang benar telah melepas lelahnya di atas peraduan yang sering menjadi saksi aktivitas malam mereka.
Gilang sudah sah menjadi sekretaris Kevin, sebab telah melewati waktu percobaan dengan kinerja yang memuaskan. Semakin hari kinerjanya semakin di acungi jempol oleh Kevin.
Tiga pekan berlalu Kevin makin tak sabar melewati hari-harinya. Berharap semuanya akan terasa cepat berlalu, sungguh rindu semakin menderanya. Namun, bagaimanapun perusahaan juga sedang butuh perhatian. Maka memilih percaya jika Allah tentu menjaga istri dan calon anaknya di sana. Menyibukkan diri dengan segala pekerjaan adalah satu-satunya cara yang bisa ia lakukan untuk mengusir jenuh.
"Gilang... panggilkan pa Danu menghadap saya sekarang." Pinta Kevin saat Gilang akan keluar dari ruangannya.
"Siap baik pak." ujar Gilang hormat, Kemudian berlalu melaksanakan perintah.
"Selamat siang pa." Danu telah muncul di hadapan Kevin.
"Oh iya siang Dan. Gimana progres anak anak magang?"
"Sejauh ini baik pa. Tapi saya rasa cukup dulu untuk memberi lowongan di kantor. Mestinya kita fokus menambah orang-orang di pabrik."
"Hum... begitu. Ya, nanti saya pikirkan untuk hal itu. Lalu untuk pegawai magang di sini, apa sudah waktunya di angkat atau di pindah saja ke pabrik?"
"Belum waktunya pa. Jika tentang penambahan di pabrik, sebaiknya laki-laki. Dan untuk pegawai magang kebetulan semua perempuan."
"Berapa orang mereka?"
"3 orang pa, Joli, Gita dan Ninik."
"Lalu dari ketiganya siapa yang paling ungul?"
"Semua baik pa, sebab pilihan tempat magang sudah sesuai bidang ilmu mereka masing-masing." Kevin mengangguk-anggukan kepalanya.
"Tapi bidang sekretais ada masalah pa. Sebab Tio akan resign. Karena ingin melanjutkan kuliahnya lagi katanya." Danu menyampaikan informasi dengan detail.
"Ada saran?"
"Maaf pa bukan mengatur. Sebaiknya dari salah satu pegawai magang itu bisa kita tarik untuk magang di bagian sektretaris."
"Hmm... siapa kira-kira?"
"Gita teliti pa, juga selalu tepat waktu. Kalau Joli menurut saya lebih baik pindah ke pabrik, sebab dia lebih mendetail dan tegas."
"Sisanya?"
"Ninik...? Biar tetap jadi admin di bidang personalia."
"Saya belum pernah ketemu mereka. Bisa atur pertemuan saya dengan mereka untuk saya pertimbangkan semua saranmu ya Dan." pinta Kevin.
"Siap... nanti saya sampaikan."
"Oke, saya tunggu." tegas Kevin.
Bersambung...
__ADS_1
Haiii readers semoga selalu menunggu part selanjutnya yaa
Lopeh buat semua❤️