
Entah apakah suatu kebetulan atau tidak. Nama Hildimar yang tersemat di belakang nama Monalisa semacam memiliki kekuatan tersendiri. Bukan hanya sekedar nama, namun darah Hildimar seolah semakin nyata mengalir dalam tubuh Muna.
Ambisius lengkap dengan kegeniusannya.
Muna tumbuh menjadi pribadi yang tak pantang menyerah, tak ingin kalah dan mengalah pada tiap tantangan yang ia hadapi. Mandiri juga semakin menjadi pemberani. Tak salah jika kelak ia menjadi pengganti Hildimar Herold. Walau ia hanya seorang wanita.
Dunia kampus sangat baru baginya, penguasaan dalam berbahasa, Muna tergolong cepat dalam beradaptasi. Kadang ia hanya tertawa sendiri mengenang betapa noraknya ia dalam berbicara sebelumnya.
Dalam enam bulan yang lalu banyak ilmu yang Muna serap, dari ilmu bisnis, bahasa, sampai kepribadian sudah Muna lahap bagai makan kerupuk.
Tetapi saat teleponnya tersambung dengan nyak babe tentu saja ilmu tersebut tidak ia gunakan. Sebab Muna masih sangat bangga dengan bahasa nyak Time, yang selalu ia rindukan. Itu salah satu cara Muna merontokkan rasa rindunya pada Indonesia dan orang-orang yang ia sayang di sana.
Tentu berbeda dengan Rona, yang walau kini ia sebagai direktur di sebuah perusahaan miliknya, bagian dari rintisan kakek Hildimar tentunya. Rona selalu menyempatkan waktu untuk tinggal beberapa hari ke apartemen Muna di Apeldoorn.
Memastikan anak gadisnya dalam keadaan baik-baik saja. Juga menikmati kebersamaannya pada sang anak yang 18 tahun tidak bersamanya, melakukan kegiatan bersama, seperti memasak bersama, sebab nanti akan tidak tinggal bersamanya setelah menikah nanti.
Demikian juga dengan kakek Muna yang kadang datang bersama pengasuhnya, tampak sesekali tinggal bersama Muna, demi menurunkan ilmu apa saja memberikan wejangan dan kunci kesuksesannya dalam menjalankan bisnisnya. Kakek memang sudah tua, bahkan masuk kategori pikun. Tetapi dalam urusan pekerjaan yang sudah sangat mendarah daging baginya di masa muda. Tidak dapat di anggap remeh, sangat detail ia sampaikan pada Muna, cucu kesayangan.
Muna menjadi mahasiswa sesuai pilihan sekaligus mimpinya.
Wajah blesterannya yang kental tentu sangat mendukungnya lebih cepat beradaptasi. Siapa menyangka jika Monalisa Hildimar pernah bermukim lama di Indonesia. Mata birunya membuat semua teman kampusnya mengira ia Belanda tulen.
Belum lagi nama Hildimar yang tersemat di belakang namanya tentu membuatnya sedikit di segani. Sebab itu termasuk dalam golongan bangsawan di Negara kompeni.
Muna tak ubahnya gadis ceria, ramah serta bersahaja. Muna selalu ingat tujuan awalnya ke sana, adalah untuk menggapai cita.
Hiruk pikuk kampus tak selalu menyita waktunya. Maka perpustakaan adalah tempat terfavorit Muna dalam hal mengisi waktu kosongnya.
Jangan tanya tentang teman di sana. Tentu dalam waktu singkat ia sudah memiliki beberapa teman dekat. Namun, tampak sekali jika Muna membatasi jarak dengan teman pria yang justru semakin penasaran di buatnya.
__ADS_1
Tidak hanya teman seangkatan, bahkan kakak tingkat juga dosen pria pun selalu berlaku ramah dengannya. Sekedar memancing mungkin saja di berikan akses untuk lebih dekat dengannya.
Ada Eldrick warga negara setempat yang seolah tak pantang mundur dalam hal menarik perhatiannya. Bahkan pernah nekat menguntit demi tau alamat si Monalisa.
Beruntung kala itu ada kakek Muna yang sedang menginap di apartemen Muna, sehingga Muna tak perlu repot menghadapinya. Sebab Eldrick cukup ngobrol dengan sang kakek saja, sudah membuat pria itu kapok tak berani mendekati Muna kembali.
Muna sangat menikmati statusnya sebagai mahasiswa. Walau ternyata lebih berat dari yang dia kira dan bohong saja ia tak rindu Indonesia. Terlalu munafik jika terkadang ia pun terserang rasa resah dan rindu memikirkan Kevin yang sepertinya tak pernah ada tanda-tanda ingin menemuinya disana.
"Assalamulaikum abang..."
"Walaikumsallam sayang. Di sana pukul berapa? Kenapa belum tidur?" Suara bariton yang selalu membuat Muna rindu bagai bisikan di telinga Muna.
"Belum ngantuk dan ingat abang. Sedang apa bang?"
"Sedang di ruang rapat sayang." Suara itu masih terdengar getir dan sedikit merintih.
"Hm... Walaikumsallam" Tutup Kevin tanpa ada sahutan sapa sayang lagi pada salam itu.
Mengingat semua mata sudah tertuju pada Kevin sang pemimpin rapat, yang seolah berbisik di telepon tak dapat merijek panggilan wanita yang selalu paling terindah di relung hatinya.
Begitulah nasib pacaran jarak jauh beda benua tentu beda waktu. Dia siang aku malam, dia senggang aku yang repot. Ah... Salah siapa memilih Amesterdam tempat menimba ilmu, padahal di tanah kelahirannya pun sudah banyak Universitas berkelas international yang berkualitas sama dengan yang ia pilih.
Namun Muna tak pernah menyerah dan mengakui penyesalannya atas pilihannya. Sehingga ia tepis saja segala gundahnya dan meyakini semua akan tetap berjalan sesuai harapan.
Muna meletakan semua gundah gulananya hanya pada maha besar Tuhan. Memilih percaya Kevin dapat menjaga diri dari segala goda. Sama sepertinya yang pernah jatuh cinta hanya pada Kevin, kekasih pertama, cinta pertamanya, yang akan ia antarkan sekaligus menjadi pelabuhan terakhirnya. Tempatnya mengikat jangkar hatinya, menepikan bahtera cintanya pada dermaga hati seorang Kevin yang telah ia tetapkan sebagai belahan jiwanya.
Walau dalam jarak jauh, Kevin pun sangat banyak membantu Muna dalam hal memecahkan tugas kampusnya. Tentu Kevin bisa membantunya, secara Kevin bahkan sampai pasca sarjananya ia tempuh di Inggris. Bukankah selain karena memiliki kemampuan di segi finansial Kevin juga memiliki otak yang cerdas? Maka Muna sangat merasakan dukungan penuh dari Kevin yang benar-benar dapat ia andalkan dalam segala bidang.
Sementara Kevin di perusahaan barunya sudah tidak dapat menghindar untuk memiliki sekretaris wanita. Sulit Kevin mencoret nama itu, saat semua penilaian dari Tim HRD telah merujuk ke satu nama Belia Windari.
__ADS_1
Wanita cantik bertubuh proporsional, rambut bervolume. Lulusan Universitas ternama di Jakarta jurusan Administrasi Perkantoran, pernah memiliki pengalaman kerja 3 tahun di sebuah perusahaan di Jakarta, namun karena permintaan orang tua yang memintanya untuk kembali ke Bandung tempat kakek buyutnya berasal. Membuatnya mengalah untuk pulang dan mencari pekerjaan dari awal lagi di kota Bandung.
Belia wanita berusia 28 tahun, selain untuk mendekatkan diri dengan orang tua, ia di minta pulang, juga karena orang tuanya resah sebab di usianya yang tak lagi muda itu, ia seolah masih enjoy menjadi jomblo.
Setahun berjalan menjadi sekretaris Kevin, Belia merasa nyaman untuk urusan pekerjaan. Sebab Kevin sangat profesional dalam hal menjalankan perannya sebagai pemimpin sekaligus pemilik perusahan PT. MK Farma.
Tetapi tidak dengan suasana hatinya. Belia merasa ada sesuatu yang berdesir saat matanya beradu pandang dengan Kevin, pemimpin sekaligus pemilik perusahaan tempatnya bekerja itu.
Belum lagi, Kevin yang di rasakannya begitu perhatian. Yang tak pernah membebankannya untuk lembur dan menambah waktunya bekerja. Dengan alasan, agar Belia selalu bisa menjaga kesehatan.
Apakah Belia salah dalam hal mengartikan perhatian itu?
Kevin adalah seorang CEO yang bijaksana, ramah, perhatian dan akrab dengan semua tim divisi perusahaannya. Namun juga penuh misteri akan status pernikahannya.
Desas desus pernah beredar, jika CEO mereka itu berstatus telah menikah. Namun, pernikahannya tertutup dari media. Karena dulu ia pernah melamar seorang OB di perusahaan sebelumnya di Jakarta. Mungkin karena perbedaan kasta yang membuatnya tidak mempublikasikan tentang rumah tangganya tersebut. Demikian kabar angin yang berhembus, membuat Belia semakin penasaran dan sangat ingin mencari tau sekaligus berharap mendapatkan cela bisa berada dalam hati seorang CEO tampan, mapan dan matang itu.
Bersambung...
Ini Belia Windari
Salam cinta dari nyak otor buat semua❤️
Udah senin lagi
Semoga ada yang berkenan kasih Votenya tanpa ragu.
Makasiih ya semua🙏🙏🙏
__ADS_1