OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 258 : GITA OLENG


__ADS_3

Sita memandang benci pada Gita dan Gilang.


"Ini semua tuh gara-gara kalian berdua tau ga?" Sita menyemprot Gita dan Gilang.


"Salah kami apa?" tanya Gita yang sesunghuhnya geregetan dengan Sita sejak jaman kapan.


"Eh... ga sadar? Kalian sudah menghilangkan mata pencaharian orang lain. Itu tuh dosa tau ga. Dasar pasangan ga tau diri."


"Nyebar fitnah juga dosa kali." Jawab Gita masih meradang.


"Kalian pokoknya harus tanggung jawab. Aku ga terima di berhentikan secara tidak hormat. Di tempat umum saja kalian berani ciuman, apa lagi di tempat yang ga ada orang. Pasti kalian sudah berbuat mesum."


Gita maju selangkah ingin menampol mulut Sita, yang masih ga sadar jika dia satu-satunya orang yang belum sadar akan salahnya.


Gilang memegang tangan Gita, meletakan tubuh Gita di belakangnya.


"Maaf jika karena kami yang membuat kamu kehilangam pekerjaan. Terima kasih untuk kebersamaan yang pernah terjalin selama bekerja di perusahaan ini. Sebagai patner kerja. Juga bahkan jika kamu pernah salah tanggap akan sikapku. Demi Tuhan aku tidak pernah menganggap kamu lebih dari rekan kerja. Jika beberapa waktu kamu pernah memberikan aku lunch box, terima kasih sekali untuk perhatianmu. Dan mohon di relakan. Kemudian walau kamu bukan siapa-siapa. Kami tetap mohon doa restu, sebab hubungan kami akan berakhir di pelaminan dalam waktu dekat. Semoga sukses di tempat kerja yang baru, juga mendapatkan jodoh yang baik. Dekatkan dirimu dengan Allah untuk menjernihkan pikiranmu." Pinta Gilang baik-baik.


"Huh ga usah bawa-bawa Allah segala. Mestinya kamu sadar kak Gilang. Kalau Gita itu bukan pilihan yang tepat. Entah ilmu apa yang di anutnya, sampai pa Kevin saja mau di ajak bekerja sama dalam berbohong. Pakai ngaku sodara lagi. Memangnya saya ga tau, Gita itu cuma mampu tinggal di kost, patungan lagi sama si Ninik. Kesana-sini aja harus nebeng sama Ninik. Apa begitu adik seoramg CEO? Sandiwara kalian tidak sempurna...!!!" Ya Tuhan ini hati Sita dari apa ya.


"Pa Danu, kami permisi." Gilang menarik tangan Gita untuk meninggalkan ruangan itu, memilih tidak menanggapi ucapan Sita. Merasa tidak penting meladeni wanita berprilaku menyimpang itu.


Tersisa Sita dan Danu yang masih mengonsep SP untuk Sita.


"Ini serius saya di pecat pa Danu?"


"Iya..."


"Apa tidak bisa di nego lagi...?"


"Maaf saya hanya menjalankan perintah. Sebaiknya mbak membereskan barang-barang untuk di bawa pulang." Saran Danu pada Sita.


Waktu makan siang tiba, Gilang langsung mengarahkan langkah mereka ke parkiran motor. Akan mengajak Gita makan siang di luar.


"Neng... makan di mana?"


"Terserah Agi aja."


"Neng yang bilang deh, Agi grogi nih ngajak tuan putri Mahesa makan di sembarang tempat. Takut alergi." Ledek Gilang.

__ADS_1


"Telat A. Udah bentol semua kali badan eneng, sejak tahun kapan di ajak makan di mana saja sama AGi." Ujar Gita sambil mengeratkan pelukannya dari belakang di atas motor yang melintas membelah jalan hitam tersebut.


Sejak awal mereka memang selalu makan ditempat biasa, jadi memang sudah sangat terbiasa makan tempat sederhana.


"Agi... tadi kok pede banget sih bilang ga lama lagi kita berakhir di pelaminan dalam waktu dekat. Mang udah dapat restu?"


"Emangnya eneng ga usaha gitu minta restu sama mamanya eneng?" tanya Gilang.


"Kok eneng yang kena giliran minta restu mama. Agi ga usaha?"


"Kita harus berjuang sama-sama neng. Ya udah... kapan kita bicara lagi bedua sama mamanya eneng?"


"Udah ngebet nikah banget ya A?"


"Eh... yang mau di cip ok lama siapa ya?" wajah Gita memerah malu, memukul ringan tangan Gilang yang tak jauh dari tangannya.


"Agi serius sama Gita. Kok ke sininya Gita oleng ya A...? Setelah kemakan doktrin-doktrin dari kak Kevin, kak Daren, papi juga mama. Gita jadi mikir, Agi layak di perjuangkan apa ga?" Ucap Gita sedikit serius.


"Kalo masalah perjuangan. Tentu saja Agi ga harus di perjuangkan kaya jaman Indonesia belom merdeka Neng. Agi minta Neng percaya saja kalo Agi punya hati yang tulus ingin berbagi suka duka dalam ikatan pernikahan untuk beribadah bersama dalam waktu selama mungkin." Lanjut Gilang.


'Kok kaya isi kata-kata lamaran ya. Lagi gladi ya A...?"


"Ya sallaaaam. Kita jadian belum seminggu A. Udah ngajak putus aja. Agi ga seru ah. Mental kerupuk nih."


"Mental baja juga percuma kalo enengnya oleng. Hati Agi cuma satu, dulu udah pernah di hina dan di sakiti wanita. Lama deket eneng, pelan bisa hapus imej tentang wanita. Jujur Agi lebih suka neng dari keluarga biasa. Tapi apalah daya, nasib selalu pertemukan Agi sama anak putri raja. Agi harus ruwat gitu, untuk buang sial?"


"Bukan harus ruwat A. Tapi salah sendiri terlahir tampan."


"Terus Agi bisa apa?"


"Ya... ga bisa di buat pura-pura jelek juga sih. Pasang pager kuat aja, neng belom jadi pacar Agi aja. Udah di kejar-kejar cewek. Gimana ntar kalo jadi suami...? Yakin bisa setia?" Gita meragu.


"Neng kira Agi ga cemas punya kekasih baik, cantik anak konglomerat pula. Yang ada eneng kali yang bakalan ninggalin Agi. Ga biasa hidup susah sama Agi." Umpat Gilang sendu.


"Ini benernya siapa yang curiga sama siapa sih?" tanya Gita pada Gilang.


"Bukan curiga Neng. Hanya di hati kita belum tumbuh percaya satu sama lain saja mungkin. Bagaimanapun perasaan kita dulu yang harus di pertegas. Bener sama-sama yakin ga? Atau kita hanya terlalu terbiasa beraktivitas sama sama saja selama ini?"


"Jadi gimana?"

__ADS_1


"Ya... gimana? Agi sih yakin cinta sama eneng. Sampe nekat kenalan langsung lamaran waktu itu. Eneng ga tanyakan, Agi uda sampe rumah atau belum pas Agi pulang. Eneng ga tau, sesampai di rumah Agi langsung minum obat tidur. Gegara merem melek yang terngiang-ngiang hanya ucapan papinya eneng. Sumpah Agi keder neng. Baru sadar sudah berani maju perang tanpa senjata. Belum lagi berhadapan dengan pak bos. Ampun deh. Mending Agi menghadapi 10 klien cerewet ngegantiin pa bos secara mendadak lho, ketimbang ngelamar eneng. Strees Agi neng." Aku Gilang jujur.


"Segitunya A....?" Gita terkejut.


"Asli neng. Hati a'a rusuh beneraan."


"Kenapa?"


"Ya banyak lah. Ngeyakini semua orang-orang yang menyayangi eneng tuh, tapi tatapan mereka seolah Agi datang mau nyulik benda antik berharga di museum neng." Papar Gilang.


"Jadi ... Agi nyerah nih?"


"Nyerah gimana? udah nyebur ini, ya mandi aja sekalian."


"Kenapa ga keluarkan jurus rayuan gombal aja."


"Hah... dua di antara 3 pria itu adalah pria kelas berat dalam urusan mendapatkan wanita Neng. Salah dikit Agi bicara mana mereka percaya. Agi bilang Agi akan setia pun, mereka ga bisa langsung percaya begitu saja."


"Agi emang ketahuan ga mau setia kali?"


"Nah itu dia masalahnya. Percumakan Agi bilang akan ini itu, pada mereka. Neng sendiri sesungguhnya yang ga yakin sama Agi."


"Bukan ga yakin A. Hanya memastikan hati aja. Mending oleng sekarang lho dari pada nanti pas udah beneran sah."


"Agi ga berani janji apapun sama eneng. Takutnya ingkar. Tapi, akan berusaha menjadi lelaki yang selalu belajar membahagiakanmu."


"Kok baru belajar?"


"Sebab saingan Agi buas semua dalam hal sayang dan lindungi eneng. Keliatan kok, dari cara mereka memberikan ijin. Semua bersyarat."


"Yang paling susah di tembus siapa?"


"Mamanya eneng kali. Karena tinggal itu yang belum Agi hadepin."


Bersambung...


Lanjut part selanjutnya ya


Kebanyakan nulis niih udah lebih 1k

__ADS_1


Ga berasa kalo nulis gulali ๐Ÿ˜


__ADS_2