
Muna bukan tipe istri pencemburu, juga bukan masuk dalam kategori wanita yang penuh curiga apalagi berprasangka buruk terhadap orang lain terlebih Kevin.
Tetapi sekarang statusnya sudah berbeda. Jika 2 tahun lalu ia hanya sebagai kekasih Kevin, dan merasa belum memiliki hak untuk mengatur dengan siapa saja Kevin dekat dan berinteraksi, walau tak ada yang Kevin sembunyikan darinya.
Sekarang Muna adalah Monalisa Hildimar, seorang direktur utama sebuah rumah sakit besar. Ia juga menyandang gelar ny. Kevin Sebastian Mahesa yang memiliki saham terbesar PT. MK Farma yang di jalankan suaminya tersebut.
Maka sebelum bertolak kembali ke Belanda, Muna merasa perlu memangkas bahkan menyingkirkan bibit hama yang mungkin saja akan tumbuh dan berkembang biak saat ia tak berada di sisi suaminya.
Serangkaian tes tertulis bagi para karyawan magang sudah selesai sempurna di hari sebelumnya. Bukan hanya ajang untuk mendapatkan sekretaris baru, tetapi pemenuhan kuota pada bidang keuangan, HRD dan kepala gudang pabrik pun semua butuh pembaharuan.
Ada Danu yang di tunjuk sebagai ketua panitia dalam hal pelaksanaan seleksi ini, sebab ia adalah ketua Tim HRD yang selama ini di percaya oleh Kevin untuk mengurus semuanya dengan profesional.
Sejak pagi Muna sudah berada di ruangan Kevin. Dengan setelan blazer merah maroon, lagi-lagi tampilan Muna sudah layak dan setara dengan CEO perusahaam itu.
"Danu... Serahkan hasil tes tertulis kemarin pada ibu Komisaris. Beliau sejak tadi sudah menunggu di ruangan saya." Ujar Kevin via intercom ke ruangan Danu.
Tok
Tok
Tok
"Masuk" perintah Kevin seseorang yang mengetuk pintunya tersebut.
"Permisi pa. Ini hasil dan daftar nama yang ikut tes kemarin." Ujar Danu yang memendarkan pandangannya dan berhenti pada seorang wanita cantik yang duduk di sofa tamu ruangan Kevin. Mempesona.
"Oh iya... Danu. Ini perkenalkan Monalisa Hildimar, beliau pemegang saham terbesar di perusahan ini, dewan Komisaris. Juga istri saya." Kevin memperkenalkan Muna dengan segera pada Danu, melihat respon lirikan Danu tadi, yang bagi Kevin cukup mewakili tatapan penasaran para pria lain di luar sana saat melihat istrinya.
"Oh... Iya. Selamat berjumpa nyonya. Dan salam kenal." Gugup Danu mendadak tergugu, tak menyangka dewan komisaris di kantornya bekerja adalah seorang wanita muda juga sangat cantik bahkan istri pimpinannya.
Muna membalas uluran tangan Danu tanda perkenalan. Kemudian terfokus pada berkas yang di bawakan oleh Danu. Kemudian meneliti hasil tes tertulis kemarin dengan seksama, serta mengklasifikasikan nama-nama mana saja yang akan ikut tes lanjutan.
Sungguh tampak seperti pekerja yang sangat profesional. Di samping itu, Kevin seolah menjaga jarak dan tidak menunjukkan sisi kedekatan apalagi romantis, saat mereka dalam ruang rapat saat tes wawancara akan bermulai. Bukan canggung hanya memberi kesan formil saja, mengingat Kevin harus tetap menjaga imej di hadapan para karyawannya.
Ada 7 pelamar yang memiliki nilai tinggi. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing sesuai bidang ilmu yang kuasai oleh mereka.
Ada Gilang di sana, yang ternyata memiliki nilai tertinggi satu. Namun, Kevin maupun Danu tidak menyetujui jika Gilang yang nantinya akan menduduki jabatan tetap sebagai sekretaris sebab waktu magangnya belum genap 3 bulan.
__ADS_1
"Maaf bu, sudah menjadi aturan sejak awal di sini. Pegawai magang minimal bekerja 3 bulan di perusahaan. Baru boleh naik menjadi pegawai tetap." Bantah Danu saat tangan Muna dengan tegasnya menunjuk nama Gilang yang akan segera di angkat, bahkan mendepak Belia.
"Bukankah peraturan itu, hanya manusia yang buat. Bahkan, aturan Tuhan saja sering manusia langgar." Ucap Muna tegas menghunus tatapan tajam ke arah Kevin meminta persetujuan.
"Benar saja, tetapi sedapat mungkin aturan itu juga kita buat untuk di taati semampunya." Kevin pun menunjukkan sisi keberatannya.
"Kalau tidak boleh di angkat sebelum 3 bulan. Mengapa di ijinkan ikut tes tertulis kemarin? Saya juga sudah membaca CVnya, dia bahkan sudah bekerja lebih dari setahun di perusahaan ini. Walau tidak sesuai bidang ilmu yang di milikinya."
Tidak ada jawaban dari Kevin maupun Danu. Keduanya hanya saling melempar pandangan, tak berkometar walau sekedar berbasa-basi.
"Dari interview yang telah selesai di laksanakan. Ini catatan, yang menjadi keputusan saya. Tidak harus di setujui semua. Sebab musyawarah dan mufakat adalah keputusan mutlak. Jika tidak ada yang dapat di bahas kembali, saja ijin permisi. Maklum emak-emak belum menyiapkan makanan untuk suami saat pulang kerja. Assalamualikum." Pamit Muna pada Danu dan Kevin yang terlihat masih betah di ruang rapat tersebut.
"Walaikumsallam." Jawab keduanya serempak.
"Pak... Bapak tidak menyusul istri bapak pulang?" tanya Danu sedikit heran melihat Muna melenggang pulang sendiri.
"Tidak. Kami tadi memang berangkat dengan kendaraan berbeda." Jawab Kevin lempemg.
"Yang... Masak di rumah atau kita makan di luar?" Chat Kevin pada Muna di sela rapatnya yang belum selesai dengan Danu.
"Mau makan soto di warung nyak saja boleh yang?" Muna balik bertanya.
"Lop yu tu... My hub❤️." Balas Muna tak kalah mesra.
"Pa... Jadi ini bagaimana?" tanya Danu melihat bosnya hanya sibuk berchat ria.
"Ikuti semua catatan ibu saja." Jawab Kevin tanpa melihat tulisan Muna.
"Ah... Yang benar saja pa. Di catatan ibu bahkan Belia di pindahkan menjadi kepala gudang di pabrik dan tidak akan berkantor di sini." Beber Danu membaca catatan itu.
"Kamu sudah beristri Danu?"
"Sudah pa."
"Menurutmu pendapat siapa yang paling tidak bisa di bantah, kepala keluarga atau emak-emak...?" pancing Kevin.
"Uuhh.... Dasar suami bucin. Ga nyangka pak bos yang terlihat tegas tenyata lemah juga saat di atur wanita, dasar DKI. Lalu untuk apa kami rapat, kalo hanya pendapat istrinya yang di dengar." Umpat Danu di dalam hati.
__ADS_1
"Danu...?"
"I...iya. pendapat emak-emak pa. Biar selamat lahir batin." Jawab Danu klasik.
"Ha...ha. Bagus. Tolong kamu atur dan segera berikan pengumumannya. Paling lambat besok pagi, untuk saya tanda tangani. Saya pulang duluan." Pamit Kevin pada Danu, tentu saja ingin menyusul istrinya.
"Kok cepet nyusulnya yang... Sudah kelar hasil perundingannya?" penasraan Muna.
"Belum, makan dululah. Mana bisa berpikir jernih kalo perut kosong. Mana sudah di tunggu ibu negara lagi. Ntar ngambek, kacau lah dunia per es tong-tongan." Kelakar Kevin sambil berbohong, memilih duduk menempel di dekat Muna sambil kesempatan mencium pucuk kepala Muna.
"Abang sudah liat catatannya. Mae ada dendam pribadi atau semacamnya ya dengan Belia? Sampai segitunya kirim ke pabrik."
"Gimana mau dendam, berantam saja belum. Hanya... Muna mau menyelamatkan nyawa dan nasibnya saja. Berbahaya dianya kalo masih sering berada tak berjarak dengan suami Muna. Kalo Muna deket juga sih ga papa. Masalahnya, ntar kita jauhan. Itu si otong takutnya salah masuk rumah." Jelas Muna dengan wajah ceria, senyum terkembang bagai perahu layar.
"Cemburu niih ceritanya...?" Goda Kevin mencolek pinggang Muna.
"Kagak juga. Hanya waspada aje, bang. Laki aye tampan, masih layak jual. Ngenes ga siih jadi Muna?"
"Emang Mae aja yang ngenes, abang lebih parah. Si Otong kalo udah berdiri, pantang tidur sebelum meleleh looo."
"ABAAAANG iih... asem banget deh."
"Haha... Nasib cinta kita tuh sekarang kaya siput Mae."
"Ngape?"
"Sama-sama saling cinta, tapi tinggal di rumah masing-masing. Kagak bisa nyatu."
"Aaaiiih makin gombal suamiku." Bahak Muna dengan verbal Kevin yang makin hari, makin bikin gemes.
Bersambung...
Tenang yaa...
Akan ada warning dari nyak jika ada konflik.
Tapi, nyak lebih suka dapat komen sanjungan ketimbang hujatan.
__ADS_1
Jadi... cukup percaya cerita ini no pelakor
Tapi... penuh dengan ser-seran saja🤭