
Kehamilan Muna sudah melewati usia 3 bulan, artinya trimester pertama sudah terlewati. Namun, mabuk Muna belum juga reda. Hanya tak sepusing dan selemas kemarin.
Muna mulai bisa beraktifitas sedikit-sedikit. Mulai bisa makan, walau masih sangat pilih-pilih. Sememtara hamil ini, Muna sama sekali tak bisa makan nasi. Yang masuk hanya roti, sereal, spageti dan susu saja.
Semua makanan kesukaan Kevin yang Muna sukai semasa hamil ini. Apalagi macaroni schotel, harus selalu ada. Sampai-sampai sekarang Kevin sangat pandai membuatnya untuk mereka.
"Yang... kantor ga papa di tinggal lama?"
"Badan abang saja yang tidak di sana, abang kerja kok dari sini. Kenapa? takut miskin ya abang jadi pengangguran lokal?" goda Kevin.
"Ya ga lah. Ga enak saja dengan karyawam. Bosnya mangkir melulu." Jawab Muna jujur.
"Sekali-kali pinjam bahasa orang sekarang yang."
"Apa?"
"Jadi bos mah bebas."
"Hmm... maaf ya sayang."
"Untuk apa sih. Udah masanya harus begini. Lagian kan ga selamanya juga."
"Tapi ini udah mau masuk 4 bulan lho yang... kok mabuknya ga berenti." Keluh Muna.
"Tapi selera makanmu udah mulai kembali sayang. Bentar lagi pasti berlalu deh." Kevin meyakinkan.
"Abang... nanti kalo beneran udah ga mabuk lagi. Abang pulang?" tanya Muna lirih.
"Maunya abang sih pulangnya bareng kamu aja. Sekalian selesai gitu kuliahnya."
"Tapi kayaknya bakalan lama yang. Tadi sidang pertama aja udah banyak revisi." Curhat Muna yang memang sudah maju sidang pertamanya.
"Ga papa. Setelah ini abang yang bantu bimbing revisiannya ya. Semoga otak abang masih encer."
"Ya... pasti masih encer lah." puji Muna pada suaminya.
"Mae..."
"Hmm..."
"Si mumun boleh di raba ga ya?"
"Yakin di raba doang? Ga di puter, di ji lat dan di celu pin kayak oreo?" kekeh Muna absurd.
"Mau benget malah kalo gitu."
"Itu siih memang maunya otong, yang."
"Mamam juga kangen otong kan?"
"Ya iyalah, puasanya kelamaan. Si otong udah kaya kupu-kupu."
"Kenapa?'
"Terkejar tapi tak tergapai."
"Ampun Mae... ini anak udah gombalnya dari dalam kandungan yaah. Kayak siapa siih?" Tukas Kevin merasa lucu.
"Ya habisnya, abang udah lama di mari. Tapi liat-liatan doang."
__ADS_1
"Kamunya lemes gitu, siapa yang tega nyantronin."
"Coba pelan-pelan deh."
"Pake tangan aja boleh?"
"Kenapa?"
"Takut kegoncang adenya."
"Iya... tsunami."
"Boleh yang...?"
"Pelan, sebentar dan sekali saja." ijin Muna.
Kevin langsung menyeruduk perut yang mulai membuncit itu.
"Assalamualaikum anak papap. Permisi liat keadaan ade di dalam ya. Mamam bilang boleh tapi sebentar doang nak. Baik-baik di dalam ya. Lov you." ijin Kevin pada anak yang masih di dalam kandungan itu.
Kevin tidak langsung mengungkung Muna. Ia hanya membelai sekujur tubuh itu dengan lembut. Pelan sekali mulai menyibak dres yang menutupi paha istrinya.
Muna dalam posisi miring membelakangi Kevin. Membuat Kevin bisa dengan leluasa mengendus ceruk leher, menikmati wangi yang selalu mampu memabukkannya, menggigit kecil daun telinga di depan hidungnya.
Tangan itu sengaja menerobos lewat belakang, menjangkau mumun di antara paha yang masih mengantup. Mengeser sedikit dan membuatnya agak ke atas, agar dapat memberi akses untuk jari Kevin menyusup ke dalam.
Menekuri tepian renda kain segitiga demi dapat meramat biji kacang yang terhimpit di dalam sana. Ngosh-ngosh, dengan gerakan itu saja, nafas Kevin sudah bagai pemburu. Ia sungguh rindu pada semua yang ada dalam tubuh istrinya.
Muna bukan patung, juga bukan boneka benda mati. Mendapat sentuhan saja sudah membuatnya bergelinjang tak jelas. Muna sendiri yang memutar posisinya demi menangkup rahang suaminya agar ia dapat menerkam bibir tebal yang sudah sangat ia rindukan.
Keduanya masih dengan pakaian lengkap, seakan ingin melakukan pemanasan lebih lama dari durasi gerakan inti. Agar saat benar telah on fire, agar tidak akan lama terendam di dalam, untuk meminimalkan hentakan yang mungkin membahayakan.
Mungkinkah perjalanan itu hanya terjadi dalam satu putaran, bahkan hanya dengan rematan tangan saja, mumun sudah kebanjiran. Kevin ... Kevin ulah jarimu saja cukup membuat Muna merinding, geli, dan pasti meminta lebih. Apalagi para readers yang udah duluan traveling dengan pikirannya masing-masing. (Malam jumaat kuuy)
"Paap."
"Hmm..."
"Jangan pake tangan." rengek Muna manja.
"Kenapa heeem?"
"Mauu otong aja."
"Kangen yaa..." goda Kevin lembut memandangi wajah cantik Muna.
"Banget..." wajah Muna merona bersemu merah muda, masih bisa tersipu walau sudah hamil anak kedua, luar biasa.
"Di luar aja..." Kevin sengaja menggoda Muna.
"Di dalam aja pap. Udah ga ada yang bisa ku pertahankan lagi."
"Mang kemarin nahan apa heem..." Kevin masih sibuk di area leher dan ke bawah-bawahnya, biasa buat lukisan abstrak.
"Supaya ga hamilkan." Jawab Muna dengan tangan nakalnya ganti meremat, mengelus turun naik kepala otong, gemesh.
"O...o...o otong mana boleh di pegang gini. Dia pasti minta lebih lho Mae."
"Udaaah buruan abang aah."
__ADS_1
"Katanya pelan..."
"Ga sedramatisir ini juga kali yang..." rengek Muna gemesh, sumpah.
"Lama ga yang... masa ga lama mainnya."
"Iya... selesein ini. Ntar ngulang lagi."
"Katanya sekali aja." Kevin sudah membuat tubuh di depannya polos.
"Ini lama-lama abang yang dosa lho tidak pandai memuaskan istri." Muna pura-pura kesal.
"Waaaoow. Istriku nantang yaa. Baiklah ini pemaksaan namanya. Mau di atas yang??" tawar Kevin masih menggoda Muna.
"Keburu hilang naf su ku pap. Kelamaan buka bungkusnya." Muna benar kehilangan mood, dan memilih kembali membelakangi Kevin, agak merajuk walau sudah tak berbalut busana apapun.
"Tok...tok. Asalammualaikum. Mumuuun, otong datang... main yuuk." kekeh Kevin yang sudah mengebor lewat belakang menuju rumah mumun.
Muna masih membelakangi, sembari menikmati gempuran si otong. Ya... tadinya mau pakai gaya klasik sih, apalah daya Muna sudah kehilangan feel. Jadilah, gaya spooning pun asyik saja. Toh, Muna menyembunyikan senyumnya di balik bantal, untuk memyamarkan rintihan ero tisnya, sambil menikmati tangan kekar yang tak berhenti meremas gundukan sumber mata air yang nanti bukan hanya milik Aydan seorang lagi.
"Finish." ucap Kevin membalik tubuh Muna dan mencium kening basah itu.
Muna menarik leher suaminya dan mencium pipi Kevin.
"Puas?" tanya Kevin meraih kepala Muna untuk di letakan di tangannya.
"Selalu."
"Ga jadi dosa kan abang Mae...?"
"Pahala yang."
"Mau lagi... bisa kok kalo mau 2 atau 3 lintasan lagi." Tangan Kevin mulai gerayangan.
"Sesuatu yang berlebihan itu ga baik pap. Adenya beneran tsunami lho nanti kalo di genjot terus."
"Bercanda sayang. Makasih ya... otong bisa main lagi."
"Sama-sama suamiku sayang. Terima kasih untuk sabarnya merawat kami. Otong juga makin jempol nih udah jarang berdiri suka-suka."
"Hah... mana bisa otong berdiri. Liat Mae semaput terus."
"Ya mana Muna tau hamil sesemaput ini. Emang Muna sengaja?" Muna udah nyolot aja.
"Eh... siapa bilang Mae sengaja. Bumil emang suka gaje sembarangan ya..?"
"Oh... mau bilang Muna apah?"
Eh... asem ya. Ni laki bini sebelum dan sesudah main kerjaannya adu argumen melulu. Tapi seneng sih, perwakilan tanda cinta saja itu.
Bersambung...
Hallo ... terima kasih tetap setia ngontrak di lapak nyak.
Komen, like, gift, tips dan vote kalian bikin otak nyak encer.
Percaya ga... kalo ga up tuh nyak serasa makan tanpa garam. Hambar.
Kalian moodboster nyak pokoknya.
__ADS_1
❤️❤️❤️