
Gita tidak mampu membendung rasa kesalnya, saat Sita dan Gilang terlihat langsungbakrab saat baru saja berkenalan. Sampai buat janji temu lagi. Maka, dengan cueknya ia memilih menerima tawaran Gilang untuk memakai kemeja Gilang.
"Eh... iya bentar, Agi ambilkan. Maaf, permisi ya Sita." pamit Gilang pada Sita yang tampak masih betah berdiri di depan Gilang.
"Oh iya kak, aku juga mau permisi ke ruanganku." Pamit Sita.
Kemudian tampilan Gita tentu sudah tak seperti saat datang tadi. Mengenakan pakaian rada kebesaran, yang di siasati dengan memasukan bagian depannya, lalu melipat bagian tangannya.
"Ha...ha... keliatan banget itu mah baju pinjaman neng."
"Jangan berisik ah... bentar doang pinjemnya A. Baju eneng lagi di cuci tuh."
"Kapan eneng nyucinya?"
"Tuh si awewe A'a tuh. Tadi nungguin nengGi di depan toilet cewek. Dia kasih dua pilihan, mau belikan kemeja baru atau ijinin dia loundry kan baju eneng."
"Humm jadi Sita yang nyucikan?"
"Loundry A... dia antarkan ke loundry. Bukan nyuci sendiri. Beda lho itu."
"Iya... deh iya. Neng... A'a mau ke HRD dulu ya. Kalo ada pak bos, tolong calling A'a."
"Ngapain ke HRD?"
"Cari info Sita."
"Cie...ciee yang penasaran. Ga usah ke sana. Ntar ku minta info lewat Ninik deh."
"Oh iya.... bener tuh, sok buruan kepoin dianya."
"Bentar lagi di ketik ini A... sabar."
"Udah aku chat, terus info tercepat nih kita kepo di medsosnya, A."
Gilang dan Gita pun segera meluncur ke dunia maya. Mulai dari FB, IG sampe TIKTOK yang di miliki Sita pun mereka jelajahi dengan terperinci.
"Huum... waw. Dia ternyata anak seorang anggota DPR, Pengusaha kaya juga nih A'." ucap Gita yang sudah berhasil mengkroscek tentang Sita.
"Wuuuiiih, kerjaannya liburan ke luar negeri terus lho A. Alamat dapat cewek kaya niih si Agi." Celoteh Gita yang teris menscroll apapun tentang aktivitas Sita.
Gilang hanya diam, memperhatikan apapun yang Gita sampaikan.
"Mewah A... rumahnya, busyeet ke kantor juga ternyata pake mobil mewah, ga pake supir. Haii... Sita, ga lama lagi kamu bakalan di lamar Agi kalo udah punya mobil gini." Celetuk Gita absurd, sambil menertawakan dalam hati. Betapa noraknya anak ini, memerkan semua harta dan segala aktifitasnya di media sosial.
"Nenggi ngomong apa sih?" sarkas Gilang.
"Yaah... benerkan. Eneng di lamar Agi kan tunggu bisa beli mobil. Lah ini cewek udah punya mobil, berarti kan tinggal Agi lamar saja."
"Ya Allah neng, Agi teh cuma bercanda sama eneng."
__ADS_1
"Kalo gitu ya sama atuh A, eneng teh cuma bercanda." Ucap Gita mengikuti gaya bahasanya Gilang.
Entah bagian mananya candaan kedua orang itu. Tapi yang pasti justru obrolan itu membuat mereka selanjutnya saling diam dan mulai sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Setelah makan siang, kini tampak sebuah bungkusan di atas meja Gita. Dan kali ini tak perlu di tanya dari siapa, sebab isinyaa adalah kemeja Gita yang taadi ketumpahan coffe laatte. Rupannya Sita memang menggunakan kekuaatan uangnya, dengan menggunakan jasa loundry ekspres. Padahal Gita senang saja saat tubuhnya terbalut dalam pakaian kebesaran milik Gilang tersebut.
Hari baru, tentunya di hadapi dengan semangat baru. Tapi tidak dengan suasana hati Gita pagi ini saat memulai aktifitas kantornya. Gita agak bermuram durja, sebab tau. Hari ini Gilang dan Sita akan makan siang bareng.
"Cemberut amat siih Git." Sapa Ninik melihat ekspresi Gita sebelum mereka berangkat.
"Bete tau Nik. Ntar siang Agilang akan makan bareng Sita itu."
"Cieee yang di tikung anak baru. Makanya kalo suka bilang bos."
"Eh... Nik. Aku tuh udah sering bilang kali sama dia."
"Bilang jujur atau bercanda saja?"
"Ya... dengan canda sih."
"Liat tuh si nak baru, pakai jurus memanjakan perut Gilang... hasilnya kamu denger sendirikan. Gilang yang ajak dia makn bareng. Dia ga cape memintakan? kamu kalah satu langkah tuh dari dia."
"Iiih sebel. Nik, ntar kita ekorin mereka makan di mana ya. Penasaran gue."
"Ciih... pake gue. Anak Jakarta loe?" ledek Ninik semakin membuaatnya dongkol.
"Tau aah. Patah hati ternyata bisa bikin aku nanti jadi anak Bandung, ntar anak Jakarta. Besok jangan-jangan aku jadi anak Medan ya Nik." Tawa Gita garing.
"Ciiee... yang mau ngedate." Goda Gita pada Gilang yang tampak bersemangat akan pergi makan siang dengan Sita.
"Cie yang cemburu sama suami. Ikut yuk neng." Ajak Gilang spontan. Jangan tanya senangnya hati Gita. Tak perlu mikir dua kali lah untuk menyetujui ajakan itu.
"Emang boleh?"
"Emang kenapa ga boleh?"
"Takut ganggu A."
"Makan siang ini neng. Ntar belah duren baru cuma berduaan."
"Alamaaaak udah mau belah duren aja nih si A'a." Gita mencebikkan wajahnya.
"Nenggi... di ajak makan doang. So' soan tanya boleh ga. Buruaan, bonceng Agi aja."
"Ninik boleh ikut A?"
"Kenapa bawa Ninik?"
"Ntar kalo Agi ngobrol sama Sita. Nenggi ngobrol sama angin?" Gita balik tanya.
__ADS_1
"Iya udah, okelah. Tapi tetep bonceng Agi ya." Pintanya.
"Ga mau A. Ntar di kira Sita, eneng ekornya Agi. Ngintilin Agi melulu."
"Cerewet banget siih neng." Tukas Gilang pura-pura kesal.
Dan akhirnya mereka pun sudah berada di sebuah cafe tidak jauh dari area kantor mereka. Sita sudah tampak datang duluan. Dan sedikit tak suka melihat Gilang datang bahkan dengan dua wanita.
"Eh... keduluan Sita. Maaf harus menunggu ya Sit."
"Ga papa kak. Tadi kerjaan cepet selesai jadi aku langsung ke sini deh."
"Udah pesan Sit?" tanya Gilang sambil menarik kursi lalu menarik sedikit baju Gita agar duduk di kursi yang sudah dia siapkan di sebelahnya. Sedangkan Ninik memilih langsung duduk di sebelah Sita.
"Belum kak. Masih nunggu ka Gilang." Jawabnya tanpa melihat Gita dan Ninik. Pandangannya fokus hanya menatap wajah tampan Gilang saja.
"Nenggi makannya apa?" tanya Gilang perhatian pada Gita.
"Ntar liat menu dulu A." Jawab Gita menyambut daftar menu yang di sodorkan padanya oleh pelayan cafe.
Gilang ikut melihat daftar menu di tangan Gita.
"Agi... Neng mau baso cuanki aja, minumnya es teler sama air putih." Ucap Gita sambil menuliskan pesanannya di atas kertas.
"Ga nasi neng, ini masih siang lho. Perjuangan menjalankan hari masih panjang." Komen Gilang pada pilihan Gita.
"Kenyangkan ga harus nasi A. Denger gombalan Agi juga kadang bikin mukbang." Canda Gita sengaja memanas-manasi Sita.
"Kedondong." Kekeh Gilang.
"Samain eneng deh, tolong di tulis ya." Lanjut Gilang.
"Sita...? pesen apa? Nik...?" sapa Gilang pada Sita dan Ninik.
"Ntar aku tulis sendiri Lang." Jawab Ninik yang memang seangkatan menjadi pegawai magang dengan Gilang jadi mereka hanya panggil nama.
"Oh... aku samain kak Gilang dan Gita juga deh." Jawab Sita.
Gita menyodorkan kertas menu yang telah rampung di tulis.
"Eh... Sita. Btw, masakanmu tiap hari enak-enak semua lho. Jam berapa bangunnya bisa bikin semua itu." tanya Gilang mulai kepo.
Bersambung...
Yaah readers nyak pada kabur nih
Votenya kurang kenceng😁🤭
Tapi... makasih ya buat semua suportnya
__ADS_1
Sarange❤️❤️❤️