
Bayi merah, montok gemoy, Annaya Intan Mahesa di pangil Naya. Kehadirannya mengandung magnet, mampu menyihir orang-orang di sekitarnya untuk tak berhenti ingin memandangnya.
Bahagia Muna saat pertama kali menjadi ibu saat melahirkan Aydan tak kalah pula jika kini mereka punya Annaya. Muna speeclesh dengan kehadiaran baby keduanya. Yang ia kandung 9 bulan 12 hari, dengan berat badan yang hanya naik 7kg. Sebab memang tubuhnya hanya mengkonsumi tinggi protein, low karbo. Dan ternyata justru berat badan Naya berat dari Aydan dulu yang lahir hanya 2,9kg.
Naya tak memiliki mata biru. Ia lebih mirip Kevin, dan sepertinya manja, gombal dan emosinya juga akan mewarisi sang bokap. Dari dalam perut sudah ga mau pisah sama papap, selera makanpun seperti papap.
Muna sudah berada di kamar rawat, Karena keadaan Muna sangat fit. Ia hanya cukup menghabiskan 1 kantung cairan infus kemudian di lanjutkan dengan minun obat telan saja untuk 7 hari kedepan.
Keesokkan harinya Aydan datang dengan Laras ke klinik, dia juga penasaran karena Muna sejak siang kemarin tak pulang juga tak ijin padanya.
"Mamaaaaam." Panggilnya setengah berteriak.
"Ka Ay. Sini sayang mamam kangen kaka." Muna menjulurkan tangannya ingin memeluk Aydan.
Kevin buru-buru menggendong Aydan lalu menyodorkan wajah Aydan ke arah Muna untuk mereka saling peluk cium.
"Ay... pangku cini." Tepuk Aydan pada paha Muna.
"No... no. Papap gendong ka Ay saja ya."
"Ay angen mamam."
"Peluk aja, mamam belum boleh gendong ka Ay." Sabar Kevin pada Aydan.
"Mamam... kecil." Tepuk Aydan pada perut Muna.
"Iya kaka. Ade Ay sudah lahir."
"Ade Ay... mana?"
"Sebentar ya... mamam minta perawat antarkan. Ya... baby Naya tidak selebay saat baru punya Ay dulu. Kevin bersedia Naya di letakkan di ruang bayi, karena bayinya hanya ada 4 di sana. Dan pergelangan tangan Naya sudah Kevin ikat dengan pita merah muda yang sudah ia siapkan.
Perawat mendorong box bayi ke kamar rawat tempat Muna tidur semalam di temani Kevin.
"Ibu... malam ini baby Naya boleh tidur di sini. Dan besok ibu sudah boleh pulang." Info perawat tanpa di minta penjelasan.
"Oke... baik. Terima kasih infonya suster." Jawab Muna senang.
"Ka Ay... ini Naya. Adenya ka Ay."
"Kecil cali mam. Ay becal de Naya... " celoteh Aydan bangga dengan tubuhnya yang lebih besar dari baby Naya.
"Iya... Ay kan kaka, jadi besar dari ade. Kakak janji jaga ade ya, jangan nakal. Nanti mainnya sama papap aja, mamam sama ade Naya. Oke...?"
"Oke papap, Ay omes." Aydan mengangkat kelingkingnya ke arah Kevin.
__ADS_1
"Good job son." Kevin menyambut kelingking Aydan lalu menciumnya.
"Mamam puyang...? Baca buku yaa." pinta Aydan lagi pada Muna.
"Iya besok mamam pulang. Dan tidur sama ka Ay baca cerita buat kaka juga de Naya.." Jawab Muna mengusap kepala Aydan dengan satu tangan. Karena satu tangannya menggendong Naya yang sudah pewe di dekat dadanya.
"Ka Ay... gimana kalo mamam lagi sama de Naya, yang baca buku buat ka Ay papap aja...?"
"Papap keja." Jawab Aydan spontam.
"Mampus pap. Keseringan kerja sampe malam, ga pernah punya waktu kelonin ka Ay lagi." Kekeh Muna pelan mencolek pinggang Kevin yang masih berdiri di sebelahnya.
"Ya... nanti papap usahain pulang cepet selama mamam sulit beraktivitas deh. Paling tidak untuk 40 hari kedepan lah, sambil ngantri kelonan."
"Deeeeuuuuh selalu ada udang di balik bakwan."
"Ay mau udang mam." Sambar Aydan yang berusaha menyimak perbincangan orang dewasa di dekatnya.
"Hemm... ayo. Pergi sama papap, kita makan udang ditempat yang enak." Ujar Kevin yang tiba-tiba ingin berquality time dengan putra pertamanya.
"Sama bunda Laras pap?" tanya Muna.
"Tidak... papap sama ka Ay saja. Ini khusus laki-laki." Kekeh Kevin mencium kening Muna untuk pamit.
"Oh... Kevin mau ajak Ka Ay makan di luar, tiba-tiba dia mau makan udang."
"Kong ikuut." Tawar Aydan saat melihat babe Rojak masuk untuk membesuk lagi.
"Naah... pas banget ni. Ayo bah, be. Kita makan siang di luar bareng Ay. Merayakan dia sudah jadi kakak." Ajak Kevin pada kedua ayah mertuanya itu.
Tapi di sampai di depan pintu, Kevin hampir bertabrakan dengan papi Diendra.
"Heeeii... baru punya anak dua sudah lupa sama papi heeem?" Celetuk Diendra saat berpapasan di depan pintu.
"Maaf... panik pi. Jadi lupa. Ka Ay salam opa nak." Pinta Kevin pada Aydan yang tidak terlalu kenal dengan papinya Kevin.
"Iih gantengnya cucu oma. Udah punya adik lagi. Makin pintar ya cu." Indira memeluk sayang pada Aydan.
Respon Aydan selalu hangat pada tiap orang yang baru di kenal atau baru ia temui.
"Sehat ma...?" tanya Kevin pada istri Diendra yang sudah bisa ia panggil mama itu.
"Alhamdulilah, cangkok hatinya berhasil Vin. Jadi sekarang tinggal pemulihan saja." Ya... papi Kevin dan istrinya sering di luar negeri sebab, terlalu sibuk dalam hal kemajuan kesehatan Indira. Sehingga sangat jarang bisa berkumpul dengan keluarga.
"Naah... tambah satu laki-laki lagi. Ka Ay... come on, ada opa, kakek juga engkong yang akan makan bersama kita." Riang Kevin yang senang akan pertemuan langka tersebut.
__ADS_1
"Mamaaaaam... bye-bye. Angan angis yaa." celoteh Aydan berpamitan pada Muna.
Muna melambaikan tangannya pada Aydan. Semakin bahagia hati Muna, walau Aydan masih kecil dan sudah harus menjadi kakak. Tetapi ia masih punya orang-orang yang siap melimpahinya perhatian dan kasih sayang.
Dari banyaknya lelaki bersamanya hanya telunjuk babe Rojak yang di pegang oleh Aydan. Bahkan tangan Kevin pun di anggurinya. Begitulah anak-anak, ayah kandung saja tidak menjamin keakraban dan kenyamanannya. Tetapi yang banyak menghabiskan waktu bersamanya lah yang akan selalu melekat dalam memorynya. Juga kelak sebagai panutannya.
Di koridor klinik dari kejauhan Gita dapat melihat dengan jelas papinya berjalan bersama Kevin menuju arah keluar. Gita mendadak pucat, sebab ia datang bersama Gilang sebab ingin membesuk Muna.
"Agi... duluan masuk ya. Neng mau ke toilet sebentar." Pamit Gita ingin menghindar bertemu papinya.
"Ya... ga enak Agi mah, masuk sendirian. Agi tunggu deh, neng ke toiletnya."
"Ga... jangan. Ga usah di tunggu duluan aja. Ntar neng nyusul." Gita sudah lari bersembunyi sebab rombongan itu makin dekat.
"Om Laaaaang." Teriak Aydan melihat Gilang yang masih agak linglung di tempatnya berdiri tadi.
"Hai ... Gilang. Sama siapa?" tegur Kevin. Tapi belum sempat di jawab oleh Gilang, Aydan bersuara kembali.
"Om... ikut ya. Makan udang, enaaak." ajak Aydan yang mang sudah akrab dengannya.
"Ayo... Lang. Di ajak ka Ay makan siang tuh. Ikut saja." Ajak Kevin pada Gilang yang masih bingung sendiri.
"Iiyaa pak. Tapi tadi ke sini mau jenguk ibu bareng..."
"Di chat saja, bilang pergi sama saya." Kevin mendekatinya setengah berbisik.
"Oh... iya siap pak." Jawab Gilang patuh. Lalu mengirimkan chat ke Gita.
"NengGi. Maaf, A'Gi di ajak pa bos makan siang bareng. Neng, besuk ibu bos sendiri aja ya. Nanti pulangnya AGi jemput di klinik ini lagi. Tungguin ya." Isi chat Gilang yang hanya di balas oke oleh Gita.
Bersambung...
Maaf nyak ingkar.
Tadinya mau bikin cerita khusus tentang dua G.
Ternyata mereka benar ngangenin.
Jadi... nyempil aja lebih seru.
Setuju kan
Thx votenya ya
Sarange...❤️
__ADS_1