
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Gita sudah mengabari Ninik untuk pulang sendirian saja. Maklumlah Gita selama 2 bulan ini hanya nebeng Ninik untuk pulang pergi kantor. Sehingga memang sangat sempurna aktingnya sebagai orang biasa dan seolah dari keluarga sederhana.
"Udah siap helm neng Gita?"
"Iya Aa Gilang. Cuma ini yang eneng punya. Beli motornya masih otw, masih hunting yang bekas saja jika ada, sesuai bugetnya."
"Mau di temenin Aa cari yang murah? Kalo itu a Gilang punya temen. Kalo cari belanjaan sesuai perintah tugas ibu negara tadi, a'a buta banget." Kekeh Gilang yang langsung akrab.
"Ya sama sih benernya. Mana Gita baru lagi di Bandung."
"Sebelumnya neng Gita di mana?"
"Malang... Malang. I.. iya di Malang." Gugup Gita yang belum matang memikirkan kebohongannya sedetail itu.
"Waah jauh juga terbang dari Timur ke Barat ya neng."
"Rejekinya di sini kayaknya A Gi."
"Iya kali. Yuks let's go." Ajak Gilang yang selalu bersemangat dan ramah pada orang baru sekalipun.
Di balas anggukan dari Gita yang sudah duduk manis di belakang Gilang.
"Kok aku berasa kaya Milea yak. Inikah indahnya boncengan, di LN mana pernah kayak gini." Monolog Gita dalam hati.
Keduanya sudah sampai di sebuah toko perlengkapan bayi terlengkap di kota Kembang. Mereka tampak terlibat dalam diskusi berkepanjangan yang sesungguhnya sama-sama tak mengerti dengan yang mereka cari.
"Telpon ibu deh A Gi, Ntar salah lagi yang kita beli."
"Mana berani, no ponselnya saja A Gi ga punya. Cuma punya pak Kevin yang ada nih. Tapi takut ganggu juga. Gita deh yang nelpon."
"Hah... Hallo. Gita tuh bahkan baru tadi lho ketemu CEO itu di ruang rapat, mana Gita berani?" bohong Gita.
"Aduh... Kumaha iye teh? Bikin pusing saja."
"Permisi, ada yang bisa di bantu?" tanya penjaga toko melihat kedua orang itu berbelanja tidak, berantam iya.
"Oh... Bisa bantu kami memilihkan kado untuk di kasih ke orang pasca melahirkan, mbak?" Gita merasa terbantu dengan pertanyaan penjaga toko tersebut.
__ADS_1
"Bisa, dengan senang hati. Bayinya cowok atau cewek?"
Gilang dan Gita saling bertukar pandang. Lalu sama-sama menggeleng.
"Oh... Iya. Berarti kita pilihkan warna yang netral saja ya. Mari ikut saya."
Gita dan Gilang di buat tambah bingung dengan segala tawaran yang di ajukam pada mereka, mulai dari pakaian bayi, stoller, popok semua membuat mereka bingung karena belum berpengalaman. Tetapi atas kesabaran pelayan toko, akhirnya mereka sepakat untuk membeli paket MPASI seperti pelumat atau alat tumbuk makanan, blender, slow cooker, panci kukus, saringan kawat, dan satu set peralatan makan bayi.
Semua di kemas apik dan menarik atas permintaan Gita. Tak lupa di lengkapi beberapa kuntum mawar merah menambah cerah ceria hadiah yang akan di bawakan oleh Muna nantinya.
Dan benar saja, keesokan harinya Muna menatap puas dengan kado yang akan ia antar ke rumah sakit. Walaupum Muna sudah menyiapkan kado lain yang akan ia selipkan bersama kado tersebut. Sebuah voucher belanja perlengkapan bayi senilai 2jt juga voucher pijat dan spa untuk ibu dan bayi. Yang di rekomended dari tempat Muna mengikuti kelas ibu hamil.
Keinginan Muna untuk mulai masuk belerja ke rumah sakit tentu sudah sampai ke wakil direktur, Dadang Sudrajat yaitu abah Muna sendiri.
Ada penyambutan kecil-kecilan yang di adakan oleh beberapa orang di rumah sakit tersebut. Tak terkecuali beberapa dokter yang juga memiliki saham di rumah sakit tersebut. Ada dr. Budi Pramana yang saat ultah ke-21 Muna sebelum nikah yang lalu memang tampak tertarik untuk mendekati Muna. Bahkan kini walau perut Muna telah buncit pun ia masih tampak ramah juga baik pada Muna.
Ya... Boleh juga jika ingin belajar jadi pebinor. Asal siap patah hati saja untuk menaklukkan Muna. Kevin saja hampir gila, apalagi Budi yang baru nongol kemarin sore. Hati-hati bung, belum tau dia, readers nyak juga bakalan siap siaga satu kalo rumah tangga manis manja ini dapat gangguan urusan cinta. Mundur deh.
Hari Minggu tiba, Kevin agak cemberut melihat jadwal yang Gilang kirim untuknya.
"Abah titip Mae ya... Kevin dinas 3 hari ke luar kota. Biarin agak lama ngantornya. Keukeh dianya ke rumah sakit, di rumah sepi katanya bah." Ijin Kevin pada Dadang, saat melihat jadwalnya yang wajib ia jalankan untuk tiga hari ke depan.
Muna sudah menjelma menjadi wanita karier. Merasa lebih aman bekerja sebagai direktur rumah sakit. Yang lingkup kerjanya di area yang di penuhi peralatan medis. Sehingga, praktisnya. Jika saja Muna mengalami ganguan seputar kehamilannya pun, akan segera teratasi dengan cepat, demikian pikiran hematnya.
Ruangan Muna tentu adalah ruang teristimewa di sana, desain interiornya masih sangat kental dengan kemewahan. Sebab itu selera kakek Hildimar. Tidak ada yang berubah dalam urusan tatanan perabot dan isian didalamnya. Hanya plakat nama di atas meja saja yang berubah dari Hildimar Herold menjadi Monalisa Hildimar.
Di masa awal bekerja, Muna lebih sering terlihat menghabiskan waktunya untuk membaca dokumen-dokumen penting, arsip-arsip juga sesekali melakukan monitoring kebeberapa bagian admin dan humas rumah sakit tersebut.
Tak sekali pula Muna mengadakan kunjungan langsung pada ruangan pasien secara mendadak. Demi mendapatkan kenyataan yang lebih real yang akan ia sesuaikan dengan laporan di atas meja.
Rupanya pekerjaan Dadang sebagai wakil direktur selama ini, memang patut di acungi jempol. Hanya karena darahnya tak mengalir darah Hildimar saja yang membuatnya tak mendapatkan kursi direktur sesungguhnya.
Sebab dari segala pencapaian yang di raih dan ia kerjakan tersebut rapi. Sangat sempurna. Namun Dadang, bukan memantu yang kemaruk dan gila akan jabatan. Sehingga sampai seumur hidup ia menjadi wadir pun ia tak keberatan.
Sebab menjadi suami Rona Margaretha pun baginya adalah anugrah. Apalagi sekarang, bahkan ia adalah ayah kandung dari seorang direktur rumah sakit, baginya itu merupakan suatu kesuksesan yang patut ia syukuri.
Sepekan berlalu, sungguh Muna merasa memiliki dunia yang baru. Menjalani kehamilan sembari menjalankan tugasnya sebagai direktur sesungguhnya adalah sesuatu yang sangat membuat moodnya membaik dan semakin berbahagia. Jauh dari stres tentu juga baik untuk progres kehamilannya.
__ADS_1
Tidak ada lagi perasaan bosan menderanya, bahkan ia hampir lupa jika kemarin suaminya hanya ijin 3 hari tenyata bahkan sudah merambat ke 5 hari.
Kevin mengira akan mendapatkan dampratan dari sang istri, namun ternyata justru Muna merasa senang, sebab memiliki waktu yang lebih lama untuk bekerja di rumah sakit.
"Pulang ke Bandung yang?"
"Boleh tidak?"
"Kenapa?"
"Senang bekerja di sini yang. Muna banyak teman, keluarga pasien juga lucu-lucu. Mereka menginspirasikan."
"Jadi... Abang sendiri lagi nih pulang ke Bandung?"
"Katanya abang yang ngelaju ke sana, boboknya tetap sama Muna di sini. Oke yang...?"
"Huuummm... Ga bisa nolak kalo sudah istriku yang minta seperti ini."
"Tidur di rumah nyak babe yuk pap. Kangen. Rehabnya sudah selesaikan?"
"Belum abang cek. Tanya Siska deh." Saran Kevin. Dan Muna pun menekan telpon panggil ke ponsel Siska.
"Kata Siska udah selesai. Tapi sekarang dia sedang pulang ke Cikoneng."
"Yuks... Otw rumah babe."
"Semangat banget sih, ngape?"
"Mau tes kamar baru sama mantan pacar yang lagi hamil."
"Abaaaanng."
Bersambung...
Huum
Makasiih like komen n gift dan ada tips juga...wooow readers nyak luar biasa... makasiih banget yaah.
__ADS_1
Nyak makin semangat nulis momen manis n romantis tiap part buat kalian senang.
Lopeeh buat semua❤️