OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
EKSTRA PART : UGD


__ADS_3

Bukan hanya Gita yang ko nak, Gilang apalagi. Permainan mulutnya tadi mana pernah ia lakukan pada benda bergantung milik siapapun. Kecuali milik ibunya saat dulu masih bayi. Tapi ini beda kasuskan. Walaupun kegunaannya sama. Demi berlangsungnya kehidupan.


Dulu mengisap itu agar tetap bertahan hidup dan panjang umur. Sekarang lebih kepada, agar adiknya yang hidup, membesar dan memanjang. Tolong kita fokus di sini.


Celana yang Gilang pakai tadi sempat sesak, serasa sempit sebab ada yang meronta padahal tidak terkurung. Hanya masih berada di dalam kain segitiga berbalut celana bahan saja.


"Mandi apa wudhu?" tanya Gilang pada Gita.


"Wudhu aja, tadi neng sudah mandi A'." Jawabnya mencoba untuk bertingkah senatural mungkin. Padahal Gita sendiri mengakui ia ingin di sentuh lebih lama lagi oleh suaminya.


"A'a mandi aja neng. Duluan saja, nanti A'a nyusul."


"Iya." Jawab Gita kemudian berputar menjauhi Gilang karena dirinya sudah suci. Takut kesenggol kan bubraaah.


"Gilang mana?" tanya mama pada Gita yang berjalan sendiri keluar dari kamarnya.


"Masih mandi mah."Jawab Gita yang berjalan menuju ruagan tempat mereka akan beribadah bersama.


"Besok berangkat pukul berapa Lang?" tanya papi saat mereka sudah selesai sholat kemudian kini sudah berada di meja makan untuk makan bersama.


"Siang pukul 11 pi." Jawab Gilang yang langsung mendapat tatapan senang dari Gita, saat runggunya menangkap bahwa Gilang sudah panggil papi pada ayahnya.


"Hmm... selamat bekerja dan berbulan madu ya." Goda Diendra pada anak dan menantu barunya itu.


"Gimana Git, kejutan nikahnya sukses?"


"Banget pi. Makasih ya." sumringah wajah Gita tak mampu menutupi rasa bahagianya.


"Kebayang ga Git atau curiga gitu?" tanya Diendra bangga.


"Sama sekali ga ke pikiran pi. Heran dapat ide dari mana coba, sampe Gita di prank berjamaah gini." Kekehnya.


"Papi lebih pusing mikirin besok kalian gimana pas di sana, yakin ga bakalan kebablasan?" goda Diendra lagi memandang bergantian antara Gita dan Gilang.


"Hahaaaa... iya juga sih." Gita seketika itu juga sudah ikhlas di prank oleh keluarga dan suaminya. Yang penting sudah halal.


Gilang dan Gita memang baru beberapa jam menikah, tentu banyak proyek yang akan mereka harus segera selesaikan di kamar, tapi malu donk, bahkan setelah makan malam dan belum melaksanakan sholat isya, mereka harus kembali ke kamar untuk melanjutkan ritual yang terpotong tadi.


"Lang... ibu boleh ganggu tidak." Suara ibu di gawainya terdengar terpaksa namun butuh.


"Ada apa bu?" Jawab Gilang bahkan tanpa salam.

__ADS_1


"Haniyah sakit Lang, badannya panas, sejak tadi muntah dan BAB juga. Ibu, boleh minta tolong siapa selain sama kamu." Terasa sekali jika ibu Gilang sangat terpaksa meminta tolong pada putranya yang seharusnya memang tidak boleh di ganggu gugat malam itu.


"Oh... iya bu. Gilang segera jemput Hani untuk di bawa ke rumah sakit ya." Jawab Gilang segera. Lalu menutup ponselnya.


"Kenapa A...?"


"Hani sakit neng. A'a boleh antar Hani ke rumah sakit?" tanya Gilang meminta saran pada istrinya.


"Ya bolehlah. Masa ga."


"Ya.. kan A'a sekarang sudah punya istri. Ijin dan restu istri itu akan jadi berkah buat semua yang a'a lakukan." Gita langsung mengecup bibir Gilang bangga.


"Eneng ikut ya A...? Kita bawa ke RSnya kak Muna saja, Hani nya." Pinta Gita yang tentu ga mau jauhbdong dengan suaminya.


"Iya, yuk kita siap-siap." ajak Gilang pada istrinya tersebut.


Butuh waktu 30 menit untuk mereka tiba di rumah babe, dan kabar sakitnya Haniyah juga sudah sampai ke Muna dan Kevin. Tentu saja para tim medis di rumah sakit itu sudah siap,. segera tanggap saat direktur yang menghubungi bahwa yang sakit adalah kerabat mereka.


Haniyah sudah dalam gendongan Gilang untuk di rebahkan di atas ranjang periksa. Tubuhnya lemas namun masih kuat untuk merengek, memilih Gilang agar tak jauh darinya.


"Om Gilang... Hani takut." Tangis Haniyah pada Gilang.


"Jangan takut, ada om di sini." Gilang menyeka airmata Haniyah dengan tangannya.a


"Iya... om temani Hani di sini terus." Gilang menenangkan.


"Maaf dokter ijin, saya boleh tetap di sini selama pemeriksaan ya." Ujar Gilang pada dokter yang datang untuk memeriksa Haniyah.


"Oh iya silahkan, di temani saja anaknya pak." Glek... Gilang menelan salivanya, setua itukah ternyata tampangnya, hingga orang mengira jika anak kecil ini adalah anaknya.


"Bapak, putri anda mengalami peradangan saluran pencernaan, akibat makanan yang tidak higienis. Berapa kali muntah dan BAB nya tadi?" tanya dokter pada Gilang.


"Muntahnya sering dokter mingkin lebih dari 5 kali, BABnya juga." Gilang tadi sudah dapat info dari Arum saat ia mengemudikan kendaraan roda empatnya menuju rumah sakit ini.


"Nah... itu yang membuatnya lemas, dan sangat rentan terjadi dehidrasi. Itu yang harus kita waspadai. Untuk itu, kami sarankan untuk di rawat inap saja mungin dua sampai tiga hari ya pak. Agar anaknya segera pulih dan sehat." jelas dan pinta dokter itu pada Gilang.


"Oh iya baik dokter." Jawab Gilang yang tangannya masih di pegang oleh Haniyah.


Jarak rumah Hildimar dengan rumah sakit hanya sejauh mata memandang. Tentu saja Muna dan Kevin sudah dengan cepat tiba di ruang Unit Gawat Darurat itu.


Kevin sudah memfasilitasi sebuah ruangan mewah untuk Haniyah, membuat Arum semakin terkagum-kagum akan kebaikan hati keluarga Gita.

__ADS_1


Dalam diam dan ketidakberdayaannya Arum sungguh memohon agar rumah tangga adiknya senantiasa di limpahi kemurahan, kebaikan dan ketentaraman jiwa maupun raga, di panjangkan jodohnya agar adiknya tersebut tidak bernasib sama sepertinya dan sang ibu.


"Gimana Lang?" tanya Muna saat melihat Haniyah yang sudah terpasang selang infus di pergelangan tangan kirinya itu, berada dalam gendongan Gilang.


"Iya bu... aman. Sudah di beri obat pereda radang lewat infusnya."


"Kenapa masih gendong?" Muna sedikit bingung dengan kemanjaan Haniyah pada Gilang.


"Hani memang manja sama saya bu, tiap sakit ya begini. Selalu tidak mau jauh dari saya, kasihan dia hanya sempat 20 bulan punya ayah. Selebihnya ya mencari sosok ayahnya dari saya." Jelas Gilang sabar, Muna mengangyk-anggukkan kepalanya.


"Ga usah panggil ibu lagi dong Lang, udah jadi menantu ini." Muna merasa risih dengan panggilan Gilang padanya.


"Iya maaf. Nanti pelan-pelan mengubahnya bu." Jawab Gilang masih kikuk.


"A'a ga cape gendong Hani sejak tadi?"


"Stt... bentar lagi baru bisa di lepas, neng. Baru ngantuk nih sepertinya. Maaf ya neng, mestinya kita lanjut ritual yang sore tadi di kamar pengantin ya neng, eh. Sekarang kita malah nongkrongin UGD." Cengir Gilang ke arah Gita, dengan suara sangat pelan di dekat daun telinga istrinya.


"Udah ga papa, yang penting Hani sehat dululah A'." Jawab Gita mengusap punggung suaminya.


"Gita... maaf ya. Teteh bikin repot kalian." Arum masuk ke ruang UGD beserta perawat yang akan menunjukkan kamar rawat inap untuk Haniyah.


"Orang sakit mana bisa di kira kan teh." Jawab Gita sabar.


"Hani... ikut mama ya sayang. Kasian om Lang cape kalo Hani gendong terus." Usap Arum pada punggung anaknya. Tapi tidak ada jawaban, ternyata Haniyah sudah tertidur dalam gendongan itu.


"Sudah tertidur dia, teh." Ucap Gita yang berjalan ke belakang tubuh Gilang, memastikan bahwa Haniyah benar sudah terlelap.


Akhirnya, Haniyah yang sejak tadi dalam gendongan Gilang pun tetap berada dalam dekapan dada bidang itu, untuk di bawa ke kamar rawat inapnya.


Bersambung...


Yang penasaran unboxing ...


Sabar yak, nyak pilih-pilih kata yang tepat biar readers berasa ikut travelingnya.


Makasih tips, like, komen, mawar, kopi dan votenya yaaak.


Semoga Allah berikan rejeki berlipat kali ganda buat readers semua.


Jaga kesehatan semua ya gaeees.

__ADS_1


Lope all❤️❤️❤️


__ADS_2