OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 162 : SAH


__ADS_3

Hari sangat terasa cepat berlalu, jika senin kemarin Muna tampak sibuk wara wiri bersama Kevin melengkapi berkas dan sebagainya. Di hari selasa giliran mama Rona dan nyak Time yang mendominasi Muna.


Hampir seharian mereka menghabiskan waktu di spa salon kecantikkan. Merelaksasi tubuh dan pikiran mereka. Agar lebih segar dan bugar menghadapi akad nikah yang sudah di depan mata.


Urusan kekurangan persiapan pernikahan sudah di serahkan pada Ferdy dan Daren.


Ya Daren, adik sedarah beda ibu dengan Kevin itu sudah berada di Indonesia. Mulai belajar bekerja di Perusahaan Mahesa sebagai manager di bawah kepemimpinan Ferdy sebagai CEO.


Siska sudah tidak bekerja sebagai OB, sebab statusnya kini adalah pegawai magang pada bagian sekretaris. Yang boleh tidak full turun bekerja menyesuaikan jadwal kuliahnya.


Hari rabu tiba, ada pias gugup menyerang hati Kevin. Bagaimanapun matangnya usia


Kevin yang sudah lewat 34 tahun itu, tidak membantu menenangkan gemuruh yang melanda hatinya.


Ini adalah pengalaman pertama baginya. Walau banyak wanita sebelumnya yang hadir dalam hidupnya, tapi tidak dengan hatinya. Tidak dengan apartemen dan rumahnya. Muna, hanya Muna satu-satunya wanita yang sejak awal sudah memiliki akses mulus tanpa hambatan menari, mendobrak bahkan menjungkir balikkan hatinya.


Mana pernah Kevin mengira akan perjalanan cintanya seperti ini. Tanpa sengaja jatuh cinta pada gadis cleaning servis bermata biru yang kini justru menjadi seorang direktur utama sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Selatan.


Mana mampu logika Kevin bernalar, akan indahnya cara Tuhan menghadirkan Muna untuknya. Ia berada dalam posisi cinta setengah mati, bahkan sempat terguncang akan aral silih berganti. Namun tetap memilih setia berdiri hingga semesta itu sendiri yang mengalah, berputar arah merujuk padanya.


Maka di hari Rabu itu, telah tampak Kevin dalam balutan pakaian koko putih tulang keemasan pada bagian dadanya, di lengkapi ornamen khas pengantin pada umumnya.


Kevin beserta seluruh kerabat dekatnya tampak sudah siap di sebuah Mesjid Al-Munada Baiturahman yang sangat unik yaitu berbentuk perahu dan terletak di area perumahan keluarga Hildimar, di Jakarta Selatan.


Diendra papi Kevin tampak menepuk pelan punggung putranya demi memberikan sinyal bahwa ia ingin membantu menenangkan amukan grogi yang pasti menyerang hati Kevin.


Penghulu sebagai petugas pelaksanaan pernikahan telah berada di ruang mesjid. Keluarga besar Hildimar tampak telah hadir lengkap.


Ada dua kursi khusus di tambah di area tempat sakral itu, untuk kakek Hildimar dan babe Rojak Baidilah sebagai saksi nikah.

__ADS_1


Raut tegang masih menyelimuti wajah mereka semua, saat Kevin masih terlihat sendiri tanpa pengantin wanita, sebab masih berada di ruang tertentu.


Acara akad akan segera di gelar, Kevin duduk di kursi menghadap meja dengan Dadang Sudrajat serta pengulu di sampingnya.


Kalimat istigfar mulai menguar bertujuan untuk merontokkan semua dosa dosa yang pernah di lakukan sebelumnya. Kemudian untaianan dua kalimat syahadat untuk membentengi diri calon pengantin serta memperkuat dan memperkokoh iman mereka yang akan memulai kehidupan rumah tangga baru. Dilanjutkan lantunan ayat suci alquran sebagai pedoman hidup di kemudian hari.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Kevin Sebastian Mahesa bin Diendra Mahesa dengan anak saya yang bernama Monalisa Hildimar dengan maskawin 100 gram emas, satu set perhiasan serta perlengkapan sholat di bayar, Tunai.” Kalimat Ijab sudah keluar dari Dadang Sudrajat sembari menatap mata Kevin dengan sungguh dan penuh harap sambil 0berjabat tangan erat.


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Monalisa Hildimar binti Dadang Sudrajat dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai.” verbal Kevin lantang dalam satu tarikan nafas.


"Sah..." Ucap penghulu menolah ke kiri dan ke kanan.


"Sah." Jawab serempak para saksi yang berada dalam gedung mesjid tersebut.


"Alhamdulilah." Lanjut semua hadirin merasakan lega yang tak terkira, pecah sudah bisul bersama yang selama ini mereka pendam dalam hati masing-masing.


Guruh gemuruh gempa terjadi lagi dalam dada Kevin, namun skalanya tak sebesar saat sebelum kaliamt sakral tadi di ucapkan. Kevin tertawan saat netranya memandang datangnya Muna yang telah sah menjadi istrinya.


Muna cantik, teramat cantik. Dengan busana senada dengan yang Kevin gunakan, wangi kuntum melati yang tersampir pada bahu kanan menjuntai dari kepala sampai pinggangnya, tentu membuat Kevin semakin ketar ketir saat wewangian itu menggeliat menyihirnya penuh pesona. Merasa masih mimpi jika tadi ia merapalkan kata qobul pertanda telah sah menjadi suami.


Acara selanjutnya adalah penanda tanganan buku nikah. Pemasangan cincin simbol ikatan mereka dalam tali suci pernikahan.


Senyum bahagia memancar sempurna dari wajah kedua mempelai. Sorot mata Muna dan Kevin bagai berlomba ingin mengatakan mereka telah sampai di garis finish perjuangan mendapatkan cinta itu.


Muna sudah mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Ada gemuruh detakan jantung yang tak biasa ia rasakan, menyadari tangan yang terulur itu akan hanya menjadi penolongnya, meringankan bebannya, melindunginya tanpa batas, sebab mereka telah halal.


Jantung Kevin tak kalah rusuh, mungkin sudah agak geser dari tempatnya sebab sedari tadi mengalami goncangan hebat, bagaimana tidak? Menjadi suami Muna adalah impian terakhirnya. Walau telah berubah status menjadi seorang direktur. "Oh ... Sayang. Kamu hanya sebagai OB pun aku cinta, apa lagi sekarang." Batin Kevin dalam hati.


"Kamu akan menjadi satu-satunya wanita yang aku cinta, ku jaga dengan segenap hati dan jiwaku. Kamu priotitas utama dalam hidupku." Janji Kevin di dalam hati, saat bibirnya terbenam di tengah dahi Muna dalam durasi yang cukup lama.

__ADS_1


Selanjutnya adalah ritual sungkeman pada keluarga. Dalam hal ini tentu terjadi sangat haru. Juga membutuhkan durasi yang panjang dan tidak dapat di prediksi. Sebab, ada babe dan nyak yang tak pernah tertinggal untuk selalu mereka ikut sertakan dalam perjalanan kisah merka, selain abah Dadang dan mama Rona. Juga papi Diendra yang di dampingi istrinya Indira Phisesa, tak tertinggal sang kakek Hildimar pun menjadi bagian terpenting bagi mereka, sebagai tanda bakti, hormat dan rasa terima kasih atas bimbingan dari lahir sampai ke perkawinan mereka yang telah terjadi ini.


Acara selanjutnya adalah foto bersama kemudian makan bersama yang mereka lakukan di salah satu panti asuhan yang dua tahun terakhir menjadi bagian tanggung jawab Kevin. Sesuai permintaan Muna saat-saat terakhir menjelang pernikahan mereka sebelumnya.


Ya... Semua yang Muna pernah pinta sudah hampir ia penuhi, maka apa alasan Muna selalu meragu?


Apa alasan Muna senantiasa mengulur waktu?


Bahkan kini pengantin pria itu, suaminya tersebut telah berada di usia matang, hampir gosong malah.


Muna sudah menyerah, terperangkap tak berkutik. Saat Kevin meminta bahkan mengancam, jika itu adalah tawaran terakhir baginya. Muna tak berpengalaman, Muna tak kenal cinta dari lelaki manapun selain Kevin. Apa yang ingin ia cari ? Seluruh daftar lelaki idaman wanita ada pada pria yang telah sah jadi suaminya. Bahkan kelakuan buruk Kevin di masa lalu telah termaafkan. Terhapus dengan sempurna di hati dan pikiran Muna.


Kevin telah berubah, tumbuh menjadi Kevin yang lebih dewasa. Mencari Tuhan dan memilih memumpahkan keresah gundahannya pada yang maha kuasa, adalah bagian dari ciri khasnya sekarang.


Berikrar setia, menjalankan hidup dalam suka dan duka, menghabiskan masa dalam kurun waktu selama mungkin adalah impian mereka.


Bersambung...


Lega😍


Happy the wedding day


Muna & Kevin.


Nyak Otor dan semua Reader mendoakan yang terbaik untuk rumah tangga kalian.


Semoga SaMaWa yaa❤️


__ADS_1


__ADS_2